
Pertemuan penuh makna yang terjadi di bawah bulan jingga, menjadi kenangan tersendiri bagi Evan. Meski sebatas kejujuran—yang dalam setengah sisinya menyakitkan, namun Evan menganggap itu adalah sesuatu yang istimewa. Ya, dengan Binar berkata jujur, pertanda posisinya lebih dari sekadar teman.
Sembari mengingat memori malam itu, Evan berulang kali menarik dan mengembuskan napas panjang, sambil sesekali melirik Channing yang duduk di depannya.
Setelah ke Malang selama tiga hari kemarin, ini adalah pertama kalinya dia ada waktu berdua dengan Channing. Kebetulan, hari ini mereka tidak ada kelas, dan seperti biasa Channing ikut ayahnya ke kantor. Evan pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Channing. Ada hal serius yang harus mereka bicarakan.
"Tumben kamu datang ke sini. Nggak ngantor sendiri?" tanya Channing ketika melihat Evan hanya bergeming. Padahal, sudah beberapa menit duduk di hadapannya.
"Nggak." Evan menggeleng, dengan tatapan yang tak lepas dari Channing. Dia berusaha membaca apa yang ada dalam hati dan pikiran sahabatnya itu.
Sebelum Channing membuka suara lagi, Evan sudah kembali melanjutkan kalimatnya, "Aku ke sini ada penting sama kamu."
Channing menatap Evan sekilas. Lalu, menyingkirkan sejenak berkas yang ada di hadapannya.
"Penting? Soal apa?" tanyanya. Rasa penasaran Channing cukup tinggi kali ini, karena jarang-jarang Evan serius.
"Binar."
Jawaban singkat Evan membuat Channing terpaku sesaat. Namun, tak berselang lama ia bisa mengontrol perasaannya lagi. Lantas, mengulas senyum lebar dan menanyakan kelanjutan maksud omongan Evan.
"Aku mau tanya sesuatu soal dia. Tapi ... kamu harus jawab jujur," sambung Evan.
Channing menanggapinya dengan tawa sumbang. Seolah menganggap itu candaan, namun sebenarnya perasaan mulai tidak nyaman. Apa gerangan yang akan Evan tanyakan?
"Dia mencintaimu. Kamu tahu itu, kan?"
__ADS_1
Meski tidak minum, tetapi Channing tersedak seketika, dan itu mencuri perhatian Evan. Tanpa dijelaskan pun ia langsung bisa menebak, memang ada rasa yang sama di antara mereka.
"Kenapa? Terkejut?" lanjut Evan diiringi tatapan penuh selidik.
Channing berdecak kesal. "Omonganmu nggak jelas. Binar itu adikku, mana mungkin cinta sama aku. Jangan-jangan karena cintamu masih ditolak, makanya jadi ngawur gini."
"Aku nggak ngawur. Binar sendiri kok yang bilang, dan itu sangat klop dengan ceritamu waktu itu. Sebenarnya itu bukan tentang temanmu, kan? Melainkan kamu dan Binar sendiri. Iya, kan?"
"Jangan sembarangan ngomong!"
Sekadar bantahan tanpa alasan yang keluar dari bibir Channing. Pikirannya masih buntu, belum menemukan kalimat yang tepat untuk menyanggah. Semua terjadi mendadak, dan ia tak pernah menduga bahwa Binar akan mengatakan semuanya.
"Nggak peduli kamu mau berkilah kayak gimana, yang penting aku udah tahu semuanya. Sekarang, cuma satu hal lagi yang pengin aku pastikan sama kamu. Kamu juga mencintai dia atau nggak?"
Channing menatap tajam ke arah Evan. "Kamu makin ngawur, Van. Aku cuma nganggap dia adik, nggak ada cinta-cintaan."
"Cukup, Van!" bentak Channing sambil bangkit dari duduknya. "Soal aku dan Binar, aku yang lebih tahu. Aku yang lebih paham apa yang harus kulakukan. Kamu kalau memang mencintainya, fokus saja mengejar cintanya. Nggak perlu ikut campur urusanku."
