
Wawancara berakhir dengan cepat, Ava tidak terlihat emosional atau bergetar sama sekali. Dia hanya terlihat lelah dan pasrah.
Saat dia ingin keluar, staff yang tadi menumpahkan air ke kamera menahannya. “Jangan beritahu yang lain soal kejadian tadi.”
Ava menatap sebentar dan mengira staff ini takut dia melaporkannya jadi dia hanya mengangguk patuh dan kembali ke ruang latihan seolah tidak ada yang terjadi.
Ketika Ava pergi, staff perempuan tersebut berlari ke ruangan dimana sutradara memonitori semua orang.
“Bagaimana bisa dia memperbaiki kamera ?” tanya sutradara yang menonton menjadi panik dan masih terkejut. Orang yang melihat di ruangan tersebut adalah para staff yang menyiapkan kamera tersembunyi untuk para trainee agar bisa melihat reaksi sebenarnya jika ada sesuatu yang terjadi.
“Dia bilang tahu dari pekerjaan part-timenya.” jawab staff tersebut, dia juga masih terkejut melihat bagaimana Ava mengotak-atik kamera.
Sutradara menjadi tercengang, dia berusaha menenangkan dirinya karena masih terkejut melihat ada trainee yang bahkan bisa memperbaiki kamera yang memang sengaja dirusak oleh mereka.
“Tenang.” kata sutradara berusaha menenangkan dirinya yang mulai khawatir. “Tidak semua trainee seperti dia, jadi kamera tersembunyi ini pasti akan berhasil.”
Staff yang lain mengangguk setuju, mereka kembali ke posisi bersiap untuk melakukan kamera tersembunyi lainnya.
Ava yang kembali ke ruang latihan tidak tau kejadian yang dia sebabkan berhasil membuat semua staff mengatur ulang dan lebih bertekad untuk membuat trainee lain terkena kamera tersembunyi.
Dia kembali dan langsung ditanyai oleh trainee lain tentang apa wawancara kali ini.
“Sama seperti biasanya,” jawab Ava sebelum kembali berlatih lagi.
Trainee lainnya mengangguk mengerti tidak merasa aneh sama sekali. Ava selalu menjawab sangat singkat jika tidak ada hubungannya dengan latihan mereka. Selain itu, Ava adalah orang jujur, jadi mereka mempercayainya 100% tanpa keraguan sama sekali. Karena sudah ada bocoran dari Ava, trainee berikutnya yang pergi untuk wawancara tidak merasa khawatir ataupun berharap akan ada kejutan.
Tapi sebuah kejadian aneh terjadi, para trainee yang kembali ke ruang latihan setelah latihan memiliki semacam aura aneh. Mereka mengatakan hal yang sama dengan Ava tetapi rasanya ada yang aneh.
Mereka yang belum di wawancara tidak begitu penasaran tetapi mereka yang sudah akan tersenyum ketika melihat trainee yang datang ke ruangan latihan. Suasana aneh ini terus berkembang semakin besar hingga seluruh trainee di ruangan tersebut di wawancara. Mereka baru berani berkata-kata setelah itu.
“Jadi apa yang kalian lakukan tadi ?” tanya seorang trainee kepada trainee lainnya.
“Aku hanya berusaha menenangkannya.”
“Aku juga. Tapi aku tidak tau harus bagaimana.”
“Staff yang bertugas benar-benar pintar sekali berakting.”
“Aku benar-benar masuk keruangan tanpa ada penjagaan apapun. Ketika kamera itu ketumpahan air, aku panik!” salah seorang trainee yang masuk setelah Ava menceritakan pengalamannya.
“Ah, karena kamu masuk sangat awal kan ? Aku bisa menebaknya, suasana aneh yang dimiliki semua orang setelah wawancara sangat aneh. Aku jadi curiga.”
Trainee yang masuk setelah Ava langsung menunjuk Ava yang sedang sibuk mencari postur yang bagu. “Ini karena Ava tidak menunjukkan tanda aneh apapun.”
Mendengar namanya disebut Ava sonak berhenti berlatih dan menatap teman-teman setimnya yang sedang berdiskusi. “Ada apa ?”
“Wawancara tadi. Kamu sudah tau kan itu kamera tersembunyi yang disiapkan staff program ?”
Ava mengerutkan keningnya bingung. “Kamera tersembunyi ?”
“Kamu tidak tau ?” Sydney dan yang lainnya menjadi bingung karena Ava tidak tahu soal itu.
Ava menggelengkan kepala pelan.
