LuckyONe

LuckyONe
Chapter 12: The Last Team


__ADS_3

Keesokan harinya, Semua trainee dikumpulkan di sebuah aula besar dalam kondisi berbaris sesuai kelas mereka. Vivian yang sebelumnya menjadi center berdiri di tengah dan paling depan barisan.


Para trainee saling berbincang satu sama lain sebelum tiba-tiba pintu di aula terbuka dan Keegan masuk kedalam ruangan dengan langkah elegan. Semua trainee bertepuk tangan semangat menyambutnya memasuki ruangan.


Keegan mengambil tempat di tengah aula dan memegang mic dan kertas di kedua tangannya. “Hallo trainee semua. Bagaimana kabar kalian ?” tanya Keegan dengan tenang dan menyapu semua trainee yang ada di ruangan dan berhenti menatap Ava sebentar sebelum kembali menatap semua trainee lagi.


“Baik!” teriak para trainee bersamaan.


“Baguslah jika begitu, karena hari ini aku harus mengumumkan misi baru untuk berikutnya. Dengan misi ini, apakah kalian akan di eliminasi atau tidak, bergantung dengan kinerja kalian di misi ini.” Kata Keegan lalu membaca kartu di tangannya. “Misi kali ini akan disebut dengan Battle Group!”


Keegan tampak berhenti sebentar dan memberikan jeda untuk para trainee merespon. Tentu saja misi baru ini membuat semua orang menjadi berbisik satu sama lain dengan antusias.


“Kalian akan di bagi menjadi total 16 tim dan akan dievaluasi sebagai tim. Ada total delapan lagu yang merupakan setengah dari total jumlah tim. Itu artinya dua tim akan bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik dengan total 1.000 suara tambahan sebagai hadiah.” Keegan mengumumkan bagaimana jalannya misi kali ini. “Produser Nasional akan mengevaluasi kalian berdasarkan misi kali ini dan hasilnya hanya peringkat 1 hingga 58 yang akan bertahan. Sisanya akan di pulangkan.”


Semua orang menjadi tegang mendengar hampir setengah dari peserta trainee akan di pulangkan. Para trainee bertekad untuk berusaha sebaik mungkin dalam misi kali ini.


“Sekarang mari kita lihat lagu yang akan menjadi misi kalian.” Keegan bergeser sedikit dan kain besar di belakangnya jatuh begitu saja. Ada total delapan lagu yang ditunjukkan dan ada dua papan untuk setiap lagunya. Itu artinya mereka harus bertarung untuk lagu yang mereka inginkan.


Ava yang berdiri di ujung kelas A melihat lagu-lagu yang berada di papan dengan alis berkerut. Dia mengenali dua lagu yang merupakan ciptaannya, kedua lagu ini dinyanyikan oleh anggota girlgroup dan sangat populer saat perilisannya.


Sisa keenam lagu dia tidak benar-benar tau, mungkin dia pernah dengar tetapi tidak mengerti lagu-lagu itu sepenuhnya.


Sementara para trainee lainnya bersemangat tentang lagu-lagu yang bisa mereka bawakan kali ini. Keegan akhirnya menenangkan para trainee sebelum kembali berkata.


“Orang yang berhak untuk memilih anggota tim akan dipilih melalui undian acak.” Keegan kemudian menyambut seorang staff yang membawa keluar alat lotre yang memiliki nama semua trainee di dalamnya.


Tentu saja semua orang lega karena memiliki kesempatan yang sama untuk bisa memiliki tim mereka sendiri jika terpilih lewat lotre. Karena itu bisa dibilang pemilihan tim kali ini bisa dibilang sangat adil bahwa mereka yang berada di kelas F memiliki kesempatan untuk memilih.


Keegan tersenyum kecil melihat semua orang di ruangan merasa bahagia. “Tapi orang pertama yang bisa memilih timnya adalah Center kita dalam theme song sebelumnya.”


Sontak semua orang di ruangan langsung melihat Vivian dengan tatapan iri, tentu saja sudah menjadi keuntungan tersendiri untuk seorang center bisa mendapatkan kesempatan untuk memilih di tempat pertama.


Keegan memberikan tanda untuk Vivian bisa maju ke depan dan memilih anggota kelompoknya sendiri. Vivian maju ke depan dengan wajah penuh senyum lebar.


Keegan memberikan mic lain kepada Vivian sehingga dia bisa memilih. “Silahkan pilih anggota tim mu.”


