Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Evan dan Sikap Manisnya


__ADS_3

"Kak Evan?"


Binar menatap bingung pada lelaki yang kini berjalan ke arahnya. Evan, sosok yang sebelumnya ada di Pulau Dewata, malam ini tiba-tiba ada di Kota Malang, kota yang sama dengannya.


"Ini kamu beneran kan, Bin?" Evan berhenti tepat di hadapan Binar, menatap tak percaya pada gadis itu. "Aku takut salah orang tadi," sambungnya.


"Kak Evan kok ada di sini?" tanya Binar dengan penuh selidik.


Jujur, dia kurang suka dengan kehadiran Evan di sana. Pasalnya, dia pindah ke Malang untuk menghindari semua yang berhubungan dengan Channing.


"Aku ikut Papa ke sini, mau melihat proyek perumahan milik temannya, Om Hardi. Dia butuh tambahan dana."


Binar tersenyum masam. Sungguh, dia benci dengan kebetulan itu.


"Kamu sendiri, kok ada di sini? Bukannya kapan hari udah ke sini ya, bareng Channing itu?" Evan balik bertanya. Raut wajahnya juga penuh tanya, menampakkan keterkejutan karena bertemu seseorang yang tak terduga, yang sebenarnya juga ia rindukan dalam beberapa hari terakhir.


"Aku tinggal di sini sekarang." Usai menjawab seperti itu, Binar membalikkan badan dan kembali melanjutkan langkah. Berharap Evan pun turut pergi sesuai tujuannya sendiri.


Namun, kenyataan tak sejalan dengan apa yang Binar harapkan. Alih-alih pergi, Evan malah mengikuti dan menjajari langkahnya.


"Kenapa, Bin? Kamu nggak lagi ada masalah, kan? Hubunganmu dengan Om Kendrick dan Tante Athena baik-baik aja, kan?" Evan bertanya cepat, seraya memasang wajah cemas.


Binar menggeleng. "Nggak ada apa-apa kok. Aku cuma mau fokus dengan hobiku aja. Di sini tempatnya nyaman, damai, pas banget buat nyari inspirasi."


"Syukurlah kalau gitu. Aku takut kamu ada masalah atau gimana. Soalnya, Channing juga nggak ada bilang apa-apa. Aku aja baru tahu sekarang kalau kamu pindah ke sini."


Binar sekadar bergumam pelan, sembari tetap melanjutkan langkahnya. Evan pun tak mau ketinggalan, terus mengimbangi langkah Binar sambil memasukkan tangan ke dalam saku jaket. Ya ... dari pada lepas kendali dan menggandeng tangan Binar atau malah memeluknya. Bahaya.


"Kak Evan mau ke mana?" tanya Binar setelah cukup lama mereka berjalan, dan Evan tetap berada di sampingnya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda lelaki itu akan menjauh darinya.


Evan menarik napas panjang, kemudian menjawab, "Nggak ada sih. Mau jalan-jalan doang. Suntuk juga di hotel, Papa telfonan nggak kelar-kelar. Aku nggak ada teman ngobrol."

__ADS_1


"Mmm."


"Kamu sendiri mau ke mana?"


"Jalan-jalan juga. Pengin lihat-lihat Pujasera." Binar menjawab sambil menunjuk Pujasera di depan sana dengan dagunya.


Evan melirik Binar dengan hati yang luar biasa senang. "Aku ikut ke sana deh. Bingung juga mau ke mana, belum kenal tempat ini."


Meski agak keberatan, tetapi Binar segan untuk menolak. Dia biarkan Evan mengikutinya, bahkan sampai dia tiba di Pujasera dan singgah di lapak penjual martabak manis.


Binar dan Evan memesan varian yang sama, yaitu cokelat keju. Pun dengan minumnya, sama-sama memilih teh.


Selama menunggu pesanan, Evan dan Binar mengobrol santai. Kecanggungan Binar pun perlahan mengendur, karena Evan cukup tahu diri dengan tidak mengungkit masalah penolakan Binar waktu itu, juga tidak banyak tanya perihal kepindahan Binar.


Tak lama berselang, harum martabak yang bercampur dengan manisnya cokelat dan keju mulai tercium. Binar dan Evan kompak mengulas senyum. Selera untuk segera menyantap pun terukir jelas di wajah keduanya. Memang, tampilan martabak yang kini sudah disajikan di hadapan mereka sangat menggiurkan. Terlebih aromanya benar-benar menggoda.


