
"Kenapa?" tanya Channing dengan lirih.
Masih sulit dipercaya bahwa gadis yang biasanya amat manis, kini memutuskan hubungan secara sepihak. Apa gerangan yang menjadi alasannya?
Namun, Laurent malah tertawa renyah, seolah yang ia katakan barusan bukanlah sesuatu yang menyakitkan.
"Lala!"
"Kamu masih nanya kenapa? Bukankah semua ini udah jelas?" Laurent melayangkan pertanyaan yang agak susah dipahami oleh Channing.
"Aku masih nggak ngerti," ucap Channing.
Laurent membuang napas kasar, lantas melipat tangan di dada sambil menatap remeh ke arah Channing.
"Kamu bukan anak kandung Om Kendrick. Nggak tahu masa depanmu nanti kayak gimana. Jadi, apa alasannya aku bertahan sama kamu?"
Channing tersentak. Laurent yang selama ini ia kenal sebagai gadis baik yang tidak pernah memandang harta, nyatanya ... begitu memedulikan hal tersebut.
"Aku nggak munafik. Dalam mencari pasangan, aku juga memandang statusnya. Selama ini aku kenal kamu sebagai cowok mapan, putra sulung seorang Demitry. Makanya, aku setuju banget pacaran sama kamu. Sekarang, udah terungkap fakta yang kayak gini. Ya ... maaf, aku nggak bisa lagi sama kamu. Aku lebih memprioritaskan masa depanku," lanjut Laurent.
Channing mengepal erat, "Aku memang bukan anak kandung Papa, tapi masalah ini akan segera berlalu dan nggak akan mengubah apa pun. Aku tetap putra sulung Papa. Nggak akan ada adegan aku ditendang dari rumah dan dicoret dari daftar keluarga. Jadi, masa depanku tetap cerah. Nggak akan kekurangan kamu hidup sama aku."
"Itu kan perkiraan kamu, Channing, bukan sesuatu yang pasti dilakukan oleh papamu. Ingat ya, ada Axel yang nyata-nyata anak kandung Om Kendrick dan Tante Athena. Menurutmu, anak selingkuhan sepertimu masih bisa dibandingkan dengan dia?"
Kepalan Channing makin kuat. Dia kesal sekaligus kecewa, terlebih saat mendengar Laurent memanggil namanya. Padahal, biasanya selalu memanggilnya dengan sebutan 'beb'.
"Jadi ini sifat aslimu?" jawab Channing seraya menatap tajam.
__ADS_1
Laurent mengangguk, "Aku realistis aja. Aku ini cewek, butuh sandaran yang benar-benar kuat, baik dari segi fisik maupun materi. Dan sekarang, materimu berada di bawah standar minimalku. Jadi, maaf, aku nggak bisa lanjutin hubungan kita."
"Kamu keterlaluan, Lala!"
"Terserah kamu mau bilang apa, yang penting kita putus. Aku nggak mau lagi punya pacar kayak kamu, nggak ada status, menyedihkan," sahut Laurent, terang-terangan merendahkan.
"Baik, aku terima keputusan kamu. Kita ... cukup sampai di sini." Channing bangkit dari duduknya. "Tapi, satu hal yang harus kamu ingat, Lala, ini kamu sendiri yang memilih. Ke depannya, jangan pernah berharap bisa kembali lagi. Kamu memohon seperti apa pun, aku nggak akan pernah luluh," lanjutnya.
"Kamu tenang aja, aku nggak pernah memohon. Karena bagiku, kamu udah nggak penting lagi," jawab Laurent dengan santainya.
Channing memilih pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Hatinya telanjur kecewa. Laurent adalah gadis yang sangat ia cintai, tetapi begitu tega melukainya dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Ahh, entah mimpi apa dia semalam, mengapa hari ini diberi ujian yang bertubi-tubi. Dari mulai fakta bahwa dirinya bukan anak kandung Kendrick, dan kini dihadapkan dengan kekasih yang sangat memandang materi. Lengkap sudah. Kehancuran yang menyelimutinya benar-benar sempurna.
Sementara itu, Laurent terpaku di tempat dalam beberapa saat lamanya. Usai menatap tubuh Channing yang kini sudah menghilang dari pandangan, Laurent menggigit bibir. Sedih dan terluka, itulah yang ia rasa.
"Kamu berhak bahagia, Beb. Nggak peduli gimana sulitnya aku tanpa kamu nanti, tapi asal kamu bahagia, aku juga ikut bahagia," batin Laurent diiringi senyum getir.
