
Sydney menjadi heran ketika melihat Ava menatapnya dengan sedih. Padahal dia sangat senang akhirnya berkesempatan satu kelompok dengan Ava.
“Kenapa kamu malah sedih ?” tanyanya dengan bingung.
Ava menatap Sydney dengan wajah tidak berdaya. “Aku hanya sedih.”
“Kenapa ?!” Sydney menjadi panik. Dia tidak melakukan apapun pada Ava jadi kenapa Ava malah sedih.
Ava menghela nafas panjang. “Lagu ini akan menjadi lagu yang sulit.”
Sydney berbalik dan melihat hanya tulisan nomor dua yang dia dapat sebelumnya. “Bagaimana kamu tau lagu ini akan jadi lagu yang sulit ?”
“Karena kamu ada disini.” jawab Ava dengan senyum getir.
Jawaban Ava membuat Sydney terdiam dan kemudian menyadari bahwa ucapan Ava benar. “Ah. Benar, kita berdua adalah vocal.” Sydney menjadi tenang setelah mendengar jawabannya. “Kalau begitu, seharusnya lagu di ruangan bukan Perfectly. Kemungkinan jika bukan Butterflies, maka Fly yang cocok.”
“Kenapa kamu tidak berpikir kita akan mendapatkan lagu Wild atau Party ?” tanya Ava sambil menurunkan tubuhnya untuk duduk di lantai.
“Karena aku bukan orang yang cocok di konsep sexy. Kalau Party mungkin akan jadi lagu yang menyenangkan, tapi aku rasa tidak cocok untukmu.” jawab Sydney sambil memberitahu alasannya.
“Lalu menurutmu aku cocok dengan konsep lagu Butterflies ?” Ava tertawa kecil memikirkan konsep itu untuk dirinya.
Sydney menatap wajah Ava lalu menjawab. “Dengan wajahmu saja sudah pasti cocok.” jawabnya santai.
Ava mengalihkan pandangannya dan tersenyum masam sambil mengangguk kecil. Bukan jawaban yang salah. Kebanyakan orang berpikir Ava mungkin cocok untuk konsep yang murni, imut dan cantik. Tapi baginya konsep ini sangat melelahkan karena akan membutuhkan banyak senyuman.
“Tapi aku lebih berharap kita mendapatkan lagu Fly.” kata Sydney. Sangat jarang menemui lagu buatan LuckyONe, selain lagunya yang bagus, konsep serta koreografinya juga sangat menarik perhatian Sydney.
“Aku tidak ingin lagu itu.” Balas Ava dengan datar.
“Kenapa ? Bukannya lagunya bagus ?”
“Apakah kamu dengar bagian awal lagu itu tadi ?” tanya Ava sambil melirik Sydney.
Sydney langsung menyadari maksud Ava. Lagu Fly sangat sulit dan membutuhkan vokal yang kuat untuk menyanyikannya. “Tapi tadi kamu bilang, kita kemungkinan akan mendapatkan lagu yang sulit. Seingatku hanya lagu Fly ini yang paling sulit kan ?”
Ava mengangguk kecil, “Benar, makanya aku sangat sedih ketika kamu masuk tadi.”
Sydney langsung tertawa lepas mendengar Ava mengeluh. Sikap Ava yang tidak malu-malu dan sangat lepas membuatnya sangat gemas.
Saat mereka sedang berbicara, trainee berikutnya masuk ke dalam ruangan dengan langkah hati-hati. Trainee ini sangat terkejut melihat ada dua ranking tinggi di ruangan yang sama dengannya. Sydney juga sangat terkejut melihat trainee yang datang ke ruangan.
“Zanna!” teriak Sydney heboh melihat temannya datang ke ruangan yang sama.
Zanna juga sangat antusias dan memeluk Sydney, lalu keduanya melompat bersamaan sambil berpelukkan.
Melihat tingkat keduanya yang sangat bersemangat, Ava hanya bisa menghela nafas panjang. Dia cukup ingat dengan Zanna ini, dia cukup bagus dalam vokal dan tarian. Setidaknya dia cukup bisa menjadi Lead Vocal jika dalam posisi sebuah group.