"Kamu nggak risih, Kak, ngikut ke sini? Secara ... ini bukan restoran mahal seperti yang biasa kamu singgahi," tanya Binar sebelum menyuap martabaknya.


"Yang penting itu cita rasa, dan ini ... enak banget. Nggak kalah sama restoran-restoran itu," ucapnya. Lantas, ia menyambung kalimatnya dalam hati, "Dan lagi bareng kamu, Bin. Makan tanah di kolong jembatan pun, pasti rasanya seperti makan brownis di di hotel."


Sambil menutupi senyuman yang sejak tadi tak bisa ditahan, Evan menatap Binar dan sadar bahwa gadis itu sedikit kesulitan dengan anak rambutnya, berulang kali jatuh ke depan dan menghalangi Binar dalam menyuap martabak.


Sebagai lelaki yang sedang berjuang mengejar cinta, Evan lekas bangkit dan duduk di samping Binar. Selagi Binar masih tak mengerti apa maksudnya, Evan sudah menyibakkan rambut Binar dan memeganginya di belakang, sehingga tidak menghalangi aktivitas Binar lagi.


"Kak, nggak usah," tolak Binar.


Evan tersenyum. "Nggak apa-apa. Buruan makan!"


"Tapi___"


"Atau mau aku suapi, hmm?" pungkas Evan dengan mata yang mengerling.

__ADS_1


Tak mau memperpanjang obrolan yang mungkin akan membuat canggung, Binar memilih diam dan membiarkan sikap Evan. Lantas, dia fokus dengan martabaknya. Menikmati setiap suapan yang ternyata benar-benar lezat. Sementara Evan, dia asyik menikmati wajah manis Binar yang sangat menggemaskan baginya.


"Aku harap kita punya akhir yang indah, Bin," batin Evan dengan sedikit menggigit bibir.


Duduk dalam jarak yang lumayan dekat membuat Evan bisa mencium harum parfum Binar—manis vanilla yang bercampur dengan raspberry. Sangat berkesan dan seolah melekat dalam otaknya.


"Kak Evan sambil makan juga gih!" ujar Binar seraya menarik martabak milik Evan, dan menyodorkan tepat di hadapan lelaki itu.


Evan menerimanya dengan bangga. Baginya, itu merupakan kemajuan yang pesat. Ya, tidak sia-sia dia datang ke Malang dan berpura-pura ada kepentingan di sana. Akhirnya, mendapat tanggapan yang baik juga.


"Abis ini muter-muter yuk, nyari jajanan lain buat dibungkus," ucap Evan setelah cukup lama duduk dan menyantap martabak, hingga kini hampir habis.


"Boleh." Binar tak menolak. Belum terlalu malam, masih ada waktu jika hanya berputar sebentar dan membeli satu dua jajanan.


Sekitar lima menit kemudian, martabak keduanya habis tak tersisa. Evan yang maju dan membayar pesanan tersebut. Lantas, mereka beranjak dan berjalan menyusuri lapak-lapak yang ada di Pujasera tersebut.


Selagi keduanya asyik berjalan, Evan merogoh ponsel dan mencari kontak Channing. Bukan sekadar melakukan panggilan suara, melainkan panggilan video.


"Mau aku pamerin ke dia, biar tertarik dan ikut nyusul ke sini," ucap Evan yang langsung mencuri perhatian Binar.


Sejurus menatap layar ponsel Evan, Binar langsung tahu siapa yang dihubungi—Channing. Foto profil yang hanya gambar punggung itu sudah dia hafal di luar kepala.


Sontak, Binar mengambil ponsel Evan tanpa permisi. Lalu, mengakhiri panggilan sebelum mendapat respon dari Channing.


"Nggak usak telfon dia," ucapnya.


"Kenapa?" Evan keheranan. Biasanya, Binar hampir tak pernah lepas dari Channing. Apa pun selalu Channing, Channing, dan Channing. Tetapi malam ini?


"Dia sibuk, nanti ganggu."


Jawaban Binar sangat klise, dan sampai di sini Evan mulai paham, ada sesuatu yang tak beres di antara mereka. Namun apa tepatnya, dia masih tak tahu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2