LuckyONe

LuckyONe
Chapter 6: First Training


__ADS_3

Akhirnya perekaman berakhir, para peserta dipersilahkan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pergi ke asrama untuk beristirahat sebelum besok memulai latihan pertama.


“Perkenalkan ini teman baikku, Ava Luna.” Sophie memperkenalkan Ava pada kedua trainee dari agensi yang sama dengannya. “ini Kak Jennie, dan yang ini Pixy.”


Jennie, gadis berambut hitam panjang dengan wajah manisnya. Sementara Pixy adalah gadis berambut pendek sebahu yang agak chubby. Keduanya tersenyum lebar pada Ava mengucapkan halo padanya. Ava sendiri tidak begitu bisa dekat dengan orang baru dengan mudah, jadi dia tersenyum kecil lalu menundukkan kepala lagi ke makanannya.


Pixy bertatapan dengan Jennie dan Sophie dengan bingung. Sophie mendekati kedua rekannya sambil berbisik. “Dia agak introvert, sulit berteman dengan orang baru.” katanya menjelaskan.


Pixy dan Jennie mengangguk bersamaan tapi kedua melirik Ava yang fokus dengan makannya tanpa memandang mereka lagi. Mereka tidak memikirkannya lagi dan malah fokus dengan makanan mereka.


“Aku dengar kemungkinan kamar kita akan di acak kali ini.” bisik Pixy mengatakan apa yang dia dengar sebelumnya lalu melirik Ava yang masih menunduk. “Apakah temanmu akan baik-baik saja ?” tanyanya khawatir.


Sophie melihat Ava yang agak sulit bersosialisasi dengan orang baru. “Dia akan baik-baik saja.” kata Sophie agak berbisik. “Jika kalian butuh bantuan dalam latihan, katakan saja padaku, kita bisa berlatih bersama dengan Ava. Dia orang yang hebat dalam mengajar.”


Pixy menatap Jennie dan keduanya sama-sama memiliki pemikiran di kepala mereka. Sophie trainee baru yang cukup hebat dan sangat ramah, mereka dengan mudah akrab dengannya, tetapi mereka tidak yakin bahwa teman Sophie. Ava agak sulit di untuk di dekati.


Mereka tidak mengatakan apa yang ada di kepala mereka dan memilih percaya pada Sophie dan tidak ingin merusak pertemanan mereka.


Ketika waktu makan berakhir, Semua trainee harus pergi ke asrama mereka dan beristirahat terlebih dahulu sebelum latihan pertama mereka di besok. Awalnya Ava berjalan bersama dengan Sophie tetapi kemudian mereka harus berpisah karena berbeda kamar. Tetapi meski terpisah, kamar mereka tidak berada terlalu jauh dan hanya berjarak dua kamar satu sama lain.


Ava yang masuk agak akhir, berdiri canggung di depan pintu kamar. Teman sekamarnya sudah berada di kamar dan tampak mulai memilih kasur sambil berbincang.


Kamar mereka memiliki tempat tidur susun berjumlah dua dan dua kasur lain di atas lemari para trainee. Salah satu kasur diatas lemari tidak dipilih, jadi Ava masuk ke kamar dan menghampiri kasurnya itu.


Kelima orang di kamar itu akhirnya tersadar dengan kehadiran Ava di kamar dan mereka terdiam untuk beberapa saat karena terpesona pada Ava yang dekat dengan mereka.


Ava menundukkan kepala kecil. “Hallo.”


Salah satu dari kelimanya langsung bereaksi. “Hah… Kamu sangat cantik.” ucapnya dengan wajah terpesona.


Ava mau tidak mau menggigit bibirnya karena gugup. “Terima kasih,”


“Tidak perlu gugup, perkenalkan namaku Hana, tahun ini berusia 20 tahun” kata seorang gadis yang berdiri di hadapan Ava.


“Aku Rumi, 18 tahun”


“Namaku Violet, tahun ini berusia 19 tahun.” kata gadis yang sebelumnya memujinya, dia tampaknya memiliki kepribadian yang sangat ceria.


“Claudy, tahun ini berusia 21 tahun.”


“Crystal, 17 tahun”


“Ava, 19 tahun.” kata Ava memperkenalkan diri lalu sibuk menarik kopernya ke dalam.


