
Makin tinggi posisi seseorang, makin tinggi pula rasa iri dan dengki dari orang lain. Ternyata, itu bukan sekadar kata-kata mutiara, melainkan fakta yang jelas kebenarannya.
Kendrick adalah salah satu yang menjadi bukti akan hal itu. Tanpa ada masalah di hari-hari sebelumnya, pagi itu tiba-tiba ia dikejutkan oleh berita miring yang menimpa keluarganya. Sebuah hal buruk yang sontak saja menjadi pertanyaan besar bagi rekan-rekan yang terlibat kerja sama dengannya.
'Channing Olsan Demitry, Ternyata Bukan Anak Kandung Alexandre Kendrick Demitry'
Sebuah kalimat yang menjadi judul dalam berita yang trending pagi itu. Sudah wara-wiri di sosial media, bahkan ada salah satu stasiun televisi lokal yang ikut menyinggung kabar itu. Masing-masing pihak sibuk membahas dan menunggu klarifikasi dari Kendrick—pemilik puluhan hotel yang tersebar di Pulau Bali.
"Tolong sembunyikan ini dari anak-anak, jangan sampai mereka tahu tentang kabar itu. Aku akan mengurusnya segera," ucap Kendrick usai melihat berita yang mengusik ketentraman keluarganya.
Dalam berita itu, tertulis rinci bahwa Channing adalah anak dari istri pertamanya dengan lelaki lain. Memang benar. Namun, Kendrick tak mau semua orang tahu akan hal itu, termasuk Channing sendiri. Sejak kecil dia yang mengasuh anak itu karena istrinya meninggal beberapa hari setelah melahirkan. Kendrick sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Baginya, yang bersalah adalah istrinya, sedangkan Channing hanyalah bayi tak berdosa yang tak tahu apa-apa. Jadi, sudah sepatutnya tidak diikutsertakan dalam masalah itu, apalagi Channing juga tumbuh sebagai anak yang baik.
"Yang tahu hal ini hanyalah aku, Athena, dan juga mantan mertuaku. Lalu ... siapa yang membocorkan dan menyebarkan ini?" batin Kendrick dengan geram. Dia berjanji tidak akan melepaskan siapa pun yang berani mengusik keluarganya.
Akan tetapi, belum sempat Kendrick keluar rumah, Channing sudah terlebih dahulu berlari menuruni anak tangga dan berteriak memanggilnya.
"Papa!"
Kendrick menoleh, "Ada apa, Nak? Tumben sepagi ini sudah turun?" tanya Kendrick, seolah tak terjadi apa-apa.
"Ini apa, Pa?" Channing menunjukkan layar ponselnya, yang kala itu sedang menampilkan berita mengenai statusnya.
Di belakang Channing, Athena tampak lesu. Tatapannya seolah mengatakan, 'maaf, aku gagal menahan dia untuk melihat berita itu'.
"Pa! Tolong jelaskan padaku ini apa. Nggak mungkin ada asap kalau nggak ada api, kan?" desak Channing.
Sejak tadi pikirannya sudah kacau. Bayang-bayang bahwa dirinya bukan anak Kendrick begitu kuat menelusup dalam benaknya, menyisakan puing-puing rasa yang teramat perih.
__ADS_1
Sebelum Kendrick sempat menjawab, Binar dan Axel juga ikut turun dan menghampirinya. Meski tidak ada kata yang mereka ucap, tetapi Kendrick yakin bahwa keduanya pun sudah melihat berita. Karena tatapan saja sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
"Aku lupa, mereka juga punya ponsel, dan pastinya juga punya teman dekat. Jadi, mustahil mereka tidak melihatnya. Tapi, kenapa harus secepat ini? Bahkan, aku belum menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan," batin Kendrick.
"Pa, jangan diam saja! Aku mohon, katakan yang sebenarnya, Pa!" Channing memohon dengan sangat. Sampai akhirnya, Kendrick tak bisa berkutik dan terpaksa menanggapi semua pertanyaan Channing.
"Kita duduk dulu, Papa akan menjelaskan secara rinci," ajak Kendrick.
Kisah lalu cukup panjang, tidak baik jika diceritakan hanya dengan berdiri.
