LuckyONe

LuckyONe
Chapter 11: Theme Song


__ADS_3

Sehari sebelum syuting penampilan, para peserta di bawah ke panggung pertunjukkan tempat mereka akan melakukan gladi bersih terlebih dahulu. Lokasi panggung berada di tempat yang berbeda dari biasanya mereka melakukan syuting.


Sehingga membutuhkan bus untuk sampai di lokasi. Para peserta trainee berangkat dengan baju trainee kelas mereka ke lokasi gladi bersih dimana panggung sudah di setting terlebih dahulu.


Ketika mereka memasuki lokasi, panggung besar berbentuk segitiga besar yang nantinya akan memiliki segitiga kecil yang akan menjadi panggung di sisi lainnya. Panggung segitiga utama sangat besar dan terlihat sangat megah di bawah pencahayaan yang indah. Warna dari utama dari pencahayaan adalah merah dengan aksen abu-abu yang membuatnya terlihat serasi dengan seragam mereka nanti.


Para kameramen tentu saja tidak akan melewatkan kegiatan ini untuk menangkap ekspresi para trainee inI. Ini menjadi salah satu yang akan di tayangkan nantinya, bahkan proses gladi bersih juga direkam untuk menjadi salah satu bahan untuk ditayangkan.


Para peserta yang masuk ke area bangunan tempat mereka akan syuting nanti tidak bisa menahan decak kagum melihat panggung yang ada. Tidak terkecuali mereka yang berasal dari kelas F, mereka terlihat sangat kagum dengan panggung terlepas dari kondisi mereka yang mungkin tidak akan menaiki panggung tersebut.


Para staff menjelaskan posisi setiap kelas dan meminta para trainee per kelas untuk naik ke panggung masing-masing. “Kelas A silahkan naik ke panggung utama. Kelas B silahkan naik ke panggung di samping kanan dan kelas C di sisi kiri. Kelas D silahkan naik ke panggung di belakang kelas A. Kelas F, silahkan duduk di sisi untuk sementara waktu.”


Ava yang di gandeng Sophie naik bersamaan ke atas panggung. Di atas panggung ada staff lain yang meminta para trainee untuk berbaris dalam sebuah formasi awal. Bentuk dari Formasi ini adalah dua baris yang hampir membentuk segitiga, para trainee akan berbaris memanjang ke belakang.


Vivian tentu saja akan berdiri di tengah dan paling depan barisan. Sementara Sophie berada di tengah barisan dan Ava tanpa diduga malah di taruh di bagian belakang barisan. Keduanya tidak merasakan apapun, terutama Sophie yang menjadi sangat bersemangat setelah menaiki panggung. Ava sendiri tidak berkomentar dan malah berharap dia tidak mendapatkan banyak tembakkan. Dia tidak berniat menonjol di theme song ini.


Trainee lain melihat kearah panggung utama dengan iri karena saat itu, panggung utama juga memiliki panggung kecil lain di tengah barisan yang akan naik lebih tinggi untuk posisi center. Vivian tentu saja dengan senang hari mencoba posisi ini, dia menjerit senang sambil menutup mulutnya dan menatap sekeliling dengan bahagia.


“Posisi center benar-benar menjadi sangat terlihat.”


“Aku berharap aku yang berada di posisi tersebut.”


“Panggungnya naik sangat tinggi.”


“Kurasa kelas D yang berada di belakang menjadi tidak terlihat.”


Berbagai komentar dilontarkan peserta lain yang melihat posisi yang menguntungkan tersebut. Mereka menginginkan posisi ini tetapi tidak bisa lagi karena sudah keputusan final, jadi yang bisa mereka lakukan adalah bagaimana menarik perhatian penonton nanti.


Para staff mengatur posisi trainee di kelas lain sebelum melakukan gladi bersih secara utuh. Mereka juga diberi tahu bagaimana mereka harus memulai dan berpindah posisi saat nanti panggung berubah bentuk.


Gladi bersih dilakukan dengan dua perasaan yang jelas, senang dan sedih. Para trainee di atas panggung menjadi senang dan bersemangat sementara mereka yang harus menari di bawah atau tidak terlihat menjadi sedih. Meski begitu, mereka tetap berlatih dengan keras. Dengan begitu, berakhirlah gladi bersih dan mereka harus kembali ke asrama dan terus berlatih lagi untuk keesokan harinya.


