
" Setelah hampir 5 tahun meninggalkan Kediaman Feng, lalu kamu pulang membawa anak kecil di belakang mu. Bagaimana mungkin Ayahmu ini tidak akan marah??" Ucap Feng Chi dari balik pintu kamarnya, sambil memandangi potho Sandy Feng.
" Ayah dingin seperti ku ini, mungkin memang tidak pantas untuk menangis. Tapi bagaimana bisa, setelah 17 tahun kematian mu, kamu masih saja memberikan kejutan untuk ku yg sudah tua ini. Anak mu begitu mirip denganmu. Dia sudah seperti bayangan mu, di masa muda mu dulu." Lanjut Feng Chi menahan tangisnya.
Seorang ayah yg begitu mencintai putrinya, tidak akan semudah itu untuk membencinya.
Mungkin sedikit perlakuan dinginnya membuat orang lain berpikir bahwa dia sudah berubah. Tapi di balik sikapnya yg dingin, selalu ada hati yg hangat dan harapan yg besar untuk anak-anaknya. Dan Feng Chi adalah salah satunya.
Jauh di dalam hatinya, dia sangat merasa kehilangan setelah kematian Sandy Feng. Hanya saja dia tidak bisa meluapkan perasaannya itu di depan orang banyak. Dia hanya memendamnya sendiri di dalam hati kecilnya yg rapuh.
20:00 Pm
" Apa tidak sebaiknya kamu menginap saja Lin Wei?? Kediaman Feng juga adalah rumahmu!!" Ucap Feng Jichen pada keponakannya.
" Tidak Paman, mungkin Ayahku sekarang sedang sangat khawatir dan cemas karena kedatangan ku kemari. Dia sangat takut jika aku akan tinggal di sini bersama Paman dan Feng." Jawab Lin Wei memikirkan ayahnya.
" Haha, kamu memang sangat mirip dengan Ibumu!! Dulu dia juga sangat menyayangi Kakek mu. Tidak ada hal yg bisa menyaingi rasa sayangnya pada Kakek mu." Lanjut Feng Jichen dengan wajah yg sedih.
" Sudah Ayah, jika Ayah terus berkata begitu, Lin Wei akan semakin sedih nantinya. Setidaknya sekarang Bibi pasti sudah tenang, karena putri satu-satunya, sudah bertemu dengan kita." Potong Xiafeng mencoba menghibur ayahnya dan Lin Wei.
" Benar juga yg kamu katakan Feng. Dan mulai sekarang kamu harus menjaga Lin Wei dengan baik." Tegas Feng Jichen sambil mengelus kepala Lin Wei.
" Haha Feng tidak bisa menjaga ku Paman!! Ototnya terlalu lemah untuk itu." Jawab Lin Wei mengejek Xiafeng.
" Jaga bicaramu, dasar Kucing Nakal!!" Ucap Xiafeng mencubit hidung Lin Wei.
" Sering-seringlah untuk mampir ke sini Lin Wei. Paman akan selalu menyambut mu." Ucap Feng Jichen.
" Iya, aku pasti akan sering datang Paman. Dan titip salam untuk Kakek." Jawab Lin Wei sambil tersenyum.
"Iya. Paman pasti akan menyampaikannya." Lanjut Feng Jichen.
" Aku akan mengantar Lin Wei pulang Yah." Ucap Xiafeng segera memasuki mobil.
" Sampai jumpa Paman!! Semoga Paman selalu sehat." Ucap Lin Wei berpamitan.
__ADS_1
" Hati-hatilah Feng, jaga Lin Wei dengan baik!!" Tegas Feng Jichen untuk yg kedua kalinya.
Di sisi lain, Feng Chi yg terus melihat ke arah anak dan cucunya.
" Hiks.. Hisk.. Kakek dan Ayah macam apa aku ini, setelah membuat putriku satu-satunya pergi meninggalkan ku. Apa sekarang aku sudah membuat cucu perempuan ku juga meninggalkan aku??" Ucap Feng Chi sambil menangis.
" Tubuh tua ku ini ternyata tidak bisa menghilangkan gengsi dan ke egoisan di hati ku." Lanjut Feng Chi yg merasa benci pada dirinya sendiri.
*Beberapa Menit Kemudian*
Tok.. Tok!!!
" Ayah!! Apa aku boleh masuk??" Tanya Feng Jichen pada ayahnya.
