
Proses latihan bersama berakhir dengan sebelum makan siang. Para trainee mendapatkan waktu istirahat saat makan siang lalu setelahnya akan berlanjut dengan latihan yang lebih terpusat di kelas masing-masing.
Ruang pelatihan kelas B sebenarnya cukup lebar kelas tetapi meski begitu dengan banyaknya orang di kelas ini jadi agak penuh. Ava memilih tempat yang agak belakang bersama dengan Sophie dan berlatih dalam diam di belakang.
Kelas setelah makan siang adalah kelas tari, pelatih yang akan mengajarkannya adalah Orion yang merupakan pelatih tari yang sudah banyak mengajar untuk banyak girl group hingga boy group.
“Halo,” sapa seluruh trainee pada Orion yang memasuki ruangan dengan map di tangannya.
“Halo semuanya!” balas Orion dengan tenang. “Mari kita mulai latihannya sekarang” Orion meletakkan map di lantai lalu mulai menunjukkan koreografi secara lebih detail para trainee.
Setelah menunjukkan beberapa bagian, Orion meminta para trainee untuk mencobanya. Gerakkan ini memang terlihat tidak sulit bahkan sangat simple tetapi membutuhkan banyak latihan agar bisa membuatnya terlihat indah saat di tarikan.
Dalam latihan, beberapa kali Pelatih Orion menatap trainee yang sepertinya kesulitan dan membantu mengoreksinya dengan wajah serius. Meski kelas B cukup tinggi tetapi beberapa orang dari evaluasi sebelumnya terlihat kesulitan untuk mengikuti kelas dan lambat dalam belajar menari.
Setelah belajar beberapa bagian, Orion meminta para trainee untuk menari dalam beberapa bagian. Ava dan Sophie berada di bagian belakang barisan sehingga maju agak nantinya.
Barisan pertama yang maju memiliki beberapa trainee yang kesulitan untuk mengikuti terutama di gerakan yang cepat, beberapa bagian yang lain agak sering lupa dan tidak pas ketukan. Pelatih Orion memintanya mereka untuk mencoba lagi tarian koreografinya agar tidak terulang lagi kesalahannya.
Pelatih yang mencoba mengetes semua peserta hingga giliran Ava dan Sophie. Kemampuan Sophie sebelumnya sudah banyak di koreksi Ava sehingga dia tidak mengalami kesalahan selama mencoba dihadapan pelatih Orion.
“Trainee Ava dan Sophie. Kalian menari dengan sangat baik.” kata pelatih Orion memuji keduanya yang terlihat menari paling rapi di antara para trainee lainnya
“Terima kasih!” ucap Ava dan Sophie bersamaan.
“Pertahankan dan kalian pasti akan naik ke kelas A” Pelatih Orion memberikan saran untuk keduanya. “Sekarang mari kita lanjutkan ke gerakkan selanjutnya.”
Pelatihan menari berlanjut hingga semua bagian koreografi di ajarkan. Di akhir pelatihan, pelatih Orion meminta para murid untuk menarikan seluruh koreografi sebelum mengakhiri kelas.
“Terima kasih!” teriak para murid trainee mengantar kepergian pelatih Orion yang selesai mengajar. Begitu pelatih Orion keluar dari kelas, para murid akhirnya ambruk dengan ******* lelah.
Sophie juga salah satu yang lelah karena latihan kali ini, sementar Ava bangkit dan berjalan keluar untuk mencari air dari para staff. Staff yang ada berjaga di luar menunggu pelatih berikutnya masuk.
“Maafkan aku, apakah aku bisa minta beberapa botol air ?” tanya Ava pada salah satu staff dengan tenang.
Staff perempuan yang ditanyai oleh Ava mengangguk dan meminta Ava untuk mengikutinya mengambil beberapa botol air. Ava mengambil cukup banyak botol air yang bisa dibawa dan kembali ke ruang latihan dengan botol air di pelukannya.
Diam-diam Ava membagikan botol air tersebut ke beberapa orang dan meminta mereka untuk membagi satu botol dengan beberapa orang.
Para gadis yang menerima air dari Ava, tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Ava yang memberikan air minum pada mereka.