“Sepertinya kamu agak pemalu.” kata Violet secara langsung melihat Ava yang sepertinya agak sulit bersosialisasi.


Ava menunduk memainkan jari-jarinya. “Aku hanya agak sulit bersosialisasi.”


“Ah seorang Introvert ya.” Claudy tampak mengerti bahwa teman sekamarnya yang cantik ini agak kaku.


Ava tersenyum canggung lalu melirik kamar mandi. “Apakah aku bisa mandi terlebih dulu ?” tanya Ava kemudian berusaha melepaskan kecanggungan dalam dirinya. Dia agak lelah dan ingin segera tidur.


Semua orang diam beberapa saat sebelum mengangguk setuju satu persatu.


“Ava apakah tidak papa jika kamu berada di kasur ini ?” tanya Hana sambil menunjuk kasur di hadapannya.


Ava mengangguk dengan senyum kecil. “Tentu, aku tidak masalah dengannya.” kata Ava sambil mengeluarkan barangnya dan memasukkannya ke lemarinya.


Ketika dia membuka lemari, dia menemukan kaos panjang berwarna biru tua yang tergantung di dalamnya. Ava mengeluarkannya dengan heran dan menemukan tulisan alfabet B di bagian belakangnya.”


“Wah! Kelas B mendapatkan warna biru!” kata Violet kaget melihat kaos biru di tangan Ava. “Aku di kelas C berwarna kuning.”


“Kelas D mendapatkan hijau mint.” kata Rumi menunjukkan bajunya


Crystal yang termuda mengeluarkan baju kaos abu-abu dari lemarinya. “Abu-abu Warna yang benar-benar menambah kesuraman.” komentarnya


“Lalu bagaimana dengan kelas A ?” tanya Violet bersemangat pada Hana yang masih belum menunjukkan baju miliknya.


Hana tersenyum lalu mengeluarkan baju lengan panjang berwarna pink dari lemari dan menunjukkannya. “Aku dapat pink.”


Violet langsung membuka mulutnya dengan kagum. “Pink! Warna kesukaanku!” Dia kemudian memeluk Hana dengan sedih. “Pink!”


Hana memeluk Violet yang merasa sedih sambil menepuknya berusaha menyemangatinya. “Kamu harus bekerja keras jika ingin mendapatkan kaos pink ini.”


Violet menatap Hana dengan sedih tetapi kemudian dia mengangguk. Ava disisi lain sudah membongkar isi lemarinya dan menemukan ada buku diary beserta alas dan senternya, sepatu, celana training panjang dan pendek di dalamnya.


Ava kemudian menata barangnya dan memasukannya kedalam lemari dengan cepat lalu mengambil peralatan mandi dan handuknya, pergi ke kamar mandi tanpa suara.


Ketika semua orang sadar, Ava sudah masuk ke dalam kamar mandi dan hanya terdengar suara air mengalir di dalamnya.


“Dia sangat cepat!” kata Violet tercengang mendengar Ava sudah berada di kamar mandi.


“Lebih baik jangan terlalu memaksanya, dia sepertinya agak introvert.” kata Hana menyadari bahwa Ava agak sulit didekati.


Keempat orang di kamar mengangguk bersamaan lalu kembali mengurus barang-barang mereka sambil berbincang-bincang.


Di kamar mandi, Ava menghela nafas panjang sambil membuka bajunya, dia merasakan seluruh tubuhnya sangat kaku dan lelah. Kebetulan ada air hangat sehingga bisa meredakan rasa lelahnya sedikit setelah mandi.


Begitu keluar dari kamar mandi bersama dengan uap air hangat membuat Ava tampak sangat segar. Para gadis di kamar yang sama dengan Ava sekali lagi terpesona melihat Ava yang tampak seperti peri yang tinggal di pegunungan tinggi dengan kabut yang menyelimutinya.


Ava yang mengeringkan rambutnya dengan handuk menatap teman sekamarnya dengan heran. “Oh, ada air hangat, rasanya sangat nyaman.” kata Ava memberitahu mereka. Semua orang mengangguk bersamaan kemudian sadar dari tatapan mereka dan mulai bergerak lagi.


