Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Lain kali kalau pikiran tidak pas, diam saja di rumah. Dari pada pergi, tapi malah ceroboh seperti ini. Dan kamu juga Binar, tadi katanya kuliah, tapi ternyata bolos. Kenapa tidak dari tadi bilang ke Mama kalau mau nyusul kakakmu?"


Athena mengomel di hadapan Channing dan Binar. Namun, yang diomeli hanya menunduk sambil menggumamkan kata maaf.


"Kalau sudah begini siapa yang malu? Kalian sendiri, kan?" sambung Athena.


Memang konyol mereka, makan di restoran dan ternyata tidak membawa uang. Alhasil, Athena-lah yang ditelepon dan dipaksa mentransfer uang guna membayar tagihan, yang mencapai enam ratus ribu.


Walau akhirnya bisa lolos tanpa harus mencuci piring, tetapi sempat malu juga karena harus menunggu. Bahkan, ada beberapa pengunjung yang tadi mencuri pandang ke arah mereka.


"Ya sudah, yang penting jangan diulang lagi." Athena menarik napas panjang, menyudahi omelan terhadap dua anaknya.


"Iya, Ma." Channing dan Binar menjawab bersamaan.


"Sekarang kalian bersihkan diri gih! Kamu setelah ini jangan lupa belajar, Binar. Dan kamu Channing, tidak usah berpikir yang macam-macam lagi. Terlepas dari semua fakta ini, Mama dan Papa tetap menyayangi kamu. Kami tetap menganggapmu putra sulung yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun." Athena bicara sambil menatap Binar dan Channing secara bergantian.


"Siap, Ma," sahut Binar. Kali ini sambil tersenyum lebar. Bukan sekadar merasa lucu karena kejadian di restoran tadi, melainkan juga karena hatinya berbunga-bunga. Apa lagi alasannya kalau bukan karena perpisahan Channing dengan Laurent.


"Terima kasih banyak ya, Ma." Channing turut tersenyum.


Di balik kekecewaan atas asal-usul dirinya, ada secercah kebahagiaan yang mewarnai hatinya. Walaupun dirinya sekadar anak hasil selingkuhan dan orang tua kandungnya sudah tiada, tetapi setidaknya masih dipertemukan dengan sosok orang tua sebaik Kendrick dan Athena.


________


Hujan yang mengguyur Kota Denpasar belum reda sampai malam. Alam seakan ikut merasakan luka dari beberapa jiwa manusia.


Di salah satu sudut Kota Denpasar, tepatnya di dalam rumah mewah yang berada di kawasan elite, seorang gadis duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Wajahnya menunduk, menatap sebingkai foto dirinya bersama mantan kekasih.


"Channing." Gadis yang tak lain adalah Laurent, menggumamkan nama lelaki yang sampai saat ini masih bertakhta di dalam hati.

__ADS_1


Sayangnya, dunia seperti tak merestui kebersamaan mereka.


"Besok aku akan pergi, dan nggak tahu bakal gimana hidupku setelah ini. Kamu baik-baik ya di sini. Semoga kamu mendapatkan kekasih lagi, yang jauh lebih baik dari pada aku. Channing, kuharap kamu selalu bahagia," ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


Bukan hal yang mudah bagi Laurent untuk berpisah dengan Channing, namun hanya itu satu-satunya pilihan yang bisa ia ambil.


Singapura, negara yang akan ia tuju esok hari. Negara yang mungkin akan menjadi penentu bagaimana ke depannya nanti, suka atau duka.


"Ahh." Laurent menarik napas panjang. "Kamu adalah kenangan terindahku, Channing," sambungnya.


Tak berselang lama, Laurent meletakkan kembali foto itu. Lantas menyibak tirai dan menatap suasana luar yang tampak samar-samar dari balik kaca jendela.


"Semoga kita bisa ketemu lagi," batin Laurent.


Entah 'kita' siapa yang dimaksud. Dia dan Channing atau dia dan Kota Denpasar. Hanya Laurent sendiri yang paham akan hal itu.