“Terima kasih.” ucap setiap gadis yang diberikan air oleh Ava.
Botol air terakhir di pelukkan Ava diberikannya pada Sophie. Melihat botol tersebut membuatnya sangat bahagia. “Ava kamu seperti gadis dari surga yang membawakan air segar saat aku sedang kehausan.” kata Sophie dengan berlebihan.
Ava menggelengkan kepala. “Hentikan sikapmu itu dan minumlah air itu sebelum pelatih datang.”
Sophie yang sudah menegak air di botol berasa hidup kembali setelah minum lalu memberikan botol air tersebut pada Ava. “Bukankah setelah ini kita akan berlatih vokal ?”
“Um..” jawab Ava sambil bergumam lalu meminum air untuk meredakan rasa haus.
Sophie kemudian melirik kamera yang berada di sisi ruangan dan mulai menghitung keseluruhannya. “Ava total di ruangan ini ada lebih dari 5 kamera.” bisiknya sambil melihat salah satu kamera di dekatnya.
Ava melirik kamera yang dekat dengan mereka dengan lirikan kecil sebelum membenarkan ikat rambutnya yang mulai kendur. “Bukankah kamu tidak takut pada kamera ?” tanya Ava santai.
“Tentu saja aku tidak takut.” kata Sophie dengan percaya diri. “Aku bahkan tidak ingat jika kita sedang syuting. Gara-gara kamu menyuruhku untuk terus fokus.”
Ava yang selesai membenarkan ikat rambutnya menatap Sophie dengan heran. “Bukankah kamu disini untuk berusaha debut ?”
Sophie mengangguk. “Memang, semua gadis di tempat ini pasti berusaha untuk debut.”
“Jika begitu, kamu tidak perlu terlalu khawatir dengan kamera, lakukan saja latihanmu dengan baik.” kata Ava ringan.
Sophie mengangguk setuju lalu melihat sekeliling dan menemukan beberapa gadis menangis sepertinya agak frustasi. “Mereka sepertinya menangis” bisik Sophie pelan.
Ava juga melirik beberapa gadis yang sedang berkumpul di ujung ruangan seperti menghibur satu sama lain Dia tidak berkomentar dan hanya diam melihat mereka menangis. Menurut Ava menangis adalah hal yang wajar, apalagi saat seseorang berusaha belajar dengan cepat, rasa frustasi pasti akan muncul dan ujung-ujungnya pasti menangis.
Jeda antara latihan tari dan latihan vokal digunakan oleh para trainee untuk beristirahat sebelum memegang kembali kertas lirik dan mulai berlatih menyanyi sebelum pelatih datang.
Kali ini pelatih yang datang adalah pelatih Paris, seorang penyanyi wanita yang memiliki pembawaan yang lembut. Wajah suram para trainee menjadi cerah melihat pelatih memasuki ruangan.
“Apakah kalian sudah banyak berlatih nyanyian kalian ?” tanya Pelatih Paris ketika memasuki ruangan.
“Ya, kami sudah banyak berlatih!” jawab para trainee mendengar pertanyaan tersebut.
“Syukurlah kalau begitu siapa yang ingin maju terlebih dulu untuk mencoba ?” tanya Paris lembut setelah duduk di belakang keyboard.
Seorang gadis tiba-tiba mengangkat tangannya bersedia untuk maju terlebih dulu. “saya ingin mencobanya lebih dulu.” katanya dengan bersemangat.
Wajah Pelatih Paris berubah senang karena ada yang ingin maju dengan sukarela. “Trainee Agatha ?” tanyanya melihat nama pengenal di baju trainee.
Agatha maju dengan percaya diri dengan senyum. Begitu diberi tanda untuk bernyanyi, Agatha langsung menyanyikan lagu theme song dengan penuh percaya diri.
“It’s me! It’s Me! The real me!” ketika sampai di bagian yang memiliki nada tinggi, Agatha masih menyanyikannya dengan penuh percaya diri meski terdengar ada yang salah.
