
Tepat satu minggu setelah tersiar kabar yang menyangkut identitas Channing, Kendrick berhasil mengungkap pelaku utama dari kekacauan itu.
Sesuai dengan dugaan awal, ternyata dalangnya memang keluarga dari William Kiel—ayah kandung Channing. Mereka merasa tidak adil karena Channing tumbuh besar di keluarga Demitry, tanpa mengindahkan mereka yang turut andil darah dalam diri Channing.
Karena tak ada penerus laki-laki dalam keluarga besarnya, mereka sampai lupa dan menutup mata bahwa keberadaan Channing adalah aib juga untuk keluarga mereka. Melihat keluarga Demitry selalu harmonis dan sukses dalam bisnis, mereka merasa iri dan nekat berbuat licik. Namun, impian mereka untuk menghancurkan keluarga Kendrick, sekarang justru menjadi boomerang, karena keluarga mereka sendirilah yang menuai getahnya.
"Saya adalah laki-laki yang bertanggung jawab, tidak akan mencampakkan istri yang sedang ada dalam masalah. Lagi pula, saya dan keluarga mertua sudah merundingkan ini. Mereka tidak keberatan Channing berada dalam asuhan saya. Dan lagi, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya, saya dan keluargalah yang paling tahu, bukan orang luar." Ucapan Kendrick sewaktu memberikan klarifikasi terkait masalah tersebut.
Sebuah pernyataan sedikit ambigu, namun membuat banyak orang mengacungkan jempol kepada Kendrick. Sebaliknya, mereka beralih memandang buruk keluarga William. Banyak asumsi yang mengatakan bahwa William dan istri Kendrick tidak selingkuh suka sama suka, melainkan di bawah paksaan.
Rencana yang awalnya disusun untuk menyerang Kendrick, kini berbalik. Keluarga William sampai kewalahan menghadapi dampaknya. Jika tidak pintar memutar otak, dapat dipastikan bisnis mereka yang menjadi taruhan. Biarlah, Kendrick tak merasa iba. Itu cukup sepadan dengan apa yang berani mereka lakukan terhadapnya.
"Semua masalah sudah kuatasi, Channing. Mungkin, ini sedikit meninggalkan citra buruk terhadap keluarga ayahmu. Tapi, mereka sendiri yang memulai. Jadi, ini sudah konsekuensinya," ujar Kendrick sepulangnya dari bekerja.
Channing yang kala itu sedang berada di ruang keluarga, mengangguk sembari mengulas senyum.
"Kamu jangan salah paham ya. Papa sengaja memberi pelajaran untuk mereka, demi kamu juga. Papa tidak mau masa depanmu terkendala oleh orang-orang licik. Terlepas dari siapa pun ayahmu, kamu tetap anak Papa, sama seperti Binar dan Axel. Kebahagiaan kalian adalah prioritas utama Papa," lanjut Kendrick seraya merangkul Channing dan menepuk-nepuk bahunya.
Channing makin tersenyum. "Terima kasih banyak ya, Pa. Aku tidak mempermasalahkan semua itu. Dengan Papa membiarkan aku tumbuh di rahim Mama, lalu lahir, dan membiarkan aku sampai dewasa begini, itu udah lebih dari cukup, Pa."
Kendrick turut tersenyum. "Sudah seharusnya Papa melakukan itu."
Channing menggumam pelan, beriringan dengan tangan Kendrick yang melepaskan rangkulan.
__ADS_1
"Sudah ya, tidak boleh terbebani lagi oleh apa pun. Kamu punya Papa dan juga Mama Athena. Kami sangat menyayangimu. Dan kami juga bisa kamu andalkan di masa depan. Mengerti, Brother?" ujar Kendrick seraya menepuk bahu Channing.
Lelaki muda nan tampan itu mengangguk. Sungguh merupakan keberuntungan ia mendapat kasih sayang dari Kendrick, mengingat kenyataan bahwa dirinya sekadar anak hasil selingkuhan yang tidak ada hubungan darah. Terlepas dari apa alasannya sang ibunda dulu melakukan itu, yang jelas ... perselingkuhan tidak dibenarkan dalam ikatan pernikahan.
"Ya sudah, Papa mau ke kamar dulu. Lanjutkan aktivitasmu!"
"Iya, Pa," jawab Channing.
Selepas kepergian Kendrick, Channing menghela napas panjang. Meski matanya mengarah ke televisi yang sedang menayangkan film, tetapi pikirannya tidak ikut masuk ke sana. Ada satu beban yang serasa mengganjal dan membuatnya tidak nyaman.
