
Waktu begitu cepat berlalu. Hampir tak terasa, enam bulan sudah lamanya Binar tinggal di Kota Malang.
Tak ada masalah yang berarti, selain hatinya sendiri. Kuliah berjalan dengan lancar, pun dengan hobi yang ia tekuni. Ilustrasi komik yang ia garap, sudah rampung sejak bulan lalu. Kini ia sudah memegang garapan lain, ilustrasi komik dari adaptasi novel yang berbeda. Selain itu, ia juga menyelesaikan ceritanya sendiri yang tersisa beberapa bab lagi.
'Prince Charming', judul yang tertera dalam file cerita tersebut. Berbeda dengan gambaran di kertas—untuk koleksi pribadi—yang pernah dilihat Channing, wajah tokoh utama dalam cerita yang akan dipublikasikan secara online itu sedikit diubah. Jika tidak diamati dengan jeli, orang tak akan sadar jika tokoh utama dalam cerita itu mirip dengan dirinya dan Channing.
Dengan mengambil genre fantasi, Binar mengangkat tema romansa istana, kisah cinta seorang putri kerajaan yang bertepuk sebelah tangan. Secara garis besar, sedikit mirip dengan apa yang ia alami sendiri.
"Besok, komik ini akan mulai aku up. Mudah-mudahan ... nama Kejora33 bisa naik pelan-pelan. Hingga saatnya nanti, dia akan menjadi komikus yang terkenal. Pasti bahagia banget andai itu beneran terjadi," ucap Binar sambil melihat layar laptopnya. Menatap puas pada ilustrasi komik miliknya sendiri.
Setelah cukup lama senyum-senyum tak jelas, Binar sedikit beringsut guna mengambil pie su-su yang tersaji dalam piring. Itu merupakan oleh-oleh dari orang tuanya kemarin, yang sempat datang berkunjung. Namun, hanya Axel yang ikut bersama mereka, sementara Channing tidak. Katanya, sedang ada tugas mendesak. Namun, benar tidaknya, Binar tak tahu. Biarlah!
"Ya udahlah. Lebih bagus gini kan, nggak ketemu, nggak sering-sering berhubungan. Mungkin dengan gitu, aku nanti beneran bisa menghapus perasaan ini. Hah, enam bulan ternyata belum cukup untuk menata hati," gumam Binar seorang diri.
Memang menyebalkan jika dipikirkan. Sudah pergi jauh dan menjaga jarak, nyatanya ... cinta tetap saja ada. Kadarnya nyaris tak berkurang, tetap besar dan menggebu seperti dulu. Hanya saja, sekarang Binar lebih tahu diri. Tak lagi memaksakan karena luka dan kecewanya amat menyakitkan. Definisi masalah akan mendewasakan diri, bagi Binar memang benar adanya.
Di tengah asyiknya menyantap pie, Binar mengambil ponselnya, dan kebetulan ada satu pesan masuk dari Evan. Setelah terakhir kali menghubungi tadi pagi, mengabarkan bahwa dia akan berkunjung lagi ke Malang.
'Bin, jalan yuk! Aku kangen jajanan di Pujasera.'
Binar tersenyum. Evan ternyata tak seburuk yang ia pikirkan. Selain sopan, dia juga tak pernah memaksa. Cinta sekadar disinggung tipis-tipis, tak sampai membuatnya risih. Itu pula yang membuat Binar mau berteman dengannya sampai saat ini, bahkan dengan hubungan yang lebih akrab.
'Apa nggak capek? Abis perjalanan jauh.'
'Aku udah tiba dari sore tadi kok, udah sempat istirahat.'
Binar berpikir sesaat, sebelum mengetik pesan balasan untuk Evan.
'Oke deh.'
Akhirnya, Binar menyetujui ajakan Evan.
__ADS_1
Sebelum bersiap untuk pergi, Binar memandang lagi riwayat pesan yang masih terpampang di layar ponsel. Harusnya, Evan adalah kandidat yang layak dipertimbangkan untuk menjadi kekasihnya. Namun sayang, hati belum bisa diajak kompromi. Masih saja terpaku pada sosok lain yang nyata-nyata tak pernah membalas cintanya. Apa sesulit itu mengendalikan hati?
Tak ingin berlama-lama larut dalam pikiran yang menyakitkan, Binar bergegas bangkit dan mengganti rok pendeknya dengan celana panjang. Lantas, mengambil blazer hitam untuk dipadukan dengan kaus merahnya. Sementara rambut, ia biarkan seperti semula—terurai. Wajah pun tetap dengan make up tipis dan natural.