Pada hari rekaman, para trainee yang telah selesai sarapan, pergi menaiki bus bersama-sama ke tempat mereka. Sebelum memasuki lokasi syuting, mereka memasuki ruang tata rias dan ruang ganti secara bergantian. Meski ada cukup banyak penata rias, tetapi mereka tetap harus menunggu.


Kelas A menjadi prioritas para penata rias untuk didahulukan karena nantinya akan memiliki banyak bidikan saat di atas panggung. Jadi kelas A menjadi yang pertama menyelesaikan tata rias dan pakaian mereka terlebih dulu.


Tapi sebuah kejadian yang agak tidak terduga terjadi, Ava yang menerima set bajunya menemukan bahwa vest merah ternyata sobek di bagian samping. Selain itu, dasinya juga tidak ada. Ava yang menggunakan rok dan kemeja putih keluar dari ruang ganti dengan jasnya yang lengannya.


Dia mendatangi salah satu staff yang menjadi bagian baju dengan jasnya. “Permisi, kurasa vest ini sobek dan aku juga tidak menerima dasi.”


Staff yang melihat vest yang sobek mengerutkan kening dan menatap Ava dengan agak tidak ramah. “Kenapa vest ini bisa sobek ?” Staff ini mengangkat dan memeriksa vest tersebut dengan agak tidak senang.


“Saat aku akan memakainya sudah begitu.” jawab Ava jujur.


Staff di depannya tampaknya tidak senang, “Apakah kamu mengatakan yang sejujurnya ?!” tanyanya dengan suara yang tidak kecil.


Kejadian kecil ini supaya menarik perhatian sekitarnya, staff ini mendesah jengkel dan mengambil pakaian lain yang merupakan model vest lain yang memiliki bahan seperti sweater. “Hanya ada ini yang tersisa, gunakan saja ini. Jangan sampai rusak lagi! Sudah tidak ada lagi dasi, jadi tidak perlu menggunakannya.” Staff memberikannya dengan nada yang agak tidak ramah.


Ava menerima dengan anggukan kecil tanpa mengatakan apapun, dia menyingkir dan segera menggunakan vest sweater serta jasnya lalu keluar dari ruangan.


Para trainee yang berada di ruangan menjadi lebih berhati-hati dengan baju mereka untuk mencegah kerusakan. Sementara staff lain hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa mengenai kejadian ini.


Staff yang tadi memarahi Ava diam-diam tersenyum puas sambil mengirimkan pesan kepada seseorang bahwa misinya selesai.


Ava kebetulan telah selesai melakukan make up sederhana dan telah menggunakan bajunya dengan lengkap. Sesuai arahan para staff lain, dia pergi ke area dimana harus melakukan foto.  Tujuan dari pengambilan foto profil ini adalah untuk digunakan di website untuk voting oleh penggemar.


Sophie kebetulan baru saja selesai berfoto, dia menggunakan aura keimutannya pergi setelah beberapa jepret foto. Ketika dia melihat Ava yang menggunakan baju yang berbeda dia tidak bisa berkomentar.


“Bukankah, kamu tidak menggunakan baju ini sebelumnya ?” Sophie bingung melihat vest yang berbeda dan tidak ada lagi dasi di leher Ava.


“Vest yang seharusnya kugunakan robek, juga sepertinya dasiku hilang. Mereka tidak memiliki dasi ekstra jadi aku hanya pergi dengan baju ini.” jawab Ava sebelum dipanggil untuk berfoto.


Ava berdiri di tempat yang sudah ditentukan dengan tertib seperti akan mengambil foto. Fotografer yang akan mengambil foto mengarahkan Ava untuk lebih menunjukkan karakternya dalam foto.


Ava memikirkan untuk beberapa detik sebelum mengatupkan kedua tangannya di belakang dan memiringkan sedikit tubuh serta kepalanya tanpa tersenyum. Ava menunjukkan wajah seriusnya yang tanpa diduga sangat mempesona.


