LuckyONe

LuckyONe
Chapter 1: Please Accompany Me!


__ADS_3

Angin dingin berhembus menerbangkan daun-daun kering yang berguguran di jalan-jalan. Musim Dingin tampaknya akan segera tiba melihat suhu yang semakin rendah setiap minggunya.


Di Sebuah apartemen empat lantai, seorang gadis yang tertidur pulas di kasurnya. Handphone yang tergeletak di meja yang berada di sebelah kasur tampak terus berbunyi. Gadis ini tampak tidak berencana untuk mengangkatnya tetapi, telepon tidak berhenti selama 10 menit kedepan. Gadis itu akhirnya mengerang bangun untuk mengangkat teleponnya.


“Hm…” jawab gadis itu dengan mata tertutup dan bagan yang masih menempel di kasur.


“Ava! Kamu masih tidur ? Bangun! Ini sudah siang!” kata gadis di telepon dengan agak heboh.


Ava masih tidak merespon dan tetap berbaring di kasurnya dengan menjawab dengan gumaman kecil. “Hm..”


Gadis ditelpon mengerang jengkel. “Ava bangun, aku ingin berbicara langsung. Kita harus bertemu!” Ava sekali lagi hanya menjawab dengan gumaman. “Ck! Ava, pokoknya aku akan menunggumu di cafe tempat kita biasa bertemu satu jam lagi! Kamu harus datang atau aku akan terus mengganggumu dalam beberapa hari kedepan.”


“Hm..”


“.......” Gadi di telepon mendesah panjang. “Pokoknya aku tunggu. Kamu harus datang!” Setelah itu telfon dimatikan tanpa menunggu balasan dari Ava yang masih memejamkan mata.


Ava meletakkan telepon yang sudah mati dan melanjutkan tidurnya sebentar. Tapi setelah beberapa menit, Ava tidak bisa kembali tidur karena telpon teman baiknya tadi. Jadi dia memutuskan untuk bangkit dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan urusannya, Ava membasuh wajahnya sehingga tidak mengantuk lagi. Baru kemudian, keluar dari kamar dan duduk di kasurnya lagi sambil mendesah panjang. Dia melirik handphone di meja yang menunjukkan waktu sudah siang hari.


Mengingat teman baiknya yang akan bertemu dengannya, dia bangkit lagi untuk mandi dan bersiap. Kebetulan jarak antara teman pertemuan dan tempat tinggalnya agak memakan waktu sehingga di bersiap lebih awal.


Ava mengenakan mantel musim gugurnya dan bersiap untuk pergi dengan tasnya. Ava tinggal di apartemen di sebuah komunitas yang agak lama sehingga tidak ada lift, dia harus menuruni tangga dari lantai empat secara manual.


Meski begitu, komunitas tempat tinggalnya tidak jauh dari jalan besar dan memiliki supermarket kecil yang cukup lengkap. Jadi memudahkan orang yang tinggal di komunitas untuk berbelanja.


Ava menaiki bus dari halte di depan komunitasnya menuju tempat yang dijanjikan. Di bus, Ava bersandar menatap keluar bus dengan agak mengantuk. Dia agak melembur tadi malam sehingga sekarang dia sangat mengantuk dan lelah.


Ava tahun ini berusia 18 tahun dan baru saja lulus dari SMA. Tidak seperti teman-teman lainnya yang melanjutkan ke universitas, dia memilih bekerja begitu selesai dari SMA. Keputusan ini tentu saja tidak diputuskan olehnya secara terburu-buru karena memikirkan dari faktor finansialnya dan sifatnya. Dia sebelumnya juga pernah mengalami pengalaman yang agak buruk saat bersekolah, hal ini membuat dia semakin tidak ingin melanjutkan ke universitas. Ava yang sekarang sudah bekerja dan memiliki pendapatan yang lumayan, tidak memiliki niat untuk belajar lebih lanjut dari institusi formal jika memang tidak terpaksa.


Ava akhirnya sampai setelah 20 menit perjalanan, dia turun di halte terdekat dari tempat dia akan bertemu teman baiknya. Tempat dia bertemu adalah sebuah cafe yang juga menyajikan makanan sederhana yang lezat tetapi tidak terlalu besar. Ava sering kemari dengan teman baiknya saat bersekolah untuk mengerjakan tugas di luar hari sekolah.


Ava berjalan memasuki gang untuk sampai di kafe yang dimaksud sebelum sampai di tempat yang dia tuju. Meski jam makan siang, tidak banyak orang yang ada di kafe. Ava melangkah ke konter untuk memesan makan siang dan segelas jus sebelum duduk di area yang agak terpojok. Ava menunggu dengan sabar karena temannya belum muncul sambil bermain handphone.