Begitu memegang mic, Vivian berbalik dan menatap teman trainee lainnya dengan mata memindai. “Trainee pertama, Denise Field  dari kelas A.”


Denise yang dipanggil langsung tersenyum dan maju menghampiri Vivian di depan. Banyak trainee tidak terkejut, karena keduanya adalah teman satu agensi, jadi saat terpilih, bukanlah hal yang aneh.


Vivian menatap Denise dengan senyum senang sebelum kembali menyebutkan siapa yang akan menjadi anggota tim mereka yang kedua. “anggota kedua, Katty Baron.” Seorang gadis cantik lainnya yang berasal dari kamar yang sama dengan Vivian.


“Hami Emerson,”


“Lily Carter.”


“Charlotte Issac.”


Ketika Vivian selesai menyebutkan nama trainee yang dia inginkan, senyum rasa puas tersinggung di wajahnya. Sementara trainee lainnya yang menonton hanya bisa mendesah panjang karena merasa tim yang dipilih Vivian sangat kuat dan terlihat cantik secara visual. Meski tidak secantik Ava, tapi mereka terlihat sangat menarik dan memiliki aura tersendiri.


Karena sudah selesai, Keegan mempersilahkan Vivian untuk memencet tombol alat lotre sehingga trainee yang bisa memilih selanjutnya bisa di pilih.


Semua trainee yang tersisa diam-diam mengatupkan kedua tangan mereka berharap bisa terpilih. Vivian memencet tombol dan alat lotre mengeluarkan salah satu nama trainee berikutnya yang beruntung.


Proses ini agak membosankan bagi Ava, dia tidak benar-benar tertarik untuk memilih atau terpilih, baginya bersama siapa dia akan satu tim nantinya tidak begitu penting. Karena kekurangan setiap orang bisa diperbaiki selama mereka memiliki keinginan untuk berkembang.


Esme bahkan melamun saat semua orang menjadi bersemangat dengan proses pemilihan, ketika dia tersadar dari lamunannya, sudah tidak ada orang di samping atau sekitarnya.


“Sisa peserta trainee terakhir akan menjadi satu tim.” kata Keegan melihat enam orang terakhir yang masih berbaris. Sejujurnya dia sendiri agak terkejut melihat Ava masih berdiri di barisan dan tidak dipilih oleh trainee lainnya sementara skillnya sendiri cukup bagus.


Ava berbalik dan menemukan dirinya tinggal bersama dengan 5 trainee lainnya yang berasal dari kelas C,D, dan F. Dia adalah satu-satunya yang berasal dari kelas A.


Keenamnya berkumpul berbaris bersama dengan trainee lainnya. Keegan kemudian memberikan waktu bagi setiap tim untuk berdiskusi mengenai lagu apa yang mereka inginkan.


Setiap kelompok membuat lingkaran dan berdiskusi satu sama lain, termasuk kelompok Ava. Seorang dari kelompok Ava, dari kelas Clarence yang berada di kamar yang sama dengan Vivian memilih untuk menjadi pemimpin dan mulai mengatur tim.


“Bagaimana kalau kita memilih lagu Boss, atau Drip sepertinya bagus.” Clarence menyarankan lagu yang kira-kira cocok untuk mereka.


“Aku setuju, kelompok kita lebih banyak rapper. Akan lebih baik mengambil lagu seperti ini.” Ellie yang seorang rapper tentu saja setuju dengan hal tersebut.


Kelompok mereka memiliki setidaknya empat rapper yang mana bisa membantu jika mereka memiliki lagu yang banyak memiliki rap.


Ava sendiri hanya diam dan mendengarkan mereka berkomunikasi mengenai lagu apa yang ingin mereka pilih. Dia tidak benar-benar tau lagu-lagu ini, tapi jika memang dilihat dari komposisi kelompok akan lebih baik jika mereka memilih lagu yang memiliki banyak rap.


Semua orang di kelompok setuju untuk memilih antara kedua lagu ini setelah berdiskusi dan mereka juga memilih Clarence yang mengajukan diri untuk menjadi pihak yang memilih lagu dengan berlari.


Ava tidak berkata banyak dan mengikuti timnya dan berbaris paling akhir saat mereka harus kembali berbaris. Orang yang dipilih untuk berlari mencari lagu yang mereka inginkan.


Keegan berdiri di sisi samping dengan peluit, sementara para trainee yang akan berlari berbaris menjadi satu baris bersiap untuk lari.


