
Channing turun dari mobilnya dengan gerakan yang cepat. Lantas tanpa pikir panjang, dia melangkah menghampiri beberapa orang yang sedang menurunkan barang-barang dari truk. Tampak seperti orang pindahan, dan itulah yang membuat Channing terkejut. Karena jika ada orang baru yang tinggal di sana, lalu ke mana Laurent dan orang tuanya.
"Permisi!" sapa Channing.
Salah seorang dari mereka menoleh dan menyambut Channing. Dia adalah pria dengan pakaian formal, yang sejak tadi sekadar mengarahkan, tanpa ikut turun tangan.
"Kalau boleh tahu, apa yang Anda lakukan di sini? Mmm, sebelumnya maaf, tapi setahu saya rumah ini milik Tuan Jose Armagio," ujar Channing.
"Oh, kamu mengenal Tuan Jose?"
Channing mengangguk cepat.
Pria itu tersenyum, "Tuan Jose sudah menjual rumah ini kepada saya. Dan ... ini, saya sedang pindahan."
Sontak, jawaban itu membuat Channing membelalak. Walaupun tadi ia sudah menduga, tetapi begitu tahu bahwa itu nyata, pikirannya menentang dan tak mau percaya. Dia masih berharap Laurent yang tinggal di sana, menyambut kedatangannya dengan senyum merekah, seperti yang selama ini pernah ia dapatkan.
"Apakah Anda tahu ke mana Tuan Jose sekarang?" tanya Channing, berharap ada sedikit celah untuk menemui gadis pujaannya itu.
Namun sayang, pria di hadapannya malah menggeleng. "Maaf, saya tidak tahu. Kemarin Tuan Jose hanya mengatakan bahwa dirinya ingin pindah jauh dan mencari suasana baru. Tapi, saya tidak tahu ke mana. Kami hanya terlibat transaksi jual beli rumah ini, jadi saya tidak berani lancang menanyakan yang macam-macam."
Mendengar penjelasan yang panjang lebar, Channing tak bisa berkata-kata. Hilang sudah harapannya untuk bertemu Laurent. Gadisnya telah menghilang entah ke mana. Tanpa dia tahu pula apa alasan yang sebenarnya mengapa ingin pisah. Semua terasa semu, abu-abu, tak dapat diterka sedikit pun.
"Terima kasih," ujar Channing setelah terpaku cukup lama.
Setelah itu, dia kembali ke mobil dan merenung lama di sana. Dia berusaha keras berpikir, ke mana gerangan Laurent dan orang tuanya. Namun, lagi-lagi jalan buntu yang ia temui, karena nomor Laurent pun sekarang sudah tak bisa lagi dihubungi.
Ketika Channing meminta bantuan Digo untuk menghubungi nomor Jose, jawaban tak jauh beda. Nomor tersebut sudah di luar jangkauan.
Kemudian, Channing nekat menghubungi teman dekat Laurent, yang kebetulan pernah ia simpan kontaknya.
"Aku baru saja mau menghubungimu, Kak, ingin tanya ke mana Laurent. Kapan itu dia hanya bilang mau pindah kampus, tapi ternyata juga pindah rumah. Aku nggak tahu dia ke mana, nomornya mendadak nggak aktif."
Jawaban yang amat sangat menyebalkan. Channing sampai mencengkeram ponsel saking geramnya.
__ADS_1
"Dia nggak bilang kalau sempat putus denganku?" tanya Channing.
"Hah? Kamu putus dengan Laurent, Kak?"
Channing mengembuskan napas kasar, "Iya. Dia minta putus dengan alasan yang ... ah, setelah itu menghilang."
Hening. Tak ada jawaban dari seberang sana. Mungkin, teman Laurent juga sedang menebak-nebak apa kiranya yang terjadi.
"Kalau ada kabar, hubungi aku," pungkas Channing, mengakhiri pembicaraan. Pikirnya, percuma mengobrol lama, toh juga tidak ada titik terang mengenai Laurent.
Setelah sambungan telepon terputus, Channing berulang kali memukul kemudi. Kesal dan marah bercampur menjadi satu. Dia benar-benar benci karena kehilangan jejak Laurent.
