
Udara dingin khas Kota Malang, sudah menyapa dan membelai mesra kulit Binar. Satu jam yang lalu, dia sudah tiba di kediaman Abercio. Lantas, ia langsung naik ke lantai dua dan menempati kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.
Meski masa kecilnya dulu bukan di rumah itu—di rumah lama yang sudah dijual, tetapi banyak kenangan yang masih tersimpan. Salah satunya adalah boneka barbie yang panjangnya hanya sejengkal. Itu adalah mainan terbaik yang pernah ia punya dulu, dibelikan oleh Abercio, bersamaan dengan robot-robotan milik Malvin.
Kini, boneka yang sudah kusam itu ada dalam genggaman Binar. Ia bawa ke dekat jendela dan ia ajak menyaksikan suasana damai di luar sana.
Perasaan miris kembali muncul dalam hati Binar. Kepingan-kepingan ingatan masa lalu yang kadang terpenggal, kembali melintas dan meninggalkan sejuta luka yang begitu perih.
Samar-samar, Binar teringat dengan perjuangan ibunya yang berjualan kue kering demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah, yang sebenarnya tak seberapa. Ia juga teringat dengan sikap kasar ayahnya dulu. Bagaimana pria itu mencaci maki dirinya, dan malah meratukan wanita selain ibunya. Pria yang harusnya menjadi cinta pertama, justru menjadi awal luka dalam hidupnya.
Kini, semua itu telah jauh berlalu. Perlahan luka menutup dan sembuh setelah Kendrick hadir dan menjadi sosok ayah baginya. Bukan sekadar kasih sayang dan hangat keluarga yang ia dapatkan, melainkan juga membaiknya keuangan. Hidupnya yang semula sederhana, menjadi mewah dan bergelimang harta.
Namun, di dalam kemewahan itu pula dia kembali dipertemukan dengan luka. Hati yang sempat tegar pun lagi-lagi rapuh, karena bukan hanya luka baru yang ia rasa, melainkan juga luka lama yang perlahan membuka kembali dengan sendirinya.
"Moga aja ... dengan tinggal di tempat ini, aku bisa melupakan semua luka yang pernah ada," gumam Binar seraya menatap boneka barbie di tangannya.
Sebenarnya, bukan hanya menyembuhkan luka saja tujuan Binar tinggal di rumah Abercio, tetapi memang ada niatan untuk menekuni apa yang ia cita-citakan.
Beberapa hari lalu, sebelum dia dan Channing bertengkar, Binar mendapat tawaran untuk menjadi ilustrator dari sebuah novel yang akan diadaptasi menjadi komik. Penerbit yang menggunakan desainnya kemarin yang merekomendasikan Binar. Kebetulan, penerbit tersebut memang bekerja sama dengan apli-kasi online yang biasa mengadaptasi novel menjadi komik.
"Semangat, Binar. Ini adalah langkah awal yang baik untuk kamu. Nama penulis itu udah cukup terkenal, dengan menjadi partner-nya, pasti sedikit demi sedikit juga akan ada yang mengenalmu," ujar Binar, menyemangati diri sendiri.
Senyum pun perlahan terkulum di bibirnya, membayangkan nanti namanya akan terkenal sebagai komikus terbaik. Bukan sebatas ilustratornya saja, melainkan juga alur cerita yang ada di dalamnya. Ahh, sungguh indah andai mimpi itu benar-benar terwujud.
________
__ADS_1
Satu minggu pertama telah dilalui Binar dengan baik. Tempat baru yang membawa suasana baru. Meski terkadang masih teringat dengan Channing, berikut dengan lukanya, namun tak sampai membuatnya larut dalam kesedihan. Menekuni hobi cukup menghibur dan membuatnya bahagia. Tak hanya membuat ilustrasi untuk orang lain, melainkan juga membuat alur dan ilustrasi milik diri sendiri.
Binar harap, karya itu kelak akan mengangkat nama penanya—Kejora33. Sebuah angka yang diambil dari nama, serta tanggal dan bulan lahirnya—3 Maret.