“Semuanya bersiap,” Keegan memberi aba-aba agar para trainee bersiap, lalu meniup peluitnya hingga para trainee langsung berlarian mengambil papan dan berbalik mengembalikannya ke papan lain di seberang.


Sementara para trainee lainnya yang menonton bertepuk tangan dan berteriak dengan keras untuk menyemangati. Terjadi sedikit pertarungan karena mereka yang terlambat tidak ingin menyerah dan terus bertahan di papan.


Tetapi Keegan kemudian meniupkan peluit dan para trainee akhirnya menyerah, untuk mereka yang berhasil menancapkan papan mereka tentu saja merasa bahagia.

__ADS_1


Clarence juga merasa senang karena berhasil menancapkan papan lagu Boss ke papannya. Dia mendapatkan lagu yang mereka inginkan dan tidak perlu menunggu memilih lawan mereka.


“Karena setengah tim sudah berhasil mendapatkan lagu yang mereka inginkan maka, mereka yang berhasil mendapatkan lagu silahkan untuk memilih tim lawan mereka.” Keegan memisahkan antara tim yang sudah dan belum mendapatkan lagu untuk berdiri berhadapan. “Dimulai dari tim Vivian.”


Vivian sudah berdiskusi dengan teman setimnya dan memilih tim yang memiliki penampilan yang kurang cocok dengan lagu yang dipilih lagu mereka. Setelah itu, tim lain mulai memilih satu persatu tim lawan mereka.


Setelah selesai, Para tim diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pembagian lagu mereka.


Tim Ava juga berkerumun, memegang kertas lirik lagu dan stiker yang sudah diberikan oleh staff untuk menentukan siapa leader dan centernya.


Clarence menatap seluruh timnya termasuk Ava yang diam sedari tadi. “Sekarang kita bisa menentukan siapa leader dari tim.”


“Aku memilih Clarence.” kata Hailey menunjuk Clarence yang sedari tadi memang paling aktif memimpin mereka.


“Aku setuju, kamu paling aktif sedari tadi dan kurasa memang lebih baik jika kamu yang menjadi leader kita.” Leah menyetujui hal tersebut.


Mereka mau tidak mau mengangguk setuju termasuk Ava. Karena mereka setuju dengan hal tersebut, Stiker Leader di tempelkan pada Clarence.


Tentu saja dia menjadi senang akan hal tersebut, karena memang menjadi Leader akan memiliki banyak waktu disorot.


“Kalau begitu, mari kita memilih center.” kata Clarence mengumumkan pemilihan berikutnya.


Ava mengangkat tangannya secara tiba-tiba dan membuat semua orang menjadi kaget karenanya.


“Kamu ingin menjadi center ?” tanya Clarence kaget.


Ava menggelengkan kepala pelan. “Bisakah kita mendengarkan lagunya terlebih dulu.”


Tiba-tiba suasana menjadi tenang karena permintaan Ava. Mereka tidak pernah menyangka Ava akan meminta untuk memainkan lagu terlebih dulu.


Leah mengerutkan keningnya dan melihat Ava dengan ragu. “Apakah kamu tidak tau soal lagu ini ?”


Ava menggelengkan kepala dengan tatapan polos.


Anggota tim menjadi terperangah mendengar Ava tidak pernah mendengarkan lagu ini. Padahal lagu ini adalah lagu yang sangat terkenal dan bahkan mereka bisa nyanyikan hanya dengan sekali dengar.


Melihat reaksi teman setimnya, Ava menggaruk kepala dengan tidak enak. “Aku tidak banyak mendengarkan lagu.” ucap Ava dengan pelan dan tidak enak.


“Baiklah… mari kita dengar dulu lagu ini.” Clarence akhirnya memutuskan dengan memutar lagu terlebih dulu beserta dengan videonya.


Ava memperhatikan tab berisi koreografi dan lagu dari lagu yang mereka akan tampilkan. Lagu ini memiliki suara bass yang jelas dan memiliki gaya yang sangat kuat dan keren. Hampir setengah dari lagu adalah rap yang memang cocok untuk mereka. Tetapi masalahnya adalah koreografi untuk lagu ini agak sulit dan banyak gerakkan yang harus dikerjakan secara selaras jika tidak ingin terlihat kacau.


Selain itu, lagu ini juga memiliki vokal yang cukup sulit dengan nada tinggi yang harus dieksekusi bersamaan dengan tarian yang cukup sulit. Tidak banyak waktu istirahat dalam gerakkan lagu ini dan harus terus bergerak yang mungkin akan menyulitkan mereka yang tidak memiliki vokal yang stabil.