Sepuluh menit menunggu, sesosok gadis dengan celana training dan jaket wol memasuki pintu cafe. Dia menatap sekeliling dan menemukan Ava di pojokan duduk menunduk menatap handphonenya.


Dia bergegas mendekati Ava dengan bersemangat, “Ava!”


Ava mengangkat kepalanya dan menemukan gadis dengan fitur wajah yang manis tersenyum padanya dengan agak bersemangat. “Sophie, sepertinya kamu banyak berubah setelah beberapa bulan tidak bertemu.”


Sophie duduk sambil tertawa canggung, menggosok kepalanya. “Aku hanya memberikan sedikit warna pada rambutku.”


Ava memperhatikan bahwa rambut Sophie yang berwarna coklat muda yang cerah. “Maksudku adalah sepertinya berat badanmu turun banyak.”


Sophie tersenyum senang mendengar Esme. “Kamu tau sendiri bahwa sebagai peserta training sangat sulit dan ketat. Hanya beberapa bulan, berat badanku memang turun 10 kilo.”


Sosok Sophie sebenarnya tidak terlalu kurus dulunya, tetapi berkat turunnya berat badan yang cukup banyak membuat garis rahangnya semakin tajam.


Ava menghela nafas. “Jangan terlalu memaksa dalam latihan, kamu juga perlu menjaga kesehatanmu.”


Sophie tersenyum manis berusaha menenangkan Ava yang khawatir. “Aku mengerti, tentu saja aku akan menjaga kesehatanku dengan baik.”

__ADS_1


Ava mengangguk, lalu pesanan yang dipesannya sebelumnya datang. Sophie memesan salad dan segelas kopi hitam sebelum pelayan itu pergi.


Ava mulai menyendok makanannya tapi sebelumnya dia menatap Sophie. “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan ? Sampai membangunkanku seperti tadi.”


Ava kemudian mulai makannya sambil menunggu jawaban Sophie.


Pihak lawan yang sedang ditunggunya agak terlihat gelisah dan bingung bagaimana cara mengatakannya. Ava tentu saja tau temannya ini bingung bagaimana cara mengatakannya. Mungkin topik ini agak membuatnya tidak enak untuk membicarakannya.


“Katakan saja, tidak perlu merasa ragu seperti itu.” kata Ava menyakinkan Sophie untuk berbicara padanya.


Sophie menatap Ava dengan ragu sebelum akhirnya menyatakan maksudnya. “Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk berpartisipasi dengan sebuah acara.”


Ava mengangkat tatapannya dan menatap Sophie bingung. “Acara apa ?”


“Sebuah variety show survival girl group.” jawab Sophie dengan senyum.


Ava yang mendengarnya meletakkan peralatan makannya dan menatap Sophie dengan serius. “Variety show ?”


Sophie mengangguk dengan semangat. “Unlimited Youth Girls!” katanya bersemangat tapi sambil berbisik.


Ava mengerutkan keningnya, merasa tidak senang tetapi tidak mengatakan apapun.


Sophie tau bahwa Ava tidak senang untuk ikut acara seperti itu, tetapi dia ingin gadis secantik dan berbakat seperti Ava untuk bisa bersinar juga. Sebenarnya dia tau lebih dari siapapun, Ava sangatlah berbakat terutama di bidang musik tetapi dia selalu bersikap low-profile untuk menghindari masalah.


“Kamu tau, aku baru saja bergabung dengan agensi, dan mereka membuat audisi kecil secara internal untuk trainee agensi yang ingin bergabung dengan variety ini. Aku berhasil lolos audisi ini dan akan didaftarkan.” kata Sophie menjelaskan situasinya. “Tapi aku merasa gugup, kamu tau sendiri sebelumnya aku hanya berlatih denganmu. Dan hanya berlatih secara formal dengan agensi juga baru beberapa bulan. Aku takut tidak akan kuat untuk menjalaninya.”


Ava mendesah panjang lalu mengambil alat makannya dan mulai melanjutkan makannya. “Jadi maksudnya, kamu memintaku untuk menjadi support mentalmu disana ?”


Sophie menggaruk kepalanya karena merasa agak bersalah. “Bisa dibilang begitu, tapi tidak hanya itu, jika kamu ikut, kita bisa latihan berdua seperti saat masih sekolah.”


Sophie tertawa kecil karena niatnya terbaca oleh Sophie lagi. “Kamu benar-benar tau aku.” Sophie tersenyum sambil mengedipkan matanya beberapa kali pada Ava. “Jadi kamu mau kan untuk ikut denganku ke variety show ini.”


