
Semilir angin berulang kali menerpa rambut Binar yang kala itu sekadar digerai, membuatnya meriap dan sedikit berantakan. Namun, justru menambah kesan cantik nan manis di dalam parasnya.
Tubuh mungil itu berjalan melewati gerbang kampus. Ia melangkah ke arah lelaki dengan perawakan tinggi, yang saat itu berdiri di samping mobil merah mengkilap.
Senyuman lebar menyambut Binar, disusul sapaan ramah dan juga tindakan sederhana yang menurut sebagian wanita cukup istimewa—membukakan pintu mobil.
Setelah Binar masuk dan duduk di samping kemudi, lelaki yang tak lain adalah Evan menyusul dari pintu yang berbeda. Ia duduk di samping Binar dan siap memegang kemudi. Namun sebelum itu, dia terlebih dahulu menatap Binar dan menanyakan sesuatu padanya.
"Mau dengerin musik, nggak?"
Binar mengangguk pelan. "Boleh."
"Suka lagu apa?" Evan kembali bertanya, seolah tak ingin melakukan kesalahan. Jangan sampai memutar lagu yang justru dibenci Binar.
"Mmm, terserah Kak Evan aja deh. Asal jangan yang terlalu nge-rock."
Evan mengiakan permintaan Binar. Ia memutar lagu Pilihan Hatiku milik Lavina, yang pernah popular pada zamannya. Lagu aliran pop itu mulai mengalun seiring mobil yang juga perlahan bergerak meninggalkan area kampus.
Dalam sekian menit, Evan tak mengajak Binar berbincang. Malah bibirnya sesekali ikut mendendangkan lirik lagu yang menjadi pemecah keheningan dalam perjalanan mereka. Sebuah lirik yang menceritakan tentang seorang pria yang sudah yakin dengan pilihan hatinya, dan berharap wanitanya juga memberikan balasan yang sama, seolah-olah menggambarkan isi hati Evan sendiri.
Begitu lagu berakhir dan berganti lagu lain, Evan menatap Binar sekilas.
"Makan dulu yuk!" ajaknya.
"Aku kenyang sih, Kak. Tadi di kampus udah makan sama Shisi," jawab Binar. Tidak bohong, tadi dia memang sempat makan siang di kantin kampus.
"Minum doang gimana? Di depan sana ada kafe yang kopinya enak banget."
Evan kembali memberikan penawaran. Kali ini berharap tak mendapat penolakan lagi, karena dia ingin membicarakan hal penting dengan Binar. Kalau tidak singgah di suatu tempat, mau di mana mereka bicara? Tidak berkesan sekali kalau hanya bicara dalam mobil.
"Boleh deh."
Jawaban Binar membuat Evan menarik lengkung senyum. Hati pula turut girang karena sang gadis pujaan sudah menerima tawaran darinya. Tidak menutup kemungkinan nanti juga menerima uluran cinta darinya. Ehh! Terlalu jauh mimpimu, Evan!
Tak lama setelah Binar menyatakan kesediaannya, Evan menghentikan mobilnya di halaman kafe. Sekilas, bangunan itu tidak terlihat mewah. Ukurannya yang terhitung kecil dibanding bangunan lain, membuatnya tampak sederhana.
__ADS_1
Namun begitu masuk, pengunjung langsung disuguhi dengan interior yang cantik dan elegan, membuat siapa pun betah berlama-lama di sana. Apalagi sambutan dari waiters-nya juga ramah dan bersahabat.
"Mau duduk di mana?" tanya Evan. Kala itu masih beberapa meja yang kosong, termasuk meja paling ujung yang berada di sudut ruangan.
"Sana aja deh." Binar menjawab sembari menunjuk meja yang paling ujung.
"Oke, yuk!"
Setelah tiba di meja tersebut, Binar sesekali mencuri pandang ke arah Evan. Sejauh ini, lelaki itu tak pernah kurang ajar. Cara mendekatinya cukup sopan, berbeda dengan lelaki kebanyakan yang konon katanya gemar mencuri kesempatan. Memeluk atau menggenggam tangan misalnya.
Evan tak pernah melakukan itu, bahkan ketika mengirim pesan pun, tak pernah menjurus pada sesuatu yang negatif, juga tak pernah memaksakan kehendak. Sekali Binar menolak, maka lelaki itu akan mengerti.
Apakah itu definisi cinta yang sesungguhnya?
Atau ... justru itu adalah trik jitu yang dimiliki seorang playboy?
Entahlah, Binar tak tahu pasti, juga tak ingin tahu. Evan bukanlah hadapannya. Bagi Binar, laki-laki itu tak lebih dari sekadar teman yang mungkin akan ia manfaatkan sedikit untuk memancing kecemburuan Channing.
