Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Kejujuran Hati


__ADS_3

"Channing yang ngasih tahu. Awalnya ... aku cuma mau ikut dia pulang buat ketemu kamu. Lalu dia ngomong kalau kamu pindah."


Jawaban dari bibir Evan membuat Binar langsung bisa menebak, tentang dari mana Evan mengetahui kampusnya. Channing, pasti juga dia. Karena diingat beberapa kali pun, sebelumnya Binar memang tak pernah membahas hal itu dengan Evan.


"Apa kamu sengaja mendekatkan dia denganku? Agar aku berhenti mencintai kamu?" batin Binar dengan perasaan miris.


"Aku melakukan ini alasannya cuma satu, yaitu cinta. Aku masih mencintai kamu, Bin, dan aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu."


Lagi, pernyataan cinta terlontar dari bibir Evan. Setelah sekian lama tak pernah dibahas secara serius, malam ini ... diulas lagi.


Sama seperti sebelumnya, Binar juga belum ada jawaban yang tidak mengecewakan.


"Aku nggak maksa kamu untuk mau pacaran sama aku, karena cinta itu datangnya dari hati, kan? Tapi ... aku ingin tahu. Selama beberapa bulan kita sering bareng, udah ada perbedaan nggak? Atau ... masih tetap kayak dulu?" sambung Evan dengan hati-hati. Sebisa mungkin tak menyinggung Binar.


Cukup lama Binar terdiam, dan sekadar membiarkan gemerisik angin yang menjadi pengisi suara di antara mereka.


"Kalau ada kurangnya aku yang nggak bisa diterima kamu, bilang aja. Jangan takut aku marah atau tersinggung. Mungkin ... itu memang suatu hal yang harus aku benahi," sambung Evan, makin membuat Binar tak punya kata untuk diucap.


"Nggak ada yang kurang dalam diri Kak Evan. Justru aku sendiri yang bermasalah dan patut membenahi diri."


Setelah diam sampai beberapa menit berlalu, Binar memberanikan untuk mengangkat wajah dan mengucap kalimat itu. Sebuah pernyataan yang membuat Evan menarik napas panjang. Firasatnya mendadak tidak karuan. Dia menangkap kegagalan lagi dalam pernyataan cintanya kali ini.


"Aku belum selesai dengan perasaanku sendiri, Kak. Dan aku nggak bisa menjalani hubungan dengan Kak Evan, sementara hatiku masih untuk cowok lain. Kak Evan sangat baik, cinta pun kelihatan tulus. Rasanya, nggak adil kan kalau aku nggak bisa mengimbangi perasaan Kakak? Aku nggak mau mempermainkan Kak Evan," sambung Binar.


Meski firasat Evan sudah meraba ke arah sana. Namun ketika mendengar dengan pasti, rasanya tetap perih dalam hati.


"Aku memang nggak mungkin bersatu dengan cowok itu, tapi selama perasaan ini masih ada, aku belum bisa menerima cinta Kak Evan. Tunggu aku menyelesaikan perasaanku sendiri, baru aku bisa memulai perasaan baru dengan Kakak."


Ucapan Binar kali ini, sedikit membawa harapan untuk Evan.


"Kamu mau mempertimbangkan aku?" tanyanya.

__ADS_1


Binar mengangguk. "Tapi ... aku tidak bisa menjanjikan waktu yang tepat, entah hari, minggu, atau bulan. Namun satu hal yang pasti, aku nggak akan belajar mencintai cowok lain, selain Kak Evan."


Perasaan Evan bergejolak. Bimbang antara senang atau sedih. Senang karena Binar memberikan harapan yang cukup besar, sedih karena hati gadis itu belum luluh padanya. Terlebih jika nanti hati lelaki yang Binar cintai mau menyambut, tamat sudah dia. Harapan besar tadi pun akan luluh lantak dengan sendirinya.


"Binar ... bagaimana jika dia juga mencintaimu?" Dengan suara pelan, Evan menanyakan sesuatu yang paling mengganggu.


Binar menggeleng sambil tertawa sumbang. "Itu nggak mungkin. Dia nggak pernah mencintaiku, dan kami nggak mungkin pernah bersatu."


"Kenapa? Cinta itu kadang sulit ditebak. Bisa jadi dia juga menyimpan rasa yang sama untuk kamu," jawab Evan. Sedikit menyakitkan, tetapi harus ia sampaikan. Dari pada patah hati di belakang, lebih baik mempersiapkan diri dari sekarang.


"Itu nggak mungkin." Binar kembali menggeleng. "Dan kalaupun mungkin, kami nggak akan pernah bersama," lanjutnya.


"Kenapa begitu?"


Evan menatap Binar dengan bingung. Sejauh ini, dia tak pernah melihat Binar dekat dengan lelaki. Namun, nyatanya gadis itu sudah menyimpan rasa yang dalam untuk seseorang, yang katanya tak mungkin bisa bersatu. Apa alasannya? Apakah beda agama, atau lelaki itu sudah punya istri, atau malah ... ahh, tidak. Evan tak mau melanjutkan dugaan yang terakhir.