Awalnya mungkin tidak terasa apapun tapi semakin dia bernyanyi, wajah pelatih Paris agak berubah tetapi berhasil dikendalikan.Pelatih menunggu hingga Agatha menyelesaikan nyanyiannya sebelum berkomentar.
Suasana menjadi hening begitu Agatha selesai menyanyikan nyanyiannya. Pelatih Paris tampak sedang mencari kata yang pas untuk mengomentarinya.
Para trainee tidak menyadari kesalahan apapun dan malah kagum dengan Agatha yang bisa bernyanyi dengan nada yang cukup tinggi. Tapi reaksi pelatih Paris agak bertentangan dan mereka malah kebingungan.
Sophie juga merasa ada yang salah tapi tidak mengerti bagian mana yang salah. Jadi dia melirik Ava yang berdiri datar di sampingnya seolah meminta pendapatnya. Ava tentu merasakan tatapan Sophie padanya, tapi dia mendiamkannya dan menunggu pelatih Paris memberikan pendapatnya.
“Apakah kamu menyadari kamu salah nada ?” tanya pelatih Paris dengan agak serius. “Kamu menyanyikan beberapa bagian dengan datar.”
Agatha tentu tidak menyadarinya dan malah kaget mendengar komentar tersebut. “Maafkan aku pelatih, akan ku coba lagi.” katanya buru-buru.
“Coba nyanyikan dari awal. Perhatikan nada yang ada. Jangan membuat semuanya menjadi satu nada.” kata pelatih Paris memberikan kesempatan.
Agatha kembali mencoba menyanyikannya tetapi baru beberapa kalimat di awal lagu, Pelatih Paris menghentikannya. “Coba lagi. Nadamu masih salah.”
Agatha menarik nafas lalu mencoba menyanyikannya lagi. Tapi meski begitu, dia masih salah dan malah menjadi agak bergetar.
“Cukup.” kata pelatih Paris, dia memainkan pulpennya dengan gusar. “Aku sebenarnya cukup mengantisipasi kamu, karena bisa bernyanyi dengan baik sebelumnya. Tapi sekarang… agak mengecewakan.”
__ADS_1
Wajah Agatha menjadi sulit diartikan, dia agak sedih sekaligus kecewa karena tidak bisa melakukannya dengan baik.
“coba latih lagi dan pastikan nadamu tidak salah.” kata Pelatih Paris memberikan saran.
Setelah itu, pelatihan kembali berlanjut, para trainee mendapatkan kesempatan untuk menyanyikan lagu dan mendapatkan feedback dari pelatih Paris secara langsung. Sophie masih di puji oleh pelatih Paris dan memintanya untuk mempertahankan performanya.
Tanpa sadar akhirnya, pelatihan vokal berakhir, dan para staff mengumumkan bahwa setelah pelatihan vokal adalah waktu latihan individu.
Di ruangan latihan, para trainee berlatih dengan keras entah secara pribadi atau berkelompok, sementara Ava dan Sophie berlatih berdua melatih gerakkan sambil bernyanyi dengan suara kecil.
Sophie sesekali masih lupa dengan lirik ataupun gerakkan yang ada. Jadi di bawah pengawasan Ava, Sophie terus berlatih dan tidak berhenti saat yang lain mulai merasa lelah. Ava menatap dengan ketat dalam diam dan mengikuti latihan Sophie terus menerus dan diulang terus menerus hingga waktu makan malam tiba.
Setelah makan malam malah membuat para trainee menjadi malas. Banyak sekali trainee yang tergeletak di meja karena rasa lelah dan kenyang. Ava sendiri langsung menyeret Sophie kembali ke ruang latihan untuk berlatih lebih banyak.
Kali ini Ava memeriksa keseluruhan koreografi Sophie, dia ingin melihat apakah Sophie sudah menghafal keseluruhan koreografi atau belum. Nyatanya, Sophie belum sepenuhnya menguasai koreografi dan masih salah beberapa kali. Jadi Ava memintanya terus menerus mengulangi hingga tidak ada kesalahan sama sekali.
“Lakukan sebanyak 10x berturut-turut tanpa kesalahan dan akan kubiarkan kamu istirahat.” kata Ava ringan. “Jika ada kesalahan, kita akan mengulangnya dari awal.”