“Biar ku perkenalkan, ini Zanna, lalu ini Ava.” Sydney yang lebih kenal Zanna memperkenalkan keduanya.
Ava hanya tersenyum dan mengangguk sementara Zanna juga melakukan hal yang sama.
“Dia agak pemalu, jadi jangan tersinggung.” bisik Sydney pada Zanna tetapi suaranya masih bisa terdengar oleh Sydney.
Ava hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkat keduanya yang mulai asik sendiri. Ava seperti tidak pada tempatnya, dia terlihat sedih dan lemas seperti tanaman yang lama tidak di siram air.
“Ada apa dengannya ?” tanya Zanna pada Sydney sambil menunjuk Ava.
“Dia hanya sedang berusaha menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar kita akan menerima lagu yang sulit.” jawab Sydney sambil tertawa.
Ava langsung menatap Sydney dengan ekspresi yang sulit di percaya. Tapi dia tidak melawan dan membiarkan Sydney terus menggodanya. Sepertinya dia belajar dari Sophie untuk terus menggodanya.
Zanna sendiri tidak begitu mengenal Ava karena memang menurut rumor yang beredar di kalangan para trainee sekarang, Ava adalah orang yang sombong. Tapi melihat Sydney bisa dekat bahkan menggoda Ava seperti ini membuatnya menjadi bertanya-tanya kebenaran rumor tersebut.
Ava tampak sangat santai dan tidak terpengaruh oleh orang lain, selain itu, dia sepertinya memang tidak banyak berbicara. Mungkin hal ini yang membuatnya terlihat sombong.
Ketiganya tidak menunggu lama sampai trainee berikutnya datang dan membuat ruangan semakin heboh lagi. Ava mau tidak mau ikut menyapa mereka yang datang tapi setelah itu dia akan duduk paling ujung dan menunggu dengan tenang.
Kali ini kelompok akan dipenuhi cukup banyak orang, hampir 12 orang berada di kelompok Ava. Sepertinya staff memang sengaja membuat agar satu kelompok bisa berlatih dulu sebelum eliminasi yang akan diadakan minggu depan.
Yang agak mengejutkan hampir kebanyakan trainee di ruangan itu adalah wajah yang sangat cantik atau memiliki vokal yang kuat. Meski mereka berperingkat rendah tapi mereka memiliki bakat yang solid untuk menjadi penyanyi.
Ava tidak begitu mengenal siapa saja yang ada di groupnya sekarang kecuali Sydney, Crystal dan Yoal yang sebelumnya dia kenal, sisanya tidak hafal jika tidak membaca namanya.
Crystal sudah pasti akan menempel pada Ava karena lebih nyaman dan sudah kenal baik sejak mereka masih di tim sebelumnya. Yoal duduk di sebelah Crystal dan juga Sydney yang dia rasa lebih nyaman juga.
Ketika semua orang sudah berada di ruangan, staff mengijinkan salah satu dari mereka untuk mengungkapkan lagu apa yang akan mereka bawakan dalam penampilan berikutnya.
Sydney yang lebih banyak dikenal oleh semua orang mengajukan diri untuk membuka judul lagu mereka. Judul lagu yang akan mereka bawakan berada di balik tulisan angka dua yang terpasang di sebelah pintu masuk. Mereka hanya perlu menyobek angka dua di depan untuk menunjukkan judul di baliknya.
__ADS_1
Semua orang berteriak penuh ketegangan dan tidak sabar untuk melihat apa yang sebenarnya judul lagu mereka. Untuk menambah ketegangan, Sydney sengaja mengulur waktu untuk membuka judul lagu dengan bermain-main, tapi dia sendiri juga sangat penasaran dan juga ingin segera tau judul lagu apa yang akan dibawakan.
Akhirnya, Sydney langsung merobek kertas angka di depan dan judul lagu yang harus mereka bawakan terpampang jelas di baliknya. Ditulis dengan huruf tebal dan juga sangat besar. Berdampingan dengan judulnya ada nama dan genre dari lagu tersebut. FLY - LuckyONe - Classic Pop.
Begitu melihat lagu yang dia ciptakan sendiri, dia menjadi agak menyesal sudah membuat lagu yang sulit. Pada akhirnya dia sendiri yang harus membawakannya.
