
Ava yang kembali ke asrama melihat kamar telah gelap karena semua orangs udah tertidur. Ava mandi bergantian dengan Crystal dan langsung tidur begitu menyentuh kasur. Efek dari latihan baru saja terasa sekarang, dia langsung tertidur begitu dia merebahkan diri ke kasur.
Ava sebenarnya memiliki jam biologis yang selalu tepat dan meski dia selalu tidur di subuh hari, Ava selalu terbangun tepat pukul 6 pagi sebelum memilih untuk bangun atau kembali tidur. Ava tentu saja tidak kembali tidur, kantin di buka pukul 7.00 dan akan ada latihan pagi hari dengan para pelatih lagi setelahnya.
Jadi Ava mengangkat badannya dengan berat ke kamar mandi untuk mencuci muka sebelum berganti baju training dan pergi untuk berlari pagi. Ava keluar dari kamarnya dan melakukan pemanasan singkat sebelum mulai berlari beberapa putaran
Ava berlari ringan hanya untuk membuat dirinya bangun dan untuk menambahkan staminanya. Ava hanya berlari dua hingga tiga kali putaran sebelum kembali ke asrama. Sebelum masuk, Ava melihat jam dan menemukan hampir pukul tujuh dimana semua orang harus bangun.
Ava membangunkan Hana hingga Crystal dan menyuruh mereka untuk mandi karena ada jadwal untuk berlatih. Ava kemudian mampir ke area di asrama yang menyediakan minuman hingga snack berupa buah untuk para trainee.
Ava mengambil beberapa buah dan membawanya kembali ke kamar untuk diberikan kembali pada teman sekamarnya. Lalu sebelum pergi, Ava mengetuk kamar Sophie dan berhasil membangunkan seorang di kamar tersebut sebelum pergi. Setelah selesai, Ava pergi ke bawah asrama dan menunggu di sana dengan buah di tangannya.
Sambil menunggu, tidak banyak kamera di tempatnya berada karena biasanya orang hanya lewat sehingga tidak ada kamera di tempat tersebut. Jadi cukup banyak peserta trainee yang duduk di sini untuk sekedar menjadi diri mereka sendiri. Ava menunggu dengan wajah mengantuknya sambil menunggu Sophie datang. Para peserta trainee lainnya yang lewat sesekali menatap Ava tetapi kemudian hanya melewatinya tanpa benar-benar menyapa.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di kursi di seberang Ava menarik perhatiannya. Jadi Ava mengangkat tatapannya dan menemukan ada seorang gadis duduk di hadapannya dengan senyum. “Hallo, namaku Vivian Evans, bolehkan kita berkenalan ?” tanyanya dengan senyum manis.
Ava tidak menjawab untuk sementara waktu tetapi dia mengangguk pelan tanpa menjawab perkataannya. Alasannya adalah karena dia tidak begitu bisa akrab dengan orang baru jika tanpa ada Sophie yang mencairkan suasana. Jadi dia hanya terdiam di tempat.
Vivian yang awalnya sangat bersemangat awalnya kini agak merengut karena Ava yang di sapanya malah tidak membalas dan hanya diam menatapnya. Tapi Vivian tidak menyerah, dia bisa melihat sebuah peluang bagus jika gadis cantik ini bisa sampai di kontrak oleh perusahaan-nya. Meski bagaimanapun, perusahaannya adalah milik ayahnya jadi lebih baik jika dia bisa mendapatkan sapi perah lainnya untuk ayahnya.
“Bagaimana dengan latihanmu ? Apakah berjalan lancar.” tanya Vivian masih dengan semangatnya.
Ava mengambil jeda sebelum mengangguk pelan tanpa bersuara.
Vivian terdiam kembali. Apakah gadis ini bisa atau bagaimana ? Kenapa dia tidak menjawab apapun dari tadi. “Jika kamu kesulitan, aku bisa mengajarimu. Kamu hanya perlu datang ke kelas A setelah jam jadwal kelas dengan para pelatih.”