"Besok udah mulai kuliah lagi, waktu untuk garap ini sedikit berkurang. Tapi, nggak apa-apa lah. Mungkin dengan sibuk gini, aku nggak ingat lagi dengan masalah yang udah lewat," ujar Binar seorang diri. Lantas, matanya memancarkan kebahagiaan manakala menatap peralatan kuliah yang sudah rapi di atas meja, yang siap dibawa esok hari.
Detik berikutnya, Binar menatap keluar dari balik tirai yang tersingkap. Senja sudah lama padam, kini berganti kerlip bintang yang menghiasi indahnya bentangan langit.
Sejenak terdiam, timbul keinginan dalam hati Binar untuk menikmati suasana malam di luar. Pasti seru, pikirnya.
Karena keinginan itu sangat kuat, akhirnya Binar bangkit dan mengganti baju santainya dengan blouse dan jeans panjang. Lantas, menguncir separuh rambutnya ke belakang, sementara poni dibiarkan menutupi kening.
Setelah selesai bersiap, Binar turun ke lantai bawah. Di sana, Yuna sedang menyiapkan makan malam, sedangkan Abercio sibuk memeriksa laporan panen bulan ini.
"Pengin keluar bentar, nyari angin." Binar menghampiri Yuna dan duduk di hadapannya. "Kak Malvin mana?" sambungnya.
"Malvin keluar dari sore tadi. Kamu mau nyari angin ke mana? Biar diantar sama papamu, jangan keluar sendirian."
Binar menoleh ke arah Abercio. "Papa Abi masih sibuk. Aku sendiri aja nggak apa-apa. Cuma mau muter-muter di sekitar sini."
"Ya udah, tapi jangan jauh-jauh dan jangan pulang terlalu malem. Kamu anak gadis."
"Iya." Binar mengangguk sambil tersenyum. Lantas, mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk. Sedikit saja, karena dia berencana mencari jajanan di Pujasera. Hanya saja, dia tak ingin mengecewakan Yuna. Makanya, tetap menyantap makanan meski tidak banyak.
"Binar!" panggil Abercio ketika sudah bergabung dengan mereka. Dia meninggalkan sejenak pekerjaannya, demi makan bersama sang istri.
__ADS_1
Binar bergumam dan menoleh ke arah Abercio.
"Kamu lagi nggak ada masalah, kan?" tanya Abercio dengan hati-hati. Setelah sekian hari Binar tinggal di sana, baru kali ini ada kesempatan yang pas untuk bertanya.
Binar menggeleng ragu. "Nggak ada kok, Pa."
"Syukurlah kalau nggak ada, soalnya dulu kamu nggak pernah ada rencana tinggal di sini. Aku juga sudah menanyakan ini pada ibu dan papamu, dan kata mereka juga tidak ada masalah. Cuma, aku khawatir kamu punya masalah yang nggak mereka ketahui."
Binar berhenti mengunyah. Ucapan Abercio barusan sangat mengena. Seolah mengulik jelas apa yang ia sembunyikan.
"Nggak ada kok. Aku cuma pengin nyari suasana tenang untuk menekuni hobi ini," kilah Binar. Dia tak sanggup berterus terang.
"Baguslah kalau gitu. Kamu puas-puas tinggal di sini, kami ikut senang. Kejar apa yang kamu impikan, Bin. Apa pun itu, kami akan selalu mendukungmu," sela Yuna, yang kemudian ditanggapi dengan anggukan dan senyuman manis.
Usai menyantap makan malam, Binar bangkit dan keluar rumah. Dia berjalan kaki menyusuri jalanan yang cukup sepi—hanya satu dua kendaraan yang lewat. Sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana, Binar terus melangkah hingga keluar dari kawasan perumahan.
Binar tiba di jalan raya, suasana lebih ramai dari sebelumnya, namun tak sebising tempat tinggalnya di Bali. Binar terus melangkahkan kakinya dengan mata yang menatap lurus ke depan, ke arah Pujasera yang ada di ujung sana.
Akan tetapi, belum sempat Binar tiba di tempat tujuan, tiba-tiba ada satu suara yang menghentikan langkahnya.
"Binar!"
Binar menoleh karena merasa kenal dengan suara itu. Benar saja, ketika dia menoleh, di belakangnya sudah berdiri sosok lelaki yang sebenarnya ia hindari.
Bersambung...
__ADS_1