"Ini untuk kamu, ini untukku," ujar Evan ketika kopi mereka sudah disuguhkan.
Jenisnya sama, hanya beda pada bagian art-nya. Milik Evan tulisan huruf I dan gambar hati, sedangkan milik Binar huruf U, yang jika digabung memiliki arti I Love You.
"Bin!" panggil Evan, sesaat setelah Binar menyesap kopinya.
"Iya, Kak."
"Sebenarnya ... aku tadi pengin ngomong sesuatu ke kamu. Aslinya udah dari lama sih, cuma kayak belum nemu waktu yang pas. Jadi, sampai sekarang deh baru ngomong."
Binar mengulas senyum lebar. "Emang mau ngomong apa, Kak?"
"Aku cinta sama kamu, Bin."
Tidak panjang lebar, tetapi cukup jelas, dan kelihatannya juga bersungguh-sungguh. Dalam tatapan lekatnya, nyaris tak ada gurat kebohongan. Justru cinta tulus yang terpancar dari sana.
"Dulu aku emang sering gonta-ganti pacar, teman-teman termasuk Channing sampai nyebut aku playboy. Tapi itu dulu, sebelum aku sering ketemu kamu dan jatuh cinta sama kamu. Dan perlu kamu tahu juga, Bin, gaya pacaranku cukup tahu batas," sambung Evan.
__ADS_1
Jika biasanya, orang akan menutupi sisi yang buruk dan berusaha menjadi body perfect di hadapan perempuan yang dicintai. Namun, tidak dengan Evan. Dia lebih suka apa adanya, menunjukkan kelebihan dan kekurangan. Karena baginya, cinta yang muncul berdasarkan kelebihan saja adalah sesuatu yang palsu.
"Aku ... belum mikir pacaran. Masih ingin fokus dulu dengan kuliah."
Alasan klise. Namun, Evan menerimanya dengan baik. Sejauh ini, dia memang tak pernah melihat Binar dekat dengan lelaki lain. Ke mana-mana hanya dengan Channing, dan ya ... dia tidak tahu jika Channing itulah saingan terberatnya.
"Aku punya banyak waktu untuk menunggu, sampai kamu menyelesaikan kuliah dan bersedia membuka hati untuk lelaki," ujar Evan, cukup meresahkan. Terlebih dibarengi senyuman yang menawan, seolah dia sangat bahagia mengungkap itu.
"Tapi, bisa aja lama, Kak. Emangnya Kak Evan nggak bosan?" tanya Binar.
Evan menumpukan kedua tangan di atas meja, lalu menatap Binar dalam-dalam.
"Bin, aku beneran jatuh cinta sama kamu, dan aku nggak pernah bosan dengan cinta itu. Kamu tahu, udah dua tahunan aku diam-diam mencintai kamu."
Jawaban Evan membuat Binar sedikit merasa bersalah. Dia telah memberi harapan palsu, karena sampai saat ini dan mungkin sampai nanti, dia hanya mencintai Channing. Tak pernah terpikir sedikit saja untuk berpaling pada Evan.
Melihat Binar seperti berpikir keras, Evan mulai mengalihkan topik. Dia tak ingin membebani Binar dan nanti malah membuat gadis itu menjauh darinya. Yang ingin Evan lakukan hanyalah membuat Binar nyaman di dekatnya, dengan atau tanpa cinta.
________
"Aku tadi pulang bareng Kak Evan."
Satu kalimat pembuka yang Binar lontarkan ketika berdua dengan Channing. Di bawah kelap-kelip lampu taman, di belakang rumah, keduanya menikmati keindahan malam dengan hiasan bulan purnama. Bayangannya jatuh tepat di tengah-tengah kolam yang ada di hadapan mereka. Sangat cantik. Terlebih semilir angin membuat air beriak, seolah menyambut bayangan purnama yang mendekapnya.
"Iya, tadi dia ngomong." Channing menyahut sambil menjatuhkan pandangan pada secangkir kopi yang sudah tandas.
"Dia ngajak mampir ke kafe. Terus ... ngomong sesuatu ke aku."
Mendengar itu, Channing menoleh dan bertanya, "ngomong apa?"
"Dia nembak aku."
Channing diam cukup lama. Sebenarnya Evan sudah pernah membahas hal itu dengannya, namun ketika nyata terjadi, rasanya sedikit aneh bagi Channing sendiri.
"Menurutmu gimana, Kak?" pancing Binar.
__ADS_1
Sesekali dia menatap ke arah kakaknya, tak sabar ingin melihat kecemburuan darinya.
Bersambung...