"Harus ke mana lagi aku mencarimu, Lala," gumam Channing dengan perasaan yang teramat kacau.
_______
Jam makan siang sudah lewat sejak beberapa saat yang lalu, namun Channing belum beranjak dari kursinya. Ia tetap fokus menatap layar komputer yang menampilkan deretan huruf dan angka.
Sudah berulang kali Kendrick mengingatkan untuk makan, tetapi Channing tak jua beranjak, dengan alasan belum lapar. Padahal, dia hanya ingin melupakan bayangan Laurent yang begitu menyebalkan, menari-nari dalam pikiran. Bahkan, Channing sampai mengabaikan ponselnya yang sudah bergetar entah sampai berapa kali.
Sampai jarum menunjukkan pukul 04.00 sore, barulah Channing menyudahi pekerjaannya. Niat hati sekadar melihat sekilas ponselnya, tetapi tiba-tiba dikejutkan oleh pesan beruntun dari Binar, juga riwayat panggilan yang mencapai puluhan.
'Kak, aku sakit. Jemput aku ya.'
'Kak, aku lagi serius loh. Kepalaku pusing. Aku udah izin pulang ini.'
'Kak, sibuk banget ya?'
'Ya udah deh, Kak, aku pulang sendiri aja kalau gitu.'
'Kak, aku udah pesen taksi, tapi nggak dateng-dateng. Bisa nggak jemput aku? Please!'
'Kak, kepalaku makin pusing ini. Nggak bisa ya jemput aku bentar aja?'
__ADS_1
'Kak Channing!'
'Kak!'
Mata Channing mengerjap cepat. Dia baru sadar jika Binar yang harus ia jaga. Saking larutnya dengan masalah Laurent, dia sampai melupakan Binar.
"Duh, mana udah siang tadi lagi ngirim pesannya," ujar Channing penuh sesal.
Lantas, dengan cekatan dia balik menghubungi Binar. Sayangnya, tidak ada jawaban dari gadis itu. Bahkan, sampai Channing mengulanginya berulang kali, tetap tidak ada respon. Apakah ini yang namanya karma dibayar kontan? Ahh!
"Mudah-mudahan nggak ada apa-apa dengan Binar. Aku mending cepat pulang aja kalau gitu," ucap Channing seorang diri.
Usai menyimpan kembali ponselnya, Channing bergegas menuju basement dan masuk ke dalam mobil miliknya. Lagi-lagi ia lajukan dengan kecepatan tinggi, seakan-akan itu merupakan rutinitas wajib akhir-akhir ini.
Sekitar empat puluh menit kemudian, Channing tiba di rumahnya. Pertama kali memasuki gerbang, ia langsung disambut dengan mobil yang familier. Namun, ia masih tak yakin jika itu milik seseorang yang ia kenal.
Demi menuntaskan rasa penasaran, sekaligus kekhawatirannya kepada Binar, Channing cepat-cepat turun dan melangkah menuju pintu utama, yang kala itu terbuka lebar.
"Ma!" teriak Channing selagi masih berada di ruang tamu.
Namun, tidak ada jawaban, bahkan sampai dia tiba di ruang keluarga.
"Tante masih ke kamar."
Sebuah sahutan dari seseorang yang jelas bukan anggota keluarga. Channing sontak menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok yang ia curigai sejak awal—sejak melihat mobilnya di halaman depan.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Channing, kurang ramah. Entah mengapa Channing kurang suka melihat dia di rumahnya dalam situasi seperti sekarang.
"Kamu ini, pulang-pulang bawa wajah masam begitu. Harusnya seneng dong lihat aku di sini. Aku kan calon___"
"Nggak usah ngomong sembarangan," pungkas Channing sambil melotot tajam.
Suasana hati sudah buruk, malah ditambah sesuatu yang tidak mengenakkan hati. Tak heran, membuncah sudah kekesalannya.
__ADS_1
Namun sial, hal itu tidak ditanggapi serius oleh lawan bicaranya. Tanpa memedulikan ekspresi Channing yang tidak sedap dipandang mata, dia malah menyunggingkan senyuman lebar.
Bersambung...