
Hari pertama Binar kuliah di tempat baru, semua berjalan lancar. Sebagai gadis yang periang dan welcome pada semua kalangan, tak sulit baginya untuk mencari teman. Sehari sudah hampir cukup untuk dia beradaptasi.
Selain itu, suasana kampus yang juga damai, sedikit memberinya ruang untuk mencicil ilustrasi komik yang ia pegang saat ini.
Sampai tiba jam pulang—sekitar jam setengah tiga sore, Binar dikejutkan dengan kehadiran Evan di depan gerbang kampus. Dengan mengenakan celana panjang dan kaus putih yang juga berlengan panjang, Evan tampak gagah di atas motor besar merah mengkilap.
"Kak Evan?" Binar mengernyitkan kening. Masih tak habis pikir mengapa Evan bisa tahu tempat kuliahnya.
"Pas banget ya. Baru juga aku nyampe, eh kamu udah pulang. Bareng yuk!" sahut Evan sambil tersenyum lebar, seolah tak mau tahu dengan keterkejutan Binar kala itu.
Sembari mendekat hingga berhenti tepat di samping Evan, Binar terus menatap lelaki itu.
"Kak Evan kok tahu kalau aku kuliah di sini?"
"Lah, kan semalam kamu sendiri yang bilang."
Binar kembali mengernyit, tatapan pula tampak penuh tanya. Kapan dia mengatakan itu? Obrolan semalam hanya seputar jajanan di Pujasera, tidak ada membahas kuliah.
"Jangan bilang kamu lupa, Bin. Pas kita udah muter-muter semalam kamu bilang itu." Evan bicara lagi.
Binar masih diam, mencoba mengingat-ingat tentang semalam. Namun, sekeras apa pun dia mengingat, masih tak terlintas obrolan seputar kuliah.
"Kalau kamu nggak bilang, memangnya aku tahu dari mana, Bin? Nggak mungkin kan nanya-nanya di semua kampus?"
__ADS_1
Ucapan Evan kali ini berhasil membuat Binar mengangguk. Karena benar, mau tahu dari mana kalau bukan dia yang mengatakan itu. Channing? Tidak mungkin. Kepergiannya saja tidak diberitahukan, apalagi sekadar tempat kuliahnya. Pasti dianggap tidak penting.
"Naik yuk! Aku anter pulang!" Masih Evan yang bicara, sedangkan Binar kebanyakan diam karena masih bingung.
"Ini motor siapa?"
Alih-alih langsung menerima tawaran, Binar malah mempertanyakan motor yang dibawa Evan. Entahlah, Binar merasa canggung untuk naik ke boncengan. Walaupun dia mengenakan celana panjang, tetapi ... harus sedekat itu dengan Evan. Ahh.
"Ini motor milik anaknya Om Hardi. Tapi dia lagi nggak ada di rumah, jadi motornya nganggur. Aku pinjam deh." Evan menjawab sambil memamerkan senyum manisnya. Cukup sedap dipandang mata, namun belum cukup untuk menggetarkan hati Binar.
Binar masih bimbang.
"Ayolah! Gini-gini aku juga andal loh bawa motor. Nggak mungkin kubikin jatuh kamu," ujar Evan seraya menggenggam lengan Binar dan menariknya untuk lebih dekat.
"Aku yang nggak terbiasa naik motor." Binar menolak halus, pun menepis pelan genggaman tangan Evan.
"Diawali dengan terpaksa, nanti lama-lama pasti terbiasa, dan bisa jadi terus ketagihan," batin Evan sambil membantu Binar memakai helm.
Dengan dalih baru saja mengantar ayahnya ke tempat proyek, Binar tak curiga dengan keberadaan helm yang sejak awal memang dipersiapkan untuknya. Ya ... mengejar cinta terkadang memang butuh taktik.
Setelah Binar sudah duduk di belakangnya, Evan pun mulai melajukan motor dengan kecepatan rendah.
Tak lama setelahnya, Evan menghentikan motor di depan rumah makan yang ada di pinggir jalan. Setelah mendapat persetujuan dari Binar tentunya.
__ADS_1
"Kak Evan masih lama kah di sini?" tanya Binar, tak nyaman rasanya jika terus membiarkan Evan yang memulai obrolan.
"Mungkin lima harian. Tapi, paling nanti juga ada jadwal lagi ke sini."
"Oh." Binar mengangguk-angguk.
Sementara itu—selagi sambil menunggu pesanan, Evan mengambil ponsel dan diam-diam mencuri foto Binar. Bukan untuk koleksi pribadi, melainkan untuk ia kirimkan ke Channing.
'Lagi makan bareng adik kamu.'
Tulis Evan di bawah foto tersebut. Dia sengaja memancing Channing untuk membahas Binar, mana tahu dengan begitu ia bisa mengetahui masalah di antara keduanya.
'Ya udah hati-hati. Dan awas, jangan sampai kamu nyakitin dia!'
Tak ada yang aneh dalam balasan Channing, masih seperti biasa.
Namun, Evan tak tahu jika di tempat yang berbeda sana, Channing mendadak termenung. Ia yang kala itu baru masuk ke kamar, perlahan duduk di dekat jendela dengan perasaan yang tak menentu.
Makin lama ia memandang foto Binar, makin sesak rasanya dalam dada. Wajah cantik dan senyum manis yang ada di sana, bukan ditujukan untuknya, melainkan untuk lelaki lain.
Sampai di sini Channing benar-benar paham apa yang dia rasakan—cinta.
"Ternyata melepaskan kamu nggak semudah yang kubayangkan, Bin. Haruskah aku ikut jujur dan menuruti perasaan ini? Tapi ... bagaimana dengan Mama dan Papa?" batin Channing sambil mende-sah panjang. Lantas, mengusap wajah dengan kasar.
__ADS_1
Dia benci dengan keadaan. Namun, tak mampu pula untuk keluar dari keadaan itu sendiri.
Bersambung...