
Dengan langkah lunglai, Binar menaiki anak tangga. Tampak selaras dengan wajah kusut dan mata yang berkaca-kaca.
Sedih dan rasa bersalah yang paling mendominasi hatinya kala itu. Baik pada orang tua, maupun Channing. Sampai di sini, dia baru menyadari bahwa tindakannya itu salah.
Setibanya di ujung tangga, Binar dikejutkan dengan langkah yang mendekat ke arahnya. Namun, dia tak ada keinginan untuk mendongak. Sampai kemudian, satu suara yang sering dirindukan masuk dengan merdu dalam pendengaran.
"Binar!"
Binar lekas mengangkat wajah, lalu beradu pandang dengan sosok lelaki yang jujur masih dia cintai. Dalam pandangan yang lekat itu, sedikit pun tak tersirat rasa kecewa seperti tempo hari. Yang Binar rasakan kini justru rasa bersalah karena telah menyeretnya dalam masalah.
"Maaf."
Satu kata yang akhirnya keluar dari bibir Binar, setelah terdiam dan berpikir lama tentunya.
Berbeda dengan bayangan Binar yang mengira Channing akan marah, ternyata lelaki itu malah tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa. Memang lebih baik gini, Mama dan Papa tahu soal ini," ucapnya.
"Mereka kecewa."
Binar mengadu lirih. Seakan sudah tidak ada tempat berbagi, sehingga Channing-lah yang ia pilih. Padahal, seharusnya dia tetap jaga jarak dengan lelaki itu. Terlebih setelah melihat kekecewaan orang tuanya.
"Wajar, karena baru mengetahui semua ini. Seiring berjalannya waktu, kekecewaan itu akan hilang dengan sendirinya. Percayalah!" ujar Channing dengan penuh keyakinan, walau hatinya sendiri masih ragu akan hal itu.
Kendati demikian, Channing sudah memikirkan pilihan yang akan dia ambil nanti. Apa pun konsekuensinya, dia sudah siap.
"Andai dari awal aku mendengarkan kamu, Kak. Semua ini nggak akan terjadi," sesal Binar diiringi tetesan air mata.
Yang tadi berusaha ia tahan, kini keluar juga ketika berada di hadapan Channing. Saking sesaknya perasaan itu, ruas jari Binar sampai memerah karena mencengkeram terlalu kuat.
"Udah telanjur, nggak perlu menyesal kayak gini. Berandai-andai juga hanya membuat kamu tambah sedih," jawab Channing. Begitu lembut dan tenang, hingga mampu mengurangi sedikit beban dalam hati Binar.
"Kamu nggak marah, Kak?" Binar bertanya setelah diam beberapa saat.
__ADS_1
Channing menggeleng.
Binar terdiam lagi. Meski dalam hati sangat penasaran dengan cinta yang katanya juga diakui oleh Channing, tetapi Binar tak berani menanyakan itu.
"Udah begini, ya sekalian aja kita perjuangkan. Gimana caranya agar Mama Papa nggak kecewa, dan kita juga nggak terluka."
Ucapan Channing sukses membuat Binar tersentak. Secara tidak langsung ada maksud bahwa Channing akan memperjuangkan cinta mereka.
"Maksudmu, Kak?"
Karena tak ingin tersesat dalam asumsinya sendiri, Binar lantas menuntut penjelasan yang lebih rinci.
"Kamu juga ngerti kok," jawab Channing.
"Tapi___"
"Udah, buruan mandi sana! Terus istirahat biar pikiran tenang," potong Channing.
Karena kondisi tak memungkinkan untuk bertanya lebih lanjut, dengan terpaksa Binar berlalu pergi. Ia menuju kamar dan meninggalkan Channing sendirian di ujung tangga.
Sisi lain dalam hatinya yang kemarin berjanji ingin melupakan perasaan itu, kini mulai goyah. Pasalnya, Binar sudah mengaku. Kalaupun ke depannya tak mengungkit cinta itu lagi, sisa-sisa kecewa bisa jadi masih ada. Lantas jika hasil akhir tak jauh beda, mengapa tak diperjuangkan saja sekalian? Buktikan pada orang tua bahwa cinta itu memang layak direstui.
Lagi pula ... Evan sudah siap maju jika dirinya mundur, dan Channing tak suka memikirkan itu. Setelah bertemu lagi usai berpisah beberapa waktu, perasaan tidak rela kian merajai andai Binar bersanding dengan lelaki lain.
Ya ... terkadang cinta memang seaneh itu.
______
Detik yang terus berdetak, mengantar siang menjadi malam. Mengganti sinar hangat dengan keanggunan kelam.
Di dalam rumah megah di pusat Kota Denpasar, satu keluarga sedang duduk bersama di dalam ruangan luas nan mewah. Mereka adalah Kendrick beserta istri dan kedua anaknya.
Sejak beberapa saat yang lalu mereka mengambil tempat di sana. Namun, belum ada satu kata pun yang terucap dari bibir-bibir itu. Masing-masing setia dalam diam, sekadar sibuk menggeluti pikirannya sendiri. Yang tentunya berbeda satu sama lain.
__ADS_1
"Kalian sudah tahu kan, kenapa kupanggil kemari?" Suara Kendrick yang pertama memecah keheningan, sembari matanya menatap Binar dan Channing secara bergantian.
"Iya, Pa." Jawaban Channing cukup tegas. Lain halnya dengan Binar yang sekadar mengangguk.
Kendrick menarik napas panjang sesaat, lalu berkata, "Lalu bagaimana penjelasan kalian? Jalan keluar apa yang kalian tawarkan?"
Binar masih bergeming. Bahkan, kepala saja kian menunduk.
"Kita nggak bisa memilih ke mana hati akan mencintai, Pa," ujar Channing. Secara tidak langsung sudah mengakui bahwa cinta di antara dirinya dan Binar tak mudah dihapuskan.
"Kamu yakin itu cinta? Bukan sekedar kebiasaan karena sejak kecil selalu bersama?" tanya Kendrick. Kali ini, emosinya lebih terkontrol. Tidak seperti kemarin.
"Yakin, Pa."
Usai mendengar jawaban Channing, Kendrick beralih menatap Binar.
"Kamu juga yakin itu cinta? Bukan hanya ketergantungan karena sejak kecil kamu selalu mengandalkan kakakmu?"
Binar masih belum berani menjawab dengan kata, hanya anggukan samar yang ia berikan sebagai tanggapan.
Hening. Sampai beberapa detik berlalu tak ada lagi suara di antara mereka. Yang begitu terdengar hanya embusan napas Kendrick.
"Jujur, Papa masih sangat kecewa dengan kalian. Tapi Papa juga tahu, semua nggak bisa diselesaikan dengan emosi dan ego. Mau tidak mau, suka tidak suka, Papa harus mencari jalan keluar secara bijak untuk masalah ini." Kendrick bangkit dari duduknya. Lalu melipat tangan di dada sambil tetap menilik wajah Binar dan Channing.
Ditunggu sampai beberapa saat, tak ada tanggapan dari mereka. Akhirnya, Kendrick-lah yang berbicara lagi.
"Sebenarnya, Papa bisa saja merestui cinta kalian."
Binar dan Channing tersentak. Keduanya saling pandang, sebelum akhirnya menatap tak percaya ke arah Kendrick dan juga Athena.
Benarkah? Semudah itu?
"Tapi, dengan satu syarat. Entah kalian akan sanggup atau tidak," lanjut Kendrick.
__ADS_1
Bersambung...