
Teman-teman Ava hanya bisa terbeku dan menatap Ava dengan jengkel. Mereka diam-diam menepuk Ava dengan kesal. Serasa seperti berbicara dengan orang jenius tetapi terlalu malas melakukan sesuatu. Jadi mereka hanya diam-diam merasa iri tetapi tidak bisa berbuat banyak selain meminta Ava untuk mengajari mereka.
Sementara Ava sendiri hanya bisa menghela nafas karena menambah masalah untuk diri sendiri. Dia entah merasa tidak berdaya karena salah satu identitasnya terbongkar karena hal sepele. Hanya karena temannya mengenal orang lain yang lebih terkenal.
Pada akhirnya, Ava menjadi Dance Queen diantara para peserta trainee lainnya karena menguasai berbagai jenis tarian dan tidak ada yang memprotesnya.
Tapi mungkin Ava tidak tau, ada beberapa trainee yang menjadi jengkel karena merasa seharusnya mereka bisa menjadi seorang Dance Queen. Tetapi karena Ava, mereka tidak bisa mendapatkan title ini. Salah satunya Vivian yang pandai menari balet dan sudah menari sejak kecil. Sebelumnya dia juga membuat orang terpesona dengan tariannya tetapi kali ini dia gagal karena Ava menari dengan sangat baik. Diam-diam Vivian hanya bisa mengertak giginya dan bertekat untuk mengalahkan Ava di pertarungan babak berikutnya.
Karena penampilan Ava tadi, akhirnya dia menjadi sangat terkenal. Meja tempat dia makan kini menjadi ramai oleh para trainee lain. Ava yang pada dasarnya adalah orang yang cukup pendiam, jadi dia tidak menanggapi orang lain dan fokus pada makannya.
“Aku ingin tau dari mana kamu belajar tari seperti itu ?”
“Benar, teknikmu terlihat cukup mengagumkan. Tolong ajari aku.”
“Aku juga, tolong ajari aku juga nanti.”
Ava merasa lelah hanya mendengar orang-orang bertanya padanya tanpa akhir seperti sekarang. Begitu juga dengan teman sekamar Ava mereka menjadi jengkel karena mereka tidka bisa makan denang damai sekarang.
“Bisakah kalian berhenti ? Sangat tidak nyaman untuk kalian terus bertanya saat orang sedang makan.” kata Clarence berusaha membubarkan trainee-trainee yang terus menerus bertanya.
Trainee-trainee ini terdiam dan saling melihat satu sama lain dan melihat Ava sendiri yang sedari tadi kepalanya terkubur di nampan, sibuk makan. Di tegur seperti itu oleh orang lain membuat mereka hanya bisa menunduk malu dan pergi dalam diam.
“Hah… Akhirnya berhenti juga mereka.” kata Ellie mendesah lega karena akhirnya tenang.
“Sekarang aku menyadari kenapa kamu tidak ingin orang tau kamu jago menari. Merepotkan untuk menanggapi orang-orang yang terus meminta di ajari.” kata Hailey, dia awalnya juga ingin Ava memberinya beberapa saran tapi sekarang dia merasa tidak enak karena dia tampak seperti trainee-trainee tadi yang terus mendesak untuk meminta di ajari.
Ava akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat teman-teman sekamarnya yang sebelumnya sangat antusias menjadi melihatnya dengan kasihan. “Maaf membuat kalian tidak nyaman.” kata Ava meminta maaf. Dia juga tidak ingin hal ini terjadi, tapi apa boleh buat.
“Tidak masalah. Kami sendiri juga senang memiliki teman yang sangat jago menari. Mereka saja yang tidak tau malu dan malah membuat orang tidak nyaman.” Scarlett tidak ingin Ava malah menjauhi mereka karena tidak ingin mereka terganggu.
Ava mengamati temannya satu persatu lalu menundukkan kepala. “Terima kasih kalau begitu dan sekali lagi maaf.”
