
"Gila! Dia keren banget sih jadi cowok."
Komentar Shisi ketika Binar bercerita tentang pertemuannya tadi siang bersama Evan. Gadis yang sejak lama menjadi sahabatnya itu, menyatakan pujian dan kekagumannya terhadap Evan.
"Kamu nggak meleleh? Nggak tersentuh gitu, Bin, dengan sikapnya yang kayak gitu?" sambung Shisi dari seberang sana. Keduanya, sekadar berbincang lewat sambungan telepon.
"Aku cuma kasihan aja. Ngerasa bersalah juga karena dulu pernah ngasih harapan. Kalau soal cinta ... kamu tahu sendiri dari dulu aku sukanya sama Kak Channing," jawab Binar.
"Ya, kali aja, abis denger kata-kata Kak Evan yang sekeren itu kamu jadi berpaling." Shisi bicara sambil terkekeh-kekeh.
"Ish, kamu kira hati semudah itu berpaling. Apalagi ya, sekarang Kak Channing juga berkorban banyak untuk hubungan kami. Dia rela pergi dari rumah demi mendapatkan restu Mama Papa."
"Ya juga sih." Shisi menjeda kalimatnya sejenak. "Mudah-mudahan aja lah nanti Kak Evan juga dapat penggantimu, Bin. Yang bisa tulus mencintai dia, biar dia juga bahagia kayak kamu dan Kak Channing," sambungnya.
Obrolan pun terus berlanjut dan topiknya tak jauh-jauh dari Evan dan Channing. Sesekali keduanya tertawa, merasa asyik dengan perbincangan tersebut.
Mereka tak sadar bahwa di tempat yang berbeda, Evan sedang merenung seorang diri. Bertemankan angin malam yang dingin, ia berulang kali menatap langit. Mengadu padanya tentang hati yang terluka, karena cinta bertepuk sebelah tangan.
Bibir memang tak henti mengikhlaskan dan mendoakan gadis yang dicintai, tak jarang pula tersenyum seolah baik-baik saja. Namun, hati tak bisa dibohongi. Jauh di lubuk sana, ada luka yang menganga. Sakit, perih, hingga terkadang menyesakkan dada.
_______
Dalam posisi bahagia, waktu akan berlalu lebih cepat dari biasanya. Meski itu sekadar pemikiran individu, namun nyatanya banyak yang setuju akan hal itu. Termasuk Binar.
Dua tahun sudah, ia melanjutkan kuliahnya di Malang, dan hal itu rasanya cukup singkat. Seolah baru kemarin ia pindah ke sana dengan gelar ahli muda, kini ia sudah berhasil menyabet gelar sarjana. Lusa adalah hari wisudanya, dan kala itu keluarganya akan datang ke Malang. Tak terkecuali Channing.
Lelaki itu sudah berhasil mendapat gelar Magister, dan langsung menggeluti dunia bisnis. Ia kini menjabat sebagai Manager Accounting di perusahaan milik Kendrick. Kendati begitu, Channing bekerja layaknya orang lain, yang harus patuh dengan aturan-aturan perusahaan. Bahkan, untuk mengincar posisi yang lebih tinggi pun, ia harus mengandalkan kemampuan sendiri. Kendrick tak mau ikut campur secara pribadi. Selain karena tidak suka nepotisme, Kendrick juga menguji Channing. Sejauh mana dia membuktikan keseriusannya terhadap Binar.
__ADS_1
Oleh sebab itu, hampir tidak ada waktu santai dalam keseharian Channing. Dari pagi sampai sore, bahkan terkadang juga malam, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kursi kerja.
Seperti halnya malam ini. Channing kerja sampai larut malam agar tanggung jawabnya tidak terbengkalai. Besok dan lusa dia tidak masuk karena akan pergi ke Malang, guna menghadiri acara wisuda Binar.
Sudah sekian lama tak berjumpa, Channing tak mau melewatkan kesempatan emas itu. Dia akan menemui adik sekaligus kekasihnya, dan memberikan ucapan selamat secara langsung.