Ava yang lepas dari tatapan semua orang, naik ke ranjang susunnya dan tidur tengkurap di atas kasur dengan rasa lelahnya.


Hana yang mendapat kasur di seberang kasur Ava melihatnya sudah berbaring di kasur dengan nyaman. “Apakah kamu akan tidur ?”


Ava mengangkat kepalanya sedikit lalu mengangguk. “aku sangat lelah, aku akan tidur duluan.” kata Ava pelan.

__ADS_1


“Baiklah selama tidur.” kata Hana dengan senyum lembut.


Begitu selesai berbicara, Ava kembali menenggelamkan kepalanya di bantal dan langsung tidur begitu saja tanpa bisa terganggu oleh apapun.


Semua trainee sibuk masing-masing dengan kegiatannya sendiri karena sedang jam bebas. Staff tiba-tiba mengetuk setiap pintu kamar asrama dan mengatakan bahwa ada pemeriksaan untuk menyita barang yang tidak perlu.


“Silahkan keluarkan barang yang tidak perlu seperti barang elektronik dan camilan. Selain baju dan barang pribadi semua silahkan masukkan ke dalam kotak.” kata staf yang bertugas.


Tentu semua orang menjadi agak panik, tetapi di bawah pengawasan staf yang bertugas, mereka mengumpulkan barang yang tidak diperlukan. Kebetulan karena kasur Ava dekat dengan pintu, Staff melihat Ava yang sudah tidur di kasur dengan bingung.


Hana berinisiatif untuk  mengatakan bahwa Ava tidak membawa apapun yang tidak dibutuhkan karena sudah melihat koper kosong milik Ava dan isi lemari yang sudah tertata rapi. Staff akhirnya melepaskan Ava yang sudah tertidur dan pergi dengan kotak berisi barang terlarang seperti barang elektronik dan camilan.


Kemudian setelah jam pemeriksaan, Sophie yang selesai dengan menata dan bersosialisasi dengan teman sekamarnya, berniat untuk pergi mengunjungi kamar Ava.


Ketika dia masuk, dia melihat para gadis tampak sedang berbincang di kasur bawah dengan suara pelan dan mereka langsung berbalik melihat Sophie masuk.


“Maafkan aku, aku sedang mencari temanku,” kata Sophie dengan sopan kemudian memindai dan menemukan Ava yang tertidur dengan telungkap di kasurnya.


Hana melihat Ava yang tertidur langsung mengerti bahwa dia adalah orang yang Sophie cari. “Setelah mandi, dia langsung tidur.” katanya menjelaskan.


Sophie mengangguk mengerti lalu malah dengan senang hati berbincang dengan teman sekamar Ava. Violet yang memiliki kepribadian mirip dengan Sophie langsung akur dan berbincang tentang banyak hal.


Ketika mereka tertawa keras karena lelucon Violet, Hana memperingatkan mereka untuk tenang karena ada Ava yang tidur.


Tapi Sophie melambaikan tangannya. “Tidak perlu khawatir, dia tidur seperti batu, tidak adakan bangun jika kamu tidak menyentuhnya.”


Claudy yang mendengar bahwa Sophie sepertinya mengenal Ava dengan baik bertanya dengan penasaran, “Sepertinya kamu mengenal Ava dengan cukup baik.”


“Kami teman sejak kecil, dia sudah seperti saudaraku sendiri.” kata Sophie dengan bangga. “Dia memang orang yang agak sulit untuk didekati, tapi adalah orang yang sangat baik.”


“Dia tampak seperti orang yang sangat introvert.” kata Rumi lalu melirik Ava yang tidur di kasurnya.


“Memang dia agak introvert.” kata Sophie mengkonfirmasi informasi tersebut.


Setelah perbincangan singkat mengenai Ava, mereka berbicara tentang topik lain seperti sesi latihan mereka dan apa saja yang sudah pernah mereka pelajari sebelumnya. Bagi mereka yang mengalami hal sama biasanya bisa saling mengerti tentang apa yang dirasakan satu sama lain lebih baik. Oleh karena itu perbincangan mereka sangat seru dan penuh haru hingga waktu malam tiba, saat mereka harus tidur.


Sophie meninggalkan kamar agar semua orang bisa segera tidur.


