
"Pasti ada jalan keluarnya."
Dengan suara lembutnya, Athena mencoba menenangkan Kendrick, meski dia sendiri sebenarnya juga belum tenang.
Lantas sembari menarik napas panjang, ia duduk di depan Kendrick. Turut menatap ponsel Channing yang kini sudah diletakkan di atas meja, dan masih menampilkan potret kedua anaknya.
"Aku tidak menyangka akhirnya akan begini. Kupikir keakraban mereka adalah hal baik," sesal Kendrick dengan diiringi desa-han napas kasar, menunjukkan betapa beratnya beban yang ada.
Athena pun tak lagi menyahut. Perasaannya kian miris. Sama seperti Kendrick, ia juga merasa dikhianati oleh anak-anak yang sangat dipercaya.
"Jika nanti terpaksa aku harus mengambil tindakan tegas, kuharap kamu tidak marah, Sayang," ucap Kendrick sesaat kemudian.
Meski belum mengerti benar apa maksud suaminya, tetapi Athena mengangguk tanpa ada niatan membantah. Dia percaya, apa pun keputusan yang dipilih Kendrick pastilah yang terbaik untuk mereka.
Kemudian, waktu berlalu begitu saja dan keduanya kembali diam. Membiarkan keheningan mendekap dengan leluasa. Sampai akhirnya, mereka hanya saling tatap dengan tangan yang saling menggenggam. Masing-masing menguatkan satu sama lain tanpa lewat kata.
Suasana yang nyaris sama juga terjadi di kamar Channing. Di dalam ruangan yang luas itu, hanya helaan napas yang menjadi satu-satunya suara. Selebihnya, hening. Bahkan, penerangan pun hanya dari sinar sore yang menerobos jendela. Tak ada lampu yang dinyalakan. Seakan-akan Channing ingin menggambarkan perasaannya lewat kamar yang suram.
"Bagaimana jika Binar mengatakan hal yang sama? Apa jadinya dia nanti?" batin Channing sambil mengusap kasar wajahnya.
Memang, ini bukan sepenuhnya kesalahan dia. Namun, dia akan merasa bersalah jika tak bisa melakukan apa pun untuk melindungi Binar. Channing tahu, di balik sifat Binar yang ceria, terdapat hati yang selembut salju.
"Aku nggak mau dia terluka lagi," gumam Channing sambil menatap suasana luar yang kian meredup.
Tanpa sadar pikiran pun menerawang, membayangkan sosok Binar yang masih jauh di sana.
______
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Athena dan Kendrick akhirnya tiba juga, yakni kedatangan Binar. Hampir tengah hari, ia tiba di rumahnya bersama Malvin.
Athena dan Kendrick langsung menyambutnya, dengan ramah dan penuh senyum layaknya tak terjadi apa pun. Sementara Channing yang kebetulan tidak ada kelas, masih di kamar dengan harap-harap cemas. Dia belum bisa melakukan apa pun, bahkan untuk ikut menyambut Binar saja Kendrick melarangnya.
"Ma ... ada hal penting apa?" tanya Binar setelah mereka masuk ke rumah.
Binar sempat menatap sekeliling, dan tidak menemukan sesuatu yang aneh, juga tak melihat tanda-tanda digelarnya acara atau semacamnya.
__ADS_1
"Jangan buru-buru, minum dulu sini! Bibi sudah menyiapkannya untuk kalian," jawab Athena.
Alhasil, Binar terpaksa menunda sejenak rasa ingin tahunya. Karena tak dipungkiri, dia juga haus dan lapar. Terlebih setelah tiba di meja makan dan mendapati aneka macam hidangan yang menggugah selera, tanpa basa-basi ia pun langsung menyantapnya.
"Papa hari ini nggak kerja?" tanya Binar di sela-sela suapannya.
Kendrick menggeleng sambil berkata, "Tidak."
"Tapi, Papa baik-baik aja, kan?" Binar bertanya lagi, dengan mata yang menelisik wajah sang ayah. Tidak terlihat sakit, hanya sedikit kusut seperti banyak pikiran.
"Seperti yang kamu lihat, Papa baik-baik saja. Hanya agak lelah, jadi Papa istirahat dulu." Senyuman lebar terulas sempurna di bibir Kendrick. Siapa yang menyangka jika di balik senyum itu ada kekecewaan yang akan ia tuntaskan dalam waktu cepat.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka telah menyelesaikan makan siangnya. Malvin bergegas pergi ke kamar tamu yang telah disediakan, guna membersihkan diri dan beristirahat. Binar pun hendak melakukan hal yang sama, namun baru saja ia beranjak, Kendrick sudah menghentikannya.
"Tunggu, Binar!"
Binar tak langsung duduk. Ia terlebih dahulu menoleh dan menatap ayahnya penuh tanya.
"Papa ingin bicara," lanjut Kendrick.
"Ada apa, Pa? Apa ini ... hal penting yang Mama bilang kemarin?" tanya Binar. Nada suaranya masih tenang, karena pikirannya masih tak meraba ke arah Channing.
Kendrick diam sesaat, sekadar matanya yang menilik jeli pada raut wajah Binar. Lalu tanpa mengalihkan pandangan, Kendrick melayangkan pertanyaan dengan pelan, namun juga tegas.
