Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Kedatangan Malvin


__ADS_3

Ungkapan cinta yang berujung pada pertengkaran, yang kemudian disusul dengan sikap dingin, kali ini tak tampak lagi dalam diri Binar. Gadis itu terkesan biasa saja meski semalam menunjukkan luka dan kecewan yang cukup besar terhadap Channing.


Pagi harinya, Binar dengan santai turun dan ikut makan bersama di satu meja yang sama dengan Channing. Bahkan, Binar tak beringsut pergi meski Channing mengambil tempat di hadapannya.


Namun, ada satu hal yang sedikit berbeda dari diri Binar pagi itu, yakni pakaian. Dia hanya mengenakan celana pendek dan kaus santai, bukan pakaian kuliah. Padahal setahu Channing, hari itu dia ada kelas pagi.


"Kak Binar nggak kuliah?"


Pertanyaan Axel mewakili isi hati Channing, yang tak mampu ia ungkap karena masih canggung usai kejadian semalam. Berbeda dengan Axel yang hanya bertanya sepintas lalu, Channing justru menunggu jawaban Binar dengan serius.


"Kuliah, tapi nanti siang."


Jawaban Binar belum membuat Channing puas. Pasalnya, ia masih ingin tahu, kenapa masuk siang. Sayangnya, Axel tak mau bertanya lebih lanjut. Ia malah menjawab 'o' saja.


Setelah itu, seperti biasa, makan pagi mereka diselingi obrolan ringan dan sesekali juga candaan. Binar pun sering kali ikut menyahut dan mengumbar senyum manisnya, sehingga Kendrick dan Athena tidak curiga dengan masalah yang ada di antara anak-anaknya.


Usai menghabiskan porsi masing-masing, semua bangkit dan bergantian pamit pada Athena. Tak terkecuali Channing. Meski dalam hati masih berat karena ingin tahu mengapa Binar masuk siang, tetapi dengan terpaksa ia bangkit dan pamit pula. Sekarang bukan saat yang tepat untuk memperbaiki hubungannya dengan Binar.


"Mama!" panggil Binar ketika semua sudah pergi, termasuk Kendrick.


"Kenapa, Bin?" sahut Athena tanpa menoleh. Ia sibuk membantu pelayan menumpuk peralatan kotor di atas meja.


"Aku mau bicara sama Mama. Penting."


Athena bergegas menoleh dan mendapati gestur wajah Binar yang serius, sebuah hal jarang dilakukan olehnya.


"Bicara apa?" Athena bertanya seraya duduk di sebelah Binar.


Gadis itu pun mengulas senyum tipis sebelum memulai kalimatnya.


________


Suasana kantin yang bising, tampak kontras dengan wajah Channing yang masam. Hampir lima belas menit ia duduk bersama kawan-kawan, namun belum ada satu kata pun yang ia ucapkan. Walau sekilas tampak fokus dengan minuman, tetapi aslinya pikiran Channing tidak di tempat itu. Ke mana lagi kalau bukan pada adik perempuannya.


"Kamu masih mikirin Laurent?" Digo melayangkan pertanyaan tanpa basa-basi. Sedari tadi ia sudah gemas melihat diamnya Channing.


"Nggak lah. Dia udah pergi ya biarian aja pergi, ngapain masih dipikirin." Channing tidak bohong, memang kenyataannya bukan Laurent yang ia pikiran.

__ADS_1


"Terus?" sela Felix.


"Nggak ada."


Di sampingnya, Evan malah tertawa. Menurutnya, jawaban Channing justru konyol, pun dengan raut mukanya.


"Kamu itu udah kayak orang patah hati tahu nggak. Kenapa? Jatuh cinta lagi dan nggak kesampaian ya? Ah, lemah. Contoh nih aku. Meski semalam ditolak mentah-mentah, tapi sekarang masih bisa ketawa," ucap Evan, yang sontak membuat Channing menoleh.


"Kamu ditolak? Sama Binar?"


Evan memutar bola mata, juga membuang napas panjang. "Memang siapa lagi yang aku cintai selain adikmu?"


Channing tak menyahut lagi. Ia justru kembali diam, dan hal itu memancing perhatian Evan.


"Ceritamu waktu itu ... nggak kamu alami sendiri, kan?" tanya Evan. Dia mengingat kembali tentang curhatan Channing perihal adik yang mencintai kakak sambungnya. Entah mengapa, ekspresi Channing kali ini seolah mengatakan bahwa kejadian itu adalah pengalamannya.


"Gila kamu. Ya nggak lah." Channing mengelak sambil mengdengkus kasar. Sementara Felix dan Digo saling pandang, keduanya kompak meragukan kejujuran Channing.


Evan pula merasakan hal yang sama. Bahkan, ia mulai curiga ada sesuatu antara Binar dengan Channing.