-


Keesokan harinya, di pagi hari saat matahari belum bersinar. Ava sudah duduk di kasurnya menatap dengan kosong ke sekitarnya. Tampaknya belum ada yang bangun lebih dulu, jadi Ava pergi ke kamar mandi dengan baju training miliknya dan berniat pergi lari pagi sebentar sebelum kegiatan latihan.


Lorong masih sepi ketika Ava pergi ke luar, udara agak dingin tetapi tidak menyurutkan Ava untuk lari mengitari gedung asramanya beberapa kali sebelum kembali ke asrama. Suasana pagi saat menenangkan, Ava melakukan peregangan di depan asrama setelah lari beberapa putaran dan melenturkan tubuhnya karena merasa agak kaku karena harus duduk seharian kemarin.


Setelah merasa badannya lebih ringan, Ava kembali ke asrama dan menemukan beberapa staff berlalu lalang di lorong. Mereka kaget melihat Ava yang baru saja kembali dari lari padi. Ava menundukkan kepala dan kembali ke kamarnya dibawah pengawasan para staff.


Ketika dia kembali ke kamar, Ava menatap teman sekamarnya yang masih tertidur dan berfikir untuk membangunkan mereka. Ava mengecek jam dan menemukan bahwa sekarang hampir jam 7 pagi. Jadi Ava pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri terlebih dulu baru membangunkan teman sekamarnya.


Begitu Ava selesai mandi, dia menuju ke kasur Hana dan membangunkannya. “Hana, sepertinya kita harus bangun.” kata Ava membangunkannya.


“Hampir pukul 7.” jawab Ava.


Hana akhirnya duduk di kasur sambil mengusap matanya.


“Aku akan membangunkan yang lain.” kata Ava lalu mulai membangunkan yang lain.


“Biarkan aku tidur lebih lama.” gumam Violet dalam tidurnya.


Ava tidak mengganggunya lagi dan malah menata kasurnya sambil berkata. “Di luar ada banyak staff yang sepertinya bersiap. Aku tidak tau untuk apa tapi lebih baik kalian segera bersiap jika tidak ingin terlambat.”


Beberapa detik setelah ucapan Ava jatuh, semua orang yang masih bermalas-malas langsung bangkit berdiri dan bergegas pergi ke kamar mandi. Ava kemudian dengan santai duduk bersila di kasur dengan baju training yang telah disiapkan sebelumnya. Dia menunggu dan melihat para teman-temannya bergerak dengan panik ada beberapa yang menggosok giginya sementar yang lain menggunakan bedak agar tidak terlalu polos.


Tepat beberapa menit kehebohan di kamar, sebuah lagu energik terdengar di speaker yang dipasang di kamar. Semua teman sekamar Ava langsung terdiam sambil melihat ke arah speaker sebelum mereka langsung bergerak dengan cepat untuk menyelesaikan rutinitas mereka.


Setelah lagu energi itu, sebuah pengumuman terdengar dari speaker. “Sekarang, semua peserta trainee diminta untuk menuju studio B dalam 15 menit, mereka yang tidak datang akan didiskualifikasi dari tahap pertama.”


Begitu pengumuman itu jatuh, semua peserta trainee yang mengeluh awalnya langsung melompat dari kasur dengan panik. Teman-teman sekamar Ava sendiri juga segera mempercepat kegiatan mereka agar tidak terlambat.


Ava dengan santai memakai sepatunya dan segera keluar dari asrama dan berjalan dengan santai ke studio B yang di maksud. Studio ini adalah studio tempat mereka sebelumnya syuting di awal.


Ava berjalan santai tetapi tidak terlalu lambat dan sampai di studio B lebih dulu sebelum para peserta lainnya. Para staff yang sudah stand by menatap dengan heran pada Ava sudah tiba lebih dulu dan berdiri dengan bingung menatap sekelilingnya.


Videografer yang bertugas menangkap momen para trainee dengan senang menyorot Ava yang memiliki penampilan yang sangat bagus di kamera. Untuk beberapa saat, semua kamera di tempat menyorotnya untuk mendapatkan reaksi Ava.