Sophie diam-diam menelan air liurnya, pelatihan iblis Ava akhirnya tiba. Dia pernah mengalaminya sebelumnya, sangat melelahkan hingga dia bisa pingsan saat itu. Tapi memang harus diakuinya, cara ini sangat efisien. Jadi meski melelahkan Sophie terus menerus menari hingga Ava mengatakan bisa beristirahat.
“Lompatanmu tidak setinggi sebelumnya.” kata Ava mengoreksi gerakkan lompatannya. “Ulang dari awal.”
Ava tidak diam dan menari bersama dengan Sophie dan memberikan gerakkan standar agar Sophie mengerti bagaimana seharusnya tarian ini dilakukan.
Para peserta lain yang melihat keduanya berlatih dengan keras dan tidak berhenti lebih dari 5 menit untuk beristirahat merasakan ngilu. Tapi mereka merasa termotivasi dan ikut berlatih dengan keras.
Setelah beberapa jam menari tanpa henti, Sophie akhirnya tergeletak di lantai sambil mengeluh dengan keras. “Biarkan aku istirahat, kakiku tidak memiliki tenaga sama sekali.”
Ava berkacak pinggang menatap Sophie dengan keringat di dahinya. “15 menit.” kata Ava singkat lalu pergi keluar untuk ke kamar mandi.
Sophie bernafas lega ketika Ava memberinya waktu istirahat. Dia berbaring di lantai sambil mengamati para peserta lain yang juga bekerja sangat keras dalam latihan mereka. Tapi karena Sophie sering di kritik Ava dalam hal tarian, dia bisa melihat sekarang bahwa gadis-gadis ini masih kekurangan sesuatu. Dia bisa merasakannya, seperti mereka menari hanya sekedar menghafal.
Sophie merasa tertarik dengan ini dan bangkit duduk untuk mengamati. Gerakkan yang dibuat oleh mereka entah sangat melelahkan untuk di lihat atau malah terasa tidak indah baginya.
Disaat inilah, dia mengerti mengapa Ava selalu mengoreksi gerakannya dan memintanya untuk berlatih menari ribuan kali sambil melihat cermin. Karena gerakkan tari bisa berbeda tergantung pada bagaimana seseorang mengeksekusinya.
Sophie mengamati dengan serius tetapi kemudian dia menemukan bahwa ruangan semakin ramai dan agak tidak nyaman, jadi dia pergi ke luar dan duduk di bangku di luar ruang latihan sambil menunggu Ava.
Ruangan latihan dari kelas lain berada di dekat ruangan latihannya adalah kelas C, sementara yang lain hanya berbeda lantai. Di bagian atas bisa di lihat ruangan latihan kelas A, sementara di bawah ada ruang latihan D dan F. Juga ada ruang latihan khusus untuk vokal yang cukup banyak di masing-masing lantainya.
Hari semakin malam, tapi sepertinya peserta trainee tidak berniat untuk tidur dan malah ruang latihan semakin ramai dan diisi oleh peserta yang fokus menari.
Ketika Ava kembali dia melihat Sophie duduk di luar sambil mengamati keadaan di kelas-kelas lainnya. “Kenapa tidak lanjut latihan ?” tanya Ava heran.
“Keadaan agak ramai di dalam.” kata Sophie. “Haruskah kita mencari tempat lain untuk berlatih ?”
Ava mengintip ruang latihan kelas B dan memang keadaan agak ramai. Lalu dia kembali melihat ke lorong yang agak sepi. “Kita latihan disini.” kata Ava dengan cepat.
Sophie menatap lorong yang agak sepi karena semua orang sibuk berlatih di lain tempat. Tapi dia kemudian mengangguk lalu berdiri dan mulai menari sambil menyanyi.
Ava berdiri di hadapannya dan ikut menari sambil bernyanyi juga tapi matanya tidak pernah lepas dari Sophie. Begitu satu tarian selesai, Sophie terengah sementara Ava tidak begitu.
