
“sejujurnya kami juga sangat kaget ketika melihatmu tiba-tiba muncul di posisi rap.” kata Nancy. “Kami pikir kamu sedang melakukan prank pada trainee lain, tapi ternyata itu memang benar.”
“Kenapa kamu tidak mengambil dance saja ? Bukankan sebagai penari akan lebih nyaman ?” kata Crystal
“Aku tidak tau lagunya, jadi tidak ingin melakukannya.” jawab Ava dengan santai sambil merebahkan dirinya di lantai kayu.
“Bukankah sewaktu kamu melakuakn battle dance dengan Produser Keegan, kamu juga tidak tau sebagian besar lagunya ?” tanya Hailey dengan curiga. Ava mengalihkan pandangannya dari Hailey dan malah memejamkan matanya. “Hei, jangan menghindar. Kami ingin tau alasannya..”
Hailey mulai menguncang tubuh Ava agar dia menjawab pertanyaan mereka. Tapi Ava pura-pura mati dan tidak ingin menjawab karena hal ini pasti akan menjadi ejekkan mereka nantinya atau bahkan membuat mereka semakin jengkel padanya.
Nancy dan Crystal bergabung dengan Hailey mulai mengguncang tubuh Ava dengan tawa geli. Setelah beberapa saat, akhirnya Ava tidak tahan dan membuka matanya sambil bangkit duduk.
“Baik-baik aku akan memberitahu kalian.” kata Ava dengan wajah kesal. “Karena menari sangat melelahkan.”
Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat, Nancy, Hailey dan Crystal seperti terbeku untuk beberapa saat, ketiganya saling menatap dan kebingungan untuk beberapa saat setelah mendengar jawaban Ava.
“Apa tadi kamu bilang ?” Hailey ingin memastikan pendengarannya tidak salah dengar.
“Aku tidak salah dengar kan ?” tanya Nancy sambil mengerutkan kening.
Ava menatap ketiganya bergantian sambil bersikap acuh tidak acuh, “Kalian tidak salah dengar,”
Hailey merasa tidak habis pikir dengan Ava. “Kamu terlalu malas” katanya gemas.
“Aku tidak malas, hanya lelah.” kata Ava berusaha membela diri.
“Bukankah itu sama saja ?” tanya Hailey
“Berbeda. Malas tandanya tidak berusaha, Lelah artinya sudah berusaha tapi tidak punya tenaga lagi untuk melakukannya.” kata Ava.
“Tapi kita masih muda sekarang, kenapa kamu sudah lelah lebih dulu….” kata Hailey.
“Benar, ini adalah saatnya ktia menguncang panggung dengan kemampuan kita.” tamab Nancy.
Ava terdiam mendengarnya. Dia tidak menjawab ataupun meresponnya lagi, tapi dia hanya menatap ketiganya dengan senyum lelah di wajahnya. “Aku akan pergi membasuh wajah dulu.”
Hailey ingin mengatakan sesuatu tetapi Ava sudah lebih dulu berdiri dan keluar dari ruangan latihan tersebut. Nancy, Crystal dan Hailey saling menatap dan merasa jadi tidak enak, mereka seperti sudah menyentuh seseuatu yang seharusnya tidak di sentuh.
Ava yang berada di kamar mandi membasuh wajahnya dengan air. Awalnya dia merasa mengantuk tapi semenjak Hailey membahas hal tadi, dia menjadi terjaga. Dia menatap bayangan dirinya di kaca sambil berpikir.
‘Kenapa dia sangat lelah ?’
Pertanyaan dari Hailey masih terlintas di kepalanya tetapi tidak menjawabnya tadi. Tapi dia sudah jelas tau jawabannya dalam hati.
Karena dia sudah bekerja keras jauh sebelum yang lain bekerja keras.
Sekarang dia hanya ingin beristirahat sejenak dan menikmati apa yang dia kerjakan perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak seperti dulu, penuh dengan penderitaan.
Ava membasuh kembali wajahnya dan pergi kembali ke ruang latihan dengan wajah basah tetapi lebih segar. Dia tidak mengungkit hal yang mereka bicarakan sebelumnya lebih jauh, karena dia tidak ingin orang lain tau soal itu.
“Kapan kita akan bertemu dengan pelatih Zoo ?” tanya Crystal.