Ava juga menatap semua kamera yang ada di tempat tersebut dengan tenang dan kadang memiringkan kepala lalu dengan santai, Dia melakukan beberapa gerakkan sambil mengamati staff di belakang layar. Kemudian merasa dia akan menunggu lama akhirnya Ava duduk di lantai lalu kembali mengamati staff.


Supaya tidak terlalu lama Ava menunggu, akhirnya para peserta trainee masuk satu persatu dengan wajah mengantuk dan polos mereka.


Mereka kemudian mengusap wajah mereka dengan berusaha menyadarkan diri mereka. Perlahan mulai banyak peserta yang datang dan mereka kebanyakan masih setengah mengantuk. Beberapa bahkan membawa peralatan kecantikan seperti bedak untuk mengoles wajah mereka.


Akhirnya 15 menit kemudian semua peserta berkumpul di studio. Sophie datang agak akhir dan terlihat dia gak linglung. Jadi Ava menghampirinya dan berdiri di sebelahnya dengan menepuk pundaknya berusaha membuatnya sadar.


“Mereka terlalu kejam! Ini baru pukul 7!” keluh Sophie sambil memeluk Ava dengan manja.


Ava menepuk pundak Sophie berusaha membuatnya sadar. “Apakah kamu tidak malu jika terlihat seperti ini di depan kamera ?”


Mendengar kata kamer, Sophie langsung tersadar. Dia melepaskan pelukan Ava berdiri tegak sambil menganalisa sekitarnya dan menemukan memang ada beberapa kamera di sekitar mereka.


Kemudian dia menatap Ava dengan gugup. “Seharusnya tidak papa kan ?”


Ava tersenyum kecil melihatnya gugup. “Makanya aku memintamu untuk segera sadar sebelum kamu melakukan hal lain.” kata Ava.


Sophie mengangguk dan mulai menepuk pipinya. “Aku sudah sadar tidak perlu khawatir.” katanya dengan pipi yang agak memerah.


Pelatih vokal mereka yang sekaligus penyanyi Paris datang menaiki panggung dengan membawa mic. “Selamat pagi semua trainee sekalian.” kata Paris menyapa mereka.


“Selamat pagi!” balas para peserta trainee dengan nada keras.

__ADS_1


“Bagaimana tidur malam kalian ?” tanya Paris dengan lembut.


“Nyenyak!”


“Tidak menyenangkan!”


Tanggapan semua orang berbeda dan membuat Paris tertawa geli melihatnya.


“Senang bisa mengetahui kondisi para trainee semuanya, Saat ini aku akan memberitahu sebuah pengumuman. Pelatihan pertama akan dimulai pukul 8, setelah waktu makan pagi kalian. Jadi semua trainee diminta bersiap dan berkumpul lagi di tempat ini sebelum pukul 8. Akan ada latihan bersama sebelum kalian akan berlatih bersama kelas peringkat masing-masing.” Paris memberikan pengumuman ini dan meminta semua trainee segera pergi sarapan sebelum waktu latihan.


Ava sendiri pergi langsung ke kantin untuk makan karena dia sendiri sudah siap dengan pakaian latihan dan hanya perlu sarapan sebelum pergi latihan bersama peserta lain.


Ketika waktu persiapan habis, para trainee semuanya kembali berkumpul di tempat yang sama hanya saja kali ini semuanya berbaris sesuai peringkat mereka.


Ava berdiri di pinggir barisan dan di sebelahnya adalah Sophie yang juga berada di peringkat B.


“Aku merasa agak gugup karena ini latihan pertama kita. Para pelatih pasti akan mengajari kita disini secara bersamaan kan.” kata Sophie menebak apa yang akan dilakukan mereka. Ava mengangguk setuju tetapi tetap diam tidak merespon lebih banyak.


Tidak lama, para juri yang menilai vokal mereka sebelumnya datang. Paris dan Vincent akan mengajarkan mereka cara bernyanyi. Para Staff membagikan kertas lirik kepada semua murid.


“Halo semua peserta trainee!” sapa Paris dengan ceria dan di sambut meriah oleh para peserta. “sepertinya setelah sarapan, semangat kalian semakin besar. Kalau begitu mari kita mulai latihan kita. Kali ini kita akan mengadakan latihan pertama bersama sebelum kalian akan berlatih secara terpisah dengan kelas kalian. Akan kami berikan waktu 10 menit untuk kalian berlatih lagu ini sendiri. Silahkan dimulai.”


