LuckyONe

LuckyONe
Chapter 2: Pass to the Program


__ADS_3

Musim dingin akhirnya tiba, Ava yang sedang duduk di studionya tiba-tiba mendapatkan pesan dari seseorang. Ava melepaskan headsetnya lalu membuka pesan tersebut.


Pesan tersebut berisi mengenai keberhasilan dirinya untuk lolos audisi program variety show tersebut.


‘Selamat kepada Ava Luna yang telah berhasil lolos audisi program survival ‘Unlimited Youth Girls’. Berikutnya untuk penandatangan kontrak akan di lakukan pada 20 Februari. Untuk informasi lebih lanjut akan dijelaskan pada hari penandatangan kontrak sekaligus wawancara singkat.’


Ava meletakkan handphone kembali dan berniat melanjutkan pekerjaannya. Tapi tidak lama, Sophie menelfonnya. Ava dengan cepat mematikkan suara musik dan mengangkat telpon Sophie.


“Apakah kamu sudah menerima pemberitahuan mengenai audisi ?” tanya Sophie bahkan sebelum dia menyapanya.


“Um, aku baru saja menerimanya.” kata Ava santai.


“Lalu bagaimana hasilnya ?” tanya Sophie dengan buru-buru.


“Aku berhasil lolos audisi dan hanya perlu datang untuk menandatangani kontrak bulan depan.” jawab Ava mengabari pesan yang dia terima.


Sophie terdengar menghela nafas lega. “Syukurlah kamu akhirnya lolos audisi. Aku sangat khawatir kamu tidak bisa lolos.”


Ava tertawa kecil mendengarnya khawatir. “Tidak perlu khawatir. Kamu hanya perlu meningkatkan kemampuanmu agar tidak mengalami kesulitan nanti.”


“Aku mengerti!” Sophie terdengar bersemangat setelah menerima berita baik dari Ava. “Kalau begitu aku akan kembali berlatih lagi sekarang. Sampai jumpa!”


“Um..”


Setelah itu, telfon dimatikan dan Ava yang bisa tersenyum geli sambil menggelengkan kepala pelan. Dia kembali memasang headsetnya dan berkonsentrasi mengerjakan pekerjaannya.


Dia sekarang tengah menulis lirik yang pas untuk lagu yang baru dia selesaikan kemarin. Lagu ini memiliki melodi lembut dengan iringan piano dan gitar yang samar di belakang. Suasana lagu ini agak terasa seperti seorang yang lembut jatuh cinta untuk pertama kali dan menjelaskan apa itu cinta.


Terdapat rap di sela nyanyian lembut wanita, hal ini untuk menambahkan rasa ketertarikan dari lagu ini sehingga tidak terlalu membosankan. Ava juga menuliskan lagu dan guide untuk orang yang menyanyikannya.


Ava menuliskan lirik tanpa adanya hambatan tetapi dia selalu merasa ada yang kurang dari lirik tersebut. Meski lagu dan liriknya bagus, tetapi dia selalu merasa bahwa lagu ini agak kekurangan rasa di dalamnya.


Begitu dia selesai dengan lagunya, Ava agak merasa tidak senang. Rasa jatuh cinta itu agak tidak ada. Kecuali lagu ini dinyanyikan oleh orang yang memang memahami rasanya jatuh cinta.


Sebenarnya dari pada tema jatuh cinta, Ava lebih senang dengan lagu yang bertema lain seperti rasa semangat, putus asa, dan bernuansa pesta. Karena mungkin satu-satunya perasaan yang belum pernah di rasakan adalah rasa jatuh cinta dan kasih sayang yang tulus.


Ava mendesah panjang lalu menyimpan file tersebut di folder yang bertuliskan ‘Never’. Di dalam folder ini ada lebih dari 20 lagu yang semuanya dirasa Ava kurang. Dia hanya menyimpannya untuk jaga-jaga jika memang ada kejadian yang memerlukan mengeluarkan lagu ini.