“Kamu sudah hafal koreografi yang ada, sekarang kamu harus bisa menemukan cara agar kamu tidak terengah saat bernyanyi.” kata Ava kemudian menjelaskan bagian dari koreografi. “Pada bagian ini kamu harus mengurangi tenagamu agar kamu tidak kehabisan nafas sebelum waktunya.”
Ketika selesai, Sophie mencobanya tetapi masih agak sulit untuknya, suaranya masih agak tidak stabil.
Jadi Ava yang bisa menjadi keras dan berkata, “Lagi,”
“Lakukan lagi.”
“Lebih baik, tapi lakukan lagi. Temukan momen yang pas untuk dirimu.” kata Ava terus menerus.
Tanpa di sadar, seseorang dari menatap mereka berdua dengan rasa penasaran dan rasa kagum di saat bersamaan. Jadi begitu Sophie berhenti menari, dia memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Permisi.” panggilnya dengan ragu.
Ava yang kebetulan membelakanginya berbalik, berbalik dan melihat gadis yang memiliki wajah manis dengan kaos abu-abu dari kelas F. Dia berdiri dengan canggung menatap mereka berdua seolah ingin mengatakan sesuatu.
“Ya ?” tanya Sophie lebih dulu dengan wajah berkeringat.
“Bisakah aku ikut berlatih ?” tanyanya dengan ragu.
Sophie menatap Ava sebentar dan tidak mendapatkan tanggapan apapun. Jadi Sophie menyetujuinya dengan mudah. “Tentu saja.”
Sophie merangkul gadis yang memiliki wajah manis ini agar lebih dekat. Kebetulan Ava juga melihat namanya di label di bajunya. “Melody Anderson ?” gumamnya melihat namanya.
“Jadi berapa usiamu ?” tanya Sophie lebih dulu agar tidak salah memanggil orang.
“Tahun ini 17 tahun” jawab Melody dengan malu.
Ava duduk di samping dengan heran. “Apakah kelas F sangat ramai ?”
Melody mengangkat kepala dan bertemu tatapan Ava yang bingung. “Sebenarnya tidak, cukup banyak ruang di kelas F, hanya saja, semua orang agak frustasi dan suasana agak suram.”
“Apakah benar-benar ada ruangan yang cukup ?” tanya Ava penasaran.
Melody mengangguk,
Ava langsung berdiri. “Kalau begitu mari kita ke kelas F, agak sulit berlatih tanpa kaca.” kata Ava lalu memimpin kedua orang pergi ke kelas F.
Kelas F berada satu lantai di bawah kelas B. Dari pintu kaca, Ava bisa melihat bahwa kelas F agak sepi dan beberapa orang duduk bergerombol di sisi ruangan. Ava membuka pintu dan semua perhatian langsung tertuju padanya, baju biru kelas B-nya sangat menonjol di antara warna abu-abu di ruangan. Tatapan bingung para trainee di kelas F memandangnya dengan heran sampai Melody yang berjalan berdampingan dengan Sophie masuk ke ruangan.
Melihat tatapan tanda tanya dari murid lainnya, Melody akhirnya menjelaskan. “Aku meminta mereka untuk mengajariku.” katanya dengan suara pelan yang masih bisa terdengar oleh peserta lain.
Ava mengamati para peserta di kelas F yang beberapa sepertinya habis menangis karena frustasi. Dia meliriknya kecil lalu berbalik melihat ke kaca. “Mari kita mulai, karena kamu meminta kami untuk mengajarimu, aku tidak akan menerima keluhan karena lelah bahkan jika kamu memohon.” kata Ava dengan nada tenang.
Melody buru-buru mendekati Ava dan mulai menunjukkan tarian dan nyanyiannya. Melody agak tidak percaya diri dengan nyanyiannya dan terlihat ragu dengan gerakannya dan nyanyiannya.
Sophie juga mengamati dengan tenang dan segera menemukan apa yang salah. Begitu Melody selesai, Sophie menatap Ava dan mulai berkomentar.
“Kurasa lebih baik kita mulai dari koreografi.” kata Sophie setelah melihat Ava tidak berkomentar. “Aku akan mencontohkannya dengan perlahan, kamu cobalah untuk mengikuti.”