Usai memasukkan ponsel ke dalam tas, Binar keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Ia pun menghampiri Yuna dan Abercio yang ada di ruang keluarga.
"Mau ke mana?" tanya Abercio.
"Mau keluar sama Kak Evan. Boleh, kan?" Binar menjawab sambil duduk di sebelah Yuna.
Abercio mengangguk. "Asal jangan pulang malam-malam, harus tahu waktu."
"Siap."
"Binar, apa dia calon pasangan yang mau kamu kenalkan dulu?" goda Yuna.
Binar tertawa sumbang, teringat kembali dengan ucapannya kala itu. Berharap Channing akan secepatnya membalas cinta, nyatanya ... malah menabur garam di luka lama.
"Iya kah? Kok aku kurang yakin, ya." Yuna tertawa lebih keras, menganggap Binar menunduk karena tersipu, tanpa tahu jika aslinya menyembunyikan raut sendu.
Tak lama setelah ketiganya berbincang, Evan datang dan dengan jantan menemui Abercio. Meminta izin pada pria itu untuk mengajak Binar keluar. Tanpa sedikit pun membantah, Evan mengiyakan segala pesan yang diberikan Abercio. Mulai dari tidak pulang larut malam, juga tidak bertindak macam-macam.
Usai mendapat izin, Binar dan Evan pergi dengan menggunakan motor besar, yang katanya milik anak Om Hardi. Evan melajukannya dengan pelan, seakan sengaja menikmati gemerlap lampu di sepanjang jalan, juga hawa dingin yang menyusup ke dalam pakaian panjang mereka.
"Bin, abis ke Pujasera, kita ke taman bentar yuk!" ajak Evan selagi motor masih melaju.
"Boleh." Binar setuju karena jarak taman dengan Pujasera tidak jauh, sekitar dua ratus meter saja.
Karena ada tempat kedua yang akan dikunjungi, mereka tidak menghabiskan waktu lama di Pujasera. Sekadar untuk menyantap roti bakar dan secangkir kopi. Setelahnya, Binar dan Evan meluncur menuju taman.
"Duduk di sana yuk!" Evan menunjuk bangku panjang yang ada di dekat pucuk merah, di bawah lampu yang benderang menerangi tempat itu.
__ADS_1
Binar menjajari langkah Evan yang menuju ke sana, lantas duduk di samping lelaki itu. Dalam detik-detik pertama, keduanya fokus menatap ke langit timur. Bulan jingga belum lama beranjak dari peraduan, memamerkan keanggunan di antara mega-mega yang ikut berarak di sekitarnya.
Berbeda dengan Binar yang benar-benar menikmati keindahan itu, Evan sesekali melirik keindahan lain di sampingnya. Apa lagi kalau bukan Binar.
Dengan diterpa semilir angin yang mempermainkan rambut panjangnya, pesona Binar tampak bersinar. Dan tak dipungkiri, kebahagiaan Evan tak terkira manakala berada di dekatnya. Dia rela datang sebulan sekali, hanya demi gadis itu.
Meski hampir tak ada perubahan dalam hubungan mereka, tetapi Evan tak masalah. Dengan bertemu dan mendengar suara Binar secara nyata, sudah lebih dari cukup baginya. Terlebih lagi bisa melihat dia tersenyum seperti malam ini. Ia serasa berada di puncak keberuntungan.
"Binar!" panggil Evan.
"Iya, Kak." Binar menoleh, dan dalam beberapa detik mata keduanya saling beradu.
"Aku mau jujur sama kamu."
Ucapan Evan membuat Binar tersadar dan mengalihkan pandangannya. Mata itu ... dia takut menyelaminya dalam-dalam. Ada harapan yang belum bisa ia sambut sekarang.
"Jujur soal apa?"
Evan menarik napas panjang. "Soal kedatanganku. Sebenarnya ... Papa nggak pernah ke sini, nggak ada urusan kerjaan dengan Om Hardi. Aku sendiri yang niat datang ... untuk kamu."
Binar terkejut.
"Om Hardi nggak pernah kekurangan dana. Proyeknya berjalan lancar, dan ... salah satu vilanya malah kutempati setiap kali ke sini. Motor itu, juga bukan milik anak Om Hardi. Aku yang membelinya, agar nggak repot kalau mau ketemu kamu. Kuharap kamu nggak marah, Bin. Aku ngelakuin ini karena nggak mau putus hubungan sama kamu," sambung Evan.
Binar makin terkejut.
"Lalu kamu tahu dari mana kalau aku di sini, Kak?"
Evan tak langsung menjawab, malah menatap Binar dengan lebih lekat.
Bersambung...
__ADS_1