
"Salah satu dari kalian harus meninggalkan rumah ini dan bersedia namanya dicoret dari daftar keluarga."
Kendrick menatap Binar dan Channing secara bergantian. Lantas melanjutkan ucapannya, "Channing, kamu yang pindah ikut keluarga ibumu. Atau ... kamu Binar yang ikut ayahmu."
Binar dan Channing sama-sama kesulitan menelan ludah. Pergi dan dicoret dari daftar keluarga, tentu bukan hal yang mudah. Terlebih untuk Binar. Ayahnya saja entah di mana sekarang, bagaimana kehidupannya juga tak begitu paham. Sederhana dalam hal materi mungkin dia bisa, tetapi perihal kasih sayang. Tentu sangat sulit, sama halnya dengan mengenang masa kecil dulu.
Sebelum Channing atau Binar memberikan tanggapan, Kendrick terlebih dahulu bangkit dari duduknya. Sambil mengembuskan napas panjang, ia kembali menatap kedua anaknya.
"Bukan tanpa alasan Papa membuat keputusan ini. Kalian juga tahu, berapa banyak orang yang mengenal Papa. Dan mereka semua tahu, kalian adalah anak yang Papa besarkan. Papa tidak mau ada pro dan kontra yang nantinya akan berpengaruh pada bisnis. Karena jika itu terjadi, nantinya juga akan berakibat pada kalian sendiri." Kendrick menjeda ucapannya sejenak. "Selain itu, Papa juga ingin memberikan kesempatan pada kalian, untuk memahami perasaan yang kalian simpan. Benar-benar cinta atau sekedar kebiasaan belaka. Karena dari kecil kalian bersama, saling bergantung satu sama lain. Papa tidak mau kalian terlambat menyadari. Jadi, pikirkan dulu baik-baik sebelum melangkah lebih jauh lagi," sambungnya.
Channing dan Binar mencerna baik penjelasan ayahnya yang panjang lebar. Tidak ada yang salah, justru itulah keputusan yang paling bijak.
Kendrick adalah orang terpandang, namanya cukup tenar dalam dunia bisnis. Segala sesuatu yang berkaitan dengannya, pasti menjadi konsumsi publik. Termasuk hubungan Channing dan Binar. Jika mencuat keluar, pasti banyak pro dan kontra yang menyebabkan gonjang-ganjing.
Mereka tinggal dalam satu keluarga—terkadang juga satu atap, tentu menimbulkan tuduhan-tuduhan buruk jika tiba-tiba menjalin asmara.
Setelah paham benar dengan keputusan yang diambil sang ayah, Channing melirik Binar cukup lama. Selain gestur wajahnya yang tampak sendu, tangannya juga terlihat mencengkeram ujung dress yang dikenakan.
Tanpa bertanya pun Channing sudah tahu apa yang dirasakan Binar. Gadis itu menyimpan harapan penuh pada cinta yang ia punya, tetapi juga tak sanggup meninggalkan rumah. Wajar, ayahnya bukan sosok pria yang bertanggung jawab. Baik dari segi materi, maupun kasih sayang.
Dengan diawali helaan napas panjang, Channing memberanikan diri untuk mendongak dan menatap ayahnya. Kemudian, mengutarakan keputusan yang akan dia ambil.
"Aku yang akan pergi, Pa. Binar biar tetap di keluarga ini. Aku nggak bisa melepas dia tinggal di luar sana, tanpa Papa dan Mama."
Mendengar ucapan Channing, Binar menoleh dengan cepat. Hatinya berkecamuk hebat. Di satu sisi tak rela membiarkan Channing pergi, tetapi di sisi lain juga menaruh harapan atas cinta mereka.
"Kamu yakin?" tanya Kendrick.
__ADS_1
Channing mengangguk dengan serius. "Yakin, Pa. Lagi pula, waktu itu udah pernah tersebar kabar kalau aku bukan anak kandung Papa. Jadi, nggak akan ada yang memperpanjang berita kalau aku yang pergi."
"Baik kalau kamu sudah yakin. Tapi, pikirkan lagi malam ini, dan besok berikan keputusanmu pada Papa. Ingat Channing, dalam setiap pilihan, jangan hanya membayangkan sisi positifnya saja. Kamu juga harus mempertimbangkan sisi negatif. Karena dengan pergi dari rumah ini, pasti banyak hal yang berubah dalam hidup kamu ke depannya."
Channing kembali mengangguk. "Aku ngerti, Pa."
Jawaban Channing begitu serius, nyaris tak ada keraguan yang tersirat di dalamnya. Ya, pikirannya saat itu memang hanya bertumpu pada Binar. Bagaimana caranya agar gadis itu bahagia dengan terwujudnya segala harapan yang selama ia simpan.
Setelah pembicaraan berakhir, Channing dan Binar beranjak bersama dari tempat duduknya. Lantas, perlahan melangkah dan kembali menuju kamar masing-masing.