Ava hanya bisa menggelengkan kepala seperti mengatakan tidak perlu untuk mengajarinya.
Vivian akhirnya mulai jengkel karena Ava sepertinya tidak meresponnya dengan baik. “Kenapa kamu tidak meresponku ? Aku hanya ingin berkenalan.” katanya dengan agak frustasi.
Ava terdiam lalu mengalihkan pandangannya dengan bingung. “Dia tidak ingin untuk menjawab tetapi pihak lain sepertinya terlalu bersemangat dengannya.
Vivian mendengus jengkel melihatnya sambil bergumam dia bangkit berdiri dan pergi, “Apa-apan dia itu, mentang-mentang hanya karena cantik, dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku”
Ava tidak benar-benar mendengarkannya dan malah memikirkan bagaimana dia harus menjalani harinya hari ini.
Tidak lama setelah Vivian pergi, Sophie akhirnya turun dari kamarnya dengan tergesah-gesah. Ketika dia sampai di depan Ava dia mengatupkan kedua tangannya sambil meminta maaf. “Maafkan aku! Aku terlalu lelah, jadi agak kesulitan bangun!” katanya penuh penyesalan.
Ava menatapnya dan langsung berdiri pergi. “Kita sudah terlambat, ayo!”
Sophie mengikuti Ava dengan cepat dan mereka berdua pergi sarapan kilat sebelum pergi ke kelas dan mulai berlatih lagi.
Sophie yang berada di bawah bimbingan Ava selama sehari untuk latihan, menjadi lebih dan lebih baik. Dia mendapatkan banyak pujian dari para pelatih karena telah meningkat dalam waktu singkat. Ava sendiri bisa mengontrol seberapa banyak yang harus ditampilkan jadi para pelatih tidak benar-benar melihat adanya perubahan kecuali vokalnya yang sedikit membaik dan memintanya untuk terus melatihnya.
Teman agensi Sophie mendekati mereka yang sedang duduk di ujung beristirahat setelah kelas. Jennie dan Pixy datang dengan keinginan untuk meminta keduanya mengajari mereka. Sophie menatap Ava yang tidak menanggapi, lalu memutuskan untuk membantu keduanya karena mereka adalah temannya.
Ava tidak bergerak dan hanya duduk bersandar menatap ketiga orang yang mulai menari dan bernyanyi. Kemampuan kedua teman agensi Ava tidak terlalu buruk tetapi mereka masih perlu banyak latihan. Garis badan mereka saat sedang menari tidak sebagus Sophie yang telah berlatih sepanjang malam dengannya. Vokal mereka sendiri cukup bagus, tetapi saat menari menjadi agak tidak stabil.
Begitu mereka selesai, Sophie berbalik dan menatap Ava yang bersandar malas. “Bagaimana menurutmu ?” tanya Sophie sambil menghampiri Ava.
“Mereka masih harus menemukan gerakkan yang bagus untuk mereka, vokal mereka bagus, tapi masih perlu banyak latihan sehingga lebih stabil saat menari.” kata Ava dengan santai mengatakan semua kekurangan keduanya.
Jennie dan Pixy agak terkejut mendengar Ava yang memberi mereka komentar tersebut.
“Begitukah, aku memang agak kesulitan untuk menstabilkan suaraku.” kata Jennie dengan agak menyesal.
“Bukankan bisa dilakukan dengan banyak menyanyi dengan melakukan gerakkan ?” tany Sophie pada Ava dan dibalas anggukan.
“Begitukah ? Kalau begitu aku akan banyak bergerak saat sedang bernyanyi.” kata Jennie agak senang setelah mendapatkan saran.
“Lalu bagaimana denganku, menurutmu apa yang harus kulakukan ?” tanya Pixy berganti bertanya.
