
"Apa yang ada dalam pikiranmu, Channing? Bisa-bisanya kamu mencintai adikmu sendiri, hah!"
Suara Kendrick menggema memenuhi ruangan, dan rasanya amat menyesakkan bagi Channing. Bukan karena tamparan atau intonasi yang tinggi penuh emosi, melainkan karena sekarang sang ayah sudah tahu apa yang ia sembunyikan.
"Aku membesarkan kamu dan menyayangimu seperti anak kandung. Bahkan, aku melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh ibumu. Tapi ... inikah balasanmu, Channing?" bentak Kendrick. "Kamu anggap apa pernikahanku dengan mamamu, hah? Kurang apa selama ini kami sama kamu?"
Bentakan demi bentakan yang masuk pendengaran, seolah menghentikan putaran waktu dalam dunia Channing. Pikiran terhenti, denyut nadi pun seakan ikut berhenti. Semua yang terjadi dalam hitungan detik itu seperti mimpi terburuk baginya.
"Kamu___"
"Pa, sudah!" pungkas Athena yang entah sejak kapan datangnya. Dia tak hanya berteriak, namun juga mendorong tubuh Kendrick hingga menjauh dari Channing.
Athena tahu sebesar apa emosi Kendrick. Jika dibiarkan, mungkin Channing bisa mendapatkan tamparan kedua, ketiga, keempat, bahkan kelima. Tidak! Athena tak mau itu terjadi.
"Cukup, Pa! Jangan memarahi Channing. Ini masalah mereka berdua, kita juga harus mendatangkan Binar untuk menyelesaikan ini semua. Kita tidak bisa menyalahkan Channing saja, Pa!" lanjut Athena juga dengan nada tinggi.
Kendati begitu Kendrick tak langsung menyahut. Ia sekadar diam sambil berulang kali menarik napas panjang, berusaha meredam emosi yang sudah meledak sejak tadi.
Ya, sejak dia mendapat laporan dari OB mengenai percakapan Channing dengan Evan, amarah Kendrick tak bisa dibendung lagi. Sebuah fakta tak terduga yang akhirnya menyadarkan dia akan kejanggalan di hari-hari lalu. Pertengkaran antara Channing dengan Binar, juga kepergian Binar yang terhitung mendadak, ternyata ... memang ada alasan utama yang luput dari perhatiannya.
"Aku sudah menghubungi Malvin dan menyuruhnya mengantar Binar. Besok jika dia sudah tiba, baru kita selesaikan ini dengan kepala dingin." Athena kembali bicara, berharap bisa menenangkan emosi sang suami.
"Tapi lihat dia ... sama sekali tak ada pembelaan. Artinya ... apa yang dikatakan orangku tidak salah, dia ... memang mencintai Binar. Dan mungkin itulah yang membuat Binar memilih pergi dari rumah ini," sahut Kendrick dengan mata yang memicing. Sungguh kecewa dia pada Channing.
"Kalaupun dia memang mencintai Binar, kita harus tahu apa alasannya. Bisa saja kesalahan ada pada Binar, atau padaku yang teledor dalam mengawasi mereka. Kita harus selesaikan ini dengan baik-baik, jangan menggunakan emosi seperti itu. Tidak ada faedahnya, tak akan membuat kita menemukan jalan keluar."
Kendrick mengusap wajahnya dengan kasar, menggambarkan jelas bagaimana geramnya dia kala itu.
"Kamu juga tahu, Sayang, siapa dia. Menurutmu apa salah jika aku kecewa dan marah atas apa yang dia lakukan? Kita ini sudah menikah dan menjadi satu keluarga. Bisa-bisanya dia menyimpan cinta untuk Binar. Dia menganggap kita ini apa? Seperti inikah cara dia menghargai kita?" ucapnya dengan napas yang memburu.
Sebelum Athena sempat menyahut, Channing terlebih dahulu melangkah mendekati Kendrick. Lalu, berlutut di sana sambil menundukkan kepala.
"Maafkan aku, Pa. Memang aku yang salah, udah menyimpan perasaan bodoh ini. Aku udah mengecewakan Papa. Aku benar-benar minta maaf," ucap Channing dengan pelan dan setengah tertahan.
__ADS_1
"Kamu kira semua akan selesai dengan kata maaf? Kamu sudah menodai kepercayaan Papa, Channing. Dan kamu masih menganggap kekecewaan ini sesederhana itu, iya?"
Mendengar jawaban Kendrick yang syarat akan kemarahan, Channing kian menunduk.
"Aku janji akan memperbaiki semua ini, Pa. Aku udah sadar ini salah."
Beberapa detik berlalu, Kendrick tak juga menyahut. Hanya de-sah napasnya yang masih terdengar kasar di telinga Channing. Sampai kemudian, Channing merasakan sentuhan lembut di kedua bahunya. Ternyata, Athena yang melakukan itu.
"Bangunlah!"
Channing menurut. Ia lantas berdiri, namun tetap menunduk.
"Kita bicarakan lagi besok, setelah Binar tiba di rumah," ujar Athena, yang sontak membuat pikiran Channing bekerja.