_______


Kendrick masih terus bekerja keras dan mencari bukti. Sejauh ini, pihak yang paling dia curigai adalah keluarga selingkuhan istrinya dulu. Namun, benar tidaknya masih belum pasti.


Sementara itu, Channing sendiri dikejutkan dengan kabar lain, yang berkaitan dengan Laurent.


"Laurent pindah kuliah dan perusahaan milik orang tuanya diakuisisi oleh pihak lain. Kamu udah tahu kabar ini belum?" tanya Digo ketika keduanya berbincang via telepon, pagi itu.


Channing terkejut seketika. Ingatannya langsung tertuju pada kejadian dua hari lalu, di mana Laurent mengatakan putus dengan begitu kejamnya. Sempat tersirat tanya dalam benak Channing, mungkinkah dia hanya bersandiwara demi menutupi masalah dalam keluarganya?


"Kamu tahu dari mana?" Channing balik bertanya setelah cukup lama tak memberikan tanggapan. Dia takut juka informasi yang dibawa Digo tidaklah akurat.


"Soal orang tuanya aku tahu dari Papa. Terus aku coba bahas itu dengan Nikita, dia kan juga kuliah di sana. Nah, dia malah bilang kalau Laurent udah pindah. Tapi, dia nggak tahu pindahnya ke mana. Ya, selama ini cuma sekedar kenal sih, nggak akrab gitu."

__ADS_1


Jawaban Digo membuat Channing berpikir keras. Entah apa yang harus dia lakukan setelah ini.


"Ya udah, thanks infonya. Kalau gitu ... aku mau siap-siap dulu, mau ikut Papa ke kantor," ucap Channing mengakhiri pembicaraan.


Namun, itu semua bohong belaka. Bukan kantor yang akan menjadi tujuannya setelah ini, melainkan rumah Laurent.


Dengan gerakan cepat, Channing mengganti baju tanpa mandi. Lantas, bergegas turun ke lantai bawah dan menemui Athena yang sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan.


"Ma! Mama!" teriak Channing.


"Ada apa? Kenapa buru-buru gitu?" sahut Athena.


"Ma, tolong beri tahu Papa ya, hari ini aku belum bisa ikut ke kantor. Ada urusan sama Digo. Nanti kasih tahukan Binar juga, Ma, nggak bisa antar dia. Tapi, nanti pulangnya aku jemput kok." Channing bicara cepat sembari menyeruput segelas teh hangat yang tersaji di atas meja.


"Memangnya Digo kenapa? Dia___"


"Pergi dulu ya, Ma." Channing memotong ucapan Athena seraya melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Athena hanya menggeleng-geleng melihat tingkah laku anaknya.


Selagi orang di rumah masih dibuat bingung, Channing melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tak sabar untuk tiba di rumah sang pujaan, dan berharap mendapat titik terang di sana.


"Kalau emang itu alasanmu, aku nggak bisa terima, Lala. Justru harusnya kamu ngomong ke aku dan biarkan aku membantu masalahmu," batin Channing sambil tetap menambah laju.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dibawa Channing mulai memasuki kawasan perumahan milik Laurent. Makin dekat ia dengan tempat tujuan, makin cepat pula jantungnya berdetak. Harapan dan ketakutan saling berimpitan, mematahkan satu sama lain hingga membuat otaknya berdenyut keras.


"Semoga kita masih bisa bertemu, Lala," gumam Channing seraya membelokkan mobilnya ke arah rumah Laurent.


Bangunan megah dengan warna yang khas mulai tampak dalam penglihatan Channing. Sebuah rumah yang mana pernah ia singgahi, yang menyimpan sekelumit kenangan bersama gadis idamannya.


Namun, kali ini sambutan dari rumah itu berbeda jauh dengan sebelumnya. Tak ada senyum dan sapaan ramah dari Laurent, atau sekadar orang tuanya. Yang menyambut Channing pagi itu adalah sesuatu yang mengejutkan hingga membuat matanya membelalak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2