“Melakukan koreografi dengan lambat sambil menjadi cara menunjukkan garis tubuh dengan lebih indah.” kata Ava santai. “Lakukan dengan lambat dan berulang kali agar tubuhmu mengingat gerakkan itu.”
Pixy mengangguk dengan tenang. Dia teringat bahwa memang guru tarinya dulu juga mengatakan hal yang sama. Dia perlu melakukan banyak latihan untuk menemukan gerakkan yang pas dan terlihat indah jadi tidak hanya sekedar menari.
Pixy dan Jennie saling memandang lalu mengucapkan terima kasih sebelum pergi.
“Aku tidak menyangka teman Sophie memang benar-benar bisa membantu, kupikir dia hanya sekedar omong kosong.” komentar Jennie dengan kagum.
“Aku setuju, dia seperti tidak benar-benar terlihat seperti orang yang lemah.” kata Pixy menyetujui perkataan Jennie.
Di tinggal berdua, Sophie mengajak Ava pergi ke kantin untuk makan siang sebelum melanjutkan latihan. Keduanya berjalan ke kantin yang agak tidak ramai karena sudah melewati jam makan siang yang ramai.
“Makanan kantin cukup bagus, bahkan lebih baik dari kantin kita di sekolah.” kata Sophie sambil menyuap makanan di piringnya.
Ava yang juga sudah mulai makan juga mengangguk setuju. “Setidaknya ada beberapa jenis makanan disini. Cukup bagus.”
__ADS_1
“Yang terbaik adalah mereka tidak menyuruh kita untuk melakukan diet!” kata Sophie sambil makan dengan bahagia. “Sangat menyedihkan jika kita masih harus diet di saat berlatih keras seperti sekarang.”
Ava hanya mengangguk dan terus fokus dengan makanannya. Ketika keduanya sedang makan tiba-tiba Crystal dan Melody mendatangi mereka dengan senyum bahagia di wajahnya.
“Ava!” Melody sangat senang dan langsung duduk di sebelah Ava. “Terima kasih ! Aku mendapat pujian di kelas hari ini.” kata Melody dengan penuh semangat.
“Banyak yang terkejut dengan kemajuan kami di kelas.” kata Crystal menambahkan. “para pelatih juga mengatakan bahwa kita setidaknya bisa memasuki kelas C jika terus melatihnya.”
Melody juga mengangguk dengan senyum senang.
Ava tidak memperhatikan terus makan tanpa membuat reaksi lebih. Sophie sendiri juga ikut senang mendengarkan keduanya mendapatkan banyak pujian dan mengalami kemajuan yang pesat. Seperti tubuh mereka yang bisa langsung bergerak secara langsung begitu musik menyala.
Sophie menjadi senang karena ada orang yang akhirnya bisa mengerti maksudnya dengan baik. “Sudah ku katakan bahwa Ava memang memiliki mata yang baik, dia bisa menganalisis dan melatih orang dengan baik. Kamu hanya perlu percaya dengannya meski agak sulit.”
Melody dan Crystal seperti sangat setuju dengan ucapan Sophie dan menjadi seperti Sophie yang sangat mengagumi Ava. Mereka bertiga menatap Ava dengan bintang kekaguman. Ava mengangkat tatapan dan menatap ketiganya tanpa ekspresi.
“Karena kalian bisa merasa sangat terbantu, maka malam ini kalian tidak akan istirahat sebelum bisa melakukan 10x latihan tanpa kesalahan.” kata Ava sambil membereskan peralatan makanan.
“......”
“......”
“......”
Ketiganya terdiam mendengar perkataan Ava yang tiba-tiba seperti itu. Suasana yang awalnya sangat menyenangkan menjadi serius dan suram karena perkataan Ava. Mereka sudah pernah mengalami merasa rasa latihan bersama Ava dan sangat melelahkan.
