Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Dituntut Penjelasan


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak Evan mengungkapkan perasaan yang sekian lama dipendam. Channing belum memberikan tanggapan apa pun. Ia memilih diam karena sejatinya belum percaya bahwa Evan benar-benar tulus, mengingat sebelumnya Evan bukanlah tipe lelaki yang setia.


Selama satu minggu itu, tak ada perubahan yang berarti dalam hubungan Binar dan Channing. Binar tetap memasang tampang datar ketika berhadapan dengan Channing, dan sebisa mungkin menghindari interaksi dengan lelaki itu. Bahkan, saat di hadapan orang tuanya pun, Binar hanya menanggapi yang penting-penting saja. Padahal dulu, dia dan Channing-lah yang paling menghidupkan suasana.


Perlahan, hal itu disadari oleh Athena maupun Kendrick. Karena tak sekali dua kali, mereka menyaksikan jarak di antara Channing dan Binar. Tak terkecuali malam ini. Binar begitu buru-buru meninggalkan meja makan, dan setelahnya Channing ikut menyusul. Namun sebelumnya, tidak ada satu pun perbincangan di antara mereka.


"Axel, ada apa dengan kedua kakakmu?" tanya Athena, penasaran.


Axel mengedikkan bahu, "Nggak tahu, Ma. Kayaknya mereka bertengkar serius. Tiap malem langsung masuk ke kamar, nggak ada ngumpul-ngumpul lagi kayak dulu. Udah semingguan ini kayak gitu."


Athena dan Kendrick saling pandang. Keduanya masih tak bisa menerka apa gerangan yang terjadi. Sejauh ini, Channing cukup dewasa dan sabar dalam menghadapi Binar. Nyaris tak ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan darinya. Apa pun yang dilakukan Binar, tak pernah sekalipun Channing marah. Mungkin, sekadar kesal sesaat. Itu saja sangat jarang.


"Kamu nggak pernah nanyain mereka?" tanya Kendrick.


Axel menarik napas panjang, "Udah sih, Pa. Tapi, nggak ada yang mau jujur."


"Ya sudah. Biar Mama saja yang bicara dengan mereka," timpal Athena.


Lantas, ia bangkit dari duduknya dan bergegas menemui putra-putrinya di lantai dua.

__ADS_1


Kendrick pun tak mau ketinggalan. Menurutnya, ia juga butuh bicara dengan Channing dan Binar. Jadi, dia pun turut serta menemui mereka.


Sesampainya di lantai dua, Athena dan Kendrick dibuat terkejut dengan pemandangan yang disuguhkan di hadapan. Channing dan Binar sedang bertengkar di depan kamar. Tidak jelas apa yang mereka ucapkan, tetapi yang tampak nyata, Binar menangis kala itu.


"Channing! Binar!" panggil Athena, menyadarkan keduanya dari pertengkaran barusan.


Merasa namanya dipanggil, Channing dan Binar menoleh seketika. Keduanya terkejut saat mendapati orang tua mereka sudah berdiri di sana. Dengan cepat Binar menyeka air mata yang sempat mengalir, sedangkan Channing sendiri menunduk dengan gugup.


"Apa yang kalian ributkan?" tanya Kendrick.


"Nggak, Pa. Kami cuma ... cuma___"


Tak ingin membuat ayahnya emosi, Channing dan Binar menurut. Keduanya berjalan perlahan menuju sofa yang tak jauh dari sana. Lantas, duduk bersebalahan dan berhadapan dengan orang tuanya.


"Mama tahu kalian ada masalah sejak kemarin-kemarin. Tapi, Mama nggak mau ikut campur karena kalian sudah bukan remaja lagi. Mama percaya kalian bisa menyelesaikan masalah yang ada. Tapi, ternyata Mama salah. Bukannya baikan, kalian malah bertengkar seperti ini. Sebenarnya ada apa?" cecar Athena sambil menatap Channing dan Binar yang setia menunduk.


Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban dari keduanya. Baik Channing maupun Binar, tetap diam dan menutup rapat mulutnya.


"Channing! Jelaskan pada Papa, apa yang terjadi! Kamu sebagai kakak laki-laki, apa pantas seperti ini? Binar itu adikmu, harusnya kamu jaga, bukan malah diajak bertengkar sampai menangis begitu." Kini Kendrick yang angkat bicara.

__ADS_1


"Maafkan aku, Pa." Sekadar kata maaf yang keluar dari bibir Channing.


"Bukan maaf yang ingin Papa dengar, Channing. Tapi, penjelasan. Katakan, ada masalah apa kenapa kalian sampai bertengkar," jawab Kendrick.


Channing kembali bungkam. Tidak ada kalimat yang bisa dijadikan jawaban. Ayahnya datang terlalu mendadak, jadi ia belum memikirkan alasan yang tepat. Sedangkan untuk jujur, sama sekali tak ada nyali. Selain memikirkan perasaan Binar, Channing juga memikirkan hubungan kekeluargaan. Andai orang tuanya tahu bahwa Binar mencintainya, entah bagaimana perasaan mereka. Mungkin ... merasa bersalah karena sudah menikah dan menyatukan mereka sebagai saudara sambung.


Channing tak mau orang tuanya menyesal. Baginya, sebuah anugerah terindah bisa mendapatkan ibu sambung seperti Athena. Walau tidak ada hubungan darah, tetapi begitu tulus menyayanginya.


"Channing!"


"Pa, aku ... aku___" Channing kembali kehabisan kata-kata.


"Cepat katakan!"


"Biar aku saja, Pa, yang menjelaskan," timpal Binar sambil menatap sekilas ke arah Channing, yang kala itu juga menatapnya.


"Katakan!" kata Kendrick masih dengan nada tegas.


Jantung Channing berdetak cepat. Pikirannya menduga yang tidak-tidak ketika melihat senyuman Binar, yang seolah ditujukan ke arahnya. Channing takut jika Binar jujur atas masalah yang sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2