Melody mengangguk, lalu mengamati dengan mata lebar setiap gerakkan dan mencoba mengcopy gerakkan tersebut. Ava membagi setiap bagian dari koreografi dan mengulanginya beberapa kali.
__ADS_1
Ava masih mengamati dengan serius hingga akhirnya berdiri dan memberikan arahan secara langsung. “Gunakan tenaga di tanganmu saat melakukan gerakkan ini.” kata Ava mencontohkan. “Jika tenagamu tidak cukup, tanganmu akan terlihat terlalu lemas dan tidak bisa mengontrol gerakkanmu.”
“saat melompat ada cara khusus sehingga terlihat cantik, majukan kakimu seperti ini dan mendarat dengan kaki lain di belakang.” Ava mencontohkan beberapa gerakkan dan memberi saran yang jelas. “Bagus, lakukan lagi.”
“Sophie, jangan bergerak terlalu lebar atau sempit.”
Ketiganya berlatih dengan Ava yang selalu mengoreksi gerakkan mereka. Para trainee yang sebelumnya berkumpul mengawasi dan mendengarkan perkataan Ava yang terus mengkritik dengan hati gatal. Mereka melihatnya secara langsung dan menemukan Melody semakin membaik.
Akhirnya mereka tidak bisa menahan diri dan berdiri untuk kembali berlatih, beberapa bahkan berdiri di belakang Melody dan Sophie agar bisa melihat dengan jelas latihan keduanya.
“Bagus! Mari kita lakukan aturan lama.” kata Ava dan malah membuat Melody bingung dengan maksudnya.
Melody menatap Sophie dengan bingung. Sophie menatap Melody dengan rasa kasihan. “10x tanpa kesalahan dan kita akan dibebaskan, satu kali kesalahan, ulangi dari awal.”
Melody menatap Sophie dengan mulut terbuka lalu menatap Ava dengan ngeri. Ava tidak peduli dan berniat menyalakan lagu iringan untuk mereka.
“mari kita mulai.” kata Ava dengan cepat begitu menyalakan lagu.
Iringan energik dan ceria dari theme song bergema di ruangan dan semua orang di ruangan mulai menari mengikuti iringan. Beberapa masih salah tetapi mereka terus melanjutkan tarian meski salah karena melihat Ava, Sophie dan Melody terus menari.
Begitu satu tarian selesai, Ava langsung mengatakan apa yang salah.
“Sophie sepertinya nada tinggimu masih harus dilatih lagi. Melody, gerakkan tanganmu masih ada yang salah. Ulangi lagi.” kata Ava sambil menyiapkan speaker dan bersiap menyalakannya.
Melody menatap Sophie dengan kaget tetapi begitu iringan dinyalakan, mereka langsung bersiap lagi dan mulai menari lagi. Para peserta kelas F lainnya juga agak bingung tetapi mereka juga langsung bersiap saat lagu dinyalakan kembali.
Mereka menari sepanjang malam diiringi kritikan Ava dan kata ‘Ulangi Lagi’. Entah berapa lama mereka terus menari tetapi para peserta lain mulai merasa kelelahan dan akhirnya duduk di belakang untuk beristirahat sebelum bergabung lagi.
Melody sendiri juga merasa lelah dan mulai menatap Ava dengan penuh keinginan untuk beristirahat. Akhirnya Sophie dan Melody hanya bisa melakukan tiga kali tanpa kesalahan sebelum akhirnya di ulang kembali ke awal.
Tapi begitu Ava bilang untuk ‘Ulangi Lagi’, Sophie menjadi orang yang tergeletak di lantai sambil nafas terengah. Ava kemudian menatap Melody yang juga sudah menunjukkan wajah kosong. Jadi Ava memandang para peserta lain yang juga menatap dengan wajah kosong dengan rasa bersalah.
“15 menit istirahat.” kata Ava yang membawa angin segar bagi semua orang.
Melody juga langsung ambruk ke tanah dengan rasa lelah. Di saat semua orang menggerang lelah, Ava masih berdiri dan meminum air dari botol sambil memutar sendi kakinya.
Melody yang melihat stamina Ava sangat baik tidak bisa tidak memuji. “Tidakkan kamu lelah ?” tanyanya dengan memelas.
