Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Weekend yang Manis


__ADS_3

Weekend yang dinanti akhirnya tiba juga. Sesuai dengan keinginan Binar sebelumnya, hari libur itu ia akan menghabiskan waktunya bersama Channing. Tidak tanggung-tanggung, sejak Sabtu sore mereka pergi, dan mungkin Minggu malam baru tiba di rumah. Wajar, tujuan mereka bukan sekadar tempat di Pulau Bali, melainkan Kota Malang yang ada di Jawa Timur.


Namun, tujuan mereka bukan sekadar jalan-jalan, melainkan juga sambil melihat kondisi agro wisata milik ayahnya di sana, yang saat ini ditanggung jawab oleh Abercio—kakak kandung Athena.


Sekitar pukul 09.00 malam, Channing dan Binar tiba di tempat tujuan. Abercio dan istrinya—Yuna, langsung menyambut mereka dengan gembira. Meski tinggal berjauhan, tetapi hubungan mereka memang sangat baik. Kalaupun dalam waktu tertentu tak bisa berkunjung, namun senantiasa bertukar kabar.


"Kak Malvin mana?" Binar menanyakan kakak sepupunya yang sebaya dengan dirinya.


"Masih keluar tadi sama temannya. Tapi, mungkin nggak lama lagi udah balik. Dia udah tahu kalau kamu dan Channing mau ke sini," jawab Yuna.


Binar mengangguk paham. "Ngomong-ngomong ... teman Kak Malvin cewek apa cowok?"


Channing yang kala itu berada di sebelah Binar, sontak mengacak-acak rambut adiknya sambil tertawa.


"Kamu ini selalu aja kepo," ucapnya.


"Ya kan penasaran," sahut Binar.


Yuna dan Abercio tertawa sambil menggeleng-geleng. Meski bukan sekali dua kali melihat tingkah Channing dan Binar, namun tetap lucu menurut mereka.


"Malvin pergi dengan teman perempuan. Mmm, lebih tepatnya ... pacar," kata Yuna.


"Kalian sendiri gimana? Udah ada pacar belum? Nggak mungkin, kan Kendrick masih melarang kalian pacaran?" timpal Abercio, sengaja menggoda keduanya.


Namun, pertanyaan yang maksudnya sekadar candaan, justru ditanggapi dengan berbeda oleh Channing dan Binar. Masing-masing memasang ekspresi yang tam sama. Channing mendadak masam karena teringat dengan Laurent. Sementara Binar senyum-senyum tak jelas karena memikirkan Channing, sang kakak yang suatu saat nanti diyakini menjadi miliknya.


"Sebentar lagi aku ada pacar. Nanti kuajak ke sini dan kukenalkan dengan kalian. Pasti aku langsung diacungi lima jempol." Binar tersenyum lebar. Sejauh ini, citra Channing sangat baik di mata mereka. Jadi, pasti didukung jika nanti lelaki itu yang menjadi pasangannya.


"Jadi ceritanya udah ada gebetan, nih?" tanya Yuna.


"Ya ... gitu deh." Binar menjawab asal.


Namun, tanpa dia sadari, di sebelahnya Channing menatap lekat. Lelaki itu sibuk bertanya dalam batin, siapa kira-kira yang dimaksud Binar. Dirinya atau Evan?

__ADS_1


Lagi, ada perasaan tak nyaman yang menyeruak begitu saja, yang tidak ia tahu dari mana datangnya. Tidak mungkin karena Binar, kan?


Karena perasaan itu tak jua hilang, Channing memutuskan untuk bangkit dan membersihkan diri di kamar. Dia meninggalkan Binar yang masih asyik bercanda dengan Yuna dan Abercio.


Di dalam kamar yang disediakan untuknya, Channing berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. Logikanya terus berteriak, berusaha mematahkan perasaan yang masih semu. Channing tak mau ikut terjerumus dalam hal tabu itu. Binar adalah adiknya. Walau sekadar adik sambung, tetapi tak etis baginya untuk menyukai Binar, sementara orang tua mereka saja masih terikat tali pernikahan.


"Sadar, Channing, sadar! Jangan karena Lala pergi, kamu jadi gila begini. Jangan jadikan Binar sebagai pelampiasan perasaan karena kecewa dengan keadaan. Kamu itu kakak, harus bisa menjaga adiknya, bukan malah mikir yang nggak-nggak kayak gini," ucap Channing sambil menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


_________


Keesokan paginya, Channing, Binar, Abercio, dan Malvin pergi bersama-sama ke perkebunan. Sebagai tempat yang dijadikan agro wisata, hari Minggu begitu cukup ramai di sana. Sejak pagi sudah banyak pengunjung, dan sebagain besar adalah muda-mudi.


Binar sendiri hanya sibuk menatap ke sana kemari, tanpa ikut menyahut apa yang Channing dan Abercio bicarakan. Tetapi bagaimana mau menyahut, paham saja tidak. Binar sangat lemah dalam hal bisnis, rumit dan membosankan menurutnya. Ia lebih suka menuangkan emosi dan imajinasi dalam sebuah lukisan.