“Staff yang mewawancaraimu menumpahkan air di kamera dan berpura-pura panik. Itu adalah kamera tersembunyi untuk melihat reaksimu.” kata Crystal menjelaskan.
“Ah, ternyata, itu kamera tersembunyi…” Ava mengangguk kecil seolah baru menemukan fakta ini.
“Kamu tidak tau itu kamera tersembunyi ?!”
Ava menggelengkan kepala.
“Lalu apa yang kamu lakukan saat staff itu kelihatan panik ?” tanya yang lain.
“Aku mengeringkannya dengan kaosku dan memperbaikinya. Kamera itu kembali menyala lagi setelah beberapa saat.” jawab Ava dengan tenang.
Tapi semua orang menjadi sunyi mendengar ucapannya. Tidak ada yang menduga Ava akan melakukan hal tersebut. “......”
Sikap Ava sangat membuat orang menyadari kenyataan bahwa Ava adalah orang yang agak tidak terduga. Dia bahkan bisa membenarkan kamera yang seharusnya adalah sebuah kamera tersembunyi.
“Aku tidak tau harus berkata apa.” kata Sydney menatap Esme dengan tidak berdaya.
“Bukankah mereka memintamu untuk tidak memberikannya pada teman setim ?” tanya Crystal. “Kamu tidak merasa aneh sama sekali dari situ ?”
Ava menggelengkan kepala pelan. “Tidak. Kukira dia tidak ingin ada orang yang mengetahui insiden itu. Lagipula sudah ku bantu perbaiki.”
Mereka mengerti maksud Ava, karena kamera sudah diperbaiki, tidak ada gunanya dia mengumbar masalah tersebut lagi. Makanya dia tidak curiga sama sekali.
“Ngomong-ngomong bagaimana kamu tau soal kamera ?” tanya Sydney tiba-tiba.
“Part-time.” jawab Ava lalu berbalik dan kembali berlatih lagi.
“Ava, mari beristirahat dulu. Kita mulai setengah jam lagi.” kata salah seorang trainee melihat Esme sudah mulai melatih koreografi lagi.
“Benar Ava, mari bermain sedikit. Aku terlalu lelah untuk menari lagi.” kata yang lain dengan wajah lelah.
Ava memandang mereka lalu melirik Sydney meminta pendapatnya. Sydney mengangguk dan dia akhirnya duduk bersama dengan mereka.
“Bagaimana jika kita bermain sedikit game ?”
“Game apa ?”
“Ini adalah game yang kutemukan di internet, cukup menarik semacam tebak-tebakkan.” kata seorang trainee menarik perhatian semua orang. “Aku akan memberi semacam pertanyaan, kalian bisa menanyakan segala kemungkinan untuk jawaban tersebut, dan aku akan menjawab ya, tidak, dan bisa jadi. Nah terakhir kalian hanya perlu menjawab pertanyaannya setelah informasinya terkumpul.”
“Sepertinya menarik, seperti permainan detektif.”
__ADS_1
“Mari kita coba saja lagipula kita sedang bosan sekarang.”
Yang lain mengangguk setuju dan mereka mulai bermain.
“Ini adalah permainan yang diberi nama Soup Kura-Kura Laut. Pernah mendengarnya ?” tanya trainee yang menjadi moderator.
Yang lain menggelengkan kepala. Mereka biasanya fokus pada latihan jadi tidak begitu tahu hal seperti itu di internet.
“Kalau begitu biar kujelaskan sambil bermain.” Trainee moderator ini memulai permainan. “Ada seorang laki-laki masuk ke sebuah restaurant terkenal yang menyajikan sup kura-kura laut. Dia memakan soup itu dan langsung memanggil chefnya untuk menanyakan ‘Apakah ini Soup kura-kura laut ?’. Chef itu menjawab ‘ya, ini soup kura-kura laut.’. Laki-laki itu membayar makanannya, pulang dan bunuh diri. Nah menurut kalian apa yang terjadi ?”
Semua orang tampak berpikir mendengar cerita tersebut.
“Kalian bisa mulai menanyakan pertanyaan untuk mencari informasi.” kata trainee moderator mempersilahkan mereka untuk mulai bertanya.
“Apakah laki-laki itu memelihara kura-kura laut sebelumnya ?” tanya Sydney pertama kali.
“Tidak.”
“Apakah sup kura-kura laut adalah kode ?”
“Tidak.”
“Apakah soupnya beracun ?”
“Tidak.”
“Kenapa dia bunuh diri ?” tanya seorang dengan bingung. “Aku pernah mencoba sup kura-kura laut sebelumnya, rasanya tidak buruk.”
