
Senyum ceria Binar tak terelakkan lagi, manakala orang tua dan adiknya bertandang ke Kota Malang, ke rumah Abercio yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Sapaan ramah dan juga pelukan manja menjadi sambutan pertama yang Binar suguhkan. Dilanjut dengan basa-basi beruntun yang membuat Kendrick dan Athena geleng-geleng kepala. Gelar sarjana ternyata tak membuat Binar berhenti dari kecerewetannya.
"Tapi, kok, Mama Papa cuma sama Axel doang? Kak Channing mana?" tanya Binar. Dia pikir, tadi Channing masih berada di dalam taksi. Namun, sampai taksi melaju pergi, Channing tak kunjung hadir di antara mereka.
"Kakakmu tidak bisa ikut sekarang, masih ada kerjaan mendesak. Dia akan menyusul nanti."
Mendengar jawaban sang ayah, Binar langsung memanyunkan bibirnya. Nanti kapan memangnya? Penerbangan Bali-Malang hanya hari ini dan lusa. Tidak ada esok atau nanti malam. Lantas, mau terbang dengan apa Channing? Pinjam sapu milik penyihir?
"Libur dua hari aja beneran nggak bisa ya, Pa? Harus banget dikerjakan sekarang? Padahal, kami udah nggak pernah ketemu loh," protes Binar dengan kepala yang tertunduk.
"Binar, jangan ngomong begitu. Setelah kerjaannya selesai, Channing juga akan langsung ke sini," sahut Athena yang merasa tidak enak hati karena Binar seolah-olah menyalahkan Kendrick, sebagai pimpinan tertinggi di kantor.
"Aku cuma ingin dia hadir di acara pentingku, Ma. Ini sekali seumur hidup. Sesulit itu kah?" Binar menjawab tanpa mengangkat wajah.
"Ini juga di luar pengetahuan Papa, Binar. Bukan kerjaan di kantor yang membuat Channing tidak bisa datang sekarang, melainkan rencana kerja sama yang dia rencanakan bersama Felix. Kamu tahu kan mereka akan membuka minimarket?" timpal Kendrick. Membeberkan secara rinci alasan Channing tak bisa ikut pulang hari itu.
Binar menarik napas panjang. Memang benar, Channing ada rencana kerja sama dengan Felix. Katanya, akan membuka minimarket sebagai usaha pribadi, yang nantinya akan dikembangkan bersama, perlahan-lahan. Namun, Binar sedikit kecewa juga jika karena itu Channing tak bisa datang di hari istimewanya. Apalagi tanpa kabar sedikit pun.
"Udahlah, Bin, jangan cemberut gitu. Channing telat datang kan untuk kerja, untuk masa depan kalian juga nanti. Dia sedang berjuang loh, masa kamu malah ngambek gini?" Yuna ikut menyela, seraya menepuk dan mengguncang pelan bahu Binar.
__ADS_1
"Iya." Binar menyahut pelan dan singkat. Meski bibirnya mengulas senyum, tetapi hatinya masih dongkol. Ada rasa kesal dan sesak yang bercampur menjadi satu, membuatnya kurang semangat dengan keadaan saat itu.
'Kenapa nggak bilang kalau hari ini belum ikut pulang?'
Tulis Binar pada kolom pesan yang dikirim untuk Channing. Menyusul pesan tadi pagi, yang sampai saat belum jua dibaca.
Sambil berpura-pura menyimpan oleh-oleh yang dibawa orang tuanya, Binar memandang kembali layar ponsel yang menyiratkan pesannya bersama Channing. Semalam, lelaki itu menanyakan perihal oleh-oleh yang dia inginkan. Lantas, tadi pagi ia menjawabnya dengan kalimat panjang—tidak ingin oleh-oleh yang macam-macam, cukup bunga tangan yang nanti diserahkan selepas ia diwisuda.
Tepat pukul 06.00 pagi pesan itu terkirim. Namun, hingga kini pukul 02.00 siang, belum juga ada balasan. Binar kira, tadi karena Channing sibuk mempersiapkan perjalanannya ke Malang, makanya tidak sempat membalas. Namun ternyata, lelaki itu malah telat datang. Entah semendesak apa pekerjaannya. Sampai rela melewatkan penerbangan yang tiketnya sudah ia pesan sejak jauh--jauh hari.