Fotografer awalnya menjadi malas tetapi begitu melihat Ava yang terlihat seperti seorang pelajar yang serius, dia langsung menjepret dan menyuruh Ava untuk mengganti beberapa gaya. Ava hanya menggerakkan sedikit dari tubuhnya dan tersenyum kecil.


Fotografer yang terus menjepret akhirnya berhenti dan melihat beberapa foto dan mengangguk puas. “Oke selesai.”


Ava menunduk. “Terima kasih.” Lalu dia pergi menghampiri Sophie yang menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


Sophie terkejut melihat Ava kembali dengan cepat. “Sangat cepat ?!”


“Tidak terlalu, fotografer mengatakan selesai, jadi aku keluar.” jawab Ava sambil berjalan beriringan ke panggung utama untuk menunggu.


“Aku mengambil foto cukup lama tadi, sepertinya kamu cukup pintar mencari gambar.” Sophie memuji Ava lalu tertarik dengan gaya Ava yang sekarang. “Kurasa hanya mengubah vest kamu terlihat lebih sporty sekarang. Terlihat lebih nyaman.”


Ava mengangguk setuju. “Memang lebih nyaman daripada vest yang sebelumnya.”


Mereka sampai di hall utama dimana panggung mereka akan berada. Cukup banyak orang yang berada di tempat, mereka sudah siap dan tampak sedang bersendau gurau. Ava yang melihat ini memilih berjalan ke samping dan duduk di lantai menunggu proses syuting dimulai. Sophie juga ikut duduk di samping Ava sambil berbincang masalah hal kecil.


Mereka berbicara berdua dan orang yang kenal dengan mereka berdua seperti Crystal dan Melody. Keempatnya berbincang atau lebih tempat ketiganya. Ava mendengar mereka berbincang satu sama lain.


Setelah menunggu agak lama, akhirnya para staff menyuruh mereka untuk naik ke panggung dan berdiri di posisi yang sebelumnya sudah dilatih.


Para pelatih juga datang dan menonton para trainee yang akan melakukan gladi bersih. Keegan juga ikut datang dengan jas keren dan rambutnya tertata dengan rapi karena dia juga akan melakukan perekaman juga.


Keegan berdiri dengan para pelatih lainnya dan melihat para trainee yang melakukan latihan sebelum melakukan perekaman yang sebenarnya. Mungkin karena trainee tidak terbiasa melakukan latihan yang menyenangkan, banyak dari trainee yang tidak tersenyum dan terlihat sangat tegang.


Jadi para pelatih yang melakukan pemantauan di layar dan secara langsung mengambil mic dan mulai memberi saran. “Kalian harus tersenyum, jangan kaku, kamera mungkin akan melewati kalian hanya beberapa detik jadi manfaatkan itu untuk menunjukkan pesona kalian.” kata Paris memberitahu para trainee untuk rileks.


Para trainee mengangguk mengerti dan mengingat-ingat perkataan Paris pada mereka. Keegan di sisi lain yang berdiri dengan bersedekap menatap para trainee, dia menatap seluruh trainee di panggung. Tetapi dia mengerutkan kening melihat susunan trainee di panggung utama.


Sophie dan Ava yang sebelumnya menjadi orang yang masuk ketiga besar yang akan menjadi center berada di posisi tengah dan Ava di bagian akhir. Kedua orang yang berdiri di sisi center malah bukan orang yang masuk ketiga besar.


Keegan diam-diam bergeser dan mendekati produser untuk bertanya, “Kenapa kedua trainee yang masuk nominasi center malah berada di belakang ?”


Produser yang ditanyain menatap ke arah panggung dan melihat Ava dan Sophie yang berada di tengah dan belakang barisan. “Oh. Kita hanya memberikan kesempatan pada trainee lain agar bisa lebih terekspos.”


Keegan menatap produser cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Baiklah.” Lalu dia berbalik dan berkumpul dengan para pelatih lagi.


Ketika Keegan kembali, dia diminta untuk segera naik ke panggung pertunjukkan. Keegan harus melakukan beberapa opening terlebih dahulu sebelum para trainee bisa melakukan theme song bersama.


Keegan melakukan narasi panjang yang menjelaskan sedikit tentang trainee dan melakukan opening dengan sangat elegan. “Saya Keegan Nielson, perwakilan Produser Nasional untuk program Unlimited Youth Girls. Sekarang mari kita bertemu dengan 101 gadis. Let’s start it!”