“Apakah dia pernah memakan sup kura-kura laut sebelumnya ?” tanya Ava menyadari sesuatu.
“Bisa jadi.”
“Bisa jadi ? Apakah itu artinya tidak pasti ?” tanya trainee lain dengan bingung.
Tapi mendengar bahwa hal hasil pertanyaan tersebut, seorang trainee lain menyadari sebuah hal dan mulai menanyakan pertanyaan lainnya. “Apakah dia seorang nelayan ?”
“bisa jadi.”
“Oh! Bisa jadi lagi, sepertinya kita semakin dekat.” Mereka semua menjadi semakin bersemangat dengan semakin dekatnya jawaban mereka.
“Apakah dia pernah mengalami kecelakaan ?” Jika menjadi nelayan ada kemungkinan dia pasti pernah mengalami kecelakaan.
“Ya.”
Semua orang semakin bersemangat mendengar jawaban hampir ditemukan. Mereka berpikir semakin keras berusaha menemukan pertanyaan berikutnya.
“Apakah itu kapal karam ?” tanya Ava lagi.
“Ya.”
“Ya.”
“Uh, tunggu dulu. Apakah itu artinya ada kemungkinan dia memakan temannya sendiri karena kelaparan ?” Mereka mulai membayangkan skenario tertentu di kepala mereka. Jenis yang sering muncul di film-film.
“Apakah pria itu memakan temannya sendiri dan mengira itu adalah sup kura-kura laut ?”
“Benar!” teriak trainee moderator tersebut membenarkan jawaban tersebut.
Mereka bersorak setelah berhasil menjawab pertanyaan tersebut. Permainan ini membuat semua orang menjadi lebih dekat, karena harus berdiskusi satu sama lain.
Ava mau tidak mau juga mengakui memang bermain game adalah hal yang pas untuk mereka mendekatkan diri. Dia sendiri jadi lebih dekat dengan teman setimnya, meski tidak benar-benar sampai tahap dimana dia benar-benar akrab dengan mereka.
Pada akhirnya permainan baik mereka berakhir dan mereka harus kembali berlatih lagi. Ava terutama tidak mengendur sama sekali dan terus mereview semua orang yang di timnya.
Beberapa trainee menjadi tersentuh, meski mereka punya kekhawatiran mungkin mereka tidak bisa menampilkan lagu tersebut. Ava tetap memberi mereka pelajaran dan juga tips agar mereka bisa berkembang lebih baik meski keluar dari program.
“Aku selalu merasa sedih jika memikirkan kemungkinan kita tidak akan bisa menampilkan lagu ini.” kata seorang trainee yang memang memiliki peringkat rendah.
“Aku juga sama-sama sedih dengan fakta ini.” kata yang lain saat memikirkannya.
“Seperti kita sudah berlatih keras tetapi tidak bisa menaiki panggung karena kurang dukungan.”
“Bersemangatlah, meski ada kemungkinan kita seperti itu, setidaknya kalian sudah berusaha keras.” kata yang lain berusaha menyemangati suasana suram yang tiba-tiba meliputi ruang latihan mereka.
“Meski aku harus tereliminasi, aku tidak menyesalinya. Banyak hal yang kudapat kali ini, seharusnya meski aku tidak berhasil debut di program ini, aku memiliki kesempatan debut di perusahaannku.” kata Crystal, dia sudah memikirkan hal ini sejak lama dan tidak merasa keberatan sama sekali.
Semua orang menjadi berpikiran sama meski mereka sangat ingin bertahan. Tidak ada salahnya, rasanya ilmu, pengalaman dan juga pertemanan yang mereka dapat sangat memuaskan sekarang.
*
Internet penuh dengan gambar para trainee dan foto cuplikan penampilan para trainee yang sengaja disebar oleh staf program. Beberapa penggemar sudah memiliki kelompoknya masing-masing untuk mendukung para trainee yang mereka idolakan.
Setelah episode lainnya tayang semakin banyak penggemar yang jatuh cinta dengan pesona para trainee. Gadis-gadis cantik yang penuh dengan bakat dan pesona yang berbeda dari sebelumnya.
“Aku merasa wajah dinginnya benar-benar menarik perhatianku.” komentar salah seorang fans Ava di Internet.
“Tapi apakah menurutmu begitu ? Menurutku lebih baik Sophie. Dia terlihat cantik dan manis, sangat lucu.”
“Tidak-tidak lebih baik Vivian adalah seorang dewi!”
“Benar aku juga mendukung Vivian, dia sangat cantik secantik dewi!”
“Dia juga cocok sebagai center, aku jatuh cinta padanya saat pertama kali melihat dia menampilkan lagu theme program.”