"Karena mencintainya, aku memprioritaskan kebahagiaan dia ... sekalipun itu nggak bersamaku." Evan turut bangkit, menjajari Channing yang sudah berdiri menghadap ke arahnya. "Aku tahu sebesar apa dia mencintaimu dan berharap bisa bersatu sama kamu. Meski nggak diucapkan secara gamblang, tapi aku bisa membaca itu dari tatapannya. Kalau kamu juga mencintainya, kenapa harus menciptakan hubungan yang rumit seperti ini? Kenapa nggak berterus terang aja agar kalian sama-sama bahagia?" lanjutnya dengan cepat.
Sebelum Channing menjawab, pintu diketuk dari luar. Rupanya, OB yang datang guna mengantar kopi untuk keduanya.
"Kalau kamu masih ngelak lagi dan nggak ngaku kalau mencintai Binar, aku yang akan maju dan mengejarnya. Dan sedetik pun aku nggak akan biarin kamu untuk mendekatinya. Sekalipun nanti kamu menyesal, aku nggak akan peduli!" Evan kembali bicara, bahkan sebelum OB pergi dari ruangan itu.
Sementara Channing, tetap seperti semula—diam karena tak punya jawaban yang tepat.
__ADS_1
Cinta ... memang jelas ada. Namun, hubungan antara dirinya dengan Binar terlalu tabu untuk dibubuhi perasaan lain. Dia tidak mau mengecewakan ayahnya untuk kedua kali. Makanya, sebisa mungkin menepis jauh rasa yang muncul tanpa tahu tempat itu.
"Kenapa___"
"Pergi, Van! Aku lagi sibuk, nggak ada waktu untuk ladenin kamu," pungkas Channing, sembari menarik kasar lengan Evan. Lantas, memaksanya keluar dari ruangan.
"Aku belum selesai ngomong. Aku___"
"Tunggu aku selesai kerja, nanti kita bicara lagi." Channing bicara ala kadarnya. Kemudian, menutup pintu ruangan dan menguncinya dari dalam, karena OB pun sudah keluar sesaat sebelum Evan.
Setelah teriakan Evan tak terdengar lagi, Channing kembali duduk di tempatnya. Sambil menutup wajah dengan kedua tangan, dia menyesali semua yang terjadi. Mengapa ada rasa yang muncul untuk seseorang yang seharusnya tidak ia cintai.
Akibat hal itu, Channing tidak fokus lagi dengan pekerjaannya. Beberapa jam yang ia lalui, kebanyakan hanya dihabiskan dengan merenung dan melamun. Sampai kemudian, ia memilih pulang ketika jarum jam sudah menunjukkan angka empat.
______
Di antara angin sore yang tak lelah menerpa, Channing memasuki pintu gerbang rumahnya dengan perasaan yang masih tak menentu. Ada banyak sesuatu yang mengganjal dan menjadi beban tersendiri baginya.
"Papa udah pulang ternyata." Channing membatin sambil menatap malas pada mobil Kendrick yang terparkir di garasi. Tadi, ayahnya itu ada pertemuan dengan klien di luar kantor.
Tanpa membuang waktu lagi, Channing bergegas keluar dari mobil. Lantas, melangkah cepat menuju pintu utama. Dia sudah tak sabar untuk tiba di kamar dan menjatuhkan tubuh di ranjang. Dengan memejam sejenak, mungkin beban itu akan sedikit menguar, pikirnya.
"Papa!" Channing menatap ayahnya dengan kening yang mengernyit. Tak biasanya Kendrick duduk di ruang tamu pada jam-jam itu. "Baru pulang juga kah, Pa?" sambungnya.
Alih-alih mendapat jawaban yang ramah, Channing justru dihadapkan dengan sesuatu yang mengejutkan dan sama sekali tidak ia mengerti.
__ADS_1
Kendrick, sang ayah yang biasa lembut dan bijak, detik itu tiba-tiba bangkit sambil melayangkan tatapan tajam. Sebelum Channing memahami situasi, tangan kekar Kendrick sudah mendarat di wajahnya. Cukup keras, hingga meninggalkan gambaran lima jari yang memerah. Perih dan panas, itulah Channing rasa. Namun, ia belum berani protes karena deru napas Kendrick sangat memburu. Terbaca jelas bahwa saat itu sedang dalam pengaruh emosi.
Bersambung...