Sophie yang memegang kertas lirik dan musik di tangannya agak kebingungan dan mau tidak mau menatap Ava di sebelahnya dengan tatapan penuh penderitaan.


“Lagu ini terlalu tinggi.” kata Sophie dengan sedih di sela-sela semua orang yang bersusah payah untuk mencoba menyanyikan nada tinggi di lagu tersebut.


Ava membaca sebentar lagu beserta kunci yang ada di kertas lalu menatap Sophie. “Kamu bisa mencapai nada ini. Mari kita coba.” kata Ava santai dan mulai menyanyikan nada awal lagu dengan pelan.


Sophie menghadap Ava dan mulai mengikuti Ava bernyanyi. Ava selalu mengajari Ava dengan cara ini dan memintanya untuk tidak memikirkan apapun yang terpenting adalah perasaan mencoba lagu terlebih dulu sebelum terintimidasi dengan nada tinggi di lagu.


Saat akan mencapai nada tinggi di lagu, Ava terus bernyanyi dan Sophie fokus mengikuti nada dan suara Ava hingga mencapai nada tinggi yang ada di lagu. Ketika menyelesaikan lagu, Sophie menatap Ava dengan heran.


“Aku mencapai nada itu ?!” kata Sophie kaget.


“Sudah ku bilang, dengan suaramu, tidak sulit mencapai nada ini.” kata Ava santai. “Sekali lagi, kali ini aku tidak akan bernyanyi. Lakukan.”


Sophie dengan semangat mencoba kembali dan menyanyikannya, seperti sebelumnya, dia bisa dengan lancar menyanyikannya. “Oh! Aku berhasil lagi.”


Ava mengangguk. “Tinggal bagaimana kamu akan menyanyikannya sambil menari.”


Sophie sangat bersemangat dan kembali mencoba terutama nada tinggi dalam lagu berulang-ulang.


Ava sendiri mencobanya lagi beberapa kali dan tidak menemukan kesulitan besar. Saat Ava mengangkat kepala, Ava mendengar barusan di depannya yang merupakan kelas A sepertinya beberapa mengalami kesulitan untuk bernyanyi dalam nada tinggi.


Ava tidak memperhatikannya lagi dan kembali memperhatikan Sophie yang masih terus berlatih dan membiasakan diri dengan lagu tersebut. Ava juga mencoba beberapa kali lagi sebelum para pelatih meminta mereka bernyanyi secara kelompok.


Benar saja peringkat A tampaknya memang kesulitan mencapai nada tinggi dan pelatih tampaknya agak tidak senang dengan hal ini.


“Aku tidak menduga kelas A tidak bisa mencapai nada ini.” kata Paris dengan agak kecewa. “Aku harap di kelas berikutnya, kalian bisa lebih banyak berlatih dan memperbaikinya.”


Setelah kekecewaan di kelas A, kelas B diminta untuk maju dan mencoba. Sophie maju dengan percaya diri dan ketika mereka mulai menyanyi, Tanpa diduga, Sophie berhasil menyanyikannya dengan sangat nyaman yang bahkan membuat para trainee lain terkejut.


Paris dan Vincent terlihat puas, “Trainee Sophie! Kamu bisa menyanyikannya dengan sangat nyaman. Sangat bagus! Pertahankan.”


Sophie tersenyum senang dengan pujian tersebut. “Terima kasih pelatih!”


Para trainee yang melihat Sophie berhasil menyanyikannya dengan mulus menatap dengan iri dan mulai mengertakkan gigi bertekad untuk bisa menyanyikannya juga.


Latihan berlanjut dengan para pelatih yang menguji kelas berikutnya hingga selesai di kelas F. Diantara semua orang hanya beberapa orang yang benar-benar bisa langsung mencoba menyanyikannya dengan nyaman termasuk Ava dan Sophie. Para pelatih menaruh perhatian lebih terutama pada Sophie yang sepertinya sangat berbakat dalam menyanyi.


Setelah sesi latihan vokal, mereka diberi waktu istirahat singkat dan langsung berlanjut ke sesi tarian. Sesi kali ini, beberapa orang naik ke panggung diantaranya adalah Orion dan Lilith. Keduanya menggunakan pakaian training dan bersiap untuk melatih semua trainee.