" Pergilah Jichen!! Aku ingin tidur, kamu sangat mengganggu ku." Jawab Feng Chi menyembunyikan Kesedihan.
" Berhentilah bersikap seakan semuanya baik-baik saja Yah, aku tahu Ayah begitu sedih sekarang." Ucap Feng Jichen sambil melihat ayahnya yg terus menyembunyikan wajahnya.
" Siapa yg sedih?? Memang apa yg perlu aku sedih kan?" Elak Feng Chi dengan jawaban yg memutar.
" Beritahu saja dia, aku sudah sangat ingin menghajar Adik kurang ajar mu itu!!" Tegas Feng Chi dengan kesal.
" Ingatlah Ayah, jika kamu terus begini. Aku juga tidak bisa membantu mu. Seharusnya di usia tua mu ini kamu sudah tidak perlu mempertahankan ke egoisan mu!!" Jelas Feng Jichen memperingati ayahnya.
" Keluarlah Jichen!! Sudah cukup kamu menggurui Ayah." Tegas Feng Chi pada putranya.
" Baiklah aku akan keluar, dan usaplah air matamu!! Itu tidak cocok dengan wajah tuamu." Ucap Feng Jichen sambil menyodorkan saputangan pada ayahnya.
*Di Dalam Perjalanan*
" Apa yg sedang kamu pikirkan Lin Wei??" Tanya Xiafeng pada Lin Wei.
" Aku hanya memikirkan Kakek Feng. Dia terlihat sangat tidak menyukaiku." Jawab Lin Wei.
" Kakek mungkin hanya sangat kaget melihatmu Lin Wei. Karena kamu mengingatkannya pada Mama mu." Jelas Xiafeng pada Lin Wei.
" Aku rasa begitu, tapi aku juga merasa senang Feng. Ternyata aku masih punya Kakek." Ucap Lin Wei sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kakek sangat baik Lin Wei!! Tapi dia tidak pernah menunjukkan itu. Dia lebih senang terlihat dingin dan kejam." Lanjut Xiafeng menceritakan tentang kakeknya.
" Iya, aku juga bisa melihatnya Xiafeng.
Hanya dengan melihat wajahku, Kakek pasti tahu aku ini siapa. Karena itu Kakek juga terlihat sedih tadi." Jelas Lin Wei.
" Aku tahu malam ini kamu akan memberikan sebuah kejutan untukku Lin Wei. Aku saja masih sangat was-was untuk memberitahu kakek tentang identitas mu tadi. Tapi kamu malah lebih berani untuk mengatakannya dari pada aku." Ucap Xiafeng dalam hati.
" Itu mengingatkan ku pada dirimu di masa kecil dulu. Lemah, tapi sangat berani." Lanjut Xiafeng mengingat masa kecilnya.
(Lin Wei dan Xiafeng)
" Gadis kecilku ternyata sudah tumbuh dewasa sekarang." Ucap Xiafeng sambil memandangi wajah Lin Wei.
" Apa yg kamu katakan??" Tanya Lin Wei yg hanya mendengarkan sekilas.
" Bukan apa-apa!! Aku hanya mengatakan ada nyamuk di hidung mu." Jawab Xiafeng membohongi Lin Wei.
" Sungguh?? Tapi kenapa aku tidak bisa melihatnya??" Jawab Lin Wei yg berhasil tertipu.
" Pffftt.. Hahaha.. Aku hanya bercanda Lin Wei!! Kenapa kamu cepat sekali tertipu." Ucap Xiafeng tertawa jahat.
" Dasar Dokter Gadungan!! Apa kamu sangat senang membohongi ku!?" Teriak Lin Wei mencubit Xiafeng.
" Aduh jangan mencubit ku!! Itu terasa geli." Ucap Xiafeng meronta kegelian.
" Siapa suruh kamu membohongi ku!! Itu balasan untuk mu." Tegas Lin Wei sambil tersenyum bahagia.
"Haha.. Kamu memang kecil tapi tenaga mu sangat besar Lin Wei!!" Ucap Xiafeng semakin mengejek Lin Wei.
" Hahah.. Tentu saja, tenaga mu mungkin akan kalah dengan tenaga ku Xiafeng!!" Jawab Lin Wei sambil tertawa-tawa.
" Hahahaha.. Dasar Kucing Nakal!! Aku akan menghukum mu nanti." Tegas Xiafeng pada Lin Wei.
" Coba saja kalau berani!!" Jawab Lin Wei menantang.
__ADS_1