________
Detak waktu yang terus berputar, mengantar pagi menjadi siang. Kini, jarum jam sudah menunjukkan angka dua. Namun sayangnya, hari malah tampak suram. Tidak ada cerahnya sinar surya seperti tadi pagi. Seluruh langit yang membentang tertutup awan hitam. Sepertinya, alam akan menangis sebentar lagi.
Pada saat yang sama, hati Channing juga masih suram. Usai mengobrol dengan Laurent—dan malah menambah beban hati, Channing melajukan mobilnya tak tentu arah. Berputar-putar mengelilingi jalanan tanpa tujuan yang jelas.
Maksud hati ingin melampiaskan kekecewaan, tetapi nyatanya rasa itu tetap saja ada. Angin dari sepanjang jalan tak mampu menentramkan hati yang telanjur kacau.
Sampai akhirnya, Channing memutuskan untuk pergi ke pemakaman. Dia hendak berkunjung ke tempat terakhir ibundanya, lantas berkeluh kesah di sana. Memang tidak akan mendapatkan jawaban apa pun, tetapi harapannya, beban sedikit berkurang jika bisa melampiaskan secara leluasa.
__ADS_1
Karena Channing melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak membutuhkan waktu lama baginya untuk tiba di sana. Hanya dalam hitungan menit, nisan yang bertuliskan nama ibunya sudah tampak di hadapan.
"Mama," gumam Channing setelah duduk di samping nisan itu.
Ia meraba tulisan 'Sisilia Amanda Raharjo Binti Pandu Raharjo' yang tertera di dalam nisan. Sisilia adalah nama ibu kandungnya, wanita yang selama ini dia sanjung dengan sempurna.
Teramat sering Channing membayangkan sosok ibu yang belum pernah ia lihat secara nyata. Ia gambarkan wanita itu seperti bidadari—cantik, lemah lembut, penyabar, dan berhati mulia. Namun kini, fakta seolah bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan. Ya, mana ada bidadari selingkuh sampai menghasilkan anak.
"Kenapa Mama melakukan itu? Apa kurangnya Papa Kendrick, Ma?" tanya Channing pada benda mati yang ada di hadapannya, seolah nisan itu adalah makhluk bernyawa yang bisa menjawab pertanyaannya.
Sejauh ini, Channing memang belum tahu detail masalah yang terjadi di masa lalu. Alasan ibunya selingkuh sampai ada dirinya. Namun, Channing sudah ada satu kesimpulan yang pasti akurat, yakni ketulusan Kendrick. Pria itu mau merawat dirinya dan mengakuinya sebagai anak. Itu merupakan bukti jelas bahwa Kendrick bukanlah pria brengsek.
"Di sini rasanya sakit, Ma. Kenyataan ini benar-benar pahit. Kalau aja boleh memilih. Mungkin lebih baik aku nggak pernah terlahir, dari pada lahir dalam keadaan kayak gini. Maaf kalau aku cengeng dan nggak kayak laki-laki sejati. Tapi jujur, Ma, ini memang menyakitkan." Kali ini suara Channing hanya tertahan dalam hati.
Cukup lama Channing berdiam diri di sana, termenung dalam lamunan yang menyangkut masa-masa silam. Sampai ia tak sadar jika kini alam mulai meneteskan bulir-bulir air.
Awalnya sekadar gerimis, namun lama-lama menjadi hujan yang cukup deras. Akan tetapi, Channing tak ada niatan untuk beranjak dari tempat semula.
Pikir Channing, malah bagus jika hujan turun deras. Karena dengan begitu, ia bisa meleburkan air matanya tanpa merasa malu. Mungkin, sesak di dada bisa sedikit berkurang jika ia keluarkan.
"Sejak kecil aku nggak pernah merasakan hangat pelukmu, Ma, tapi sekarang ... izinkan aku menangis di hadapanmu. Di satu sisi aku sangat menyayangi Mama, tapi di sisi lain aku juga kecewa. Maafkan aku, Ma," batin Channing sembari meloloskan air mata, yang kemudian samar bersama air hujan.
Akan tetapi, itu hanya berlangsung dalam hitungan detik. Sedangkan selanjutnya, air mata Channing terasa hangat di pipi. Tidak melebur lagi bersama hujan. Kenapa? Bukankah hujan masih turun deras?
Channing terheran dan menatap ke atas. Lantas, sepasang matanya mendapati payung hitam melindungi tubuhnya.
Bersambung...
__ADS_1