Ava menatap Sophie yang terus bertingkah manis untuk mendapatkan persetujuan Ava. “Kamu tau sendiri aku benci terlibat masalah kan. Aku juga tidak ingin terekspos.”


Sophie menurunkan bahunya dan senyum di wajahnya menghilang. Dia segera memegang tangan Ava dan mengayunkannya dengan manja. “Ayolah, kamu temani aku ke variety show. Aku janji kamu tidak akan mendapat masalah apapun selama disana. Um…Um..” Sophie terus membujuk Ava dengan menunjukkan wajahnya yang memelas untuk meluluhkan hati Ava.


Tangannya yang di goyangkan beberapa kali oleh Sophie membuatnya tidak bisa melanjutkan makannya dengan tenang. Dia menghela nafas panjang, “Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Aku akan menemanimu kesana.”


Senyum di wajah Sophie langsung mengembang mendengar Ava menyetujui untuk ikut dengannya ke program variety show. “Terima kasih, dengan begini, aku menjadi lebih tenang.”


“Tapi kamu masih belum bisa tenang.” kata Ava sambil menyendok makanannya lalu menguyahnya sambil menatap Sophie yang kebingungan. “Aku merasa sepertinya aku perlu melihat perkembangan kemampuanmu setelah berlatih beberapa bulan di agensi.”


“,,,,,,”


Sophie terdiam untuk beberapa saat, dia selalu merasa bisa bertemu Ava akan menjadi hari liburnya dari latihan yang terus menerus, tetapi sepertinya dia salah.


*


Ava yang akhirnya harus bergabung ke program variety show survival girlgroup. Dia menanyakan detail tentang bagaimana harus bergabung dan semacamnya pada Sophia setelah mengecek sejauh mana Sophia berkembang. Dia memerlukan mengecek kemampuan Sophia untuk menyamakan kemampuannya agar tidak terlalu mencolok dan dinilai rata-rata nantinya.


Ava yang sedang duduk di depan laptop merasa kebingungan apa yang perlu dia tulis dalam kolom ‘motivasi’ mengikuti program tersebut. Motivasinya adalah menemani Sophia tetapi tidak mungkin dia menulis seperti itu. Jadi setelah berfikir selama beberapa menit, Ava menulis dengan standar. Yaitu ingin menemukan pengalaman baru dan mencoba mewujudkan menjadi bintang.

__ADS_1


Selain itu di kolom kemampuan, Ava menuliskan menyanyi. Karena menurutnya, bagian ini yang paling mudah dimanipulasi nantinya ketimbang menari atau rap. Ava menulis sebisa mungkin menjadi yang paling rata-rata, tidak menonjol, tidak terlalu rendah.


Setelah menyelesaikan mengisi formulir, Ava mengirimnya beserta video dirinya bernyanyi. Ava lagu yang memiliki nada yang tidak terlalu rendah maupun tinggi dan memiliki lirik tentang masa muda yang klasik. Setelah itu, dia bernyanyi dengan sangat dasar tidak menunjukkan keistimewaan apapun dan membuat kesalahan sekali dua kali dalam bernyanyinya.


Begitu semuanya selesai, Ava mengirimnya dengan santai lalu bangkit berdiri untuk membuat makan malam. Sambil memasak, Ava melirik laptopnya sambil berfikir, apakah dia tidak terlalu santai, dia mengisi form yang ada beserta video audisi hanya dalam beberapa menit bahkan tidak sampai satu jam.


Ava agak ragu awalnya tetapi dia akhirnya mengabaikannya dan kembali fokus pada masakannya. Dia tidak menjalani ini dengan serius, dia hanya perlu berada di sana dan menemani Sophie sambil memberikan saran untuknya.


Bukan hal yang sulit untuknya dan Sophie tau tentang hal ini sebelumnya. Sebuah rahasia yang Ava percayakan pada Sophie teman baiknya sejak SMP. Rahasia bahwa dia sebenarnya adalah seorang komposer dengan nama LuckyONe.


Komposer yang banyak dicari penyanyi dan perusahaan untuk dibeli lagu-lagu ciptaannya. Bahkan jika beruntung, mereka bisa mendapatkan koreografi yang diciptakan khusus untuk lagu tersebut, Hampir semua lagu yang diciptakannya pasti akan selalu menjadi hit terkenal dan menduduki tangga lagu.


Ava telah menjadi LuckyONe selama 5 tahun dan sampai sekarang belum ada yang benar-benar mengetahui identitas aslinya secara pasti. Ava melindungi identitasnya dengan rapat-rapat dan menolak untuk bertemu secara langsung dengan pihak lain. Dia juga memilih untuk berkomunikasi dengan pesan tertulis entah secara digital atau tulis tangan.