Ava memandang dan menggelengkan kepala. Ava sudah biasa bekerja dengan intensitas tinggi jadi dia tidak merasa masalah apapun.
Melihatnya, tiba-tiba seorang gadis trainee berambut panjang datang mendekati Ava dengan berani dan bertanya, “Aku memiliki masalah dengan nyanyianku, apakah ada cara untuk bisa mengatasinya ?” tanyanya.
Ava langsung menoleh dan menatap sebentar. “Coba nyanyikan.” kata Ava singkat.
Gadis ini memegang kertas musik dan mulai menyanyikan lagu dengan caranya. Ava langsung mengerutkan kening mendengar nyanyian pertama. “Oke cukup.” kata Ava menghentikannya. Gadis ini agak merasa gugup sambil menunggu respon Ava.
“Kamu bernyanyi dengan suara hidung.” kata Ava secara langsung. “Ini menyebabkan kamu tidak bisa mengontrol suaramu. Sekarang berbaring.”
Ava meminta gadis itu berbaring dan mengambil posisi seperti akan melatih otot perut. tetapi dengan badan berada di sudut 45 derajat. “tahan badanmu dan coba keluarkan suaramu.” kata Ava secara langsung.
“Aaaa….” suara gadis itu terdengar lebih tebal dari sebelumnya.
“Oke cukup, sekarang duduk dan coba nyanyikan seperti kamu mengeluarkan suaramu sebelumnya.” kata Ava memberikan kertas suara kembali ke gadis tersebut.
Gadis ini kemudian duduk bersila dan mulai menyanyi tetapi kali ini suaranya lebih stabil dan dia terlihat lebih nyaman dalam menyanyikannya. Gadis ini juga kaget sendiri karena dia bisa menyanyikannya dengan lancar meski agak salah nada. Tapi dia sangat senang dengan perkembangan tiba-tiba dirinya kali ini.
“Kuncinya adalah bernyanyi dengan suara aslimu, memang untuk nada tinggi akan sulit untuk dicapai, karena butuh proses. Selama kamu bisa menyanyikan lagu ini dengan stabil seharusnya tidak bisa mencapai nada tinggi bisa ditoleransi.” kata Ava memberikan sarannya.
“Lalu bagaimana kita bisa bernyanyi dengan stabil ?” tanya gadis lain dari belakang Ava. Ketika Ava berbalik, dia mengenali wajah gadis ini, sepertinya teman sekamarnya.
“Cara termudah adalah dengan bernyanyi sambil menari, atau dengan berlari.” jawab Ava.
Crystal yang menanyakan mengerutkan keningnya, “Aku sudah melakukannya, tapi kenapa sangat sulit ?”
Ava menatap Sophie dan memintanya menunjukkan maksudnya. Sophie berdiri lalu mulai menari dengan ringan sambil menyanyi dengan bersih.
“Saat kamu melakukannya, jangan hanya bergerak, tetapi kamu juga harus menemukan cara untuk mengatur nafasmu.” kata Ava menjelaskan sambil menatap Sophie. “Jangan hanya melakukannya sekali. Karena ini juga bagian dari kebiasaan. Sophie tanganmu!”
Sophie yang sedang menari agar terkejut mendengar Ava memintanya membenarkan tangannya. Tetapi terus menari hingga selesai. “Kalau dari aku, menari tidak perlu banyak usaha selama kamu bisa membuat gerakanmu bersih dan akurat. Jika gerakkanmu lebih ringan, akan lebih mudah untuk bernyanyi dengan santai.”
Crystal mengangguk mengerti dan mulai mencobanya. “Bisakah kamu memberikan sedikit saran ?” tanya Crystal pada Ava yang masih duduk di lantai.
Sophie menatap Crystal dengan kaget. “Kamu yakin ? Ava sangat jujur, jadi jangan menangis jika komentarnya agak menyakitkan.”
Crystal kembali melirik Ava yang sebelumnya dia kira sebagai orang yang introvert tetapi dia lebih seperti orang yang serius. Crystal sebelumnya telah melihat Melody berkembang pesat dibawah bimbingan Ava jadi dia berniat mencobanya. Jadi meski sudah diperingatkan, dia mengangguk setuju.