Sophie, Crystal dan Melody menganggap mungkin Ava hanya bercanda karena dia sebelumnya pernah melepaskan mereka saat latihan. Tapi sepertinya mereka terlalu menyepelekan, Ava akhirnya benar-benar melakukan apa yang dikatakan sebelumnya. Ava juga ikut menari dan menyanyi dengan mereka jadi mereka tidak berani untuk berhenti karena dia tidak berhenti.
Ava pergi berlatih di kelas F bersama mereka bertiga karena beberapa dari kelas F sangat merasa terbantu dengan keberadaanya di kelas. Jadi Ava menghabiskan waktu setelah makan siang di kelas F dan menatap beberapa murid di kelas F untuk sementara waktu.
Meski tidak secara langsung meminta saran Ava tetapi mereka memperhatikan setiap kali Ava berteriak mengenai sesuatu yang sangat penting seperti postur, vokal, hingga ekspresi mereka. Jadi secara tidak langsung mereka akan terbantu dengan saran-saran tersebut.
Berita mengenai keberadaan Ava di kelas F untuk berlatih telah menyebar di sebagian peserta trainee lainnya dan mereka berniat untuk mampir ke kelas F hanya untuk sekedar melihat. Awalnya mereka hanya melihat tetapi setelah melihat Ava terus menari dengan sangat baik, membuat mereka menjadi ikut sadar diri dan mulai berlatih memperbaiki apa yang salah dari semuanya sesuai dengan apa yang sering di katakan Ava.
Menjelang makan malam, para trainee lain yang hanya sekedar nimbrung latihan dengan mereka akhirnya mulai merasa lelah dan akhirnya duduk di samping sambil terus menatap mereka yang masih berlatih selama beberapa jam.
“Apakah mereka tidak lelah ?” tanya salah satu trainee di kelas F sambil menyeka keringatnya.
“kurasa mereka pasti lelah, hanya saja, Ava tidak membiarkan mereka beristirahat lebih dari 10 menit.”
“Mereka sudah berlatih sejak makan siang kan ?”
Para trainee yang berkumpul mulai terpana melihat keempat orang yang terus menari dan menari tanpa henti hingga makan malam tiba.
“Baik, mari kita istirahat dan makan malam terlebih dahulu.” kata Ava membawa angin segar untuk Sophie, Melody dan Crystal.
Ketiga orang ini langsung ambruk di lantai dengan nafas terengah dan keringat. Ava sendiri juga berkeringat sangat deras, tetapi staminanya lebih baik dari ketiga orang lainnya yang sudah terengah karena tidak biasa. Ava menatap ketiga orang yang terbaring di lantai ruang latihan dengan kaki yang bergetar mereka.
Sophie yang berhasil mengendalikan nafasnya akhirnya duduk sambil bersila di lantai. “Sejujurnya setelah melatih sekian banyak, koreografi ini tidak sesulit di awal.” kata Sophie.
Melody ikut bangkit duduk juga menunjukkan wajah jengkelnya. “Kamu bercanda ?! Koreografi ini sangat sulit! Aku bahkan masih kesulitan untuk melakukan gerakkan cepat.”
“Tapi meski begitu harusku akui bahwa gerakkan ini tidak serumit gerakkan tarian lainnya yang pernah kulakukan.” Crystal merasa bahwa gerakkan ini semakin mudah untuknya, terlebih lagi setelah melatihnya dengan intensitas yang cukup tinggi.
Melody terdiam untuk beberapa saat memikirkan gerakkan yang dia lakukan selama beberapa lama ini, memang tidak terlalu sulit tetapi membuatnya terlihat indah untuk dilihat jauh lebih sulit baginya.
“Bagaimana menurutmu Ava ?” tanya Sophie berusaha menarik Ava ke pembicaraan mereka.