Namun, hal itu tak menyurutkan cinta yang ia rasa. Dalam hatinya, Binar tetap menjadi gadis istimewa yang patut dikejar dan diperjuangkan.


________


Sampai pada malam ini, tiba-tiba Channing dikejutkan dengan kehadiran Malvin—seorang diri. Tanpa memberi kabar, ia langsung muncul di kediaman Channing, membuat sang empunya rumah mengernyitkan kening ketika bertatap muka dengannya.


"Malvin, kamu sudah datang, Nak." Sambutan Athena terlihat girang dan tidak menampakkan keterkejutan, seolah dia sudah tahu bahwa Malvin akan datang.


Setelah Malvin diantar ke kamar tamu guna membersihkan diri, Channing mendekati Athena dan menanyakan perihal kedatangan Malvin.


"Dia kan mau menjemput adikmu." Jawaban Athena membuat Channing makin tersentak.


"Maksud Mama?"


"Memangnya Binar belum cerita ke kamu?" Athena justru balik bertanya, dan Channing hanya bisa menanggapinya dengan gelengan pelan.


"Binar akan tinggal di tempat Malvin. Di sana sejuk, asri, dan damai, jauh dari kebisingan seperti di sini. Katanya, tempat itu sangat pas untuk mencari inspirasi. Dia mau menekuni hobi dan cita-citanya di sana," terang Athena.

__ADS_1


Saking terkejutnya, Channing sampai tak bisa berkata-kata.


"Sebenarnya, pilihan Binar ini juga bukan sesuatu yang bisa dibilang bagus. Tapi, Mama dan papamu hanya bisa mendukung. Mungkin dengan nanti tinggal berjauhan, Binar bisa mengurangi sikap manjanya. Dan mungkin saja, kelak dia akan mau belajar bisnis setelah tahu bahwa hobinya tidak terlalu menjamin masa depan." Athena menyambung penjelasannya, tanpa tahu bahwa perasaan Channing sudah kacau kala itu.


"Berapa lama dia di sana, Ma?" tanya Channing setelah berhasil menenangkan hatinya.


Athena mengedikkan bahu. "Mama juga belum tahu pasti. Meski sekarang katanya akan di sana lama karena ingin menjadi komikus hebat, tapi kamu juga tahu sendiri kan bagaimana sifat Binar, sering nggak konsisten. Semangatnya kadang angin-anginan, kerap berubah keputusan di tengah jalan."


Meski yang dikatakan Athena adalah sesuatu yang benar adanya. Namun, Channing tak berpikir ke sana. Dia malah fokus dengan kejadian beberapa hari lalu, di mana dia melihat kekecewaan yang teramat besar di wajah Binar. Channing yakin, keputusan Binar kali ini pasti berhubungan dengan malam itu.


Usai berbicara dengan Athena, Channing kembali ke lantai dua. Bukan kamar pribadi yang menjadi tujuannya, melainkan kamar Binar.


Dua kali mengetuk pintu, tak ada jawaban dari dalam. Channing menunggu sesaat sebelum mengetuk lagi.


Beruntung, di ketukan ketiga Binar menyahut dan membukakan pintu untuknya.


"Kamu nggak mau ngomong apa-apa ke aku, Bin?" tanya Channing ketika keduanya sudah berdiri berhadapan. Ada rasa miris dalam hati Channing saat melihat tatapan Binar yang seolah membentangkan jarak di antara keduanya.


"Nggak ada." Binar menjawab singkat.


Channing mengembuskan napas panjang. "Malvin ada di lantai bawah. Katanya mau jemput kamu."


"Oh, iya."


"Kenapa, Bin?"


"Aku mau ngejar cita-cita. Di sana tempatnya cocok."


Tidak seratus persen bohong. Tempat tinggal Malvin memang asri dan damai. Sejak tempo hari Binar sudah terpikir untuk tinggal di sana dan mencari inspirasi sepuasnya. Namun, cintanya untuk Channing yang mematahkan rencana itu. Sekarang setelah kecewa, barulah ia berani mengambil pilihan tersebut.


"Maafin aku," ujar Channing dengan pelan. Meski tidak ada pengakuan resmi dari bibir Binar, tetapi ia paham bahwa dirinya adalah salah satu alasan kepergian Binar.


"Nggak perlu minta maaf, yang salah aku kok, udah nggak tahu diri selama ini. Tapi kamu tenang aja, Kak, mulai sekarang aku nggak akan ganggu kamu. Dan kalau perlu kita nggak usah ketemu lagi. Kita awalnya hanya orang asing, akan lebih baik jika hubungan itu kita terapkan ke depannya."


Sebuah jawaban yang sangat menohok. Menerapkan hubungan sebagai orang asing, katanya?


Duh, Binar, sebesar itukah rasa kecewamu?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2