Kemudian kamera yang menyorot Keegan seperti terbang tinggi dan menyorot para peserta kelas A yang melakukan pose awal di atas panggung. Lagu theme song akhirnya dimulai, Para gadis kelas A mengangkat kepala dan mulai melakukan koreografi sambil bernyanyi. Kelas A telah menjadi semacam contoh bagi para kelas lain bahkan sejak latihan. Mereka mengambil bagian awal lagu hingga chorus lagu sebelum kelas B dan kelas lainnya akan bergabung secara bertahap.


Aura ceria para trainee kelas A di awal lagu memberikan semangat bagi para trainee lain. Senyum manis para trainee ingin menyampaikan energi positif lewat lagu theme song. Bahkan ketika lagu mencapai break dance, para trainee tetapi menari dengan bertenaga dan bersemangat. Setelah bagian break dance, formasi peserta menjadi agak berubah, center akan naik ke panggung yang lebih tinggi sementara kelas lain akan mendekat ke panggung utama. Kelas A akan berdiri lebih dekat dan lebih kedepan.


Para trainee tidak berani untuk bergerak dan hanya diam hingga staff mengatakan bahwa telah selesai. “Baik, syuting telah selesai!” teriak produser dengan pengeras suara.


Semua trainee di atas panggung maupun di bawah membungkuk dalam-dalam kepada para staff dan para pelatih “Terima kasih !”


“Kerja bagus semua!” ucap Paris dengan mic mengucapkan selamat karena telah menyelesaikan rekaman.


Semua peserta menjadi lega dan bersemangat setelah menyelesaikan rekaman. Para peserta segera turun dari panggung dengan saling bercerita dengan bahagia mengenai proses rekaman.


Sophie juga salah satu yang sangat bersemangat, begitu dia selesai merekam, Sophie langsung menarik Ava dengan wajah bersemangat. “Tadi itu pengalaman yang sangat menyenangkan kan ? Melakukan pertunjukkan secara langsung dan full.”


Ava tersenyum. “Memang pengalaman yang menyenangkan.”


“Aku berharap akan ada banyak orang yang akan memilih kita.” Sophie memiliki cukup banyak harapan kedepannya. Dia berharap bisa debut lewat kesempatan ini dan ingin bisa debut bersama dengan Ava. “Menurutmu setelah ini kita akan melakukan apa ?”


“Entah, aku tidak terlalu banyak berharap tentang misi kita setelahnya.” Ava berjalan bersama Sophie keluar dari tempat pertunjukkan.


Para trainee yang ada bergantian ganti baju dan bersiap kembali ke asrama. Ava menahan Sophie agar tidak berebut untuk mengganti baju dengan para trainee lain. Jadi Ava menunggu dengan Sophie terlebih dahulu di luar area ruang ganti dan kebetulan Keegan datang bersama para pelatih lainnya.


Mereka berhenti dan menatap mereka yang masih belum mengganti baju.


“Kenapa kalian belum mengganti baju kalian ?” tanya Paris bingung.


“Terlalu banyak trainee yang masih mengganti baju di dalam. Kami sedang menunggu giliran.” jawab Sophie dengan senyum malu.


Para pelatih mengangguk dan berjalan berlalu untuk pergi menuju ruang ganti mereka. Keegan tidak mengikutinya dan malam menatap Ava dengan serius. “Sebaiknya kamu melakukan yang terbaik di misi berikutnya.”


Ava diam untuk sementara waktu dan melihat Keegan meninggalkan mereka tanpa menunggu balasan keduanya. Sophie juga agak terkejut mendengar Keegan mengatakan hal itu. Ketika Keegan hilang dari pandangan mereka, Sophie agak panik menatap Ava.


“Kenapa aku merasa Keegan sepertinya tau bahwa kamu tidak menunjukkan kemampuanmu yang sebenarnya.” Sophie membelak mata merasa agak terkejut mendengar pertanyaan Keegan.


Ava juga agak terkejut mendengar Keegan begitu. “Entahlah, tapi sepertinya perwakilan Keegan merasakan bahwa aku tidak sepenuhnya mengerahkan kemampuanku. Dia juga seorang yang bisa menari dan bernyanyi. Jadi kurasa dia pasti tau.”


