
Channing terpaku di tempatnya cukup lama. Bahkan, sampai Binar berlalu pergi dan menutup rapat pintu kamar, Channing tetap terdiam di sana.
Ada sedikit ruang dalam hatinya yang mendadak sakit dan perih. Namun, ia tak tahu pasti apa penyebabnya.
Jika dilogika, mungkin ini lebih baik, agar Binar berhenti mencintainya dan memulai kehidupan baru dengan hati yang lebih tertata. Akan tetapi, perasaan malah berkhianat dari pikiran yang seharusnya. Dia tak rela Binar pergi, apalagi dengan membawa kekecewaan yang teramat besar. Ingin sekali dia memeluk Binar dengan erat, membujuknya agar tidak pergi dan tetap berada di dekatnya.
Namun karena pikiran dan perasaan terus bertentangan, akhirnya sekadar mematung yang bisa ia lakukan.
Perlahan dan tanpa dipinta, kaki Channing melangkah pelan menuju lantai bawah, menuju tempat Binar berada saat ini.
Beberapa deti berlalu, Channing tiba juga di anak tangga yang terakhir. Gelak tawa Binar dan Malvin, juga Kendrick dan Athena, terdengar nyaring di telinganya. Menghadirkan kembali rasa perih dalam hati.
"Aku nggak pulang sebelum jadi komikus terkenal. Kali ini aku serius, Ma, nggak main-main. Yakin deh pasti konsisten."
Ucapan Binar yang penuh semangat seakan menghantam tepat di ulu hati Channing. Dia tahu alasan pasti gadis itu pergi, dan dia yakin sekarang Binar serius dengan ucapannya.
"Jika terbiasa, pasti semua akan baik-baik saja. Ini yang paling benar untuk kami, berjauhan," batin Channing sebelum membalikkan badan dan urung datang ke tempat Binar.
______
Sang surya yang menyingsing kali ini, tak lagi membawa kehangatan seperti hari-hari sebelumnya, setidaknya menurut Channing. Makin tinggi matahari terbit, makin risau pula hatinya. Semua karena Binar, yang pagi ini akan terbang ke Malang bersama Malvin. Masih belum pasti kapan ia akan pulang, dan belum pasti pula kapan mereka akan bertemu lagi.
"Kamu yakin akan pergi, Bin?"
__ADS_1
Setelah beradu argumen dengan diri sendiri, Channing akhirnya memutuskan untuk menghampiri Binar dan menanyakan hal itu.
"Iya."
Hanya jawaban singkat yang Channing terima, itu pun tanpa senyuman.
"Bukan berjauhan gini yang aku inginkan, Bin. Aku cuma pengin kamu ngerti kalau kita ini saudara. Mama Papa masih dalam ikatan pernikahan, mana mungkin antara kita ada main hati. Maaf kalau kata-kataku kemarin nyinggung kamu. Aku nggak sengaja, cuma terbawa suasana aja. Aku ngaku salah," ucap Channing.
Binar tersenyum simpul. "Aku nggak pernah nganggap kamu salah, karena salah dan benar itu bukan hal yang pasti, tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Dan aku, menghargai sudut pandang kamu."
"Binar, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak bermaksud nuduh kamu. Aku cuma ... cuma___"
"Nggak usah diungkit lagi. Aku udah melupakan masalah itu kok," pungkas Binar.
Channing kehabisan kata-kata. Jawaban demi jawaban yang Binar lontarkan sudah cukup membuatnya paham, bahwa malam itu Binar benar-benar kecewa dengan omongannya. Sialnya dia tak tahu bagaimana cara membujuk Binar agar luluh dan tak kecewa lagi.
Binar menarik napas panjang, kemudian berkata, "nanti."
"Kapan?"
Alih-alih menjawab, Binar malah berlalu pergi sambil menyeret kopernya.
"Apa kamu udah nggak mau ketemu aku lagi, Bin?"
__ADS_1
Pernyataan Channing yang cukup keras membuat Binar menghentikan langkahnya sesaat.
"Nggak." Usai menjawab demikian, Binar kembali melanjutkan langkah.
Ia berjalan cepat menuruni anak tangga, menghampiri Malvin dan Athena yang sudah menunggu di sana.
Senyuman hangat kembali Binar ukir di bibirnya. Walau hati masih menjerit sakit, tetapi ia tak mau menunjukkannya. Dari pada nanti malah tidak mendapat izin untuk pergi.
Usai berpamitan dan saling memeluk, Binar dan Malvin pergi meninggalkan kediaman Demitry. Hanya sopir yang mengantar mereka ke bandara, karena pagi itu Athena dan Kendrick ada acara penting di kantor. Pikir mereka, dalam waktu dekat juga akan mengunjungi Binar di sana, makanya sekarang lebih mendahulukan urusan kantor.
Sementara itu, tawa Binar sedikit memudar ketika mobil sudah meluncur ke bandara. Candaan Malvin hanya ditanggapi sekenanya, tidak antusias seperti saat di rumah tadi.
Hal itu terus berlanjut sampai keduanya tiba di bandara. Binar berulang kali mengerjap cepat hanya demi menahan air mata yang ingin melesak keluar.
"Berjauhan dengan orang tua emang nggak enak, tapi kalau itu demi cita-cita kamu, kenapa nggak? Lagian kamu di sana juga tinggal sama aku dan orang tuaku, bukan orang lain. Kehangatan keluarga pasti kamu dapatkan juga di sana," ujar Malvin ketika menyadari kesedihan Binar, yang dia kira karena tak rela berjauhan dengan Athena.
"Iya, Kak."
Binar tersenyum masam. Dia teringat kembali dengan masa kecilnya, yang cukup banyak dihabiskan bersama Abercio—ayah Malvin. Pria itu pula yang berkorban banyak mencukupi kebutuhannya dulu, sebelum Kendrick menikah dengan ibunya. Ya, karena ayah kandung tidak bertanggung jawab dan malah menikah lagi dengan wanita lain, Binar kecil harus mengalami itu semua.
"Andai dulu Papa nggak mengkhianati Mama, pasti mereka nggak cerai. Dan sekarang, aku nggak akan mengalami ini semua," batin Binar ketika sudah duduk di dalam pesawat.
Seiring dengan gerakan burung besi yang mulai lepas landas, pikiran Binar mengembara jauh, mengingat sosok sang ayah kandung yang kini tak tahu di mana rimbanya. Terakhir kali bertemu, saat dirinya masih SMP, dan kala itu ayahnya masih di dalam bui. Setelah bebas, tak tahu ke mana dia pergi, bahkan Binar saja baru tahu jika ayahnya bebas setelah beberapa hari kemudian. Itu pun tanpa meninggalkan kabar apa pun.
__ADS_1
"Tapi ... gimana nggak berkhianat, Papa sendiri aja kayak nggak pernah menyayangiku," sambung Binar, masih dalam hatinya.
Bersambung...