“Seharusnya sore ini kita akan bertemu dengannya.” jawab Hailey yang selaku pemimpin mereka
Crystal mengangguk dengan wajah penuh tekadnya, dan terus bergumam melafalkan lirik yang harus dia nyanyikan. Nancy yang melihatnya jadi ikut gugup, ini kali pertama dia menjadi Center. Perasaan ini membuatnya menjadi berdebar senang tapi juga takut disaat yangs ama.
“Kalian berdua, tenanglah.” kata Hailey yang melihat keduanya mulai bersikap aneh. “Kita melakukannya cukup bagus, tidak perlu terlalu khawatir berlebihan. Justru kalau kalian berlebihan, itu akan membuat kalian semakin mudah membuat kesalahan.”
Ava mengangguk dengan tenang, dia setuju dengan ucapan Hailey.
“Lalu kalian ada cara untuk menenangkan diri ?” tanya Crystal.
“Untuk itu silahkan tanya Ava..” kata Hailey lalu melirik Ava yang sangat tenang. Nancy dan Crystal menatap Hailey dengan aneh. “Jangan lihat aku seperti itu. Aku juga gugup.”
Nancy menatap Hailey dengan agak marah lalu beralih menatap Ava yang sangat tenang. “Ava bagi rahasiamu, kenapa kamu bisa sangat tenang.”
“Mentalitasmu terlalu bagus..”
Ketiganya menatap Ava menunggu jawaban.
“Duduk dengan tenang.” kata Ava yang langsung diikuti ketiganya dengan sigap. “Lalu cobalah pikirkan… Daging di atas panggangan dengan kuah panas pedas di sisinya.”
Ruangan itu menjadi sunyi,perkataan Ava terlalu tiba-tiba sehingga merekapun teralihkan.
Sore itu, Ava berkumpul dengan semua kelompok yang memilih Rap sebagai posisi di ruangan latihan yang lebih besar, menunggu pelatih Zoo datang. Tidak ada yang berani duduk saat menunggu, semuanya berdiri menunggu dengan patuh. Ava berdiri paling depan sementara teman-temannya berdiri di belakang ingin menyembunyikan diri dengan gugup.
Zoo datang tidak lama setelah mereka menunggu. Dia menggunakan riasan berat dan baju berpola Leopard yang membuatnya semakin garang saat dilihat. Auranya juga tidak menunjukkan dia main-main atau ingin bekata-kata halus.
Dia duduk di sebuah kursi dan menyapu para trainee yang berdiri didepannya. “Halo pelatih Zoo!” sapa semua trainee dengan suara keras untuk menutupi kegugupan mereka.
Perhatian Zoo teralihkan pada sosok Ava yang mencolok di tengah barisan. “Kamu datang ke posisi Rap. Bagus sekali!” katanya dengan senyum puas.
Ava menjadi agak tidak nyaman ketika pelatih Zoo sangat antusias dengan kehadirannya. Dia membalas senyum tipis pada pelatih Zoo sambil menunduk malu.
“Nah, karena kalian datang ke posisi Rap seharusnya kalian tau kan bahwa kalian tidak bisa main-main.” Kata Zoo menjelaskan dari awal. “Aku ingin kalian belajar dengan baik, bertanya saat tidak tau, tetapi tidak menjadi malas saat diminta berlatih lebih keras.”
“Waktu kalian adalah seminggu untuk berlatih sebelum penampilan kalian, satu hari sudah lewat dan aku berharap sebagai pelatih kalian sudah berusaha lebih awal sebelum hari ini.” Zoo mengatakan beberapa hal dia wal sebagai palatih, meski pembawaannya agak menyeramkan dan keras. Tapi dia juga seorang yang peduli dengan murid didiknya. “Sekarang, mari kita mulai. Tim pertama, ‘RunAway’”
Empat orang trainee maju ke depan dengan agak takut-takut memegang kertas di tangan mereka dengan tegang.
“Langsung saja.” kata Zoo tidak ingin berbasa-basi lagi.
Keempatnya dengan gugup memulai melakukan rap secara bergantian. Mereka membuat lirik yang cukup bagus, iramanya juga cukup bagus, mereka juga cukup kompak. Tapi sayangnya pelatih Zoo agak tidak senang, dia hanya diam dan tidak memuji ketika mereka selesai dengan dengan rap mereka.