Semua orang bersorak senang dan mereka bahkan mulai berlutut di depan judul lagu tersebut sambil berterima kasih pada fans yang sudah memberikan apa yang ingin mereka bawakan.
Kameramen menanggapi reaksi semua trainee dengan hati-hati, diantara semua reaksi senang hanya Ava yang terlihat sedih. Nantinya ketika di wawancara, Ava hanya bisa menjawab.
“Ini lagu yang sulit,” Dengan senyum tapi ekspresinya jelas sedih.
Sydney yang jelas-jelas sangat senang bisa mendapatkan lagu buatan LuckyONe mengingat ada temannya yang tidak ingin lagu tersebut. Jadi dia berbalik dan menatap Ava yang hanya bisa duduk di lantai dengan pasrah.
“Ayolah bersemangat! Lagu ini sangat bagus.” Kata Sydney sambil menepuk pundah Ava berusaha menyemangatinya.
Ava hanya bisa mengangguk tapi ekspresinya sangat pasrah.
Kegembiraan di ruangan tidak berlangsung lama karena mereka harus menentukan siapa center dan juga bagian yang mereka akan bawakan. Staff membagikan kertas kepada mereka dan meminta mereka untuk mulai membagi bagian masing-masing supaya bisa berlatih.
“Siapa yang ingin jadi center ?” tanya Sydney mulai memoderatori semua orang.
Ava sontak memundurkan diri berusaha bersembunyi dan tidak ingin bergabung menjadi center. Beberapa orang mengangkat tangan dan mencalonkan diri sebagai center. Karena mungkin ini akan menjadi kesempatan terakhir mereka jika mereka tidak mencobanya.
Sydney melihat mereka yang ingin menjadi center lalu melihat Ava yang bersembunyi dan duduk diam di belakang Crystal. “Ava kamu tidak ingin jadi center ?” tanya Sydney.
Ava langsung menegang dan menggelengkan kepala dengan kuat. “Tidak,”
Sydney agak ragu tetapi setelah melihat ke kertas pembagian di tangannya dia memutuskan setidaknya Ava harus menjadi main vocal atau lead vocal 1.
“Baik, mari kita pilih centernya.” kata Sydney mulai meminta beberapa orang yang ingin jadi center mencoba melakukan gaya untuk killing part dalam lagu tersebut.
Setelah semuanya mencoba dipilih dua orang untuk menjadi center sementara di dua tim. Baru kemudian mereka membagi tim menjadi dua dan membagi bagian masing-masing.
Setelah semua bagian selesai, mereka mulai menonton video koreografi yang ada untuk berlatih.
Kali ini Ava satu tim dengan Sydney, Crystal dan juga Yoal. Center yang terpilih di tim Ava adalah seorang trainee wanita berwajah lembut bernama Chandie dan ada satu lagi gadis yang bersama mereka, Iris.
Mereka mengambil posisi siap berlatih tetapi ketika mereka akan mulai berlatih, tiba-tiba mereka menjadi bingung bagaimana harus memulai melakukan latihan koreografi kali ini.
Crystal mengingat Ava adalah seorang penari yang hebat, jadi dia menyerahkan tab berisi video koreografi kepada Ava. “Kamu yang mengarahkan.” katanya mutlak.
Sydney juga tiba-tiba tercerahkan, dia ingat Ava adalah penari yang sangat hebat, jadi dia ikut setuju. Mereka sekelompok menjadi satu suara untuk mengizinkan Ava membimbing mereka.
Setelah melihat sekali, Ava menghela nafas panjang. Koreo ini dia sendiri yang membuatnya. Meski tidak sulit tapi pada dasarnya dia membuatnya dengan basic tarian dengan sedikit dari tarian balet sehingga agak sulit dalam hal postur.
Ava berbalik dan mulai mengarahkan teman satu timnya. “Berdiri dengan tegak, koreografi ini akan sulit terlihat cantik jika postur kalian salah.”
Ava berputar di sekitar teman-temannya sambil membenarkan postur setiap teman-temannya. “tegakkan lagi bahunya. Pertahankan.”