“Santai saja! Kami akan membantumu menyingkirkan orang-orang yang terus berdatangan padamu.” kata Leah dan di sambut anggukan antusias dari yang lain.
Ava hanya bisa tersenyum. Sejak saat itu, mereka menjadi lebih dekat satu sama lain tanpa sadar.
Begitu makan malam selesai, Ava kembali lebih awal ke asramanya dan pergi tidur lebih awal. Teman-teman sekamar Ava menjaga kamar dan menghentikan trainee lain yang ingin menemui dan menanyai Ava tentang tarian.
Sophie juga datang ke kamar Ava dengan raut khawatir. Tapi ketika dia melihat Ava sudah tidur, dia diam-diam menghela nafas lega.
“Ava tidak kenapa-kenapa kan ?” tanya Sophie khawatir pada taman sekamar Ava.
Mereka sontak menggengkan kepala bersamaan. Hailey mengamati Sophie yang terlihat sangat peduli dan dekat dengan Ava. Bisa sekilas dilihat bahwa Sophie sepertinya adalah teman baik Ava.
“Apakah kamu kenal baik dengan Ava ?” tanya Hailey.
Sophie hanya bisa mengangguk. “Kami bersahabat sejak lama.”
“Itu artinya, apakah kamu tau Ava punya kemampuan yang sangat bagus dalam tarian ?” tanya Ellie dengan suara kecil, tapi matanya masih sangat bersemangat.
Sophie diam sebentar dan akhirnya mengangguk dengan pasrah. “Aku hanya merasa bakatnya terbuat percuma jika dia tidak menunjukkannya ke dunia. Jadi aku membuatnya datang ke acara ini. Tapi sebenarnya dia tidak ingin datang, atau masuk ke lingkaran dunia hiburan. ”
“Kalau aku jadi kamu, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Ava terlalu berbakat menjadi idol.” kata Leah dengan sedikit cemburu tapi dia bersyukur bisa bertemu dengan Ava yang sabar mengajarinya.
Sophie merasa tersentuh ketika ada orang yang yang berfikiran sama dengannya. “Aku selalu berfikir keputusanku ini mungkin salah. Tapi aku juga senang saat melihat dia bersinar di atas panggung.”
Clarence menepuk pundak Sophie berusaha menghiburnya. “Keputusanmu mungkin tidak salah. Jika kamu tidak memintanya datang ke acara ini, mungkin kami akan melewatkan kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik.”
Hailey mengangguk setuju. “Aku setuju, meski metode Ava sedikit menyakitkan. Tapi aku merasa kemampuanku dalam menari telah meningkat beberapa poin. Selain itu, Ava mengajari kami fondasi awal dan tips menghafalkan koreografi.”
“Yah, tapi memang sangat menyakitkan.” Scarlett masih bisa mengingat rasa lelah yang dia alami saat berlatih dengan Ava.
Sophie tertawa pelan, lalu menunjukkan wajah sombongnya. “Kalian baru seminggu, Ava sudah menyiksaku sejak SMA. Aku dulunya gemuk dan Ava memaksaku untuk berlari untuk menurunkan berat badanku. Lebih buruk dari yang kalian alami.”
Mereka hanya bsia tertawa dalam penderitaan Sophie. Tapi akhirnya rasa khawatir itu hilang dan mereka menjadi teman baik. Sophie bergaul dengan sangat baik dan kepribadiannya sangat hidup. Dulu saat Ava masih di kamar asrama lama, dia sudah mengenal baik teman sekamar Ava. Kini dia mengenal teman sekamar sekaligus teman setim Ava dengan cepat.
Ava sendiri tidak tau apa yang terjadi di malam hari. Keesokan harinya dia bangun dan melakukan lari pagi sendiri seperti biasa tetapi ketika dia kembali dia mendengar suara lagu theme song mereka yang menyala memenuhi seluruh kamar hingga lorong.