“Apakah ini hasil latihan kalian ?” tanya pelatih Zoo dengan nada tenang.
__ADS_1
Suasana langsung menjadi tegang ketika pelatih Zoo menanyakan pertanyaan tersebut. Ava yang mendengarkannya juga merasa ada yang agak salah. Rasanya seperti ada yang kurang tapi dia tidak berniat untuk berkomentar lebih jauh.
“Aku tidak mengerti apa yang kalian lakukan selama beberapa waktu ini ?” tanya pelatih Zoo pada keempat pelatih yang berdiri memilin kaos mereka. “Jangan kalian kira, karena sudah berada di area yang lebih kalian kuasai, kalian bisa bersantai-santai dan menyepelekan.”
Keempat trainee tersebut membungkuk meminta maaf. “Maafkan kami pelatih.”
“Untuk apa meminta maaf ?” tanya pelatih Zoo dengan dingin. “Kalian harusnya meminta maaf pada penggemar yang memilih kalian disini hari ini. Mereka mengumpulkan tekad untuk memilih kalian tetapi kalian tidak menghargainya seperti ini.” katanya dengan marah. “Trainee Ava Luna, maju kesini!”
Ava membelak mata dengan kaget mendengarnya. Dia melangkah maju dengan rasa bingung karena tiba-tiba diminta maju ke depan.
“Praktekkan dengan benar.” kata pelatih Zoo sambil memberikan kertas lirik pada Ava dengan marah.
Kertas tersebut berisi beberapa baris lirik milik group keempat orang tersebut. Pelatih Zoo memberikan kertas tersebut dan meminta Ava membawanya lebih dulu. “Lakukan.” kata Pelatih Zoo sekali lagi.
Ava membacanya sebentar sambil mengingat irama yang sebelumnya telah dia dengarkan ketika tim ini mempraktekkannya. Setelah lima menit, dia mengangguk pada pelatih Zoo dan mulai melakukan rap.
“When I get confused, I tell myself that and just go
Be yourself, know yourself
I practiced about several thousand times
Being in despair once or twice is child’s play now
Opportunities are always ways to get up
from moments of crisis, you know
Going on a trip to heaven? Hurry and pack your carrier”
Wajah Ava saat melakukan rap sangat datar, tapi nada dan iramanya tepat bahkan membuat orang yang mendengarnya menjadi merinding. Sekilas terdengar sama jika di bandingkan dengan keempat orang yang melkaukan rap sebelulmnya, tapi efek yang ditimbulkan Ava jauh lebih kuat meski hanya sepenggal rap.
“Lihat! Kalian dengar, itu yang kumaksud.” kata pelatih Zoo menunjuk Ava dengan serius. “Perasaan, itu yang penting. Dia sendiri tapi cukup untuk membuat orang merinding saat mendengarnya.”
Keempat peserta trainee hanya bisa mengangguk patuh dan mencatatnya di kertas mereka masing-masing. Ava melirik, berusaha mencari waktu yang pas untuk mengembalikan kertas di tangannya yang seperti kentang panas sekarang.
“Dan kamu!” Pelatih Zoo berbalik menunjuk Ava, “Bagaimana bisa kamu melakukan rap dengan wajah datar seperti itu ? Perbaiki!”
Ava mengangguk ringan dan lalu menyerahkan kertas di tangannya kembali ke Pelatih Zoo. Begitu kertas di tangannya sudah di kembalikan, Ava berniat kembali ke tempatnya, tapi Pelatih Zoo menghentikannya.
“Giliran kelompokmu.” katanya.
Ava sontak diam ditempat, keempat trainee yang tadi sedang di nilai mengucapkan terima kasih dan kembali duduk di tempatnya. Sementara kelompok Ava maju kedepan dengan gugup. Terutama Crystal yang baru pertama kali melakukan rap.
“Mulai saja.”
Hailey menatap teman satu timnya dan mengangguk bersamaan. Barulah Nancy yang pertama membuka lagu dengan rapnya yang tidak begitu keras tapi sangat stabil. Nancy melakukannya dengan stabil terlepas dari tatapan pelatih Zoo yang tajam memperhatikan mereka sesekali.
