Love Me Please, Channing

Love Me Please, Channing
Kenangan Terindah


__ADS_3

Kota Malang, kini menyimpan kenangan manis yang akan selalu terpatri dalam hati Binar. Perjalanannya dengan Channing tempo hari menyirami bunga cinta yang sudah ada, membuatnya mekar sempurna hingga asa dan impian pun turut mengambil peran utama.


Mungkin, memang seperti itulah cinta. Walau waktu yang dilalui terbilang singkat, tetapi kesannya melebihi bulan dan tahun yang dilewati tanpa mengukir kenangan bersama orang tercinta.


Saat ini, sudah dua bulan penuh waktu berlalu. Namun, kenangan itu tetap menjadi sesuatu yang menjadi penyemangat Binar dalam setiap harinya.


Dalam setiap detik dan menit, bayangan tentang hari itu terus menari-nari dalam ingatan. Tentang hangatnya pelukan Channing yang kontras dengan hawa dingin di sana, tentang lembutnya suara Channing ketika bicara dan bercanda dengannya, juga tentang keindahan alam yang seolah menggambarkan cintanya. Semua terekam jelas dan terbingkai rapi, menyatu dengan ruang hati yang hanya berisi nama Channing.


"Bin, ayo buruan!"


Teriakan Channing yang diberi dengan ketukan pintu, membuyarkan lamunan Binar yang lagi-lagi seputar lelaki itu. Lantas, senyum ceria terukir di bibir ranumnya. Demi apa sekarang hubungannya dengan Channing makin dekat dan erat, hingga ada keyakinan dalam hati Binar bahwa lelaki itu juga menyambut baik cintanya. Hanya saja, mungkin butuh waktu untuk mengakui.


"Aku udah siap, Kak." Binar tampak bersemangat membuka pintu kamar. Raut muka pun sangat berseri-seri ketika mendapati sosok Channing sudah berdiri di hadapannya.


"Pulang kuliah aku langsung nyusul Papa, ada urusan di kantor. Nggak apa-apa kan kalau nanti aku pesenin taksi aja?" tanya Channing ketika keduanya sudah mulai melangkah menuju lantai bawah.


"Nggak apa-apa, Kak." Binar patuh dan tak melayangkan protes.


Makin ke sini, ia mulai mengubah kebiasaannya yang cerewet. Apalagi kalau bukan karena Channing. Binar ingin menunjukkan sisi dewasanya yang tak kalah dengan Laurent, agar Channing yakin bahwa dirinya juga layak dicintai.


Tak lama berselang, keduanya tiba di ruang makan. Axel dan orang tuanya sudah menunggu di sana, sarapan pun sudah tersaji di atas meja.


"Channing, katanya ... waktu itu kamu sudah pacar. Bagaimana sekarang? Masih jalan?" Pertanyaan Athena di sela-sela kegiatan makan mereka, membuat Binar dan Channing menghentikan kunyahan. Masing-masing diam sejenak guna menenangkan gejolak hati.


"Udah putus, Ma. Ternyata benar apa kata Binar, dia nggak tulus sama aku," jawab Channing.

__ADS_1


Athena mengernyitkan kening. "Nggak tulus, bagaimana? Dia mengkhianati kamu?"


Channing menarik napas panjang, lalu berkata, "nggak sih, Ma. Cuma tiba-tiba pergi tanpa alasan. Berarti cintanya nggak beneran kan sama aku?"


"Kalau dia memilih pergi, ya sudah. Jangan dipikirkan, jalanmu masih panjang. Kisah percintaan masa muda, wajar mengalami hal begitu. Makin dewasa nanti, kamu akan semakin paham bagaimana cara memilih wanita yang tepat. Yang penting sekarang, fokus dulu menata masa depan. Mengerti?" timpal Kendrick.


Channing mengangguk. "Iya, Pa. Aku nggak apa-apa kok meski dia pergi. Ya ... sempat kesal, tapi nggak sampai berlarut-larut."


"Bagus. Memang harus seperti itu," dukung Kendrick. Ia bangga dengan jalan pikiran Channing yang tidak bodoh karena cinta. Sayangnya, Kendrick tidak tahu jika salah satu anaknya ada yang seperti itu. Binar.


Selagi Kendrick dan Athena masih berbincang dengan Channing, Axel pamit terlebih dahulu. Dia berangkat lebih awal karena jam masuknya memang lebih pagi dibanding kedua kakaknya.


Tak lama setelah Axel berangkat, Channing dan Binar juga menyudahi makannya dan bangkit untuk berangkat serta.


Orang yang tidak kenal pasti akan menganggap mereka sebagai pasangan kekasih, bukan adik kakak. Ya ... seperti impian Binar.


_______


'Pulang kuliah aku jemput ya? Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu. Penting!'


Binar mengernyit ketika membuka ponsel dan mendapati pesan masuk dari Evan. Entah perihal apa yang akan dibahas, mengapa disebut penting.


"Kenapa, Bin?" tanya Shisi yang kala itu duduk di hadapan Binar.


"Kak Evan mau jemput aku, mau ngomong sesuatu katanya. Nggak tahulah apa." Binar menjawab sekenanya, bahkan pesan dari tersebut juga masih dibiarkan. Ia lebih fokus dengan gelas minumannya.

__ADS_1


"Kayaknya dia beneran suka deh sama kamu, Bin."


Binar tak menyahut, sekadar mengedikkan bahu dengan cuek.


"Kamu sendiri nggak bisa tertarik gitu? Dia ganteng loh. Ya ... dari pada nunggu dia yang udah berulang kali menolak cinta kamu," sindir Shisi. Persahabatan keduanya memang sangat dekat, tak heran Shisi tahu banyak tentang Binar. Termasuk perasaan gadis itu terhadap Channing.


"Udah kubilang berulang kali, dia cuma nunggu aku dewasa. Buktinya, sikap dia sekarang 'tuh berubah. Udah kayak ... welcome gitu lah sama perasaan aku."


Shisi mencebik. "Itu kan prediksi kamu doang, aslinya belum tentu. Sebenarnya ya, nggak ada salahnya kamu coba buka hati buat cowok lain, mana tahu bisa jadi cinta beneran. Soalnya, kalau sepengamatanku ya, Kak Channing itu ... sulit kalau mau cinta sama kamu. Kalaupun bisa cinta, belum tentu diakui karena kamu itu adiknya. Aku cuma takut kamu terluka lebih dalam lagi karena terlalu berharap."


Alih-alih merenungkan ucapan Shisi, Binar malah tergelak. Merasa lucu dengan pendapat Shisi yang menurutnya salah kaprah.


"Kamu tenang aja, kali ini aku yakin nggak ada luka dan kecewa lagi. Aku yang lebih kenal dia, Shi," ucapnya.


Shisi menarik napas panjang. "Ya bagus lah kalau begitu. Aku juga turut seneng kalau kamu beneran bisa pacaran sama Kak Channing. Syukur-syukur dapat restu dari Om dan Tante, sehingga bisa serius lagi. Aku akan menjadi orang pertama yang kasih selamat ke kamu."


Binar tertawa senang. Lantas, ia kembali melihat pesan dari Evan. Sejenak berpikir, Binar mulai menemukan ide yang brilliant.


'Oke, Kak.'


Sembari menatap pesan balasan yang sudah terkirim, Binar mengulum senyum penuh arti.


"Dengan ini, aku pasti bisa mewujudkan impian besarku," batinnya dengan penuh percaya diri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2