Teman sekamar Ava sendiri mengerang jengkel tetapi diam-diam masih menarikannya seolah kerasukan. Mungkin karena mereka sudah menari berkali-kali jadi secara tidak sadar mereka akan menarikan lagu theme song ketika lagu di putar. Ava tidak ikut menari dan malah minum air menunggu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah satu menit, akhirnya suara perempuan terdengar.
“Kepada seluruh Trainee, berkumpul di Training Center dalam 10 menit! Sekali lagi, Kepada seluruh Trainee, berkumpul di Training Cneter dalam 10 menit!”
Ava langsung berdiri dan membangunkan teman sekamarnya yang masih berjuang antara tidur dan bangun. Setelah memastikan semua sudah bangun, Ava pergi ke Training center lebih dulu.
Sudah ada beberapa trainee yang berdiri di depan bangunan dengan wajah mengantuk dan mereka meutupi wajah mereka. Beberapa cameramen yang memegang kamera mengitari tempat tersebut juga siap menangkap wajah mengantuk dan kondisi paling murni dari setiap trainee yang ada. Sementar itu, Ava sendiri menjadi mencolok ketika dia datang, dengan kaos putih dan celana training, wajahnya tidak terlihat mengantuk dan malah terlihat energik dengan rambut diikat kuda kebelakang. Ava sudah berolah raga sehingga dia sudah lebih dari bangun.
__ADS_1
Setelah sepuluh menit, akhirnya trainee lain berkumpul di tempat tersebut. Mereka menunggu dengan sabar hingga seorang wanita yang mereka kenal datang dengan pakaian olah raga ketat dan terlihat sangat bugar. Wanita ini datang dan mengamati semua trainee telebih dulu sebelum menyapa semua orang dengan senyum.
“Halo semuanya” sapanya dengan senyum. “Selamat pagi.”
“Selamat pagi.” balas para trainee lain dengan suara keras.
“Perkenalkan, namaku Leona, pelatih kebugaran kalian. Kalian pasti harus tau, bahwa setiap idol perempuan selalu berharap memiliki tubuh yang indah terutama saat tampil di atas panggung. Jadi hari ini kita akan melakukan pelatih akan memulai menyiapkan program kebugaran untuk kalian.”
Diam-diam semua trainee menjadi tegang. Masalah berat badan adalah masalah yang sangat serius untuk seorang wanita terutama mereka yang berada di lingkaran hiburan. Bahkan beberapa di antara perusahaan meminta trainee mereka untuk mengurangi atau mengontrol berat mereka.
“Jadi sebelumnya, silahkan yang belum menggunakan pakaian yang layak, kembali ke kamar dan berganti, kenakan sepatu, dan pakaian yang nyaman untuk berkeringat. Waktu kalian 10 menit. Bagi yang sudah siap silahkan masuk.” Pelatih tersebut memimpin semua trainee yang sudah siap memasuki aula besar dimana ada dua asisten pelatih lain yang menunggu di sisi kanan dan krii dinding ruangan mengamati. Sementara trainee lain berlari kembali ke asrama untuk mengganti pakaian mereka.
Trainee yang hadir diminta untuk berbaris dan memberi jarak di setiap barisannya. Tidak lama kemudian, semua trainee hadir di ruangan dan berdiri memandang Leona pelatih mereka dengan gugup.
“Mari kita pemanasan dan melakukan stretching dulu.” Pelatih Leona menunjukkannya terlebih dulu dan Trainee yang hadir mengikuti secara bertahap. Hingga tingkat stretching mereka sampai di tahap membutuhkan kelenturan. Segera banyak trainee yang menggerang kkesakitan karena tidak lentur.
Ava sendiri memang tidak selentur itu tapi tubuhnya masih cukup bagus untuk melakukan stretching. Pelatih kebugaran dan asistennay berputar dan membantu trainee yang dirasa masih kurang dalam hal stretching. Tetapi belum mulai olahraga sudah banyak trainee yang merasa kelelahan.