“Lalu bagaimana menurutmu, apakah kamu akan baik-baik saja ?” Sophie agak khawatir.

__ADS_1


Ava hanya bisa mendesah panjang. “Seharusnya baik-baik saja. Aku harus bekerja keras lain kali dan bertindak lebih natural.”


Sophie hanya bisa mempercayai Ava, meski dia sangat ingin Ava untuk debut bersamanya, tetapi dia juga tau industri sangat berbahaya jika mereka tidak memiliki latar belakang yang kuat. Pasti akan sangat merepotkan untuk dia atau Ava sendiri jika sampai terkena masalah dengan orang yang lebih kuat.



-



Vivian kembali ke kamar asramanya dengan suasana hati yang sangat senang. Karena dia bisa mendapatkan posisi center., jadi pasti dia akan mendapatkan sorotan utama. Dia pasti akan terkenal dalam sekejap.


Vivian berbaring di kasurnya sambil berbincang dengan teman sekamarnya. Dia membangun relasi dengan para trainee lainnya dan membangun image yang baik pada trainee lainnya.


“Menurut kalian misi seperti apa yang akan kita dapat setelah ini ?” tanya seorang gadis dari kasur bawah bernama Clarence. Dia trainee dari kelas C, karena dia agak kesulitan menghafal koreo dan kesulitan untuk mengatasi lagu dengan nada tinggi. Pada dasarnya dia adalah seorang rapper.


Vivian yang berada di kasur di tas Clarence menjulurkan kepala ke bawah. “Entahlah, tapi yang jelas mungkin ini akan terjadi persaingan ketat setelah ini.” Vivian berkata begitu tetapi sebenarnya dia sudah tau mengenai misi berikutnya. Dia sudah memikirkan rencana untuk misi ini dari kemarin.


Misi berikutnya adalah tentang group battle. Mereka akan di bagi menjadi beberapa group dan satu lagu akan memiliki dua group yang bersaing satu sama lain. Masalahnya adalah tidak setiap tim bisa mendapatkan kelompok dan lagu yang mereka mau, sehingga akan sulit untuk bisa beradaptasi dengan anggota satu kelompok.


Tetapi dia sebagai center bisa mendapatkan keuntungan untuk memilih anggota kelompok sendiri yang menjadi sebuah keberuntungan. Sisanya, orang yang memilih akan dipilih secara undian, sehingga semua bergantung pada keberuntungan setiap peserta.


Vivian sendiri sudah memilih orang yang akan menjadi timnya dan berniat untuk membuat tim yang solid agar bisa menang. Ketika dia sedang berpikir tentang bagaimana dia harus melakukan apa nantinya, dia teringat dengan Ava.


Sejujurnya dia tidak benar berniat untuk memasukkan Ava ke dalam timnya karena Ava berpotensi untuk merebut posisi centernya. Jadi dia berniat untuk membuat Ava menjadi lawannya saat berada di pemilihan lagu. Sekarang dia hanya perlu mengatur agar Ava mendapatkan teman setim yang tidak benar-benar bisa mengancamnya.


“Sejujurnya aku tiba-tiba merasa takut saat memikirkan pemilihan center saat itu.” Vivian tiba-tiba membahas hal ini mengutarakan rasa takutnya dengan nada depresi.


Para gadis lain di ruangan tiba-tiba terdiam dan menjadi fokus mendengar perkataan Vivian.


“Tapi menurutku, kamu sangat bagus saat itu, melihat kemampuanmu dan auramu lebih cocok untuk theme song ketimbang ketiga kandidat yang lain.” seorang gadis lain berusaha menghibur Vivian yang merasa rendah diri.


“Saat itu aku berfikir bahwa kedua orang lainnya sangat hebat, mereka memiliki banyak potensi yang besar untuk menjadi center terutama karena mereka terlihat sangat cocok dengan banyak genre jika dilihat.” Vivian mengerutkan keningnya merasa sangat rendah diri. “Bahkan aku sempat melihat Ava menggunakan seragam yang membuatnya terlihat sangat elegan dan hari ini dia terlihat sangat sporty dengan seragam lainnya.”


