
"Evan udah berubah, dia nggak playboy lagi. Aku setuju aja kalau kamu mau sama dia, karena kulihat ... dia tulus juga sama kamu."
Bak petir yang menyambar di tengah terik matahari, sangat mengejutkan. Jawaban yang Channing lontarkan, berbeda jauh dengan apa yang Binar harapkan. Saking kagetnya, Binar sampai terpaku sampai beberapa saat. Sekadar mata yang menatap tak percaya, juga mulut yang setengah menganga. Bahkan, semilir angin yang tadi sejuk pun, kini perlahan dingin hingga menusuk tulang.
"Maksudmu apa, Kak?" Binar bertanya lirih, selirih pendar cinta yang mungkin akan dipaksa padam.
"Kalau dia masih playboy, aku akan berdiri paling depan untuk ngelarang dia dekati kamu. Tapi, kalau dia sungguh-sungguh, tentu saja aku setuju. Sebagai kakak, aku cuma nggak mau nglepas kamu pada orang yang salah."
Jawaban Channing sangat jelas dan tegas. Tanpa bertanya lagi pun Binar sudah tahu apa maksudnya, tidak ada cemburu juga tidak ada cinta. Kenyataan bertolak belakang dengan apa yang ia bayangkan kemarin.
"Jadi selama ini apa, Kak? Dari mulai kita ke Malang kapan hari, perhatian kamu lebih beda ke aku. Kamu sengaja ngasih harapan palsu ke aku, Kak?" protes Binar. Sampai di sini dia merasa dipermainkan, namun entahlah. Bisa pula karena memang dianya yang mudah terbawa perasaan.
"Nggak ada yang beda, apalagi harapan palsu seperti yang kamu bilang, Bin. Aku begini ya emang kamu itu adik aku, cewek lagi. Kalau nggak perhatian, emangnya aku mesti gimana?"
Binar langsung bangkit dari duduknya. Cukup sudah ia mengejar Channing. Laki-laki itu ibarat udara baginya, ada tetapi tak bisa digenggam.
"Kupikir setelah Lala-mu pergi dan mungkin nggak kembali, kamu___"
"Dari mana kamu tahu kalau Lala pergi dan mungkin nggak kembali? Kamu tahu sesuatu, Bin?" pungkas Channing.
Binar mengernyitkan kening. "Apa maksudmu, Kak?"
__ADS_1
Channing terdiam.
"Kamu mau nuduh aku ikut campur dalam perginya dia?" tebak Binar. Sangat tepat, namun Channing tak punya nyali untuk menjawab 'iya' atau sekadar mengangguk.
Kendati begitu, Binar sudah paham. Diamnya Channing sudah cukup menjelaskan semuanya.
Menyadari hal itu, Binar tersenyum miris. Kakak yang dari dulu ia cintai, nyatanya telah menjadi budak cinta perempuan lain. Bahkan, sampai tega menutup mata dan menuduhnya yang macam-macam.
"Aku ingatkan kalau mungkin kamu lupa, Kak. Lala-mu itu satu kampus sama aku. Dan dia juga popular, nggak kayak adikmu ini. Menurutmu, kalau dia tiba-tiba pergi tanpa ada kejelasan, gosipnya nggak menyebar gitu? Apalagi orang tuanya juga dikabarkan bangkrut, apa menurutmu itu nggak jadi trending topik?" ujar Binar.
Channing turut bangkit seraya menatap Binar yang berdiri di hadapannya.
Binar melanjutkan kalimatnya. Namun, belum mendapat tanggapan apa pun dari Channing. Lelaki itu masih memahami perasaannya sendiri, yang jujur ... tak seratus persen ia pahami.
"Ya udahlah, sekarang aku ngerti, Kak. Ke depannya aku nggak akan mengungkit cinta lagi, bahkan kalau perlu ... aku nggak usah muncul lagi dalam hidup kamu. Maaf untuk selama ini," ucap Binar sambil melangkah pergi, dan dengan sengaja menyenggol kasar lengan Channing, hingga tubuh lelaki itu terhuyung dan nyaris hilang keseimbangan.
Setelah tubuh Binar tak terlihat lagi, Channing kembali terduduk di tempat semula. Purnama masih membayangi kolam, angin malam pun masih setia menyapa dedaunan, namun ketenangan dalam hati Channing sudah sirna. Ada banyak rasa yang kini berkecamuk dan tak ia tahu ke mana tujuannya.
"Maafin aku, Bin."
Dari sekian banyak kalimat yang berdesakan dalam pikiran, hanya tiga kata itu yang mampu ia gumamkan. Yang lain terlalu sulit, karena saling bertentangan dan mematahkan satu sama lain. Ahh, mungkin itu yang dinamakan perang dengan diri sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Binar sudah tiba di kamarnya. Air mata tak terbendung lagi selagi tadi masih menapaki anak tangga. Sakit, perih, dan kecewa. Semua bercampur menjadi luka yang menganga. Ditolak cintanya, mungkin hal biasa bagi Binar. Sakitnya masih bisa memudar dan perlahan sembuh seiring waktu. Namun, dituduh ikut campur dalam kepergian Laurent, ia tak bisa terima.
Ia tulus mencintai Channing. Namun balasannya ... ia hanya dianggap sebagai gadis licik. Ironis sekali.
"Malam ini, terkahir kalinya aku mengungkit cinta. Ke depannya, aku janji nggak akan ada lagi. Puas-puaslah kamu dengan Laurent, Kak, sebisa mungkin aku akan menjauh dari hidup kamu," batin Binar sembari menumpahkan semua tangis.
Dia tak akan menahan untuk malam ini. Biarlah sebanyak apa air mata yang akan keluar. Lantas nanti ... tak akan ia biarkan Channing mengacaukan hidupnya lagi. Sebisa mungkin Binar akan belajar menghapus perasaan cinta itu.
Setelah cukup lama menangis, dan wajah pun sudah berantakan, Binar bangkit dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Ia mencari nomor kontak Evan, lantas menulis pesan untuk lelaki itu.
'Kak, maaf untuk jawabanku tadi. Aku bohong dengan mengatakan belum memikirkan pacaran. Sebenarnya, karena aku memang nggak bisa membalas perasaan Kakak. Maaf kalau kejujuran ini membuat Kak Evan kesal, aku hanya nggak mau ngasih harapan palsu ke Kakak.'
Sekilas terkesan kejam, tetapi Binar tak punya pilihan lain. Dia sekarang sudah merasakan bagaimana sakitnya harapan palsu itu, dan dia tak mau melakukan hal yang sama pada orang lain.
"Mana tahu dengan begini, kamu nggak deketin aku lagi, Kak. Karena setelah apa yang terjadi malam ini, aku juga nggak mau dekat sama kamu lagi. Karena sekarang, aku nggak mau berhubungan dengan apa pun yang berkaitan dengan Kak Channing," ujar Binar sembari mengirim pesan tersebut.
Tanpa menunggu balasan dari Evan, Binar kembali meletakkan ponselnya dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Dalam keadaan seperti ini, ia teringat kembali dengan satu pemikiran yang sempat terselip di otaknya tempo hari. Sebuah hal yang mungkin berperan dalam masa depannya nanti jika benar ia pilih.
Bersambung...
__ADS_1