"Sesibuk itu ya? Sampai nggak ada waktu untuk membalas pesanku. Padahal, cukup meluangkan beberapa detik saja udah bisa." Binar membatin dengan kecewa. Kalaupun telat atau bahkan tak bisa datang, setidaknya beri kabar. Jangan menghilang tanpa sepatah kata.
Pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda, Channing sedang melangkah penuh kharisma menuju ruangan terbuka di lantai dua, di rumah Felix. Dia akan menemui sahabat sekaligus calon mitra kerjanya.
"Nggak juga sih, aku belum lama nyampai rumah. Tadi, ikut Papa keluar menemui klien," jawab Felix. "Kamu sendiri ... tiba-tiba aja mau bahas ini? Bukannya hari ini harus terbang ke Malang ya? Katamu besok Binar wisuda."
Channing tersenyum kecut. "Dari pada ditunda-tunda mulu, kan?"
"Tunda sebentar doang. Besok aku ke luar kota cuma tiga hari. Kalaupun sekarang kamu ke Malang dulu, nggak sampai seminggu tertundanya."
"Ya udah sih, lima hari juga waktu. Lagian acaranya masih besok siang. Masih keburu misal berangkat nanti malam," jawab Channing.
__ADS_1
"Ya ... kupikir kamu akan pulang lebih awal gitu, bukan mepet gini. Udah lama nggak ketemu kan, emang nggak butuh banyak waktu buat melepas rindu?" Felix terkekeh-kekeh.
"Masih fokus menata masa depan dulu. Rindunya nanti kalau udah dapat restu," jawab Channing sekenanya, yang lagi-lagi membuat Felix tertawa.
Usai mengobrol ringan itu, Felix dan Channing mulai bicara serius. Membahas rencana bisnis yang akan mereka jalankan, mulai dari pemasokan barang, sampai anggaran untuk sewa tempat dan gaji karyawan.
Dana yang diperlukan tentunya tidak sedikit, namun beruntungnya ayah Felix siap menjadi investor terbesar.
"Jika semuanya lancar, tidak sampai dua bulan kita udah bisa jalan. Kamu siap-siap aja, tidur dua jam dalam semalam," ujar Felix dengan tawa renyahnya.
Channing menaikkan kedua alisnya. "Ya ... memang agak gila sih. Di sela kerjaan yang padat gini, kita malah buka bisnis lain. Entahlah gimana nanti atur waktunya. Di kantor mata udah kayak geser kebanyakan lihat angka yang berderet-deret, terus nanti ditambah garap laporan di toko. Cosplay jadi robot nggak 'tuh."
"Katamu menata masa depan biar dapat restu."
Channing tertawa. Memang benar, untuk mendapat restu. Namun selain itu, ada alasan lain yang dari diri sendiri. Channing ingin mandiri. Sukses atas usaha pribadi, bukan sekadar mengandalkan warisan orang tua. Kalaupun nanti Kendrick ikut membantu usahanya, tentu akan dihitung sebagai investasi, bukan diberikan cuma-cuma. Pun dengan ayah Felix, semua dihitung layaknya bisnis pada umumnya.
Selagi menunggu Felix menyalin data barusan, Channing mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto. Lantas, mengirimkannya kepada Binar.
'Maaf ya belum ngasih kabar, sejak pagi aku masih sibuk. Ini aja belum kelar. Kamu jangan kecewa dulu ya. Acara besok, aku usahakan buat datang kok. Kamu yang semangat ya, jangan lupa senyum. Udah sarjana, nggak boleh ngambekan.'
Tulis Channing di bawah yang foto menampilkan sosok Felix, lengkap dengan mejanya yang berserakan.
__ADS_1
Setelah pesan itu terkirim, Channing terdiam sesaat. Meredam dan menenangkan rasa yang tiba-tiba bergejolak dalam hatinya.
Bersambung...