
Keputusan Channing malam itu benar-benar menjadi keputusan akhir yang ia pilih. Meski Kendrick menyuruhnya untuk berpikir lagi, tetapi Channing tetap pada keputusan awal—pergi dan bersedia dicoret dari daftar keluarga.
Berhubung Channing sudah yakin, Kendrick juga tak ada pilihan lain, selain menyetujui. Ia akan secepatnya mendiskusikan masalah itu dengan keluarga mantan mertuanya.
Namun, tak lupa juga Kendrick memberikan banyak nasihat untuk Channing dan juga Binar, yang ke depannya masih memilih tinggal di Malang, karena kuliahnya sudah telanjur pindah ke sana.
"Jangan terlalu sering berhubungan. Jalan kalian masih panjang, fokus saja dulu dengan impian, sambil pahami dengan benar apa yang kalian rasa. Karena restu Papa juga tidak instan. Buktikan dulu keseriusan kalian dalam mempersiapkan masa depan, juga buktikan bahwa cinta kalian layak diperjuangkan. Jika kalian berhasil, restu Papa dan Mama akan menyertai. Kami sendiri nanti yang akan menikahkan kalian. Sebesar apa pun pesta yang kalian inginkan, akan Papa turuti jika pembuktian itu sudah ada."
Nasihat terakhir Kendrick sebelum Binar kembali ke Malang, dan sebelum nama Channing dicoret dari keluarga Demitry.
"Kak Channing dan Kak benar-benar di luar dugaan. Aku nggak pernah nyangka kalau mereka ada perasaan lain," kata Axel setelah mengetahui masalah yang terjadi di antara kedua kakaknya.
Sementara di tempat yang berbeda, Abercio dan Yuna sangat terkejut. Mata mereka sampai membelalak saat mendengar penuturan Malvin, yang kemudian dibenarkan oleh Binar.
"Jadi, calon yang kamu bilang waktu itu, ya Channing?" tanya Yuna dengan ekspresi yang menunjukkan ketidakpercayaan.
Binar tersenyum simpul, lalu mengangguk samar. Namun, masih jelas terlihat oleh Abercio dan Yuna.
Abercio menarik napas panjang, lalu memandangi Binar cukup lama. Banyak hal yang sepertinya ingin ia katakan. Namun, terlalu sulit hingga akhirnya memilih diam.
Selama ini, Abercio menjadi saksi bagaimana pahitnya masa kecil Binar dulu. Kini setelah dewasa, ia dihadapkan dengan cinta yang agak lain, dari keluarga yang selama ini membuatnya bahagia.
"Tapi, Papa dan Mama mau ngasih restu." Binar bicara pelan, yang kemudian dilanjut dengan penjelasan mengenai syarat yang diputuskan Kendrick.
"Ya, aku hanya bisa mendoakan, semoga ini menjadi awal yang baik untuk masa depanmu," sahut Abercio setelah tadi memilih diam.
"Benar. Siapa pun pilihanmu, mudah-mudahan menjadi akar dari kebahagiaanmu. Kami ikut senang jika melihatmu bahagia, Binar," timpal Yuna.
Binar tersenyum lebar, sorot matanya pun memancarkan kebahagiaan. Setelah tempo hari sempat ketakutan dan tak punya nyali di hadapan Kendrick, kini ia bisa merasakan dukungan dari orang-orang sekitar. Termasuk juga Kendrick dan lelaki yang fia cintai—Channing. Bayang-bayang masa depan bersama lelaki itu pun terus memenuhi pikiran, sedetik saja tak mau enyah. Terlalu dalam harapan yang Binar tangguhkan atas cintanya kali ini.
"Tapi, aku masih nggak nyangka loh, Bin, malah Channing yang kamu suka. Kupikir ... Evan itu. Yang biasanya sering ke sini dan ajak kamu jalan. Dia cakep, kelihatannya juga cowok baik." Malvin ikut menyela, sembari meniup secangkir kopi yang masih panas.
__ADS_1
"Bukan, Kak. Itu ... cuma teman," jawab Binar.
Dia lantas teringat dengan pesan Evan kemarin.
'Channing udah cerita semuanya, dan aku ikut bahagia, Bin.'
Bergejolak benak Binar kala itu. Ada perasaan bersalah kepada Evan, yang secara tidak langsung sudah dia beri harapan.
'Kamu nggak salah, dari awal juga udah bilang, kan, kalau kamu mencintai Channing? Santai aja, aku nggak apa-apa kok. Aku malah ikut seneng akhirnya kamu bisa bersatu dengan dia. Kalian serasi.'
'Tapi, kalau misalkan masih ada yang mengganjal. Nanti kita ketemu langsung aja, biar kamu bisa ngomong semua yang pengin kamu omongin. Biar yakin juga kalau aku nggak apa-apa. Lusa aku ke Malang lagi, mungkin terakhir kali. Kalau kamu mau, nanti kita atur janji. Tenang aja, aku yang ngomong entar sama Channing, biar dia nggak cemburu. Gila juga anak itu, cemburunya nyeremin.'
Dua pesan beruntun yang dikirim Evan, usai dirinya meminta maaf berulang kali. Sebuah pesan yang akhirnya ia sanggupi—bertemu dan bicara untuk menyelesaikan sekilas kisah yang hampir ada. Besok siang adalah waktu yang mereka janjikan.