Ava mengangkat tatapannya dan menatap ketiganya bergantian sebelum menjawab, “Bukankah sudah ku katakan di awal, hampir semua gerakkan di koreo ini sangat dasar dan simple. Hanya beberapa gerakkan yang sulit. Tapi masalahnya memang semakin dasar gerakannya akan semakin sulit untuk di eksekusi karena kalian harus tau bagaimana menggunakan tubuh kalian untuk membuat gerakkan ini lebih terlihat menarik meski terlalu dasar.”
Semua yang mendengar perkataan Ava merasa bahwa perkataannya masuk akal. Gerakkan yang semakin simple akan semakin sulit dieksekusi jika tidak memiliki cukup kemampuan yang solid. Sehingga memang ini adalah ujian awal bagi mereka.
Sophie melirik kamera di ujung ruangan lalu berkata dengan penasaran. “Menurutmu apakah proses latihan kita selama tiga hari akan direkam secara keseluruhan ?”
Mau tidak mau mereka yang mendengarnya langsung menatap ke kamera dan mereka baru sadar bahwa merek melupakan kehadiran kamera yang mereka mereka selama ini. Awalnya mereka merasa gugup karena kamera sehingga tidak bisa berlatih dengan serius. Tapi semenjak Ava ada, kehadirannya membuat mereka lebih tertarik dengan belajar ketimbang memperdulikan kehadiran kamera.
Ava juga melirik kamera dengan tidak peduli berkata, “Kurasa kalian tidak perlu khawatir tentang hal tersebut. Sekarang yang perlu kalian khawatirkan adalah apakah kalian akan menari di atas panggung atau hanya akan menjadi backup dancer bagi kelas lain. Sisanya singkirkan dari kepala kalian.”
Sophie mengangguk setuju dengan perkataan Ava. “Kamu benar! Jika kita berhasil menaiki panggung, kita akan ada kesempatan untuk mendapatkan eksposur dari kamera. Memang itu yang perlu kita khawatirkan sekarang.”
“Lalu haruskan kita memulai latihan lagi ?” tanya Ava ringan.
“Bolehkah kita pergi makan malam dulu.” kata Crystal dengan posisi berlutut. “Aku merasa kakiku tidak memiliki tenaga lagi.”
Ava menatap Crystal sambil berfikir menimbangnya. “Baik, ayo kita makan!”
“Yeay!!!!”
__ADS_1
-
Keesokan harinya, Ava melakukan lari pagi sebelum kembali ke asrama membangun teman sekamarnya dan kamar Sophie agar bangun. Setelah itu, dia menggunakan seragam latihannya dan duduk di lantai satu dengan buah seperti biasa.
Vivian yang berjalan dengan teman-temannya juga melihat Ava tetapi tidak menyapanya dan melewatinya begitu saja. Ava tidak merespon dan tidak peduli tentang hal itu, dia hanya menunggu Sophie sebelum pergi ke kantin untuk sarapan.
Hari ini adalah hari evaluasi kedua yang bisa mengubah takdir semua peserta trainee lewat lagu theme song dari Unlimited Youth Girls. Kebanyak para trainee melakukan sarapan dengan lebih cepat untuk kembali latihan lagi setelah nya.
Ava, Sophie, Crystal dan Melody beserta beberapa peserta di kelas F tinggal hingga pukul tiga pagi sebelum Ava mengizinkan mereka untuk beristirahat. Para peserta semuanya merasa sangat gugup terutama mereka yang berada di kelas F, semuanya berharap agak mereka bisa naik ke kelas yang lebih baik agar bisa tampil di panggung.
Ava sarapan dengan Sophie, Crystal dan Melody. Dia memberikan tau mereka beberapa saran dan evaluasi terakhir sebelum masuk ke kelas mereka masing-masing. Ava dan Sophie pergi ke kelas B lagi dan mulai berlatih di ujung ruangan dalam diam untuk menyempurnakan gerakkan sebelum waktu merekam video penilaian nanti.