"Papa bisa dengan cepat menangani masalah seberat ini, sampai ke akar-akarnya. Tapi aku ... heh, masih aja nggak nemu titik terang atas masalah sebenarnya nggak terlalu berat," batin Channing seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Walau tempo hari ia sudah bicara berdua dengan Nesya, dan mendapat kesimpulan bahwa ada kemungkinan Binar ikut terlibat. Namun, sampai saat ini Channing belum bisa percaya dengan pemikirannya.
Bagi Channing, Binar adalah gadis lugu dan riang. Tak mungkin menyimpan rencana licik, apalagi yang berhubungan dengan dirinya. Walaupun cinta bisa menjadi alasan kuat, tetapi sejauh ini, Channing sudah melihat sendiri cinta Binar bukan cinta yang semacam itu.
Pada saat Channing masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Binar datang dengan senyum cerianya.
"Aku cariin di atas, nggak tahunya di sini," ujar Binar sambil mendaratkan tubuhnya di samping Channing. Lantas tanpa rasa bersalah mengganti saluran televisi menjadi saluran yang menayangkan anime favoritnya.
Channing belum membuka suara, sekadar menatap lekat wajah Binar dari samping. Putih natural dengan hidung yang minimalis dan pipi yang agak chubby. Bukan gambaran gadis cantik standar tinggi layaknya bintang layar kaca, melainkan lebih pada manis, imut, dan sederhana. Dan ... Channing akui, cukup menggemaskan.
"Kak, weekend nanti ada jadwal nggak?" tanya Binar sambil menoleh sesaat. Tak lupa sembari tersenyum dan memamerkan barisan giginya.
__ADS_1
Memang, sejak Channing memberikan jawaban ambigu tempo hari, harapan cinta Binar kembali bersemi. Puing-puing mimpi yang pernah terburai kala itu, kini kembali bersemi dengan indahnya. Nama Channing dan segala asa tentangnya, tersemat rapi dalam hati Binar. Laki-laki itu adalah puncak tertinggi dalam perjalanan asmaranya. Dulu, sekarang, esok, lusa, dan mungkin selamanya.
Namun, hati yang sudah berbunga-bunga itu tak tahu bahwa saat ini lelaki yang dicintai justru menyimpan secercah curiga dalam benaknya. Semoga saja, kecurigaan itu tetap tersimpan dalam hati, agar Binar tak kecewa untuk kesekian kalinya.
"Mau ngajak ke mana?" Channing balik bertanya. Dia sudah hafal bagaimana Binar. Pertanyaan tadi sama artinya dengan pernyataan 'weekend nanti aku butuh waktumu'.
"Bikin acara yuk!" ajak Binar. "Aku risih, diajakin jalan mulu sama Kak Evan. Kalau ada acara sendiri kan lebih enak bikin alasannya."
"Evan?" Channing tampak terkejut.
"Heem." Binar mengangguk.
Ia kemudian menunduk dan menyembunyikan senyumannya. Ucapan barusan memang tidak bohong, tetapi juga tidak sepenuhnya jujur. Sebenarnya, Evan hanya mengajaknya sekali. Setelah ditolak secara halus, lelaki itu tidak membujuk lagi, bukan malah 'ngajak mulu' seperti yang dikatakan Binar.
"Ya udah, nanti kita jalan."
Jawaban tegas Channing membuat Binar tersenyum senang. Berhasil. Dengan membawa nama Evan, tidak menghabiskan waktu lama baginya untuk membujuk Channing. Apakah itu definisi cemburu?
Ah, pipi Binar bersemu merah ketika memikirkannya. Channing cemburu padanya, yang berarti ada bibit cinta untuknya.
"Thank you banyak-banyak, Kakak," ucap Binar sambil memasang tampang manja.
Channing sekadar geleng-geleng. Bibirnya tak mengucap kalimat apa pun. Namun, dalam benak tiba-tiba bergejolak tak karuan. Nyaris seperti ... pertama kali ia bertemu Laurent.
__ADS_1
"Nggak mungkin, dia adikku, mana bisa aku punya rasa lain untuknya. Pasti ini efek tadi, karena aku keseringan memikirkan Lala. Jasi, Binar pun ikut kebawa-bawa," batin Channing. Logikanya mematahkan perasaannya sendiri, yang muncul begitu saja tanpa disadari. Entah dari detik ini, kemarin, bulan lalu, tahun lalu, atau bahkan ... sejak mereka tumbuh bersama.
Bersambung...