Clarence menatap Ava yang memang tidak banyak bicara dan hanya berkata secukupnya. Dia agak merasa bahwa apa yang dikatakan Vivian agak tidak sesuai dengan Ava yang dia lihat sekarang. Ava memang terkesan dingin tetapi dia lebih seperti orang yang pendiam.


“Kalau begitu mari kita pilih centernya,” kata Clarence kembali menatap seluruh timnya.


Tim saling menatap satu sama lain dengan ragu. Tentu saja mereka ingin menjadi center tetapi mereka ragu-ragu. Mereka juga melirik Ava yang sibuk membaca kertas lirik dan tidak tertarik dengan pemilihan center.


Leah mengangkat tangannya dengan ragu. “Aku ingin mencoba menjadi center.”


“Sebenarnya aku juga ingin mencobanya.” kata Scarlett sambil mengangkat tangannya.


Clarence juga mengangkat tangannya, dia merasa bahwa ini kesempatan untuk lebih bersinar. Tapi yang mengherankan adalah Ava tidak mengangkat tangannya untuk mencalonkan dirinya untuk menjadi center.


“Apakah ada lagi yang ingin menjadi center ?” tanya Clarence pada teman setimnya dan sepertinya hanya mereka bertiga karena tidak ada lagi yang mengangkat tangan. “Lalu sekarang bagaimana jika kita mencoba bagian killing part untuk menentukannya ?”


Sisanya yang tidak ingin menjadi center, akan memilih mereka yang menjadi kandidat dengan memberikan suara. Ava meletakkan kertas liriknya dan memperhatikan kandidat yang akan menjadi calon center.


Pertama Leah menunjukkan bagaimana dia akan mengeksekusi killing part tersebut dengan memberikan tatapan seksi yang menggigit bibirnya sedikit untuk memberikan kesan lebih.


Anggota setim mau tidak mau tersenyum geli melihat Leah menunjukkan gaya seperti itu. Leah sendiri merasakan rasa geli di sekujur tubuhnya setelah melakukan gerakkan yang seksi.


Kemudian, Clarence yang berikutnya merasa agak tertekan karena Leah menunjukkan warna yang pas untuknya. Dia menarik nafas dan melakukan bagian yang sama seperti Leah tetapi dengan memberikan tatapan dingin.


Setelah itu, Scarlett yang terakhir memberikan penampilan keren dengan gestur kepalanya dan tatapan menantang siapapun yang menatapnya.


Ketiganya selesai menunjukkan penampilan mereka dan sisa anggota lainnya kemudian menggunakan vote untuk memilih siapa yang akan menjadi center kali ini. Hasilnya adalah Scarlett yang terpilih menjadi center atas vote seluruh anggota.


Selanjutnya mereka harus khawatirkan adalah pembagian lagu yang mereka nyanyikan nantinya.


“Karena sebagian besar dari kita adalah rapper, kurasa bagian rapper tidak sulit untuk kita.”


“Masalahnya adalah bagian vokalnya juga agak sulit.” kata Scarlett. “Sejujurnya aku mungkin tidak akan bisa menyentuh high note disini”


“Itu artinya hanya Ava dan Ellie yang mungkin bisa.” Clarence menatap keduanya dengan tatapan bertanya. “bisakah kalian coba ?”


Ava dan Ellie sendiri bertatapan lalu Ava memberikan tanda agar Ellie mencoba lebih dulu. Ellie mengangguk dan mencoba menyanyikan bagian vokal tetapi ketika mencoba menyanyikan bagian tertinggi suaranya agak pecah. Ellie mencobanya lagi tapi memang suaranya agak kurang stabil.


“Kalau begitu bisakah kamu, Ava ?” Clarence akhirnya meminta Ava untuk mencobanya.


Ava mengangguk dan mencoba menyanyikan bagian yang sama dengan Ellie dan sangat stabil. Tentu saja ini membuat yang lain mengangguk puas karena akhirnya ada vokal yang kuat di tim.


“Bagus sekali, kamu jadi Main vocal.” Clarence berkata dan langsung disetujui oleh semua orang di tim.

__ADS_1


Ava menatap teman setimnya yang melihatnya seperti mendapatkan harta karun. Mereka tidak pernah menyangka Ava memiliki vokal yang stabil, sepertinya dia berada di kelas A bukanlah tanpa alasan.