Ketika pelatih selesai dengan stretching, dia kembali ke depan dan memimpin para trainee melakukan workout. Disini dimulailah segala erangan menahan kelelahan dan kesakitan karena harus berolahraga dalam intensitas cukup tinggi dan cepat.
Mulai dari squat, jumping jack, leg lift, push up, hingga plank. Semua jenis workout yang membakar kalori dalam setengah jam. Di akhir, Pelatih meminta semua trainee menahan selama mungkin posisi plank.
Tidak semua trainee kuat untuk melakukan plank, jadi hanya dalam beberapa detik banyak orang yang berjatuhan karena tidak kuat lagi menahan posisi tersebut. Semakin lama waktu berjalan, semakin banyak orang yang berjatuhan dan terakhir ada dua orang yang tersisa, yang satu tampak gemetar menahan diri agar bisa bertahan lebih lama, di sisi lain yang satu sangat stabil dan tidak terpengaruh sekitarnya saat para trainee lain berteriak menyemangati.
Akhirnya trainee yang gemetar tadi tidak kuat dan menyerah. Trainee terakhir menahan posisi plank dengan sangat stabil dan tidak mengatakan apapun hingga waktu lewat lebih dari lima menit dan pelatih memintanya untuk berhenti.
Ava yang dengan tenang melakukan plank terkejut karena dia akhirnya harus berhenti karena permintaan pelatih. Dia menatap sekelilingnya dan mendapati semua trainee menatapnya dengan terkejut dan penuh pujian. Dia segera mengalihkan tatapannya dan memperhatikan pelatih yang tersenyum penuh pujian padanya.
Setelah olahraga keras, pagi itu pelatih menatap trainee satu persatu dan akhirnya memisahkan mereka yang terlihat bugar dan mereka yang terlihat membutuhkan penyesuaian.
Para trainee yang bugar tidak mengerti niatan pelatih dan baru sadar ketika mereka bertemu lagi ke kantin untuk makan sarapan. Beberapa box berisi salad dan buah berjejer rapi di dekat area pengambilan makanan.
“Sepertinya mereka akan menjalani diet ketat setelah ini.” kata Clarence begitu melihat box berisi salad yang terlihat tidak menyenangkan.
“Aku bersyukur tidak makan banyak ketika pulang kemarin.” Ellie terlihat sangat senang karena bisa bebeas dari set menu makanan yang membosankan itu.
“Set menu diet itu tidak menyenangkan sama sekali. Aku merasa berubah menjadi kambing saat memakannya, tanpa emosi dan tanpa rasa sama sekali.” kata Leah menolak melihat set tersebut.
Sementara para trainee yang bugar dapat bebas makan tetapi menu mereka kali ini lebih sehat dan ringan. Untuk para trainee yang harus menjalani beberapa penyesuaian akhirnya harus memakan salad dengan dada ayam tanpa rasa dan tanpa mayones.
Sophie kebetulan yang terlihat chubby dan kekanakan tidak bisa lepas dari bagian penyesuaian ini. Meski Sophie tidak segemuk itu, tetapi pipinya yang chubby membuatnya harus memakan salad sayuran. Ketika melihat sayuran hijau segar dia merasa sedih dan membawa kotak tersebut mendekat pada Ava.
Ava yang sibuk makan mengangkat kepalanya dan menatap Sophie yang emnatapnya dengan sedih. “Kamu dapat salad sayuran juga ?”
Sophie mengangguk dan mulai bersikap manja pada Ava. “Aku merindukan makanan dietmu.. Aku tidak bisa makan benda hijau ini. Tidak ada rasanya sama sekali.”
Ava melirik isi box salad tersebut dan hanya tertawa geli. “Makan saja itu dulu, tidak ada cara untuk memasakkan hal lain. Jangan manja, dan makan saja.”
