Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Masalah yang Menimpa Laurent


__ADS_3

"Aku yang salah, Pa, dari kemarin ngrecokin urusannya Kak Channing. Dia ada pacar, cewek di kampusku. Aku bilang kalau dia kayak nggak tulus sama Kak Channing, tapi ... Kakak tersinggung. Ya, mungkin emang aku aja yang salah menilai."


Bukan hanya Channing yang langsung menatap Binar, melainkan juga Athena dan Kendrick. Ketiganya fokus dengan jawaban Binar barusan.


"Binar, aku ... aku___"


"Maaf ya, mungkin aku yang terlalu ikut campur urusan Kak Channing. Mulai sekarang, nggak lagi deh ngomong yang nggak-nggak soal pacar Kakak," potong Binar. Namun sialnya, malah membuat Channing makin salah tingkah.


"Benar kamu sudah punya pacar?" tanya Kendrick seraya melayangkan tatapan ke arah Channing.


Mau tidak mau Channing mengangguk dan mengakui keberadaan Laurent di sisinya. Walaupun keadaan kala itu pasti melukai hati Binar, tetapi Channing tak punya penjelasan lain. Tak mungkin baginya mengakuinya masalah yang nyata, karena hubungan keluarga yang dipertaruhkan.


"Bin, ini Channing yakin kalau Laurent gadis baik-baik. Lantas, kenapa kamu menganggap dia tidak tulus pada kakakmu?" sela Athena.


"Mungkin karena aku tahunya aku mendadak, Ma. Jadi, menganggap dia nggak tulus. Padahal, pasti Kak Channing-lah yang jauh lebih tahu." Binar menjawab sembari tersenyum. Namun, itu terasa tak nyaman bagi Channing, karena dialah yang tahu bahwa semua itu sekadar kepura-puraan.


"Ya sudah, jangan bertengkar lagi! Maksud Binar juga baik. Dia mengingatkan kamu, jadi jangan terlalu dipermasalahkan. Kamu juga jangan hanya fokus dengan perempuan. Ingat, kuliah dan kerja dulu yang lebih utama. Tunggu mapan, baru serius dalam hubungan." Usai bicara demikian, Kendrick beralih menatap Binar. "Kamu juga, Binar. Kalau ada apa-apa, lebih baik bicara dulu dengan Mama dan Papa. Jangan mudah menilai seseorang secara sepihak, apa lagi orang itu tidak berhubungan langsung dengan kamu. Mengingatkan boleh, tapi ikut campur yang terlalu, itu tidak boleh. Kalian paham?" ucapnya.


"Paham, Pa." Binar mengangguk hormat.


"Ya sudah, kalian istirahat sana. Ingat, besok Mama tidak mau melihat wajah-wajah masam begini lagi. Harus tersenyum, bercanda seperti biasa," ujar Athena.


"Iya, Ma." Channing dan Binar menjawab bersamaan.

__ADS_1


Tak lama berselang, Channing dan Binar sama-sama beranjak dari duduknya. Lantas, bergegas menuju kamar masing-masing. Kendrick dan Athena baru kembali ke lantai bawah setelah dua anaknya menutup pintu kamar.


"Mereka sudah beranjak dewasa, sudah mulai ada masalah yang tidak sesederhana dulu," ujar Kendrick seraya merangkul tubuh Athena.


Sang istri mengangguk, "Iya. Dulu hanya meributkan mainan dan makanan, tapi sekarang ... sudah bukan itu lagi."


"Tapi yang penting, kita tetap mengawasi mereka. Mudah-mudahan, apa pun masalahnya bisa diselesaikan secara baik-baik. Tidak sampai merenggangkan jarak di antara mereka."


"Iya."


_______


Malam yang sama di kediaman Laurent. Ketegangan juga terjadi di sana. Ada masalah serius yang melingkupi keluarga mereka sejak dua minggu yang lalu, yakni masalah keuangan. Ada kesalahan dalam melakukan transaksi bisnis, hingga tertipu dan mengalami kerugian yang cukup besar. Butuh banyak suntikan dana guna menutupi kekurangan tersebut, dan Jose—ayah Laurent, belum mendapatkan jalan keluar.


Jose menarik napas panjang, "Besok Papa akan menemui teman lama, mudah-mudahan ... mereka masih bisa dimintai bantuan."


Laurent mengangguk dengan perasaan yang masih cemas.


Ketika keduanya masih bicara perihal masalah keuangan, Jia—ibu Laurent, datang dan ikut duduk bersama mereka.


"Laurent!" panggil Jia dengan getir. Ditatapnya wajah sang anak yang begitu cantik, yang amat bertolak belakang dengan jalan hidupnya.


"Kenapa, Ma?"

__ADS_1


"Tante Arini sudah menghubungi Mama, dan ... ini hasilnya," jawab Jia dengan sedikit terbata-bata. Lantas, ia meletakkan map yang ia bawa ke atas meja, di hadapan Laurent.


Dengan agak takut, Laurent meraih map tersebut. Ia keluarkan lembaran yang ada di dalamnya, lantas ia baca pelan-pelan kata demi kata yang tertera di sana. Detik itu pula, Laurent mengerjap cepat, seakan ada banyak jarum yang menusuk setiap inci dalam hati. Sangat perih dan menyakitkan!


"Laurent, Papa tadi sudah diberi tahu mamamu. Sayang, kamu jangan pesimis ya. Tidak ada masalah tanpa jalan keluar, begitu pula dengan apa yang terjadi saat ini. Papa yakin, akan ada hasil yang baik di kemudian hari." Jose merangkul tubuh putrinya dengan penuh kasih.


"Papamu benar, Sayang. Kita cukup ikuti saja arahannya. Kamu jangan menolak ya," imbuh Jia.


"Tapi, Ma___"


"Percaya sama Mama dan Papa, semua akan baik-baik saja. Ya?" pungkas Jia.


Laurent beralih menatap Jose, meminta pendapat dari ayahnya itu. Namun, apa yang dikatakan Jose juga tak jauh beda dengan Jia.


"Ini yang terbaik untuk kamu, Sayang. Jadi, menurutlah!" tambah Jia, makin meyakinkan Laurent.


"Baiklah." Atas dorongan orang tuanya, akhirnya Laurent setuju. Terlepas dari apa yang harus dikorbankan, ia memilih melakukan apa yang mereka arahkan. Sembari berharap semoga itulah yang terbaik untuk masa depannya nanti.


Usai berbincang serius dengan orang tuanya, Laurent pamit ke kamar. Bukan beristirahat, melainkan melamun, merenungi apa yang menimpanya saat ini.


Di tengah lamunan yang belum berujung, Laurent menatap foto Channing yang ia pajang di atas meja belajarnya. Senyum lelaki itu begitu manis dan terlihat tulus, namun hal itu justru membuat Laurent merasa terluka.


"Beb, gimana caranya aku ngomong ke kamu?" batin Laurent sembari menggigit bibir.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2