Setelah rap Nancy, Hailey melanjutkannya dengan rap yang lebih kuat menambahkan rasa semangat bagi yang mendengarnya. Rap Hailey selalu lebih kuat dan membawa orang yang mendengarnya menjadi bersemangat dan ikut bergoyang meski tidak ada iringan musik.
Ava memberikan penghubung yang baik untuk kelompok dan masih membawakan gaya yang sama dari Hailey tetapi lebih halus. Jadi ketika Cystal yang akrhinya mulai rapnya, tidak terlalu kontras dan malah memiliki gaya khasnya sendiri yang sangat menarik.
Pada akhirnya mereka sangat bagus untuk kelompok yang sangat kontras satu sama lain. Nancy dan Ava memberi keseimbangan yang baik untuk kelompok sehingga orang yang mendengar mereka melakukan pertunjukan tidak merasa aneh.
Pelatih Zoo sekali lagu terdiam saat mereka selesai melakukan pertunjukkan mereka. Dia mengetuk-ngetuk papan kertasnya sambil berpikir. “Sangat bagus, meski masih banyak yang harus di perbaiki.” katanya sambil mengangguk. “Terutama kamu.. Rapmu masih paling lemah dari yang lainnya. Aku tau ini pertama kalinya kamu melakukan rap tapi ini sudah lumayan. Perbanyak latihan.” katanya.
Crystal yang di kritik tersenyum senang karena tidak di kiritk dengan keras. Dia sudah senang karena usahanya selama ini di hargai meski masih banyak kekurangan. Kedepannya dia berusaha dan berlatih lebih keras agar tidak pertemuan kedepannya dia bisa menjadi lebih baik.
“Group selanjutnya” Pelatih Zoo melepaskan mereka beigtu saja agar mereka bisa duduk kembali.
Ava, Hailey, Nancy dan Crystal semuanya kembali duduk setelah berterima kasih. Mereka tersenyum senang dan melihat satu sama lain berbagi kebahagiaan.
Kelas hari itu berlangsung lancar untuk kelompok Ava, diantara kelompok lainnya, mereka termasuk yang paling menyenangkan dan tidak berebut posisi satu sama lain. mereka mendukung satu sama lain dan saling mengajari.
Hari-hari latihan mereka diisi dengan hal yang menyenangkan. Sesekali Hailey bahkan mengajak Ava berdebat tetapi diladeni teidak lebih dari beberapa kalimat.
“Kamu ini bisakah lebih masuk akal ? Jangan terlalu malas seperti sekarang ?” tanya Hailey yang melihat Ava tergeletak di lantai latihan.
Ava sedang menikmati masa-masa kemalasan yang sangat jarang dia dapatkan. Dia melakukan latihan Rap bahkan mengajar Crystal sambil berbaring di lantai.
“Aku tidak malas. Aku melakukan latihan.” kata Ava tanpa bergerak.
“Tapi kamu sudah seharian berbaring seperti ini. Selain pergi makan, kamu tidak bergerak sama sekali.” kata Hailey dengan marah.
“Aku melakukan latihan..” kata Ava tenang tidak takut sama sekali.
“Latihan apa yang sebenarnya kamu lakuakn ha ?” tanya Hailey.
“Pernafasan” jawab Ava.
Nancy dan Crystal yang menonton dari samping menahan tawa mereka. Pemandangan ini sudah mereka lihat sejak beberapa hari. Hailey selalu memarahi Ava yang berbaring malas di lantai tanpa bergerak kecuali mengatur formasi untuk pertunjukkan mereka. Singkatnya Ava tidak pernah berkeringat sama sekali beberapa hari terakhir ini.
“Kamu!” Hailey tidak tau harus memarahi Ava dengan alasan apa lagi. Dai hanya bisa mendesah panjang pasrah. Meski Ava tidak malas, tapi melihatnya berbaring di lantai seperti itu membuatnya ingin memarahinya.
Suara ketukan terdengar dari pintu dan kepala Sophie terlihat menengok kedalam ruangan. “Kalian masih berlatih ?” tanyanya.
“Tidak, kami sedang beristirahat.” jawab Nancy.
Sophie langsung bersorak gembira dan membuka pintu agar terbuka lebih lebar. Teman-teman sekelompk Sophie dari belakang terlihat memasuki ruangan.