Semua itu dia sampaikan lewat manajernya yang bekerja sama dengannya selama 5 tahun. Fabian Wild, pria berumur 30an yang kebetulan diperkenalkan oleh temannya saat itu. Semua aktivitasnya selalu melewati manajernya ini tanpa terkecuali. Ava sangat percaya dengan Mr. Wild, jadi dia hanya perlu memberikan batasan serta apa saja yang dia bisa dan tidak bisa lakukan. Mr. Wild hanya perlu mengikuti SOP darinya dan mengambil keputusan dengan lebih percaya diri.


Ava tentu saja tidak melupakan manajernya ini, sehingga sambil menyantap makanannya, Ava mengabari Mr. Wild mengenai rencananya.


Ava memegang telfon sambil tangan lain menyendok makanan ke mulutnya. Dia menunggu dering dengan sabar. Setelah menunggu agak lama, akhirnya telponnya di angkat.


“Hallo, Lucky ? Ada apa ?” tanya Mr. Wild di sisi lain, suara di balik suaranya agak ramai tetapi agak sayup-sayup.


“Maaf mengganggu malam-malam.” kata Ava dengan sopan. “Apakah aku mengganggu ?”


“Tidak, aku hanya sedang ada pertemuan dengan Sunshine Entertainment. Mereka ingin membahas mengenai pembelian musik.” Mr. Wild menjelaskan kegiatannya pada Ava agar dia ada gambaran. “Ada apa Lucky ?”


“Um.. Aku sepertinya akan pergi untuk beberapa bulan.” kata Ava.


Mr. Wild di sisi lain mengerutkan kening agak bingung. “Apakah ada yang salah ?”


“Tidak, hanya permintaan teman untuk ditemani ke sebuah acara variety show.” jawab Ava sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


Mr. Wild tidak menjawab untuk sementara waktu, dia tampak berfikir sejenak. “Apakah itu variety show Unlimited Youth Girls ?”


Ava agak kaget Mr. Wild tau soal ini. “Memang benar, aku akan pergi ke acara itu.”


Mr. Wild menghela nafas agak panjang. “Baiklah aku mengerti, Lalu apakah ada yang perlu ku lakukan ?”


“Justru aku ingin menanyakan hal itu. Apakah ada kerjasama yang perlu dikerjakan sebelumnya ?” kata Ava. Meski dia akan pergi selama beberapa bulan, dia tidak ingin Mr. Wild menganggur.


“Seingatku, variety show ini akan dimulai shooting sekitar musim semi, Artinya sekitar bulan April.” Mr. Wild berhenti sejenak dan terdengar suara kertas di balik beberapa kali sebelum Mr. Wild kembali berbicara. “Sebenarnya ada permintaan lagu untuk acara variety show Unlimited Youth Girls. Aku masih mempertimbangkannya dan berniat untuk menanyai pendapatmu terlebih dahulu. Selebihnya permintaan lain sudah dijadwalkan dan aku akan mengirimkannya besok.”


“Begitu…” Ava berkata agak panjang kemudian terdiam sesaat. “Kalau begitu aku akan menyelesaikannya sebelum jadwal kepergianku. Jadi lebih baik jika buatkan sekalian jadwal hingga perkiraan waktu Program selesai.”


“Apakah tidak terlalu banyak jika sampai saat itu, Diperkiraan pekerjaan 3 bulan cukup banyak.” kata Mr. Wild agak mengkhawatirkan Ava.


“aku memiliki beberapa lagu yang sudah jadi. Tapi masih perlu perencanaan lebih lanjut.”


“Baiklah, aku akan segera mengirimkannya setelah pertemuan ini pasti jadi.” kata Mr. Wild, tapi kemudian dia terdiam. Memikirkan temperamen Lucky yang low-profile, merasa agak khawatir. “Tapi bicara soal program variety show. Bukankah kamu tidak senang terlalu menonjol, kenapa tiba-tiba bergabung dengan sebuah program variety show ?”


“Aku hanya di sana untuk menemai temanku, tidak berniat untuk debut.” Ava menegaskan pada Mr. Wild rencananya.

__ADS_1


“Baiklah, aku mengerti, jika butuh bantuanku segera hubungi, aku akan mengaturkannya untukmu.” kata Mr. Wild terakhir sebelum Ava mengucapkan selamat tinggal dan mematikan telponnya.


Ava yang mematikan telpon kembali fokus pada makanannya yang belum habis sambil berpikir rencana untuk besok.


__ADS_2