“Lalu gerakkan ke samping, Bagus, buatlah gerakkan ini jadi terlihat indah. Jangan lupa pertahankan postur kalian.” Ava terus membuat komentar sambil mengajarkan gerakkan.
Tim kedua juga kebingungan dalam memulai latihan mereka sehingga pada akhirnya mereka mengikuti komentar dan latihan Ava dan mereka berlatih bersama-sama.
Meski lambat tapi cara ini membuat mereka mengingat dengan jelas dan bagaimana mereka harus melakukan tarian dengan lebih terlihat cantik. Setelah beberapa gerakkan Ava menyalakan musik dan membiarkan mereka mencoba gerakkan dengan tempo music sambil melihat ke kaca.
Metode latihan Ava ini banyak membantu sehingga dalam waktu singkat mereka bisa melakukan hafal gerakkan koreografi dan posisi mereka. Ava mengajarkan hingga akhir bagian Chorus terlebih dulu agar mereka bisa mempelajarinya sendiri sambil mengubah posisi mereka.
Ava sendiri kembali berlatih dengan timnya sendiri sambil menyesuaikan formasi mereka agak sesuai.
Mereka berhenti berlatih ketika makan siang tiba. Rasa lelah baru terasa saat mereka berjalan menuju ke kafetaria. Koreo yang mereka pelajari kali ini tidak membutuhkan tenaga besar atau gerakan besar tetapi membutuhkan kontrol badan yang kuat sehingga tubuh mereka pasti akan sangat kaku selama latihan. Sekarang saat istirahat otomatis tubuh mereka menjadi lemas. Bahkan mereka menjadi malas untuk menggerakkan sendok garpu untuk makan.
Ava yang terbiasa bekerja dengan intensitas seperti itu tidak memiliki kendala sama sekali. Terlebih lagi setelah berada di sini, dia masih pergi lari pagi setiap hari meski dia menjadi malas beberapa minggu yang lalu.
Dia makan dengan tenang dan lambat berusaha menyamakan tempo makan teman satu timnya kali ini. Dia tidak ingin kembali ke ruang latihan dengan cepat. Meski agak terlalu lambat, tapi Ava bisa mencerna makanannya dengan sempurna karenanya.
Ketika mereka kembali ke ruang latihan, semua orang menjadi malas untuk berlatih karena terlalu lelah dan menjadi mengantuk setelah makan siang. Jadi semua orang duduk di lantai berlatih menyanyikan lagu baru tersebut.
Kali ini, Sydney menyerahkan posisi main vocal pada Ava secara sepihak. Karena dia merasa Ava memiliki suara yang cocok untuk dan sangat solid untuk menjadi main vocal.
“Bukankah kamu adalah vocalist ? Kenapa diserahkan padaku ?” tanya Ava bingung.
“Karena kamu sangat cocok untuk lagu ini, suaramu juga sangat solid.” jawab Sydney ringan sambil tersenyum.
“Tapi lebih baik aku mengambil bagian rap dan main vocal kamu yang melakukannya.” Ava tidak ingin menjadi main vocal, hanya dia yang tau bagaimana niatnya saat membuat lagu itu.
Sydney menggelengkan kepala. “Tidak perlu aku sudah ada di posisi lead vocal 1, itu hampir sama dengan main vocal, jadi lebih baik kamu yang memegang main vocal.”
“Sydney benar, kurasa disini hanya kamu yang cukup solid untuk menyanyikan bagian main vocal.” Crystal ikut berusaha membujuk Ava yang sejak tadi menolak posisi main vocal.
__ADS_1
“Benar, ambil saja posisi itu Ava.” kata Yoal menyetujui pengaturan Sydney. Lagu ini sangat sulit, jadi lebih baik jika orang yang solid kemampuannya yang menyanyikan dan menjadi main vocal. Meski dia adalah vokalis tapi harus dia akui memang sangat sulit untuk menyanyikannya.
Chandie dan Iris yang baru mengenal teman satu timnya tidak bisa menjadi aneh. Di tim sebelumnya, Chandie akan bertarung untuk mendapatkan posisi yang dia inginkan, tapi kali ini malah mereka yang melemparkan posisi yang sangat bagus. Bahkan dia menjadi center dengan sangat mudah. Begitu juga dengan Iris.