"Binar!" panggil Evan karena sudah menunggu cukup lama, namun masih tak mendapat jawaban apa pun dari Binar.


"Karena ada jarak di antara kami, yang ... yang nggak mungkin bisa dilewati." Jawaban yang tetap membingungkan.


Binar memejam. Cukup berat baginya mengatakan kejujuran, mengakui Channing sebagai lelaki yang ia cintai.


"Aku hanya ingin tahu aja," sambung Evan.


Sungguh, makin ke sini ia makin dibuat penasaran dengan perasaan Binar.


Sementara itu, Binar mencengkeram tali tas dengan kuat, sebagai pelampiasan atas gejolak hati yang melewati batas kendali. Dengan mata yang masih terpejam, Binar berkata lirih, "Kak Channing."


Satu jawaban serupa tamparan bagi Evan. Bahkan, alam pun seakan ikut mendengar. Sampai-sampai rembulan di atas sana bersembunyi di balik awan kelabu.


Cukup lama Evan tak mengucap kata, sekadar menenangkan perasaan yang kacau dan berantakan. Dugaan terakhir yang tadi ia tepis jauh, ternyata adalah fakta. Channing, teman sekaligus orang yang diharap menjadi kakak ipar, nyatanya sosok yang menjadi rival terberatnya.

__ADS_1


Kecurigaan Evan beberapa waktu lalu, mengenai masalah yang sepertinya terjadi di antara Channing dan Binar, kini ia temukan muaranya—cinta.


Ingatan Evan pun dipaksa kembali pada waktu silam, di mana Channing bercerita tentang adik sambung yang mencintai kakaknya.


"Ternyata itu bukan curhatan teman, tapi memang dia alami sendiri," batin Evan.


"Aku tahu ini salah, nggak seharusnya aku menyimpan perasaan itu. Makanya aku pergi ke sini, Kak. Aku ingin jauh dari dia dan melupakan semua rasa untuknya. Aku ingin bisa menganggap dia sebatas kakak, seperti dia menganggap aku sebatas adik."


Penjelasan Binar yang lebih rinci, cukup membuat Evan paham dengan apa yang terjadi. Namun, ada satu hal dalam pikirannya yang tidak sejalan dengan pendapat Binar.


Jauh dalam hati kecilnya, Evan punya keyakinan bahwa Channing juga menyimpan rasa yang sama. Ingatan demi ingatan yang ia gabungkan—tentang Channing, sudah menjelaskan bagaimana perasaan lelaki itu. Ada cinta, namun tidak diakui. Mungkin, hubungan kekeluargaan yang membuat Channing menghindar dan menepis sebelum terlalu dalam.


"Kamu bebas menilaiku, Kak. Cinta ini emang beretika, dan itu membuatku nggak tahu malu hingga berani menyatakan cinta lebih dulu. Aku nggak sebaik yang kamu pikirkan kan, Kak?" Binar memberanikan diri untuk mengangkat wajah, dan menatap Evan yang kala itu juga memandang ke arahnya.


Dengan senyum yang terukir manis di bibirnya, Evan menyelipkan rambut Binar ke belakang telinga.


"Menyatakan cinta bukan sesuatu yang buruk, meskipun kamu perempuan. Itu hanyalah kejujuran. Dan ... wajar kamu bisa mencintai dia. Kamu dan dia nggak ada hubungan darah. Dia juga ... sebaik itu sama kamu."


Binar terdiam. Sementara Evan, menyelam lebih dalam lagi pada manik hitam milik Binar. Dalam keindahan mata yang memikat itu, ada kemelut yang begitu merajai. Sebuah hal yang Evan deskripsikan sebagai gambaran hati yang amat terluka. Binar sangat mencintai Channing, namun keadaan memaksa dia untuk menghapus cinta itu. Begitulah kesimpulan yang Evan dapatkan.


"Aku ingin keluar dari perasaan ini, tapi___"


"Aku akan membantumu." Evan langsung menyahut, karena Binar kesulitan melanjutkan kalimatnya.


Lantas, Evan mengangkat tangannya dan menghapus air mata Binar yang membasah di kedua pipi.


"Cinta itu datangnya perlahan, perginya juga tentu akan perlahan. Kita nggak bisa menghapus cinta dalam hitungan jam atau hari, pasti butuh waktu. Jangankan Channing yang masih nyata perhatian dan baik sama kamu, mencintai seseorang yang jelas-jelas menyakiti aja, kadang butuh waktu untuk benar-benar menghapus perasaan yang pernah ada," ucapnya.


Binar mengangguk. Lalu, di bibirnya juga tersirat senyum samar.


"Makasih udah mau jujur sama aku."

__ADS_1


Evan setengah berbisik ketika mengatakan kalimat itu. Pun dengan jawaban Binar setelahnya, hanya serupa gumaman.


Bersambung...


__ADS_2