Setelah itu, Ava menyandarkan kepalanya sambil memikirkan apakah ada inspirasi yang bisa didapatkan lagi. Ava membukakan jadwal yang diberikan Mr. Wild sebelumnya untuknya. DIa mengecek dengan teliti dan menandai lagu apa saja yang diberikan pada siapa. Dia meringkasnya untuk sementara lalu memindahkannya untuk diberikan pada Mr. Wild di pertemuan mereka nanti.


Ava melirik jam begitu dia selesai meringkas semuanya lalu menepuk perutnya kecil merasa agak lapar. Jadi dia segera mematikan komputernya, meraih dompet dan handphone lalu bergerak berdiri dari kursinya. Mematikan lampu lalu pergi keluar dari kantornya.


Ava memiliki kantor musiknya sendiri di luar apartemennya. Sebuah kantor kecil yang dia sewa di area basement di sebuah gedung komersial dengan harga murah tetapi terjamin keamanannya.


Kantor ini memiliki sebuah ruang rekaman, kantor pribadinya untuk menerima tamu dan sebuah ruang tunggu beserta kamar mandinya. Awalnya dia berniat untuk menjadi satu antara kantor dan apartemennya. Tetapi setelah mempertimbangkan bahwa dia harus menerima beberapa tamu kedepannya, jadi dia akhirnya membatalkan niat tersebut.


Area tempat dia menyewa kantor berada di area perkotaan yang memiliki fasilitas yang lengkap seperti supermarket, toko obat, restaurant, hingga mall juga ada. Ava yang kelaparan sekarang bisa mencari makanan dengan mudah dan hanya perlu berjalan beberapa meter dari kantornya.

__ADS_1


Ada sebuah restaurant yang seperti hidden gem diantara semua restoran yang ada di tempat ini, dia sering datang kesana untuk makan. Sebuah restoran bergaya rumahan yang tidak terlalu besar, makanan di sana menghadirkan masakan rumahan yang sehat dan segar.


Ava sampai di sebuah restoran yang agak tersembunyi dan dia segera masuk ke dalam restoran. Restoran tidak besar tetapi hari ini kebetulan agak ramai, Dia menemukan sebuah meja untuk dua orang, dan segera duduk.


Seorang pelayan datang menghampirinya dan menanyakan apa yang ingin dia pesan. Ava memesan tanpa melihat menu, satu hidangan daging, satu hidangan sayur, nasi dan teh panas.


Begitu pesanan dicatat, pelayan itu langsung pergi. Ava memainkan handphonenya sambil menunggu pesanan di antar. Di tengah-tengah dia sedang memainkan handphone, seseorang datang mendekati mejanya.


“Permisi,” suara berat terdengar di telinga Ava, membuatnya mengangkat kepalanya.


Keegan yang ingin makan malam setelah jadwalnya yang padat merasa agak kecewa ketika melihat restoran favoritnya penuh dengan pelanggan. Tapi meski begitu dia tidak berniat menyerah, jadi dia melihat sekeliling dan menemukan bahwa ada seorang perempuan yang duduk sendirian tampak tidak memperdulikan sekitarnya dan fokus dengan teleponnya sendiri.


Awalnya dia agak ragu untuk bergabung, karena merasa takut dikenali. Meski dia sudah berpakaian lengkap untuk menghindari dikenali, biasanya tetap ada orang yang mengenalinya. Tapi masalahnya adalah dia sudah lapar dan tidak berniat untuk berpindah ke restoran lain, jadi dia tidak memperdulikannya dan datang kepadanya untuk bertanya.


Ava menatap Keegan berpakaian lengkap dengan topi dan masker yang menutupi setengah wajahnya. “Ada yang bisa kubantu ?”


Keegan menatap kursi kosong di hadapan Ava. “Bisakah aku duduk di sini ? Tempat lain penuh.”