"Binar nggak ikut campur masalah ini, Ma, jadi nggak usah dilibatkan. Aku yang salah, udah nggak tahu diri mencintai dia. Sampai dia merasa risih dan memilih pergi. Jadi, cukup aku yang mempertanggungjawabkan kesalahan ini," pinta Channing.
Melihat kemarahan Kendrick barusan, Channing mendadak cemas. Takut jika nanti Binar juga mengalami hal yang sama—ditampar dan dibentak-bentak. Channing tak rela Binar mendapatkan itu semua. Cukup dirinya saja.
Namun, pengakuan Channing justru membuat Athena dan Kendrick menebak hal lain. Kepergian Binar, kemungkinan besar karena dia juga memiliki cinta yang sama. Biasanya naluri perempuan seperti itu, akan memilih pergi jika ada yang tidak beres dengan hatinya.
Walau secara khusus memang tidak ada larangan bagi Channing dan Binar untuk menjalin hubungan, karena mereka tidak ada hubungan darah, dan terlebih lagi Channing bukan anak kandung Kendrick. Namun, mereka hidup bermasyarakat. Kedua anak itu sudah tercantum dalam satu keluarga. Akan sangat tabu jika mereka menjalin hubungan, sedangkan di sisi lain orang tua juga masih terikat pernikahan.
"Pergilah ke kamar!" perintah Athena kepada Channing. Dia pun kini butuh waktu untuk menenangkan gejolak hati.
"Iya, Ma."
Lagi-lagi Channing menurut. Tanpa membantah, ia langsung melangkah pergi.
Namun, baru tiga langkah ia berjalan, teriakan Kendrick kembali menghentikannya.
"Tunggu!"
Channing menoleh dan menatap ayahnya.
__ADS_1
"Berikan ponselmu!" kata Kendrick dengan tegas, hingga Channing tak bisa menolak dan dengan terpaksa menyerahkan ponselnya.
Tak sampai di situ saja. Usai mengambil ponsel Channing, Kendrick memanggil Axel dan semua pelayan yang ada di rumah itu.
Sama seperti yang ia lakukan kepada Channing, Kendrick juga meminta paksa ponsel Axel. Lantas dengan tatapan tajamnya, ia memberikan peringatan untuk semua pelayan.
"Jangan ada yang meminjamkan ponsel kepada Channing. Jika ada yang lancang dan berani menentang perintah ini, aku tidak akan segan untuk memecat kalian. Paham?"
Semua mengangguk patuh. "Paham, Tuan."
"Bagus. Silakan kembali ke tempat masing-masing!"
Setelah semua pelayan pergi, Kendrick kembali menatap kedua putranya. "Axel ... jangan berpikir untuk membantu kakakmu, atau kamu juga akan Papa hukum. Dan kamu Channing, jangan berulah sampai Binar pulang!"
Setelah berkata demikian, Kendrick berlalu pergi dengan langkah cepatnya, meninggalkan Channing dan Axel yang masih mematung di tempatnya. Tak berselang lama, Athena juga ikut pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kak, kamu melakukan kesalahan apa sampai Mama dan Papa semarah itu?" tanya Axel.
Alih-alih memberikan jawaban, Channing justru pergi dengan bibir yang mengatup rapat. Perasaan dan pikirannya sudah kacau. Dia tak bisa lagi menghubungi Binar, yang otomatis tak bisa memberi tahu gadis itu atas masalah yang terjadi. Bagaimana jika nanti Binar mengaku dan membuat Kendrick kembali marah?
"Ck, malah pada pergi. Sebenarnya ada apa sih?" Axel menggaruk-garuk kepalanya seorang diri, menatap orang tua dan kakaknya yang makin menjauh dari tempatnya berdiri.
Selagi Channing masuk ke kamar dan berpikir keras di sana, Kendrick masuk ke ruang kerjanya. Dengan emosi yang belum sepenuhnya padam, ia duduk di kursi dan membuka ponsel Channing, yang kebetulan tidak memakai sandi.
Riwayat pesan dan riwayat panggilan yang pertama kali ia lihat. Tak ada yang mengecewakan karena kebanyakan dari teman-temannya.
Akan tetapi, gestur wajah Kendrick berubah seketika saat membuka galeri foto. Begitu banyak foto Binar di sana, baik yang sendirian maupun yang berdua dengan Channing. Tak hanya duduk bersama atau sekadar berdiri berdekatan, tetapi ada beberapa foto dengan pose bergandengan tangan dan melingkarkan lengan. Sebuah keakraban yang semula dikira bentuk kasih sayang saudara, kini serasa mencabik-cabik hati Kendrick. Dia telah kecolongan, dikhianati oleh orang-orang yang sangat ia percaya.
"Ahhh!"
Kendrick menggeram, manakala mengingat waktu-waktu tertentu, di mana dia mengizinkan Binar dan Channing bepergian berdua. Bahkan, sampai ke luar kota. Selain itu, Kendrick juga ingat betapa bahagianya dia saat melihat Channing dan Binar saling bercanda.
"Aku benar-benar bodoh, tidak bisa membaca situasi yang jauh. Aku hanya terpaku dengan apa yang tampak di depan mata," batin Kendrick dengan tangan yang mengepal erat.
__ADS_1
Tak terbayang bagaimana besok jika Binar juga mengatakan hal yang sama.
Bersambung...