Setelah berhasil membagi seluruh part, mereka akhirnya mulai melihat video koreografi. Clarence yang merupakan leader tidak bisa tidak menggaruk kepala saat melihat video koreografi. Dia sendiri buruk dengan koreografi sehingga agak sulit untuknya memandu anggota tim lainnya.


Jadi Clarence meminta anggota tim untuk menonton dan mengamati koreografi terlebih dulu sebelum mereka mulai berlatih. Ava mengamati dari belakang dan melihat baik-baik koreografi di video. Kali kedua dia melihat jauh lebih mudah baginya karena bisa lebih mudah menghafal. Semua orang fokus melihat gerakkan di video hingga habis.


Setelah itu, mereka merenggang kembali dan Ava mundur untuk mencoba beberapa gerakkan detail yang dia lihat tadi di koreografi secara lambat.


Clarence berdiri dan menginstruksikan para anggota untuk berbaris, lalu mereka akan memulai berlatih koreo. Clarence memegang tab dengan perasaan gugup karena tidak bisa berfikir jernih untuk melatih para anggotanya.


Ava berdiri di posisinya setelah melihat dari video koreografi sebelumnya, dia bersiap menunggu Clarence memberikan instruksi untuk mereka.


Pertama-tama, Clarence menunjukkan posisi semua orang terlebih dulu, lalu melakukan gerakkan awal yang mereka lihat di video. Tetapi masalahnya adalah gerakkan yang ditunjukkan Clarence tidak akurat dan dia kesulitan mengikuti. Meski progress mereka sangat lambat tetapi rekan setimnya sangat sabar dalam hal ini.


Ava di sisi lain juga harus mengikuti cara dan pergerakkan teman setimnya yang lambat. Mereka bahkan masih bergerak sangat berantakan hingga waktu makan siang.


Saat makan siang berlangsung, Sophie mendekati Ava dengan rasa khawatir. “Apakah tim-mu baik-baik saja ?”


Ava yang sedang mengunyah makanannya mengangguk dan memberikan tatapan santai tanpa tekanan. “Kenapa ?”


Sophie meletakkan nampan makannya dengan rasa khawatir di wajahnya. “Sebenarnya rumor yang kemarin membuatmu tidak dipilih kali ini.”


“Benarkah ?” tanya Ava tanpa banyak bereaksi dan tetap makan dengan nyaman. “Tapi aku tidak mengalami masalah apapun di timku.”


“Benarkah ? Syukurlah jika begitu.” Sophie menghela nafas lega mendengar Ava tidak mengalami masalah apapun. “Anggota tim ku juga sangat baik, kami bergaul dengan akur dan kamu tau..” Sophie mendekati Ava sambil berkata pelan. “Aku mendapatkan lagumu.”


Senyum Ava mau tidak mau melebar mendengarnya. “Lakukan dengan baik, bersiap untuk evalusiku di akhir.”


Sophie terlihat bersemangat mendengarnya. “Aku berjanji akan melakukannya dengan baik.”


Ava hanya bisa tersenyum dan menyuruh Sophie untuk makan sebelum dia kembali makan. Ava menghabiskan makanannya dan pergi kembali ke ruang latihan yang sudah di sediakan untuk mereka.


Belum ada orang di ruangan latihan mereka karena yang lain masih pergi makan siang. Jadi Ava mengambil tab yang di letakkan di samping dan menyalakan lagu Boss terlebih dulu sebelum mencoba gerakkan koreografi yang dia ingat di kepalanya dan mencoba menjadi lebih akurat dalam gerakannya.


Karena belum ada orang, Ava tidak menahan dirinya dan mulai menarikan koreografi yang dia ingat dalam dua kali lihat sebelumnya. Gerakkan nya akurat dan terlihat sama seperti gerakkan dari lagu tersebut. Ava sangat serius hingga tidak menyadari bahwa ada orang yang menontonnya dari pintu masuk.


Ketika Ava selesai, baru sosok yang mengamati sejak tadi akhirnya bertepuk tangan dengan puas. Tentu saja Ava terkejut, dia berbalik dan menemukan Keegan berada di depan pintu mengamati.


“Sudah kuduga, kemampuanmu memang tinggi. Kenapa menahan diri ?” tanya Keegan memperhatikan Ava sambil melipat tangan didepan dadanya.


Ava otomatis membeku di tempat sambil menatap Keegan dengan gugup. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut dan hanya bisa terdiam.


Keegan sudah menduga bahwa Ava tidak akan bisa merespon apapun. Melihatnya selama beberapa kali, dia bisa melihat orang seperti apa Ava itu. Seorang yang tenang, tidak banyak berbicara, dan sangat low-profile.