"Tempatnya sejuk dan adem banget dilihat. Meski ramai orang, tapi damai, nggak bising. Tempat yang cocok untuk mencari inspirasi," batin Binar sambil menatap ke seliling.


Sejauh mata memandang, disuguhi dengan keindahan pohon-pohon apel yang sedang berbuah lebat. Pesonanya makin memukau dengan paduan rumah-rumahan pampang yang dibangun untuk tempat beristirahat.


"Bin, ayo!" ujar Channing yang kala itu sudah berada jauh di depan.


Dengan alasan takut tertinggal lagi, Binar menggandeng manja tangan Channing. Sebuah keberuntungan karena tidak ada penolakan dari sang kakak. Enjoy saja, bahkan sampai mereka berjalan cukup jauh.


"Kak, capek!" keluh Binar setelah beberapa menit kemudian. Dia tidak bohong, kenyataannya memang sangat lelah kala itu. Sampai-sampai kening dan wajahnya dibasahi keringat.


"Nggak ingin lihat yang di sana?" tanya Channing.


Binar menggeleng. "Nggak, capek."


Karena kasihan dengan Binar, Channing memutuskan untuk berhenti di sana. Lagi pula, pembahasannya dengan Abercio sudah cukup, dan pria itu juga masih ada urusan lain, yakni mempersiapkan pemanenan yang akan dilakukan mulai esok hari.


"Nyaman banget ya di sini. Adem ... damai, gitu," celetuk Binar.


Kala itu, keduanya sudah memasuki rumah pampang dan duduk di sana menyambut angin segar yang menerpa.

__ADS_1


Alih-alih menjawab ucapan Binar, Channing malah dibuat tertegun dengan pemandangan di hadapannya. Bukan tentang alam, melainkan tentang seseorang. Ya, Binar, gadis ceria kini duduk di hadapannya sempat mencuri perhatian Channing.


Wajah natural dengan rambut yang dikuncir asal, sebagian terlepas dari ikatan sehingga meriap ke mana-mana. Sepele, namun menjadi hal menarik yang sayang untuk dilewatkan. Setidaknya menurut Channing.


"Evan masih menghubungi kamu, nggak?" Dari sekian banyak pertanyaan, entah mengapa justru pertanyaan konyol itu yang keluar dari bibir Channing.


Binar menoleh sesaat, lalu menggeleng pelan. "Kenapa tiba-tiba Kakak menanyakan itu?"


"Nggak apa-apa, cuma ingin tahu aja."


Binar tak menyahut. Namun untuk kesekian kali, hatinya bersorak girang. Ia menafsirkan maksud dari pertanyaan itu adalah rasa cemburu.


"Kak!" Binar merapatkan duduknya hingga tak ada jarak lagi dengan Channing. "Kamu nanti apa juga kayak Papa gitu? Punya aset di mana-mana. Tiap hari kerja mulu, bisnis mulu," sambungnya.


"Lah terus? Nganggur, membudayakan rebahan dan malas-malasan kayak kamu gitu?"


"Ishh, aku nggak males ya. Asal Kakak tahu, aku nanti bakal jadi desainer cover dan komikus yang terkenal. Nggak perlu keluar rumah panas-panasan, desak-desakan, kejar-kejaran sama deadline, tapi udah bisa menghasilkan karya yang bernilai ratusan juta. Keren, kan?" sahut Binar membanggakan cita-cita yang menurutnya terbaik.


"Kalau kamu sih ya boleh-boleh aja. Tapi kalau aku, nggak tertarik deh, karena aku yakin nggak semudah itu. Lebih mending nerusin bisnis Papa, udah pasti. Asal tangkas dan mau kerja keras, hasil nggak akan mengkhianati."


"Tapi tiap hari kerja, kadang sampai nggak kenal waktu. Belum tua pasti udah ubanan, terus banyak keriput, sering darah tinggi. Iuhhh."


Channing mengacak-acak rambut Binar. "Emang sekarang Papa kayak gitu?"


"Iya lah. Kelihatan kan, jauh lebih tua dari Mama?"


"Jangan ngaco, Bin, umur Papa dan Mama emang selisih jauh. Kalau sekarang Papa kelihatan lebih tua bukan karena kerjaan, tapi emang waktunya," kata Channing.


"Tapi kalau nggak tiap hari kerja, nggak mungkin setua itu." Binar masih tak mau kalah.


Channing menghela napas panjang. "Papa itu laki-laki, sama kayak aku. Ada tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kalau nggak kerja, emang anak istrinya mau dikasih makan angin gitu?"


"Tenang aja, uang bisa dicari bareng-bareng kok," jawab Binar dengan entengnya, sembari melayangkan tatapan yang mengandung banyak arti.

__ADS_1


Channing dibuat salah tingkah. Dalam hatinya ia membatin, "Kok pembahasannya jadi kayak mengarah ke kami sendiri ya?"


Bersambung...


__ADS_2