"Ck, malah diem. Ngelamunin apa? Bayangin pas disidang Paman dan Tante ya?" goda Malvin dengan tawa renyahnya.
"Ish, apaan sih, Kak. Nggak lucu tahu." Binar memanyunkan bibirnya, lalu memukul tangan Malvin yang ada di atas meja.
Namun, Malvin hanya menanggapinya dengan tawa.
Waktu telah dijanjikan bersama Evan akhirnya tiba juga. Pada jam makan siang, Binar keluar dari kampus dan bergegas menuju cafe yang tempo hari pernah mereka singgahi.
Setibanya di tempat itu, Binar langsung disambut dengan senyuman Evan. Lelaki berparas tampan itu sedang duduk santai di atas motor besarnya, sembari memainkan ponsel.
Melihat kedatangan Binar, Evan langsung turun dari motornya. Lantas, menghampiri Binar serata melepas handsfree yang tadi terpasang di telinganya.
"Kak Evan udah lama?" tanya Binar.
"Nggak sih, paling dua menit." Evan menjawab sambil tersenyum, yang akhirnya membuat Binar tak yakin bahwa dia baru dua menit di sana.
"Sorry ya. Tadi nunggu taksinya agak lama."
__ADS_1
"Santai aja, aku juga nggak buru-buru kok." Evan menyimpan ponselnya dan kembali menatap Binar. "Ya udah kalau gitu, masuk yuk!" lanjutnya.
"Mmm."
Keduanya pun mulai berjalan bersama menuju pintu cafe. Hanya beriringan. Tidak ada genggaman tangan seperti yang pernah Evan lakukan terkahir kali. Ya ... Binar bukan harapannya lagi sekarang. Dia harus tahu diri akan hal itu.
"Melihat dia bahagia, itu udah cukup. Toh aku dulu juga pernah nyakitin cewek," batin Evan, berusaha lapang menerima kenyataan.
Tak berselang lama, Evan dan Binar sudah duduk di tempat. Sebuah meja yang ada di dekat jendela, itulah pilihan mereka. Setelah itu, keduanya kompak memesan makanan dan minuman dingin yang sama.
"Soal ini, aku beneran minta maaf, Kak. Aku udah ngasih harapan, tapi___"
"Aku nggak apa-apa, percayalah! Kamu nggak salah, dan ... emang nggak ada yang salah. Seperti yang kubilang kemarin, dari awal kamu udah jujur ke aku soal Channing. Kamu nggak ngasih harapan palsu atau apa, ini aku yang memilih maju, padahal tahu hati udah untuk cowok lain," jawab Evan.
Binar terdiam. Entah benar atau tidak yang dikatakan Evan, atau sekadar cara untuk menutupi kekecewaan yang sebenarnya. Entahlah.
"Kalau misalnya, yang menjalin hubungan sama kamu itu laki-laki lain. Mungkin ... aku kecewa. Tapi, ini kan Channing. Laki-laki yang sejak awal memang kamu cintai. Jadi ya ... nggak boleh dong aku kecewa," lanjut Evan, masih lengkap dengan senyumannya.
Sesaat setelah itu, obrolan keduanya terhenti sejenak karena ada pelayan yang mengantarkan pesanan.
"Cinta itu nggak boleh egois, nggak boleh memaksa orang lain yang kita cintai untuk bersama kita. Tentang rasa, itu nggak bisa dipaksa. Hadir atas kemauan sendiri. Nggak akan ada artinya sebuah hubungan jika yang punya cinta dan keinginan untuk bersama, hanya sepihak. Makna cinta pun akan hilang jika dilandasi dengan keegoisan. Dari sini, kuharap kamu bisa paham dan nggak lagi ngerasa bersalah, Bin," ujar Evan di sela-sela makannya.
Binar sekadar mengangguk samar. Belum ada kata yang ingin diucap. Dalam benak begitu banyak kalimat, hingga tak tahu yang mana yang harus diungkap.
"Puncak tertinggi dari cinta adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia, dengan ataupun tanpa kita. Dan itulah yang kulakukan sama kamu. Kamu bahagia dengan Channing, itu udah lebih dari cukup bagiku. Dan aku nggak akan maju lagi, selama Channing nggak nyakitin kamu," sambung Evan.
Dua gadis yang duduk tak jauh dari Binar dan Evan, senyum-senyum tak jelas. Keduanya membayangkan andai diberi kesempatan untuk mengenal lelaki seperti Evan, pastilah serasa hidup di atas awan.
Kalimat panjang barusan, siapa yang tidak meleleh jika mendengarnya? Secara tidak langsung, Evan mengatakan bahwa cinta yang ia punya sudah mencapai puncak tertinggi, makanya mau mengikhlaskan gadisnya bahagia dengan orang lain.
Dua gadis yang ikut mencuri dengar, sampai mengabaikan minuman yang tersisa, saking terhanyutnya dengan ucapan Evan, meski bukan mereka yang diajak bicara. Namun, entah bagaimana dengan Binar sendiri, yang menjadi peran utama bersama Evan kala itu. Menganggap semua sederhana atau juga istimewa.
__ADS_1
Bersambung...