Sophie masih menatap Ava dengan sedih. “Tapi…”
“Makan Saja, anggap saja itu daging.” kata Ava dengan mudah.
Sophie mengerutkan keningnya dan akhirnya duduk di sebelah Ava dengan patuh makan salad miliknya. Ava dari waktu ke waktu mengawasi dan menatap Sophie dan kadang memberikan daging berbumbu miliknya untuk reward. Sophie tau Ava tidak akan tega dan akan memberinya beberapa daging berbumbu miliknya secara diam-diam.
Jadi Sophie makan dengan tenang dan tidak membuat masalah lain. Rasanya seperti perbedaan besar, dimana trainee lain akan merasa kesulitan untuk makan salad, sementara Sophie seperti mendapatkan dorongan dari Ava yang akan memberikannya daging saat dia makan dengan rajin.
Akhirnya setelah makan pagi, mereka di ijinkan untuk kembali ke asrama untuk mandi dan membersihkan tubuh sebelum kembali berkumpul di aula lagi. Kali ini staff telah menyiapkan game untuk para trainee mainkan hingga sore hari.
Berbagai jenis game di mainkan, mulai dari tebak lagu, hingga menggunakan lipstik pada lawan dengan mata tertutup, hingga menyampaikan sebuah kalimat hanya dengan membaca mulutnya. Intinya adalah hampir seluruh trainee sangat bersenang-senang dalam game hari itu.
Ava sendiri tidak ikut bermain dalam game dan hanya menonton dari samping dengan tenang merasakan kebahagiaan semua trainee yang ada.
Di malam, hari ketika mereka selesai makan malam, mereka di kumpulkan di sebuah aula yang mirip ruang konferensi dan menonton episode pertama yang akhirnya tayang perdana pada hari itu.
Trainee sangat antusias menonton episode pertama yang akhirnya bisa mereka lihat. Mereka tertawa dan sedih berasama ketika melihat diri mereka sebulan yang lalu. Beberapa terlihat lebih menonjol sekarang dan banyak berkembang dari pada saat mereka pertama kali datang.
“Astaga memalukan...” kata Hailey sedih melihat dirinya sebulan yang lalu menampilkan lagu dengan dengan gaya yang keren tapi menari dengan sangat berantakan.
“Aku juga merasa menyesal melakukan hal seperti itu. Rasanya memalukan sekali.” Ellie melakukan beberapa bakat pribadi saat masih penempatan dan sekarang dia menyesalinya.
“Wah.. lihatlah, Ava tidak berubah sama sekali,” kata Leah ketika kamaera menyorot Ava yang duduk di samping. Lokasi tempat Ava duduk seharusnya jarang dilihat kamera, tetapi berkat penampilannya yang menarik, dia mendapatkan sorotan lebih dari dugaannya.
“Aku merasa Ava seperti mengantuk.” kata Clarence ketika melihat Ava menonton dengan raut datar dan tidak memberikan ekspresi apapun.
Ava yang mereka komentari hanya bisa tersenyum kecil. “Aku memang agak mengantuk saat itu.”
__ADS_1
Scarlett yang duduk di sebelah Ava menatap Ava dengan terkejut. “Kamu…”
Ava mengangguk. “Benar, aku bergadang sehari sebelumnya, tidak cukup tidur.”
“Apa kamu tidak taku jika penonton melihatmu mengantuk ?” tanya Clarence dengan khawatir.
Ava berfikir sebentar lalu menggelengkan kepala “Tidak, aku sudah cukup menahan diri untuk tidak tidur.”
“Untuknya saat itu, kamu duduk di pinggir.” kata Scarlett pada Ava. “Jika tidak, akan terlihat jelas sekali.”
“Tapi harus kuakui, kamu terlihat sangat keren bahkan saat masih dalam penilaian.” kata Clarence mengakui bahwa Ava terlihat sangat stabil dalam penampilan evaluasi awalnya.