“Tapi memang harus ku akui bahwa Ava memang sangat cantik, dia terlalu cantik untuk seorang manusia.” Clarence tampak juga sangat mengagumi Ava.


“Ava memang terlihat sangat menonjol, dia memang berpotensi untuk sangat terkenal begitu acara ini disiarkan.” Gadis lain menambahkan. Dia memang sangat cantik hingga banyak gadis lainnya merasa sangat minder dengan penampilan mereka sendiri.


“Tapi menurutku meski dia cantik, dia agak dingin untuk seorang yang ingin menjadi artis.” Katty seorang gadis yang agak supel merasa agak kesulitan untuk bergaul dengan Ava yang dingin.


“Memang, aku pernah mengajaknya berkenalan, tapi sepertinya dia tidak menanggapiku.” Melihat adanya potensi untuk menambah komentar tentang Ava, Vivian tidak melewatkannya.


“Benarkah ?! Dia tidak menanggapi ?” Clarence agak kaget, Ava sepertinya terkesan sombong.


“Agak sulit untuk bekerja sama dengan orang seperti itu kan ? Aku berharap untuk tidak bekerja sama dengan orang yang bahkan sulit diajak kenalan.” Katty agak kecewa dengan Ava yang ternyata juga memperlakukan orang seperti itu.


Semua orang yang mendengar cerita Vivian berpendapat sama dengannya. Entah dari mana rumor bahwa Ava adalah orang yang sombong dan suka merendahkan orang mulai menyebar malam ini.


Beberapa orang yang mengenal Ava sebelumnya merasa bahwa sikap Ava memang agak tidak menyenangkan, dia terlihat dingin dan sulit untuk didekati. Tetapi beberapa orang yang sekamar dengan Ava tidak merasa begitu.


Bagi mereka, Ava adalah orang yang cukup perhatian, dia membangunkan mereka setiap hari dan mengerti kesulitan mereka saat tidak mengatakannya. Terutama Crystal yang mengalami flu saat sedang berlatih karena terkena udara dingin.


Ava membantunya menyiapkan obat dan menyuruhnya meminum obat setiap hari dengan air hangat yang entah bagaimana Ava selalu mendapatkannya.


Jadi pendapat para trainee sangat berbeda dan terbagi menjadi opini yang berbeda. Meski begitu, orang yang menjadi topik tidak bereaksi dan hanya melakukan kegiatannya seperti biasa dan tidak banyak berbicara atau berkomentar mengenai hal tersebut. Ava malah bersikap sangat masa bodo dan bersikap seperti berada di kotaknya sendiri.


Sophie agak khawatir karena ada rumor tidak baik tentang Ava,  dia mendatangi Ava karena khawatir.


“Tidakkah kamu dengar tentang rumor yang beredar ?” tanya Sophie sambil berbisik. “Kemarin tidak ada rumor seperti ini, kenapa sekarang ada rumor seperti itu.”


“Entahlah.” jawab Ava sambil memakan makanannya. “Aku tidak benar-benar mendengar rumor itu.”


Sophie agak frustasi dengan Ava yang tidak percaya. “Ava, kamu harus serius dengan rumor seperti ini, kamu tau kan bahwa rumor buruk pasti akan berdampak buruk.”


Ava menghentikan makanannya dan menatap Sophie dengan datar. “Menurutmu aku peduli soal itu ?”


“Tapi dalam industri hiburan tentu hal seperti itu tidak bisa dianggap remeh.” Sophie berusaha menjelaskan pada Ava agar lebih mengerti maksudnya.


“Tentu saja aku tau, tapi kamu tau sendiri itu hanya rumor dan kamu sendiri tau bagaimana aku Sophie. Aku tidak memerlukan orang lain yang terlalu banyak berpikir tentangku.” Ava menjelaskan dengan suara rendah. “Biarkan saja mereka.”


Sophie hanya bisa mendesah merasa Ava memang agak sulit untuk di bujuk. Tetapi memang selama beberapa tahun dia mengenai Ava, memang dia tidak benar-benar peduli mengenai apa yang di katakan orang lain. Tetapi dia tetapi selalu khawatir dengannya.

__ADS_1


__ADS_2