Ava kehilangan harapan ketika ketiga temannya malah melemparkan posisi ini kepadanya. Melihat Chandie dan Iris yang diam saja membuat Ava menatap mereka sambil mengedipkan mata berusaha meminta tolong agar dia dilepaskan dari posisi tersebut.
Tentu saja Sydney dan yang lainnya melihat trik Ava segera, mereka langsung memegang Chandie dan Iris, menggelengkan kepala bersama.
“Tidak, jangan turuti dia Chandie. Kita harus menyerahkan posisi ini padanya. Ini yang terbaik!” Sydney memegang tangan Chandie dan menatapnya dengan serius.
Cyrstal dan Yoal juga sama-sama mengangguk dengan serius. “Benar, jika posisi ini di pegang orang lain kurasa kita akan kesulitan.”
Chandie dan Iris saling menatap dan melirik Ava lagi yang masih memelas memohon bantuannya. Tapi melihat tiga orang lainnya yang serius membuat mereka menjadi ragu.
“Kalau begitu aku akan mengikuti pengaturan kalian.” kata Iris memutuskan.
Chandie tidak menyangka bahwa Iris akan melepaskan posisi main vocal. “Aku juga akan mengikuti pengaturan kalian.”
Ava langsung mengerang sedih. Dia bertekad untuk tidak membuat lagu yang sulit di masa depan. Jika sampai dia malah disuruh membawakannya sendiri pasti akan menjengkelkan.
Sydney dan yang lainnya hanya bisa tertawa pelan melihat Ava semakin sedih. Tapi ini untuk kebaikan tim mereka.
“Tidak papa Ava. Kita bisa berlatih bersama.” kata Sydney menempuk Ava berusaha menyemangatinya.
Ava menghela nafas panjang. Tidak ada gunanya dia mengeluh sekarang, semuanya sudah terjadi. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah menyelesaikan penampilan ini dengan baik. Ini juga demi nama baiknya sebagai komposer.
Dia kembali duduk dengan tegak dan lebih tenang. Menerima kenyataan. Ava melirik Sydney yang tersenyum senang dan memulai latihan.
Di awal lagu adalah bagian Ava yang melakukan pembukaan. Lagu di awal adalah bagian yang sangat sunyi hanya bagian dari penyanyi dan musik klasik biasa. Jelas kekurangan penyanyi akan langsung terdengar jika sampai miss di bagian ini.
Ava melakukan pemanasan suara terlebih dahulu sebelum memulai bagian awal lagu. Tidak banyak kalimat di awal hanya senandung yang membutuhkan teknik.
“Oooh, aa-ah, aaa- yeah….” Ava memejamkan mata dan berfokus pada nada yang dia ingat saat merekam lagu tersebut.
Hasilnya sangat indah, meski hanya satu kalimat senandung berhasil membuat yang mendengarnya menjadi merinding. Sydney yang harus bernyanyi setelah Ava hanya bisa terdiam, meski dia yang meminta Ava menjadi main vocal karena memang percaya, tapi dia masih takjub mendengar suara Ava.
Ava yang tidak mendengar ada balasan menjadi diam lagi dan malah menatap Sydney heran. “Kamu tidak akan bernyanyi ?”
“Maaf aku sedikit terpana.” kata Sydney lalu berkonsentrasi lagi. “Mari kita mulai.”
Ava hanya bisa menurut lagi dan mulai mempersiapkan bernyanyi lagi. Kali ini dia menjadi lebih santai dan mulai mengarahkan timnya untuk bernyanyi dengan ketukan di tangannya.
Karena nanti saat mereka bernyanyi di depan pelatih mereka tidak akan bisa menggunakan lagu untuk menguji ketukan mereka. Jadi Ava mengomando teman-temannya untuk bernyanyi agar sesuai ketukan.
Mereka berhasil menyelesaikan lagu tersebut dengan mulus, tapi setelahnya Sydney mulai mengkoreksi beberapa hal dari teman-temannya dan mulai memberikan kursus.
Tim kedua yang berada satu ruangan dengan mereka mendengarkan dan pada akhirnya mereka menjadi satu group dengan Sydney dan Ava yang memberikan kursus pada kecil menyanyi pada mereka.