“Aku sudah curiga melihatmu sejak awal. Levelmu cukup sama dengan seorang artis yang sudah berpengalaman cukup lama. Ternyata memang benar.” Keegan memuji Ava dengan sangat tinggi setelah melihatnya menari.


Ava mengatupkan tangannya menjadi satu karena semakin gugup. “Bisakah anda merahasiakan hal ini ?” tanya Ava pelan.


Keegan menaikkan alis dengan penuh tanda tanya. “Kenapa ? Bukankah merupakan keuntungan besar jika menunjukkan kemampuan aslimu ?”


“Sebenarnya ini alasan pribadi.” kata Ava dengan penuh rasa gugup.


Keegan terdiam sebentar dan mengamati Ava yang memang sepertinya berniat tetap menjadi low-profile sejak awal. “Baiklah, tapi aku berharap kamu melakukan yang terbaik dalam setiap misi.”


Ava mengangguk dengan cepat dan diam-diam berdoa agar Keegan segera pergi. Tapi sepertinya harapannya tidak benar-benar terjadi. Karena Keegan tetapi berada di ruang latihan sampai anggota timnya datang dengan rasa terkejut.


Mengawasi dengan rasa takut jika kemampuannya di bongkar, Ava berusaha mengurangi rasa keberadaannya di paling ujung dan mengikuti Clarence yang mencoba membimbing seluruh tim menghafal koreografi.


Dengan keberadaan Keegan sebenarnya membuat Clarence senang dan gugup karena merasa diawasi. Dia takut jika ada sesuatu yang salah, Keegan mungkin akan mengkritik mereka dengan keras.


Keegan duduk di samping dan memperhatikan tim Ava berlatih dengan sangat lambat. Entah kenapa dia merasa sangat frustasi dengan kemajuan tim mereka. “Apakah kalian berniat terus berlatih dalam kecepatan ini ?”


Clarence dan semua anggota tim terdiam mendengar Keegan bertanya dari samping. Sebagai Leader, Clarence menjadi gugup, tetapi tidak tahu apa yang perlu dilakukan, jadi dia hanya bisa membungkuk meminta maaf kepada Keegan.


“Tidak perlu meminta maaf denganku. Awalnya aku tidak ingin berkomentar banyak tentang latihan kalian tapi kemajuan latihan kalian sangat lambat. Aku tidak yakin dalam dua hari kalian akan bisa di sepenuhnya menghafal koreografi ini.” Keegan akhirnya berkomentar dan menjelaskan maksudnya.


“Maafkan aku, tapi memang aku agak lemah dalam koreografi.” kata Clarence menjelaskan.


“Kalau begitu bukankah kamu seharusnya bertanya pada anggota lain. Apakah ada diantara mereka yang memang pintar dalam urusan koreografi ?”


Clarence otomatis memindai anggota timnya, berusaha mencari siapa yang bisa dimintai tolong untuk mengatasi masalah mereka.


Melihat masih tidak ada reaksi dari tim, Keegan mendesah panjang dan menatap langsung pada Ava yang menghindari tatapannya. “Anggota tim mu yang itu, dia sangat pintar dalam koreografi kan ? Dia bahkan hampir menjadi center dalam theme song sebelumnya.”


Clarence langsung menatap Ava begitu Keegan mengatakan hal itu. Dia juga tiba-tiba teringat bahwa memang Ava sangat mulus saat menunjukkan kemampuannya. Jika memang bisa membantu tim, kenapa dia tidak membiarkan Ava untuk mengajari mereka.


Ava yang sedang di bicarakan hanya bisa menunduk dan menghindari semua tatapan yang diarahkan padanya. Dia tidak menyangka Keegan akan mengeksposnya seperti ini, perasaan sedih terlintas di hatinya.


Setelah menata hati, Ava akhirnya mengangkat kepala dan menatap Clarence yang menunggunya bereaksi. Kemudian dia menatap Keegan yang menyinggung senyum kecil dengan rasa puas.


Dengan helaan nafas, Ava akhirnya maju ke depan menghampiri Clarence dengan wajah tenang tetapi hati yang sedih. Clarence tentu saja dengan senang hati membiarkan Ava mengajari mereka.


Ava menatap kaca di depan dan melihat semua tim di belakangnya sebelum menghela nafas panjang lalu mulai berlatih.


“Mari kita mulai dari awal.” kata Ava setelah menenangkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2