
'Jangan cari tahu tentang aku lagi, kita udah putus!
Lala.'
Sebuah pesan yang dikirim oleh nomor asing barusan, yang ternyata dari Laurent. Awalnya, Channing tak ingin percaya, tetapi sebutan 'Lala' tak banyak yang tahu, apalagi tentang putusnya mereka. Jadi, bisa dipastikan itu memanglah Laurent, yang mungkin saja memakai nomor baru atau sekadar pinjam ke orang lain.
'Sebenarnya ada masalah apa? Aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan.'
Pesan yang ditulis Channing. Namun sayang, hanya centang satu. Ketika berusaha ditelepon, ternyata memang tidak aktif. Rupanya, nomor barusan memang khusus untuk mengirim pesan saja, tanpa digunakan untuk menunggu balasan.
Menyadari hal itu, Channing bangkit dan lagi-lagi termenung. Dari sekian banyak hal yang terjadi, perlahan ada kesal yang menyusup di antara sekat-sekat rindu yang begitu menggebu. Kepergian Laurent yang menyimpan tanda tanya besar, sedikit banyak menodai harga dirinya sebagai lelaki.
Jika ada masalah pelik, bukankah lebih baik didiskusikan dengannya? Jika memilih pergi dan menjauh darinya, bukankah sama saja dengan meragukan kemampuannya? Jika tidak ada lagi kepercayaan untuk bergantung padanya, lalu untuk apa dia masih berharap pada gadis itu? Kodratnya lelaki menjaga wanitanya. Namun jika wanitanya tak yakin dan lebih memilih tempat lain, mau dibawa ke mana hubungan nanti? Bukankah hanya menjadi penggalan kisah yang hambar dan tak ada artinya?
"Bukan aku yang nggak mau berusaha, Lala, tapi kamu sendiri yang memaksaku untuk menyudahi semua ini. Jika benar mencintaiku, harusnya kamu percaya padaku, bukan malah begini. Sekarang, aku nggak peduli lagi. Persetan dengan alasanmu yang sebenarnya. Kita udah putus. Kalaupun nanti kamu kembali ... semua nggak akan sama kayak dulu lagi," ucap Channing seraya menghapus pesan yang dikirim Laurent barusan.
Lantas, Channing melempar kasar ponselnya ke atas ranjang. Desa-han kasar pun keluar dari bibirnya. Kesal, geram, dan entah perasaan apa lagi namanya. Semua begitu berkecamuk dan membuatnya tidak nyaman.
Di tengah perasaan yang tak menentu itu, terselip tanya dalam benak Channing. Siapa gerangan yang mengetahui keberadaan Laurent? Orang baru yang membeli rumah Jose atau teman baik Laurent? Atau justru ... ada orang lain yang terlibat dalam hal itu?
Ahh, entahlah! Makin dipikirkan, segalanya makin membingungkan.
Tidak ingin terus larut dalam pikiran yang tak tentu arah, Channing bergegas menuju kamar mandi dan berendam cukup lama di sana. Ia butuh sedikit ketenangan untuk merilekskan pikiran.
_______
Malam harinya, Channing tidak ikut makan bersama di lantai bawah. Dia lebih memilih menyantap makan malamnya bersama Binar—di ruang bersantai, di depan kamar mereka. Berdua saja karena Axel lebih memilih turun. Katanya, sekalian pamit untuk menonton konser.
"Makan yang banyak, abis itu minum obat. Biar cepat sembuh dan bisa kuliah lagi," ucap Channing di sela-sela suapannya. Dia berkata demikian karena sejak tadi Binar seperti tidak niat menyantap makanannya.
"Kakak tadi sibuk banget ya?" Jawaban Binar malah berupa pertanyaan yang jauh dari topik awal.
"Iya, sorry, ya."
Binar tersenyum, "Nggak apa-apa."
"Karena sibuk, tadi ponselnya aku silent. Makanya nggak tahu pas kamu nelfon," ucap Channing, melontarkan kebohongan demi mengurangi kekecewaan Binar.
"Iya, nggak apa-apa."
"Ngomong-ngomong, kok bisa kamu tadi diantar Evan?" tanya Channing. Dia penasaran juga kenapa Evan sampai ada celah untuk mendekati Binar.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu, tiba-tiba aja Kak Evan lewat pas aku lagi nungguin taksi. Dari pada nunggu terus dan nggak tahu sampai kapan, mana kepala udah pusing banget, jadi ya udah, aku mau aja dianterin dia."
"Dia nggak ada ngomong apa-apa, kan?" tanya Channing lagi.
Binar menggeleng, "Nggak ada. Ngomong apa emangnya?"
"Ya ... kali aja ngomong yang aneh-aneh."
"Kak Channing kok sewot gitu? Hayo ... cemburu ya?" goda Binar dengan senyum lebarnya.
Namun sayang, Channing tak menanggapi baik hal itu. Dia malah menarik napas panjang dan menatap Binar dengan lekat.
"Aku serius, Bin. Evan itu playboy, aku cuma nggak mau dia deketin kamu dan nyakitin kamu. Walaupun dia temanku, tapi aku nggak mau terluka karena dia."
"Kalau seandainya dia nggak playboy, Kakak rela dia dekatin aku?" Pertanyaan yang sedikit menjebak, membuat Channing kebingungan dalam memilih jawaban yang tepat.
"Bin, makan dulu. Nanti keburu dingin malah nggak enak loh," ujar Channing. Dari pada salah menjawab, dia lebih memilih melontarkan kalimat lain.
Namun, hal itu justru menjadi ambigu bagi Binar. Sebelumya, Channing terang-terangan menolak. Lantas sekarang, malah mengalihkan topik. Binar jadi berpikir, mungkin saja benih-benih cinta kini mulai tumbuh dalam hati Channing. Hanya saja masih samar, sehingga lelaki itu belum menyadari dengan benar.