“Kami datang bermain. Ava! Apakah kamu dengar.” kata Sophie dengan semangat tinggi.
“Aku mendengarkan.” jawab Ava tanpa bergerak dari posisinya.
Sophie menatap Hailey, Nancy dan Crystal berusaha bertanya apa yang sebenarnya terjadi. “Kenapa dia berbaring seperti ini ?” tanyanya.
__ADS_1
“Sudah sejak tadi. Dia hanya berbaring seperti ini.” jawab Hailey dengan lelah.
Sydney yang sedari tadi diam, tertawa pelan mendengar nada lelah Hailey. Dia kali ini berposisi sebagai pemimpin group jadi dia cukup tau perasaan Hailey. “Apakah dia tidak ingin berlatih ?”
“Bukan begitu, dia berlatih dan sangat kooperatif untuk latihan. Tapi dia selalu berbaring seperti ini saat berlatih.” jawab Hailey.
“Itu bagus. Lalu apa masalahnya ?” tanya Sydney bingung.
“Aku selalu merasa anak muda seharusnya penuh semangat, tapi lihat gadis ini…” kata Hailey dengan tidak habis pikir. “Terlihat sangat malas.”
Sophie menatap Ava yang memejamkan matanya tidak ingin ikut dalam pembicaraan mereka. Dia merasa asing dengan Ava yang sekarang untuk sebentar saja. Rasanya belum pernah dia melihat Ava dalam postur seperti ini.
Sophie berjongkok di dekat kepala Ava sambil berbisik pelan. “Sungguh jarang melihatmu seperti ini.” katanya
“Um… Memang sangat jarang.” balas Ava pelan.
“Kamu menganggap ini liburan kan ?” tanya Sophie dengan geli.
Ava hanya bisa tersenyum geli dan membuka matanya menatap Sophie. “Kamu mengenalku lebih baik dari siapapun.”
“Tentu saja, melihat berbaring seperti ini sangat jarang terjadi. Biasanya kamu selalu berlarian kesana kemari melakukan berbagai hal.”
“Memang ini momen yang sangat berharga.” kata Ava sambil menatap Sophie.
“Kalau begitu nikmati dengan baik, setelah ini kita mungkin akan bekerja lebih keras.” kata Sophie.
“Apa yang kalian bicarakan ?” tanya Sydney melihat Ava dan Sophie saling berbisik.
“Tidak ada, aku hanya memintanya untuk tidak terlalu malas seperti sekarang. Kasihan Hailey.” kata Sophie.
“Terima kasih sekali kalian menengerti perasaanku.” kata Hailey sedikit tersentuh.
“Apakah kalian sudah menyelesaikan aransemennya ?” tanya Ava sambil bangkit duduk, dia bersila di lantai menatap kelompok Sydney.
“Tentu saja!” teriak Sophie kembali bersemangat.
“Biar kami tunjukkan!” kata Yaol ikut terinfeksi semangat Sophie.
“Pelatih memuji kami kemarin.” Sydney cukup senang dengan pujian Pelatih kemarin.
Nancy menatap mereka dengan bingung. “Aransemen ? Ava tau soal ini ?”
Sydney duduk di lantai sambil tersenyum misterius. “Ava yang membantu memberi saran pada tim kami.”
“Kami berlatih sejak kemarin dan merasa bosan. Jadi kami bermain kemari.” kata Sophie mengambil gitar dan memberikannya pada Ava.
“Kenapa memberikannya padaku ?” tanya Ava bingung.
“Karena hanya kamu yang bisa memainkan gitar.” jawab Sophie dan memaksakan gitar kepelukan Ava.
Ava terdiam dan menonton teman-temannya duduk membentuk lingkaran menunggu iringan dari Ava. Dia hanya bsia mendesah panjang dan memulai memetik lagu setelah empat ketukan di dinding gitar untuk membuka lagu tersebut.
Yaol membuka lagu dengan suara lembut yang sangat cocok dengan iringan lagu ringan seperti gitar. Sesekali di bagiannya, Sydney menambahkan sedikit. Terkadang Sophie juga menambhkan membuat suasana lagu sangat bagus.