Tepat pukul 10, para trainee di kumpulkan oleh staf yang bersiap untuk memasang kamera yang akan digunakan merekam. Susana tentu saja menjadi tegang dan banyak peserta trainee yang tegang dan terus menghela nafas. Beberapa trainee yang bersemangat untuk mencoba dan memiliki harapan untuk melangkah lebih jauh.
Ava dan Sophie duduk di pinggir barisan dengan dua perasaan yang berbeda. Sophie terlihat gugup sementara Ava terlihat sangat acuh dan menatap staff yang bersiap.
“Ava aku sangat gugup!” bisik Sophie sambil menggosok tangannya yang dingin. Meraih tangannya yang dingin, Ava menggosoknya dengan agar lebih hangat.
“Tidak perlu khawatir, coba pikirkan perasaan yang paling mirip dengan lagu ini.” kata Ava dengan tenang sambil terus menggosok tangan Sophie.
Mendengarnya, membuat Sophie berfikir mencari pengalaman yang bisa membuatnya menyanyikan lagu ini dengan baik. Sophie berpikir cukup lama sebelum dia menemukan sesuatu yang bisa mewakili lagu ini dengan baik.
“Aku memilikinya, aku rasa aku bisa melakukannya dengan baik.” kata Sophie sambil tersenyum lembut menatap tangan Ava yang berusaha membuat hangat tangannya.
Ava menatap Sophie heran. “Syukurlah jika kamu bisa menemukan pengalaman yang tepat.”
Sophie menatap Ava dengan agak sendu tetapi dia menahannya.
Para staff akhirnya selesai menyiapkan kamera. “Jadi siapa yang ingin maju dulu ?” tanya salah satu staff berdiri menatap mereka.
Semua trainee saling menatap termasuk Sophie. Dia bisa melihat bahwa tidak ada yang benar-benar ingin maju terlebih dulu. Jadi dia memberanikan diri untuk mengangkat tangan. “Aku akan pergi dulu!”
Ava mengangkat kepalanya dan menatap Sophie heran. Dia selalu ingin Ava maju lebih dulu tapi kali ini agak berbeda. Sophie yang bangkit berdiri berbalik dan menatap Ava dengan semangat sebelum pergi ke depan kamera.
Staff menjelaskan sedikit bagaimana mereka harus merekamnya sebelum membiarkan Sophie berdiri di tengah ruangan. Sophie terlihat lebih santai dari sebelumnya, Dia melihat staff memberikannya tanda untuk merekam sebelum berjalan ke kamera dan menekan tombol daya kamera.
Kamera mulai merekam dan wajah manis Sophie terlihat di kamera. Dia tersenyum sedikit sambil memastikan kamera bekerja dengan baik sebelum kembali ke tengah ruangan.
Setelah itu, dia membuat gerakkan awal koreografi menunggu musik dimainkan.
Ketika intro pertama musik berbunyi, Sophie mengangkat wajahnya dan memberi kan wajah senyum cerah terbaik miliknya yang memberi kesan manis. Lalu diiringi dengan gerakan yang energik di awal, Sophie akhirnya mulai bernyanyi dengan vokal yang tanpa di sadari sangat stabil.
Para trainee lain menatap dengan kagum pada Sophie yang bisa memberikan membawakan lagu ini dengan manis, menyegarkan, lembut, dan kuat. Perasaan yang mengingatkan mereka akan diri mereka sendiri dan perasaan menunjukkan diri sebenarnya kepada dunia.
Ava yang duduk di samping tersenyum sambil mengangguk bangga padanya. Sophie berhasil membawakan lagu ini lebih baik dari perkiraannya. Vokalnya semakin stabil dan ekspresi yang bagus tanpa menyingkirkan koreografi. Seharusnya dia akan naik ke level yang lebih baik.
Sophie berhenti begitu musik selesai, dia membungkuk sopan ke kamera dan kembali ke samping Ava dengan sangat bahagia. Suasana yang tercipta mau tidak mau menjadi buyar dan semua orang kembali ke kesadaran mereka lagi.