Sementara Athena dan Kendrick, menatap kepergian keduanya dengan perasaan yang masih bergejolak.
Bukan hal yang mudah bagi Kendrick untuk membuat keputusan itu. Namun, apa boleh buat? Membiarkan mereka tetap tinggal bersama dalam satu keluarga, bukanlah hal baik. Sedangkan memaksa mereka untuk menghapus segala rasa juga bukan hal mudah. Kendrick sendiri pernah muda, tahu benar bagaimana rasanya mencintai. Dulu dia pernah tergila-gila dengan Athena, dan itu tak bisa dipadamkan meski keadaan tak memberikan restu.
"Aku ingin melihat sejauh mana perjuangan mereka," ucap Kendrick.
"Untuk sementara aku akan mengabaikannya. Biarkan saja dia berusaha dengan kemampuannya. Jika nanti waktunya sudah tiba, baru aku akan mengembalikan apa yang menjadi haknya."
Athena mengangguk-angguk. Setuju dengan apa yang Kendrick rencanakan.
Pada detik yang sama, Channing dan Binar hampir tiba di kamar masing-masing. Saat itu pula, Binar mulai membuka suara.
"Kamu yakin dengan pilihanmu tadi, Kak? Pergi dari rumah ini pasti nggak mudah loh. Walaupun hubungan kamu dengan keluarga ibumu cukup baik, tapi ... pasti beda dengan Papa di sini. Yang udah dari kecil merawat kamu. Apa sebaiknya___"
"Jangan pernah berpikir untuk pergi. Aku nggak rela kamu ikut ayahmu lagi. Cukup sekali kamu terluka karena bersamanya, jangan sampai diulang kedua kali," pungkas Channing dengan cepat, yang lantas membuat Binar menunduk seketika.
"Udah, jangan mikir yang macem-macem! Aku menganggap ini sebagai kesempatan untuk unjuk kemampuan. Aku ingin membawa kesuksesan untuk menebus kekecewaan yang telah kuberikan pada Papa. Kamu juga, cukup lakukan hal yang sama. Fokus kuliah dan mengejar cita-cita. Buktikan pada Papa kalau kita layak dibanggakan," ujar Channing lagi.
__ADS_1
"Tapi, Kak___"
"Apa lagi?"
"Aku masih nggak rela kalau Kakak pergi demi ini."
Channing tersenyum. "Aku laki-laki, bukankah wajar memperjuangkan cintanya? Masa aku harus membiarkan kamu yang paling banyak berjuang?"
Jawaban Channing yang setengah bercanda, tak cukup mampu menghadirkan senyum di bibir Binar. Namun, sanggup membuatnya bicara untuk kesekian kalinya.
"Kamu rela begini, apa ... kamu beneran mencintaiku, Kak?" tanya Binar.
"Kamu masih nanya?" Channing tertawa kecil.
"Selama ini kamu hanya mencintai Lala."
Channing menarik napas panjang. "Aku sendiri juga nggak tahu sejak kapan perasaan ini mulai ada, Bin. Dari dulu tapi nggak kusadari, atau baru-baru ini, entahlah. Yang jelas saat kamu pergi dan nggak tinggal di rumah ini lagi, aku merasa kehilangan. Dan dari situ aku mulai ada yang nggak beres dengan hatiku. Tapi, aku nggak mau mengakui itu. Aku takut mengecewakan Mama dan Papa. Makanya, aku biarkan saja Evan mendekati kamu, meski aslinya aku cemburu. Karena kupikir, kita mustahil untuk bersama. Sekarang, Mama dan Papa udah tahu semuanya. Jadi, aku nggak menyembunyikan perasaan ini lagi. Untuk apa? Toh mereka udah kecewa, kan? Sekalian aja, kita perjuangkan."
Terbesit senyum samar di bibir Binar. Setelah sekian lama mengemis dan mengharap cinta dari seorang Channing, akhirnya sekarang terwujud juga. Lelaki itu telah mengakui perasaanya, yang sama-sama cinta. Meski keadaan sedang kurang baik, tetapi suasana hati Binar langsung membaik.
"Selama ini kamu udah sabar mencintaiku. Sering kutolak, sering kusakiti, tapi kamu masih menyimpan rasa itu. Sekarang, biar aku yang berjuang. Kamu percayakan saja padaku, cinta dan masa depan yang indah pasti kubawa ke hadapanmu. Kamu cukup menunggu dan menjaga hati untukku. Nggak perlu mengkhawatirkan yang lain-lain. Karena dalam hal ini, aku bisa kamu andalkan," sambung Channing sambil mengusap mesra puncak kepala Binar.
Indah. Sekilas memang indah cinta mereka, berikut dengan janji dan angan-angan yang dilambungkan.
Namun, siapa tahu sampai kapan keindahan itu akan bertahan. Sementara atau selamanya.
Bersambung...
__ADS_1