“Halo semua trainee! Sebelum proses latihan, mari kita lihat video koreografi terlebih dulu.” Begitu Orion selesai mengatakannya, layar di belakang berubah menjadi video koreografi yang sebelumnya mereka sudah lihat.


Ava kali ini memperhatikan lebih detail gerakkan yang ada dan mulai mengingat-ingat terutama gerakan cepat yang ada. Setelah itu mulai mengulang gerakkan dalam proses yang lebih lambat.


Ketika video selesai diputar, para peserta mulai mengeluhkan gerakkan yang sangat sulit dan cepat tersebut. Sophie sendiri yang juga menonton dengan tenang di sebelahnya hanya bisa mendesah panjang.


“Koreografi ini sangat tidak ramah untuk pemula.” keluh Sophie dengan wajah sedih.


Ava menatap Sophie dengan wajah polos dan memberikannya fakta yang agak mengejutkan. “Hampir semua gerakan di video tadi adalah gerakkan dasar.”


Suara Ava tidak besar tetapi bisa didengar oleh beberapa trainee yang berdiri di sekitar Ava dan Sophie. Wajah semua orang yang mendengarnya langsung jelek dan tidak senang. Mereka menatap Ava dengan tidak senang dan terlihat agak sinis.


Sophie menunjukkan wajah terkejut dengan komentar Ava tentang ‘gerakkan dasar’. “Benarkah ?” tanya Sophie tidak percaya. Dia tampak tidak terpengaruh oleh sekitarnya dan sangat percaya pada Ava.


Ava tentu saja melihat respon kecil dari para peserta lain di sekitarnya yang terlihat tidak senang. Tapi dia hanya mengangguk pada Sophie. “Benar, yang sulit adalah koreo ini membutuhkan stamina.”


Sophie mengangguk mengerti.


“Baik karena semua sudah melihat video tadi. Sekarang kita akan mencobanya mulai dari awal.” kata Orion lalu mulai menempatkan para penari agak lebar sehingga bisa dilihat para peserta.


Ava mengikuti gerakkan dengan mudah dan tanpa tekanan sama sekali. Dia sesekali bahkan mengoreksi gerakan dan pose Sophie. Gerakkan ini tidak akan sulit bagi mereka yang terbiasa menari dan biasa berlatih. Tetapi bagi mereka di kelas D dan F gerakkan ini agak sulit. Mereka merasa frustasi karena tidak bisa mengikuti pelatihan.


Ketika inti dari tarian selesai diajarkan, para pelatih meminta untuk perkelas menampilkan tarian inti. Dalam hal tarian kelas A memang tidak bisa di remehkan, mereka menyelesaikan tarian dengan mudah. Terutama di gerakkan yang harus bergerak cepat., mereka mengeksekusinya dengan sangat sempurna.


Para pelatih bahkan mengangguk senang dan puas dengan penampilan tarian kelas A. Peserta dari kelas B agak gugup melihat peserta kelas A yang menunjukkan penampilan yang sempurna.


Peserta di kelas B langsung menari begitu lagu diputar, tetapi di kelas B masih ada beberapa peserta yang belajar dengan lambat. Jadi beberapa yang menari dengan baik dan lainnya agak sulit mengikuti terutama saat gerakkan cepat.


Tapi meski ada beberapa kesalahan, para pelatih sepertinya cukup mengapresiasinya dan meminta mereka berlatih lebih banyak lagi kedepannya.


Kelas B yang dipindah ke bagian belakang akhirnya bisa lega. Sophie terutama mulai berdiskusi dengan Ava mengenai gerakkan cepat dan memintanya untuk mengajarinya lagi. Tentu saja Ava tidak menolak dan menatap Sophie dengan serius dan sering memperbaiki gerakkan Sophie.


Interaksi mereka akhirnya harus berakhir karena mereka harus pergi makan siang terlebih dahulu sebelum pindah ke masing-masing kelas. Di sela-sela perubahan ruangan ini, interaksi para peserta juga disorot hingga memasuki ruangan tempat mereka harus berlatih.


-

__ADS_1


__ADS_2