“Sydney jauh lebih baik dia memiliki suara yang sangat indah.”
__ADS_1
“Aku setuju, suara Sydney jauh lebih menyenangkan untuk didengar. Sangat mempengaruhi emosi.”
Berbagai jenis komentar berputar di Internet, bahkan orang-orang mulai berdebat siapa yang paling baik dan siapa yang akan menjadi Center. Terlepas dari kemampuan para trainee yang mereka dukung.
Kekacauan dan kesenangan para penggemar adalah hal yang sangat disenangi oleh para staff yang menonton ritme di internet. Mereka mulai mengupload beberapa video sampingan tentang para penggemar sehingga para penggemar bisa menontonnya sementara menunggu episode berikutnya di tayangkan.
Video ini adalah vidoe latihan dibalik layar yang dipilih oleh staff dengan cermat sehingga bisa menonjolkan poin-poin para trainee yang terlibat. Video-video ini langsung ditanggapi oleh penggemar dan banyak pujian pada para trainee yang berlatih sungguh-sungguh dan mengembangkan bakat mereka secara terus menerus.
Salah satu video yang paling panas adalah video Ava dan teman setimnya melakukan ulang koreografi sebuah lagu sebelumnya. Mereka yang menontonnya merasa bahwa koreografi yang dibuat oleh Ava terlihat sangat mudah dan mempesona tanpa menggunakan banyak gerakan rumit.
“Apakah hanya aku yang merasa koreografi ini terlihat jauh lebih bagus daripada aslinya ?”
“Tidak aku juga merasakan hal yang sama, koreo ini jelas terlihat sangat mudah untuk diikuti.”
“Bakat gadis-gadis ini tidak bisa diremehkan sama sekali, mereka benar-benar terlalu nyata!”
Berbagai komentar dan tanggapan dari para penggemar mulai memanas di internet. Ava sendiri tidak tahu bahwa dia telah menambahkan sekumpulan para penggemar baru yang bisa membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi.
Sementara di internet ada diskusi panas, para trainee yang tidak memegang ponsel jelas fokus pada latihannya. Ava menerapkan latihan 10x putaran, jika salah sekali akan diulang kembali. Jenis yang bisa membuat trainee lain hanya bisa terengah setelah menarikannya. Bahkan hingga kini belum ada yang bisa memecahkan latihan ala Ava ini. Jadi beberapa trainee mulai bertekad untuk menaklukannya.
“Jenis latihan seperti ini benar-benar membuatku bisa hafal di luar kepala.” kata seorang trainee yang sedang beristirahat. Dia baru saja melakukan tarian selama lima kali sebelum akhirnya salah dan memilih istirahat terlebih dulu.
“Aku berhasil hingga tujuh kali sebelumnya, tapi salah karena aku kurang fokus.”
“Rekorku hanya berhasil sampai di lima kali.”
“Hehehe, aku berhasil hingga delapan kali.”
Para trainee di tim Ava mulai membandingkan seberapa kuat mereka menari dan rekor mereka masing-masing. Tanpa diduga semua orang menjadi semakin bersemangat setelah mendengar hasil rekor yang lainnya dan mulai berlatih lagi lebih keras.
“Kenapa aku merasa semua orang berlatih lebih keras sekarang ?” tanya Crystal ketika melihat pemandangan di depannya.
“Itu karena metode latihan Ava, lebih tepatnya tantangan dari Ava untuk bisa melakukan 10x tanpa salah sama sekali.” kata Sydney. “Belum ada yang berhasil melakukannya sampai sekarang. Jadi seorang orang termotivasi untuk bisa menyelesaikannya.”
Ava hanya diam saja dan melihat penampilan tim lain yang sedang menggunakan ruangan terlebih dulu. Setelah kelas pertama, mereka mengalami banyak kemajuan, setidaknya semua orang sudah hafal koreografi dan lirik. Sekarang mereka hanya perlu melancarkannya sebelum kelas kedua.
Untuk kelas kedua akan dilaksanakan dua hari setelah kelas pertama dan untuk sebagian orang ini adalah kelas terakhir mereka. Jadi anggota staff memberikan waktu yang lebih lama dan dibagi menjadi dua hari kelas. Masing-masing kelompok akan mendapatkan waktu kelas selama dua jam dan pelatih akan tetap di area pelatihan untuk konsultasi para trainee.
“Sepertinya kalian banyak berlatih.” kata Orion ketika melihat tim satu dan dua dari kelompok Ava melakukan penampilan yang sangat bagus.
“Terima kasih.” teriak semua orang menanggapi.