Lalu mereka mulai mempraktekkan lagu koreografi kali ini sambil bernyanyi dan menyesuaikan ekspresi. Seperti kata Ava, lagu ini sulit, hanya beberapa kali latihan, mereka sudah kelelahan.
Ava juga sangat lelah, karena dia harus mengeluarkan kemampuannya untuk mengajari yang lainnya. Rasa lelahnya jauh lebih melelahkan daripada saat mengajarkan Boss pada teman satu timnya dulu.
Meski begitu, mereka tetapi berlatih hingga subuh untuk menyelesaikan satu koreografi penuh dengan lancar.
Ava pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan mencari udara segar terlebih dulu. Terlalu melelahkan untuk melatih dan berlatih sendiri. Padahal saat dia membuat lagu ini sudah sangat sulit sekarang harus melakukan pertunjukannya sendiri. Sungguh tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Ketika dia keluar dari kamar mandi dia berpapasan dengan Vivian yang kebetulan juga pergi ke kamar mandi. Begitu melihat Ava, Vivian berbalik lagi memanggil Ava. “Ava.”
Ava yang melangkah dengan malas, berbalik dan menatap Vivian dengan mata lelah. “Ya ?”
Vivian terdiam dan malah menatap wajah cantik Ava. Setelah melihat untuk sementara waktu, dia hanya bisa menelan kembali ucapannya dan mengatakan hal lain. "Tidak aku hanya ingin mengucapkan semangat."
“Oh. Terima kasih kalau begitu.”
Vivian tersenyum kecil lalu berbalik masuk ke kamar mandi.
Ava masih berdiri di tempatnya menjadi bingung melihat keanehan trainee satu ini. Seingat Ava trainee ini pernah sekali mencegatnya dulu tapi dia tidak begitu ingat. Dia melupakan masalah itu dengan cepat tanpa tau Vivian di kamar mandi sedang merasakan krisis.
Saat pengumuman lagu di buat, dia sudah berharap untuk bisa mendapatkan lagu yang sesuai dengannya. Tapi dia tidak pernah berharap bahwa ada lagu buatan LuckyONe diantara lagu yang ada. Dia menyesalinya, seharusnya dia meminta untuk dimasukkan ke lagu tersebut. Dengan nama komposer besar seperti LuckyONe seharusnya jalannya untuk debut akan lebih mulus.
Tapi dia malah mendapatkan lagu Wild yang memang dengan citranya yang berkarisma dan sexy. Dia juga suka lagu ini tapi dibanding dengan lagu milik LuckyONe jelas tidak ada apa-apanya.
Dia kesal sepanjang hari karena menemukan dua orang yang berada di urutan paling atas malah menjadi satu di lagu yang sama. Tentu saja ini akan membuat peluang kemenangannya semakin kecil.
Kejadian kekalahan di posisi dance kemarin sudah membuatnya sangat jengkel sekarang insiden lain terjadi membuat amarahnya semakin tidak baik. Meski dia sekarang harus berpura-pura baik, tapi dia masih tidak bisa menutupi kekesalannya dan berusaha mencari tempat pelampiasan.
Saat pengumuman eliminasi, dia berniat menghubungi ayahnya lewat menajernya untuk memnta bantuan. Dia perlu mengaduk sedikit program ini, jika dia bisa menemukan bahan skandal untuk menurunkan mereka yang berpeluang menang akan jauh lebih baik.
Sekarang dia tidak bisa melakukannya, meski tim dan staff program bisa membantunya tapi terlalu beresiko dan malah membuat curiga banyak orang. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya berlatih keras. Dia sudah terlalu menyepelekan kemampuannya hingga kalah di misi sebelumnya.
__ADS_1
Vivian menarik nafas beberapa kali dan berusaha menekan rasa kesal sehingga tidak akan meledak saat dia di hadapan banyak orang. Dia menatap bayangan dirinya di cermin dan mengangkat dagunya menunjukkan sikap superiorny.
“Kamu tidak akan kalah Vivian. Kamu terlahir sebagai pemenang!” gumam Vivian pada dirinya sendiri.