Sophie yang duduk di samping Ava terlihat sangat puas dengan penampilannya. “Apakah penampilanku sangat bagus tadi ?” tanyanya dengan senyum senangnya.
Ava pura-pura menghela nafas sambil berfikir membuat Sophie agak gugup. Melihat kegugupannya, membuat Ava tersenyum. “Sangat bagus! Tidak sia-sia latihan kita sebelumnya.”
Senyum Sophie kembali mekar dan memeluk Ava dengan senang. “Aku mengikuti saranmu dan memikirkan memori yang paling sesuai. Kamu tau memori apa itu ?”
Ava menggelengkan kepala pelan.
Sophie mendekatkan diri dan berbisik pada Ava. “Memori kamu memukuli para pembully itu! Saat itu kamu terlihat sangat tampan!”
Ava meliriknya sambil menghela nafas. “Kamu benar-benar masing mengingat hal itu” ucapanya pelan.
“Tentu saja, itu adalah momen paling keren dalam hidupku!” kata Sophie dengan pelan tetapi masih dengan semangatnya.
Ava bisa tersenyum tidak berdaya mendengarnya. Dia mengalihkan tatapan dan menemukan ada peserta trainee lain yang sedang bersiap untuk merekam. Wajahnya tampak sangat gugup dan agak kaku karenanya. Efek kekakuan yang tidak diatasi membuatnya agak terpatah-patah saat menari dan suaranya menjadi agak tidak stabil.
Karena hal ini, dia menunduk sedih kembali ke tempatnya dan terisak di tempat bersama temannya.
Ava melirik sebentar bersama dengan Sophie sebelum disuruh maju untuk merekam. Ava berdiri sambil berpikir, Sophie seharusnya akan naik level jadi dia perlu menyamakan kemampuannya supaya bisa sekelas dengannya jika tidak ingin Sophie membuat masalah selama beberapa hari karena tidak terima.
Jadi Ava pura-pura membenarkan kamera sebelum kembali ke tengah ruangan lalu mengambil posisi awal. Lagu ini mengenai menunjukkan diri kepada dunia, jadi dia perlu melakukan untuk meyakinkan para pelatih bahwa dia layak untuk di kelas A.
Ketika musik mulai diputar, Ava mengangkat kepalanya dan membuat senyum cantiknya yang seketika membuat semua orang di ruangan membeku. Ava memancarkan aura yang membuat semua orang menjadi terpesona dan hanya bisa membuka mulutnya. Pada hari biasa, Ava jarang tersenyum dan dia membawa hawa yang tidak ingin diganggu oleh orang lain, tapi hari ini berbeda, dia menunjukkan aura yang mengesankan dan membuat orang menjadi lebih bersemangat.
Ava membuat gerakkan yang bersih, rapi, dan terlihat mudah untuk diikuti. Bersamaan dengan itu, Ava menyanyikan nada tinggi dengan mudah dan sangat stabil di setiap bagiannya. Ekspresi Ava sempurna sejak awal dan diakhir musik, Ava berhenti dan menatap kamera dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya seolah memberikan semangat bagi yang melihatnya.
Setelah beberapa detik, Ava mengembalikan wajah datarnya dan membungkuk sopan ke kamera lalu kembali ke tempat duduknya.
Efek Ava masih belum hilang dari ruangan, semua orang hanya bisa mendesah terpesona tanpa bisa berkata-kata tetapi di hati mereka merasa lebih bersemangat karena Ava seperti bernyanyi untuk menyemangati semua orang untuk menunjukkan kepada semua orang diri mereka.
__ADS_1
Mereka baru sadar setelah beberapa detik setelah Ava kembali ke tempatnya. Mereka menatap Ava dan memiliki pemikiran yang sama.
‘Dia pasti bisa menjadi center dalam lagu ini.’