“Tapi dibanding dengan sekarang, aku merasa penampilan itu terkesan kamu seperti agak tidak nyaman.” kata Scarlett, dia melihat lagi dari awal dan menyadari bahwa memang agak aneh melihatnya di awal. “Jangan-jangan.”
Scarlett menatap Ava dengan terkejut. Entah bagaimana merasa bahwa Ava mungkin…malas. Ava juga menatap Scarlett dan mengedipkan salah satu matanya dan tersenyum.
Scarlett masih terkejut hingga mulutnya sedikit menganga. Dia tidak menyangka apa yang dia bayangkan benar-benar apa yang sebenarnya Ava pikirkan. Semakin dia mengenal Ava, semakin dia merasa jengkel dan iri dengan bakatnya.
Episode pertama akhirnya berakhir di putar dan disambut tepukan tangan para trainee yang menontonnya. Mereka sangat puas dengan hasil apa yang mereka lihat hari ini. Terutama saat gambar mereka diambil dengan cara yang bagus, meski ada beberapa orang yang tidak mendapatkan banyak sorotan, tapi secara keseluruhan cukup bagus.
Pintu masuk ruangan tiba-tiba terbuka dan sosok Keegan datang dengan pakaian santai membawa kertas yang biasa di bawanya saat mengumumkan sesuatu. Tentu saja kehadirannya membawa tepuk tangan meriah dari seluruh trainee di ruangan. Keegan tersenyum ringan dan mengamati trainee seperti biasa dan menjatuhkan tatapannya pada Ava lebih lama dari trainee lain. Lalu dia kembali bersikap biasa dan berniat memberikan pengumuman pada mereka.
“Bagaimana dengan episode kalian ?” tanya Keegan menanyakan pendapat para trainee tentang episode pertama untuk basa basi.
“Bagus!”
“Sangat menyenangkan!”
Sebagian besar trainee menjawab dengan kalimat yang memuji dan tidak menunjukkan kalimat yang buruk mengenai apa yang mereka tidak senangi.
“Baguslah kalau begitu. Kali ini aku datang untuk mengumumkan tentang proses eliminasi pertama.” Begitu Keegan mengucapkan kata-kata eliminasi, semua orang menjadi sangat khawatir dan mereka merubah wajah mereka yang senang menjadi gugup. “Eliminasi akan diadakan dalam waktu beberapa hari lagi. Dan untuk kalian akan diberi kesempatan untuk merekam video pribadi untuk meminta dukungan dari para penonton.”
Keegan sangat pintar dalam menaikkan dan menurunkan emosi trainee yang masih muda. Sebelumnya semua orang menjadi sedih dan khawatir karena harus menjalani eliminasi, tapi kemudian menjadi bersemangat karena bisa merekam video pribadi untuk meminta dukungan dari penonton.
“Kabar yang bagus kan. Besok kalian semua akan diminta merekam video yang menunjukkan pesona kalian masing-masing, waktu untuk video adalah satu menit. Staff sudah menyiapkan beberapa kostum dan properti untuk kalian gunakan. Jadi manfaatkan waktu kalian dengan baik untuk berfikir malam ini. Dan dalam tiga hari kemudian, akan ada eliminasi pertama kita.”
“Ini sungguh kejam, memberi harapan setelah itu kita akan dieliminasi.” kata Clarence dengan gelisah.
“Tapi setidaknya kita masih punya kesempatan. Semoga saja ini bisa membantu.” kata Hailey berusaha positif.
“Para trainee pasti akan tidak akan bisa tidur malam ini, mereka harus memikirkan video promosi mereka.” kata Scarlett mulai melihat trainee di sekitarnya yang mulai gelisah.
“Belum tentu, ada satu orang yang sepertinya tidak akan gelisah.” kata Leah sambil menunjuk Ava yang sangat tenang menunggu pengumuman selesai.