"Aku sabar menunggu sampai kapan pun itu, Kak. Sekarang pacarmu udah nggak ada, mudah-mudahan ... hatimu perlahan terbuka untukku. Aku tulus mencintai kamu, Kak," batin Binar sambil menyuap makanannya. Yang tadi terasa hambar, mendadak begitu enak di lidah. Ternyata, cinta juga bisa menjadi penyedap rasa.
Tak lama kemudian, keduanya sudah menghabiskan semua makanan. Binar pula sudah minum obat dan siap beristirahat di kamarnya.
"Kak, gimana, udah dapat kabar tentang Laurent?"
Pernyataan Nesya cukup normal. Namun, terasa janggal bagi Channing, karena sore tadi ia sudah mendapat pesan dari Laurent. Seolah itu sangat kebetulan.
"Kamu ada waktu? Kita ketemuan yuk!" Tanpa basa-basi, Channing langsung mengutarakan niatnya. Meski tak mengharap Laurent lagi, tetapi ia masih ingin tahu, siapa kira-kira yang mengetahui keberadaan Laurent dan sengaja berbohong padanya.
"Tapi nggak bisa lama, udah lumayan malem soalnya," sahut Nesya dari seberang sana.
"Sebentar aja."
"Baiklah."
Setelah menyepakati tempat untuk bersua, Channing mengakhiri sambungan telepon. Lantas, bersiap-siap sebentar dan kemudian pergi menuju kafe yang cukup jauh dari rumahnya.
Sekitar setengah jam berkendara, Channing tiba juga di kafe. Ternyata, Nesya sudah menunggu di sana. Maklum, jarak rumahnya memang cukup dekat dengan tempat itu.
"Apa yang membuat Kakak mengajak ketemu?" tanya Nesya usai memesan minuman.
__ADS_1
"Kamu tahu kan di mana Laurent sekarang?"
Pertanyaan Channing membuat Nesya mengernyitkan kening. Dia terkejut dengan tudingan barusan.
"Kalau aku tahu kabarnya Laurent sekarang, nggak mungkin tadi aku nelfon dan nanya ke kamu, Kak," ucapnya.
"Bisa aja kan itu hanya sandiwara? Sorry kalau aku tiba-tiba nuduh kayak gini, tapi aku punya alasan yang akurat. Tadi sore dia kirim pesan dengan nomor baru. Dia melarangku mencari tahu tentangnya lagi. Dan setelah itu, nomornya nggak aktif, aku nggak bisa balas pesannya. Logika aja, dia nggak mungkin kirim pesan kayak gitu kalau nggak ada yang ngomong. Dan sejauh ini, cuma kamu dan orang baru yang tinggal di rumah Om Jose yang tahu kalau aku berusaha mencari Lala."
Mendengar jawaban Channing yang panjang lebar, Nesya agak kelabakan. Pasalnya, dia memang tidak tahu di mana Laurent. Namun, pernyataan barusan benar-benar memojokkannya.
"Orang baru itu adalah orang lain, sangat kecil kemungkinan ikut campur urusanku dengan Lala," lanjut Channing.
Nesya masih diam, belum tahu harus bicara apa.
"Aku nggak akan mengharap dia lagi. Udah putus, ya udah. Sampai kapanpun akan tetap putus. Tapi ... aku hanya ingin tahu, siapa yang bohong padaku. Sekalian aku mau bilang, kalau di sini aku udah ikhlas melepas Lala. Ke depannya nggak akan ada nama dia dalam hidupku."
Nesya makin tak bisa berkutik. Dia hanya bisa geleng-geleng, sebagai bentuk penyangkalan atas apa yang Channing ucapkan.
"Aku___"
"Kak, aku beneran nggak tahu di mana Laurent. Aku berani sumpah demi apa pun, aku beneran nggak tahu apa-apa," potong Nesya. Dia tak bisa lagi mendengar tuduhan yang makin menyudutkan.
Kini berganti Channing yang diam. Dia menilik jeli raut muka Nesya dan mencari secercah kebohongan di sana. Sayangnya, tak ada.
"Pulang dari sini aku berani celaka kalau yang kukatakan ini memang bohong," sambung Nesya.
Tak dipungkiri, Channing mulai percaya dengan gadis itu, karena memang tak ada tanda-tanda kebohongan.
"Benarkah cuma aku dan orang baru itu yang tahu? Orang terdekatmu nggak ada yang tahu, Kak?" Setelah cukup lama melihat Channing diam, Nesya memberanikan diri untuk bertanya.
"Maksudmu?"
"Mungkin aja ada orang terdekatmu yang tahu masalah ini, karena aku memang beneran nggak tahu apa-apa."
Jawaban Nesya membuat Channing berpikir keras. Selain Nesya dan orang baru itu, hanya Digo yang tahu. Namun, tidak mungkin dia berbohong, karena sebelumnya dialah yang memberi tahu perihal kepindahan Laurent.
Pada saat pikiran hampir buntu, Channing teringat dengan orang terdekatnya—Binar. Gadis itu pernah mengikutinya dan melihat secara langsung ketika dirinya putus dengan Laurent. Ada kemungkinan dia juga mengikuti lagi dan tahu bahwa dirinya masih berusaha mencari Laurent.
"Tapi, sejak kapan Binar punya nomornya Laurent?" batin Channing. Pikirannya mulai bimbang. Banyak pertanyaan yang dalam satu waktu muncul dan dipatahkan oleh pernyataan lain.
Mungkinkah Binar terlibat dalam kepergian Laurent?
__ADS_1
Bersambung...