Ava menyalakan lagu theme song dan meminta Crystal untuk menarikan keseluruhan koreografinya. Gerakkan Crystal agak berkarat tetapi dia hafal dengan keseluruhan koreografinya.Vokalnya masih agak tidak stabil tetapi dia menekankan nada dengan akurat. Selain itu hal yang mengejutkan adalah dia berhasil menyentuh nada tinggi dengan mudah tetapi masih agak bergetar.
Ketika Cyrstal selesai menari dan sedang mengatur nafasnya, Ava menatap Sophie lalu kembali menatap Crystal dengan anggukan kecil.
“Kamu perlu lebih banyak latihan, cobalah untuk menarikan lagu ini dengan lambat untuk menemukan perasaan sendiri dalam setiap gerakannya. Itu akan membantu dalam kekakuanmu. Untuk Vokal, kamu perlu banyak menyanyi sambil menari untuk bisa membuatnya menjadi stabil.” komentar Ava yang tanpa di duga cukup bagus.
Crystal seperti melihat harapan baru dengan komentar Ava. Wajahnya yang suram tiba-tiba bersinar dan senyum senang terlintas di wajahnya.
“Jangan senang dulu, beberapa gerakkanmu masih salah tadi, jika kamu mau lebih efisien, hari ini kamu harus bisa menghafal setidaknya semua koreografinya atau lirik lagu.” kata Ava setelah melihat senyum senang Crystal.
Tapi perkataan itu tidak membuat Crystal menjadi patah semangat dan malah menjadi lebih bersemangat.
“Kamu juga Melody” kata Ava gantian menatap Melody yang menatap dengan takjub pada Ava. Melody menelan air liurnya merasa agak takut. “Aku rasa waktu istirahat sudah selesai, mari kita latihan lagi. Tidak akan ada yang bisa tidur sebelum menghafal semua koreografi jadi mari kita bekerja keras.”
Melody dan Sophie langsung bangkit berdiri lagi dan mulai bergerak begitu lagu iringan dibunyikan, Ava kali ini berdiri memunggungi semuanya dan menatap gerakkan keduanya melalui kaca beserta Crystal yang mengikuti di belakang mereka untuk mencoba. Ava terus mengatakan kata ‘Lagi, Ulangi, Lagi’ terus menerus.
Sisa peserta F lainnya awalnya juga bersemangat dan mengikuti latihan, tapi setelah beberapa jam, mereka akhirnya menyerah dan pergi keluar dari ruang latihan. Ava tidak begitu ambil pusing dan terus meminta ketiganya mencoba lagi dan lagi. Ava juga terus menari bersama mereka dan tidak mengenal lelah bahkan dengan wajahnya yang terus mengucurkan keringat. Hingga akhirnya ketika mereka berhasil menyelesaikannya tanpa adanya kesalahan dan terdiam sebentar untuk berpose. Mereka menatap Ava dengan gugup dan takut dia meminta mereka untuk mengulanginya lagi.
“Baik mari kita akhiri latihan hari ini.” kata Ava memberikan pembebasan kepada ketiga orang yang menari bersama dengannya. Sontak mereka langsung menggerang lelah dengan cara yang berbeda.
“Ah! Lelah sekali.” keluh Sophie sambil menjatuhkan dirinya di lantai.
Melody menunduk sambil terengah. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya menatap dengan kepala kosong. Crystal juga sudah membaringkan diri di lantai dengan rasa lelah. Dia merasakan tubuhnya seperti tidak memiliki tulang sehingga sangat lemas.
Ava sendiri juga duduk bersandar di kaca sambil melihat ketiga orang terakhir yang berlatih dengannya. Seharusnya latihan kali ini cukup, besok masih ada latihan dengan para pelatih sehingga perlu adanya keseimbangan antara latihan dengan istirahat sehingga tidak akan jatuh sakit.
“Kembalilah ke asrama dan tidur.” kata Ava lalu berdiri dan membantu mereka untuk bangun dan kembali ke asrama.
__ADS_1
-