Scarlett hanya bisa menghela nafas sambil mengagumi kekuatan mental Ava yang tidak takut tekanan. Tapi Scarlett tidak tau, bahwa Ava sedang berfikir mengenai apa yang harus dia tunjukkan besok.
Jelas dia tidak ingin menari ataupun menyanyi. Dia juga tidak punya bakat khusus lainnya. Kuncinya dia malah tidak ingin di pilih penonton, tapi masih harus menjalani syuting ini untuk mempromosikan dirinya.
“Mari kita lihat situasi besok.” batin Ava ketika dia tidak punya hal yang bisa dia gunakan sebagai ide.
Setelah pengumuman dari Keegan, Trainee di minta kembali ke asrama oleh staff. Ava yang sedari tadi duduk akhirnya pergi ke toilet terlebih dulu dan membiarkan teman-temannya kembali.
Ava yang baru saja akan keluar dari kamar mandi menemukan Keegan bersandar di dinding seperti menunggu seseorang. Ava tidak merasa dekat atau kenal dengannya, jadi dia berniat pergi begitu saja. Tapi sepertinya dia salah besar, karena ketika dia hendak pergi, Keegan menahannya.
“Tunggu. Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan.” kata Keegan.
Ava langsung berhenti dan berbalik menunggu Keegan untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
“Aku penasaran, kenapa kamu sepertinya menutupi kemampuanmu.” kata Keegan dengan heran. “Padahal dengan wajah dan bakatmu, sangat mudah untuk terkenal.”
Ava menatap Keegan yang menatapnya. Ava tidak berniat untuk mengatakan alasannya tapi melihat Keegan sepertinya tidak berniat melepasnya jadi dia tidak punya pilihan, “Aku tidak ingin menjadi idol.” kata Ava dengan ringan.
Jawaban Ava cukup mengejutkan Keegan. “Lalu untuk apa kamu datang ?” tanya Keegan dengan sedikit terkejut.
“Menemani temanku.” jawab Ava singkat.
Keegan diam dan mengamati wajah Ava yang sepertinya serius dengan ucapannya. “Lalu apa yang akan kamu lakukan jika kamu akhirnya berhasil debut ?” Keegan bisa melihat potensi Ava dengan jelas, sudah pasti Ava akan berada di atas 10 besar hanya dengan wajahnya dan penampilan.
Ava menatap kesamping dan menjawab. “Aku akan mengundurkan diri dari program sebelum penampilan terakhir.”
Keegan tiba-tiba merasa marah, dia melihat Ava sepertinya anak yang baik, tapi tidak berharap dia akan melakukan tindakan seperti itu. “Apa kamu kira acara ini untuk main-main ? Kamu tidak bisa begitu saja meninggalkan fans yang sudah mendukungmu!”
Ava terdiam sejenak, dia tau tentang hal ini tetapi tetap tidak ingin masuk kelingkaran dunia hiburan. Jadi dia kembali menatap Keegan dengan mata yang memiliki sedikit kesedihan di dalamnya. “Sejauh yang kutau, seorang yang ingin sukses di industri ini harus memiliki latar belakang atau seorang sugar daddy untuk melindungi diri. Mereka yang hanya dari kalangan biasa, pada akhirnya akan dipergunakan, dijual oleh agensi mereka, memohon dan menemani sponsor untuk minum agar bisa sukses. Jika membuat kesalahan dan membuat pemegang kuasa tidak senang pada akhirnya harus keluar dari industri secara paksa.”
Keegan tertegun mendengarnya, memang benar apa yang dikatakan Ava. Dia sendiri adalah orang yang memiliki latar belakang, jadi dia tidak pernah mengalami apa yang dikatakan Ava barusan.
__ADS_1
“Anda adalah senior di industri ini jadi seharusnya anda tau ini. Jadi menurut anda apakah kehidupanku hanya untuk main-main ?”
\=