Ahh, bayangan senyuman Binar sudah menari-nari dalam imajinasi Channing. Membuatnya mengulum senyum tanpa alasan yang jelas.
"Aku udah bisa kerja, dan sejauh ini nggak ada yang kecewa dengan kinerjaku. Binar juga udah mulai punya nama. Meski belum terkenal seperti impiannya, tapi udah lumayan banyak yang mengidolakan Kejora33. Dengan bersabar sedikit lagi, restu Papa dan Mama pasti bisa kami kantongi," gumam Channing setelah menyelesaikan pekerjaannya. Lalu, sejenak meluangkan waktu untuk mengintip foto Binar yang masih ia simpan di ponselnya.
Puas memandangi paras ayu tersebut, Channing beralih pada riwayat pesan bersama Binar, yang nyaris tak pernah dihapus.
'Besok aku akan terbang ke Malang. Kamu mau dibawain apa?'
Tulis Channing.
Cukup lama tidak ada balasan. Bahkan, sampai lima menit berlalu, tidak ada tanda-tanda pesan tersebut dibaca oleh sang penerima.
Karena tak ada respon dari Binar, Channing pun kembali menyimpan ponselnya. Lantas, merapikan berkas-berkas yang berantakan di meja. Setelah itu, ia beranjak dan bersiap pulang.
"Abis ini langsung mandi terus tidur, capek banget hari ini," batin Channing setelah tiba di mobil dan mulai melajukannya.
Dia sengaja berkendara dengan kecepatan tinggi agar secepatnya tiba di rumah. Punggung dan lehernya terasa nyeri, akibat terlalu diforsir kerjanya hari ini. Dia sudah tak sabar untuk merebahkan diri di atas ranjang, lalu memanjakan diri dengan buai mimpi.
Sekitar setengah jam kemudian, Channing tiba di kediamannya—rumah milik keluarga ibunya. Ada nenek dan juga paman terkecilnya—beserta sang istri, yang tinggal di sana.
Sewaktu Channing tiba, seorang pelayan langsung menyambut. Membukakan pintu rumah sekaligus membawakan tas kerjanya.
__ADS_1
Ketika keduanya mulai memasuki ruang tamu, pelayan tersebut berkata, "Tuan, tadi ada kiriman untuk Anda."
Channing menoleh sesaat. "Kiriman apa?"
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Silakan nanti Anda lihat sendiri."
Channing berpikir sejenak, mengingat-ingat siapa gerangan yan akan mengirim sesuatu untuknya. Namun, nihil. Tidak ada seorang pun yang menjanjikan itu.
Tak lama berselang, pelayan mengambilkan paket hitam sebesar kotak makan. Sangat ringan, seperti tidak ada isinya.
Channing menerima paket tersebut dengan kening yang mengernyit, terlebih setelah membaca nama pengirimnya yang 'anonim'.
"Ya sudah, terima kasih," kata Channing sebelum masuk ke kamarnya.
Dia sangat penasaran dengan isi paket barusan, dan berniat membukanya segera.
"Apaan ya isinya?" gumam Channing seraya mendaratkan tubuh di sofa dan membuka paket yang ia bawa.
Tak sampai satu menit, paket sudah terbuka sempurna. Tidak ada barang lain di dalamnya, selain selembar kertas merah jambu yang digulung dan diikat dengan pita merah.
Rasa penasaran Channing kian menggebu, sehingga dengan gerakan cepat mengambil gulungan tersebut dan membukanya.
"Ini___"
Channing agak kesulitan menelan ludah manakala matanya menangkap sedikit tulisan yang ada di sana. Tulisan dan tanda tangan yang sangat ia kenal, yang hampir tiga tahun ini tak pernah ia lihat.
'Temui aku di cafe biasa. Besok malam pukul 08.00.
__ADS_1
Tertanda, Lala.'
Bersambung...