"Apa kamu mencintai kakakmu?"
Binar gelagapan seketika. Sampai-sampai tenggorokan terasa ciut dan tak sanggup menelan ludah. Bibir pula mendadak terkunci rapat, tak sanggup mengeluarkan kata barang sedikit saja.
"Jawab Papa, Binar! Apa kamu mencintai Channing?" Kendrick kembali bertanya, dengan intonasi yang lebih tegas lagi.
Alih-alih menjawab, Binar malah menunduk takut. Tatapan ayahnya seolah menusuk tepat dalam jantung, membuatnya berdetak melebihi batas normal. Namun juga membuat tubuh kehilangan tenaga dan keberanian.
Ternyata ... semua tidak semudah bayangan Binar. Dulu dia sangat percaya diri dengan cintanya. Dengan alasan tidak ada hubungan darah, ia yakin orang tuanya akan memberikan restu. Akan tetapi, melihat sikap Kendrick kali ini, kepercayaan diri Binar sirna sudah. Jangankan untuk membantah dan melontarkan pendapatnya, sekadar menjawab 'iya' saja dia tak bisa.
"Jika kamu terus diam, artinya tebakan Papa benar. Kamu ... memang mencintai Channing," ujar Kendrick.
__ADS_1
"Pa ... aku, aku___"
Kendrick tersenyum masam. "Gelagatmu sudah menjelaskan semuanya, Binar. Kamu memang mencintai Channing."
Binar kembali menunduk, nyalinya kian menciut karena Kendrick begitu tepat membaca hatinya. Athena pula tak bisa membela. Sikap Binar memang menunjukkan adanya perasaan itu.
"Papa tak habis pikir dengan kalian. Bisa-bisanya saling mencintai, padahal tahu bahwa kalian itu saudara. Apa sudah tidak ada laki-laki atau perempuan lain di luar sana, sehingga mencintai saudara sendiri?" ucap Kendrick.
Binar terdiam.
"Kalian memang tidak ada hubungan darah, tapi nama kalian tercatat dalam satu keluarga. Kalian adalah saudara, orang tua kalian terikat pernikahan. Bisa-bisanya saling mencintai. Apa sudah tidak ada rasa hormat lagi kepada kami?" lanjut Kendrick, yang lantas membuat Binar makin terdiam.
Satu-satunya alasan yang membuatnya berani mencintai Channing pun, sudah dipatahkan oleh Kendrick. Dan jika dipikir-pikir, memang benar, mencintai Channing sama halnya dengan tidak menghargai pernikahan orang tua. Mungkin ... itulah yang Channing pikirkan sejak lama, makanya tak pernah mau menanggapi cinta darinya.
"Tidak tahu sudah sejauh mana cinta yang kalian punya itu, yang jelas ... Papa sangat kecewa dengan kalian!"
"Pa, aku minta maaf." Binar memberanikan diri untuk bicara, dengan kepala yang tetap menunduk tentunya. "Aku salah karena udah mencintai Kak Channing. Tapi ... nggak ada apa-apa di antara kami, Pa. Aku menyimpan sendiri perasaan ini, bahkan Kak Channing juga nggak pernah mencintaiku," sambungnya.
"Oh, begitukah?"
Binar mengangguk. "Iya, Pa. Ini murni salahku yang nggak tahu diri mencintai Kak Channing. Dia nggak tahu apa-apa soal ini, Pa. Tolong Papa jangan kecewa juga padanya, dia nggak salah."
Sebuah jawaban yang Binar pikir paling bijak, karena memang benar kesalahan ada padanya. Tak adil jika Channing juga mendapatkan akibat yang sama. Namun, tanpa Binar tahu, jawaban itu justru menambah kekecewaan dalam hati Kendrick.
"Kamu tahu ... kemarin Channing juga mengatakan hal yang sama. Dia mengakui kesalahan seorang diri dan mengatakan bahwa kamu tidak tahu apa-apa soal itu. Kalian saling melindungi satu sama lain. Tak kusangka ... begitu besar ternyata rasa cinta kalian."
Usai mendengar jawaban dari Kendrick, Binar tersentak dan mendongak seketika. Dia terkejut dengan penjelasan Kendrick barusan.
Namun, keterkejutan itu tak berlangsung lama. Menatap wajah Kendrick yang penuh dengan gurat kecewa, Binar mendadak dihinggapi rasa bersalah yang teramat besar.
"Selama ini kamu sangat dekat dengan Mama. Apa pun kamu ceritakan, bahkan hanya hal-hal sepele. Tapi ... masalah sebesar ini, kenapa malah kamu simpan sendiri? Kenapa nggak dari awal kamu cerita sama Mama? Kenapa, Binar?" timpal Athena dengan suara yang gemetaran.
Sontak Binar menatap ibunya, dan mendapati wajah yang sudah dibasahi air mata. Meski tak ada ungkapan 'kecewa' seperti Kendrick barusan, tetapi Binar bisa melihat kekecewaan yang lebih besar. Sebuah hal yang kemudian membuat dirinya ikut menangis.
Bersambung...
__ADS_1