Channing tak membantah, begitu pula dengan Binar dan Axel. Mereka mengikuti langkah Kendrick menuju ruang keluarga. Lantas, duduk bersama di sana tanpa mengucap satu kata pun. Begitu pula dengan Athena. Dia sekadar diam dan menunggu sang suami yang memberikan penjelasan.
"Berita itu benar." Tiga kata yang keluar dari bibir Kendrick, sudah cukup untuk menampar Channing. Panas seketika wajahnya. Apa yang ia takutkan benar terjadi, dirinya ... bukan anak kandung Kendrick.
"Mama selingkuh. Dan aku adalah anak Mama dengan selingkuhannya?" tanya Channing.
Channing mengepal erat. Selain berteriak dalam hati, ia tak bisa berkata-kata lagi. Serasa runtuh dunianya. Mimpi dan angan yang sudah terbentang seakan berserakan. Masa depan yang sudah terencana, kini suram dan tak tampak titiannya.
Saking sakitnya kenyataan yang menghampiri, Channing sampai tak sadar melepas tetes-tetes air mata. Tidak banyak, tetapi cukup menjadi bukti betapa terlukanya dia kala itu.
"Maafkan Papa yang tidak terus terang dari awal. Papa pikir, toh kamu sudah bersama Papa. Dan di sini juga ada Mama Athena. Papa tidak ingin kamu terluka karena ayah kandungmu sudah tiada, bahkan ... dia meninggal sebelum mamamu. Hanya saja ... Papa tidak tahu jika orang luar memanfaatkan ini untuk menyerang kita," sambung Kendrick.
Tidak ada yang menyahut sampai beberapa saat lamanya.
"Channing, kamu tenanglah! Papa tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut. Papa akan segera membereskan dan membuat perhitungan dengan si pembuat onar." Tetap Kendrick yang bicara, karena yang lain masih saja bungkam.
"Aku nggak tahu harus bilang apa, Pa," ucap Channing setelah beberapa saat terpaku.
__ADS_1
Athena tak menyahut, namun dengan sigap merangkul Channing dan mengusap-usap lengannya, memberikan dukungan dan semangat untuk anak sambungnya itu. Sementara Binar dan Axel hanya saling pandang, sembari membatin dalam hati masing-masing.
Axel sekadar menggumamkan keterkejutannya, sedangkan Binar sibuk bertanya bermacam hal pada diri sendiri, yang tentu saja tidak mendapat jawaban.
Apakah ini tanda bahwa aku dan Kak Channing berjodoh? Secara, kami bisa disebut bukan saudara sambung. Satu anggapan yang terus berputar dalam pikiran Binar.
______
Jarum jam masih menunjukkan pukul 09.00 pagi, tetapi Channing dan Laurent sudah duduk bersama di dalam kafe.
Usai berbincang dengan orang tuanya tadi, pikiran Channing langsung kalut, dan dia butuh Laurent sebagai tempat berbagi. Karena tidak mungkin Binar, hubungan keduanya belum sebaik dulu.
Kebetulan, pagi itu dia dan Laurent sedang tidak ada kelas. Jadi, mudah bagi keduanya untuk bertemu.
"Lala, aku sedang ada masalah," ujar Channing mengawali pembicaraan. Lantas, ia lanjutkan dengan menceritakan masalah yang ada. Mulai dari berita yang trending, sampai kenyataan bahwa dia bukanlah anak kandung Kendrick.
Selama mendengarkan cerita Kendrick, Laurent tidak mengatakan apa pun, hanya sesekali mengangguk pelan. Sikapnya seolah menunjukkan bahwa dia sudah tahu lebih awal, sebelum Channing mengungkapnya.
"Aku benar-benar nggak nyangka. Adegan yang lebih sering kulihat dalam dunia film, ternyata terjadi juga dalam kehidupanku," ucap Channing setelah selesai bercerita.
Laurent belum menanggapi. Dia malah memainkan gelas minumannya, sampai beberapa saat berlalu.
"Lala___"
"Kita putus aja ya," potong Laurent.
Channing tersentak. Dipandanginya wajah sang kekasih, berharap menemukan tawa di bibir ranumnya. Namun, tak ada. Jangankan tawa, senyum simpul pun tidak. Artinya ... ucapan Laurent bukanlah candaan.
__ADS_1
Bersambung...