Ketika giliran Sophie atau yang lainnya, mereka menimpali sesekali seperti contoh Ava di awal. Mereka bernyanyi dengan sangat indah dan sangat kompak. Iringan gitar memang terdengar agak sepi tetapi dengan empat orang yang meramaikan dengan tepuk tangan ringan dan jentikan jari menambah suasana lagu. Sekarang ketika mereka bergabung untuk menyanyikan lagu ini tidak ada yang benar-benar menonjol tetapi semuanya melengkapi lagu menjadi sebuah lagu yang lengkap.
Mereka lebih tampak seperti anak sekolah yang bernyanyi dengan teman-temannya tanpa beban, tanpa persaingan dan saling mendukung.
“Kalian sangat bagus” puji Nancy dengan senang. “Ini jenis aransemen yang sangat cocok!”
“Rasanya seperti kembali ke masa sekolah, sangat senang bisa bermain dan saling mengerti seperti ini.” kata Hailey yang ikut bersemangat.
“Aku setuju, ketika Ava memberikan saran seperti ini. Kami merasa ini adalah cara yang bagus.” kata Sara.
“Harus kuakui Ava memang sangat genius memikirkan aransemen seperti ini.” kata Sydney.
Ava hanya bisa tersenyum. yang mendengarnya langsung menurunkan gitar dari pangkuannya. “Aku akan pergi ke toilet dulu.”
Tanpa menunggu respon dari siapapun, dia berdiri dan pergi ke toilet begitu saja. Tidak ada yang menyadarinya tetapi Sophie menyadarinya. Dia ikut bangkit berdiri dan menyusul Ava yang sudah berada di kamar mandi lebih dulu.
Ava membasuh wajahnya dengan air mengalir, sambil mendesah panjang setelahnya. Sophie yang masuk langsung menatap Ava dari kaca. Dia juga sama-sama menghela nafas panjang dan melangkah ke wastafel.
“Sepertinya bukan hal yang baik kan mengingat masa lalu.” kata Sophie dengan sedih setelah membasuh wajahnya. “Masa sekoleh kita tidak begitu indah.” kata nya dengan nada murung.
Ava tidak menjawab dan hanya diam saja. Dia menatap cermin dan melihat wajahnya yang sering dikatakan orang sangat cantik tersebut. Tapi terkadang wajahnya-lah yang membawa banyak masalah untuknya.
“Rasanya seperti kemarin kan Ava ?” kata Sophie lalu menatap wajah datar Ava di cermin. “Saat itu, kamu juga menatapku seperti ini dulu. Awalnya kupikir sangat menjengkelkan melihat ekspresi seperti ini. Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, ekspresi ini jugalah yang malah menyelamatkanku waktu itu.”
Ava hanya bisa tersenyum dan menunduk. Memori pertemuan mereka memang sangat unik dan berbeda dari yang lainnya. Rasanya pertemuan mereka sangat istimewa.
“Rasanya seperti baru kemarin. Kamu memanggilku seorang yang arogan dan tanpa hati.” kata Ava sambil tersenyum tipis pada Sopihe.
Sophie tersenyum dengan penuh ironis. “Setelah di pikir lagi, rasanya lebih seperti aku yang sangat arogan saat itu.”
“Benarkah ?” Ava tersenyum dengan licik menatap Sophie. “Dari dulu kamu tidak pernah mengakuinya, sekarang akhirnya kamu mengakuinya.”
Wajah Sophie langsung berubah mendengar Ava, “Kamu! Benar-benar tidak punya hati.” Dia menunjuk Ava dengan gemas dan tidak terima.
Ava hanya bisa tertawa geli mendengarnya. “Jika aku tidak punya hati, kita tidak akan berteman sekarang.”
Sophie langsung melunakkan wajahnya. Perkataan Ava tidak salah, jika dia tidak punya hati, dia tidak mungkin menolongnya, membantunya, mensupportnya dan tidak mungkin menjadi teman terbaiknya sekarang.
Perlahan dia mendekati Ava sambil menatap dengan serius. “Aku berhutang padamu Ava. Aku memang tidak bisa banyak membantumu. Tapi akan kupastikan aku adalah orang yang berdiri membelamu saat semua orang menolakmu.”
Ava hanya bisa menyipit dan tersenyum lembut. “Tentu saja aku tau itu.”
__ADS_1
\=