Suasana kelompok Ava jelas sangat menyenangkan dan semua orang sangat teratur dalam latihan. Semua orang sangat kompak dan bahkan energi mereka jelas meningkat banyak dari sebelumnya.
“Rasanya sangat berbeda dari kelompok sebelumnya, Kalian seperti menjadi satu orang. Sangat kompak hingga ke detailnya.” puji Orion lalu menatap Ava. “Seperti yang bisa diharapkan dari seorang penari, bisa mengajari yang lain dengan baik.”
Ava hanya bisa tersenyum tipis. Dia agak kelelahan beberapa hari terakhir, dan juga tamu bulanannya sedang datang sehingga dia tidak bisa berbicara banyak selain masalah pelatihan.
“Karena tidak ada masalah serius, mari kita lakukan bersama sambil menyesuaikan ekspresi kalian. Itu yang masih kurang.” Orion memulai memimpin latihan mereka dan terus mengulanginya beberapa kali.
“Bagus, lakukan seperti itu,”
“Tidak jangan terlalu datar, berikan sedikit senyum tipis dan kedipan lembut.”
“Bagus, lakukan lagi.”
“Lagi.”
“Kali ini sudah bagus, lagi.”
Mereka melakukan seperti yang diminta Orion dan terus memperbaiki kesalahan mereka sendiri. Hingga dia menyadari sesuatu yang aneh dari kelompok ini. “Kenapa kalian masih bersemangat sekali setelah mengulang beberapa kali ?”
Semua orang yang sudah berkeringat hanya bisa tertawa sambil melirik Ava di pinggir barisan. Salah satu dari mereka mulai memberitahu Orion tantangan di kelompok mereka.
“Aku sudah memiliki tantangan tersendiri di kelompok kami pelatih.” kata seorang trainee. “10x tanpa salah baru lolos.”
Orion terkejut mendengarnya dia kemudian menatap semua orang dengan bingung. “Siapa yang membuat tantangan ini ?”
Semua orang dengan sontak menjawab. “Ava.”
“Uuuhh.. luar biasa. Metode ini sepertinya sangat manjur untuk kalian.” kata Orion salut dengan cara yang agak tidak biasa ini. “Kalau begitu lanjutkan.”
Semua orang semakin bersemangat berlatih koreografi, tapi di sela-sela latihan, mereka juga mulai berlatih vokal mereka dan meningkatkan kerja sama satu sama lain untuk mengisi lagu dengan suara mereka.
Metode Ava kali ini agak berbeda, dia membuat semua orang menari sambil bernyanyi untuk bisa menstabilkan suara semua orang. Meski ada beberapa orang yang masih punya kendala, tapi selebihnya meningkat secara signifikan.
Pelatih vokal dan rap, Vincent dan Zoo memuji mereka karena sudah meningkat.
“Kelompok kalian memang sangat berbeda, kalian meningkat banyak dan sepertinya sangat bersemangat dalam latihan.” kata Vincent memuji semua orang.
“Benar, kalian sudah meningkat banyak.” kata pelatih Zoo memuji.
Semua orang jelas menjadi sangat senang, kerja keras mereka selama beberapa hari terbanyak dengan manis. Mereka saling menatap terutama kebanyakan menatap Ava yang memang banyak sekali membantu mereka berkembang.
“Meski ini mungkin kelas terakhir kita, aku percaya ini mungkin bukan pertemuan terakhir kita. Jadi teruslah berusaha dan berlatih hingga kita bisa bertemu lagi nantinya di masa depan.” kata Vincent memberikan sedikit penghiburan untuk para trainee karena kemungkinan tidak akan bisa bertemu lagi.
“Benar apa yang dikatakan pelatih Vincent, sekarang banyak sekali platform yang bisa digunakan untuk mempublikasikan karya kalian meski tidak debut secara profesional. Intinya jangan menyerah dan terus mencoba.” kata pelatih Zoo.
Semua orang menjadi sedikit emosional karena mereka mungkin akan segera berpisah. Tapi mereka menghargai sekali hubungan mereka dengan para pelatih yang jelas sangat berarti.
“Kami yang seharusnya mengucapkan terima kasih.” kata Gema dengan mata memerah. “Terima kasih atau pelatihan yang bisa kami terima, ilmu-ilmu dari pelatih semua sangat berharga untuk kami.”
Yang lain ikut mengangguk dan menyetujui ucapan Gema. Meski mungkin gagal, tapi apa yang mereka dapatkan sangatlah berharga. Setiap momen yang mereka lewati di program ini sangat berharga.
\=
__ADS_1