Ava sontak mengedarkan tatapannya dan menatap sekeliling melihat restoran memang penuh dengan orang yang baru saja pulang kerja. Dia kembali menatap Keegan di depannya dan mengangguk.


“Silahkan.” kata Ava mengijinkannya untuk duduk.


Keegan mengucapkan terima kasih dan duduk di hadapannya lalu memanggil pelayan dan memesan mie dan air. Ava tidak memperhatikan lebih lanjut dan menatap kembali handphonenya, fokus dengan pembicaraan manajernya yang membahas mengenai pekerjaan.


Keegan memperhatikan perempuan di hadapannya yang tampak tidak mengenalinya dan sibuk sendiri. Jadi dia menjadi lebih santai dan mulai mengeluarkan handphonenya untuk mengecek pesan terbaru.


Ava menutup chatnya ketika pesanannya akhirnya datang. Ava menyimpan handphonenya dan bersiap menyantap makanannya, tapi kemudian dia teringat ada sosok pria di depannya. Dia mengangkat kepalanya dan menemukan Keegan di depannya menggunakan topi yang menutupi matanya dan wajahnya tertutup dengan masker. Ava menatap cukup lama dan agak merasa agak bingung.


Tentu saja Keegan ini merasa dia terus ditatap jadi dia mengangkat tatapannya dan menatap Ava yang duduk di depannya.


Ava memegang peralatan makanannya sedikit, “Maaf, tapi aku akan makan duluan.”


Keegan mengangguk. “Silahkan.”


Ava tersenyum kecil lalu mulai makan dengan kepala tertunduk. Keegan menatap perempuan di hadapannya yang entah bagaimana bersikap masa bodoh denganya. Baru saja dia menatap dengan agak jelas perempuan di depannya dan dia bisa melihat fitur wajah cantiknya yang diliputi aura kemalasan yang membuatnya terlihat seperti kucing malas yang duduk tanpa bisa diganggu oleh orang lain saat sedang bersantai.


Keegan berhenti memperhatikan Ava setelah beberapa detik setelah mengamati untuk beberapa saat. Saat pesanan Keegan datang, Ava tampaknya telah selesai makan dan mengucapkan selamat tinggal dengan suara pelan dan keluar menuju kasir untuk membayar makannya.


Ava yang keluar dari restoran kembali ke studionya untuk menulis lagu yang terlintas di kepalanya saat sedang makan tadi. Perasaan yang jarang dia rasa muncul, perasaan diamati dan perasaan berdebar. Dia tentu saja merasakan tatapan pria di hadapannya tadi dan dia merasa agak berdebar. Tatapan itu agak berbeda dari tatapan yang pernah dia dapatkan sebelumnya.


Jadi mumpung dia sedang merasakannya, dia berniat untuk segera menyampaikannya dalam lagu sebelum rasa yang jarang dia rasakan hilang. Dengan begitu, Ava melangkah dengan cepat kembali ke studionya dan sampai dengan segera.


Ava menyalakan komputernya dan perekam lalu mulai memainkan nada ringan lewat piano elektrik yang berada di dekat meja kerja Ava. Dia memainkan anda riang yang cepat sambil bergumam kecil seperti memberikan melodi untuk lirik. Jari-jari Ava bergerak di keyboard sambil mengikuti keinginan dan perasaan yang dia rasakan.


Ava membiarkan perasaan itu memenuhi dirinya dan mengeluarkannya sepenuhnya lewat lagu. Bahkan sesekali Ava menyanyikan kalimat yang terlintas begitu saja. Yang terpenting saat ini adalah menyampaikan perasaan ini sebelum hilang lagi nantinya.


Begitu perasan itu akhirnya tersampaikan dan Ava merasa lebih lega, dia bergeser ke depan komputernya dan memainkan hasil rekamannya dan mulai mengotak-atik lagu tersebut dengan menambahkan beberapa suara drum dan bass untuk menambahkan rasa kaya dari lagunya.

__ADS_1


Saat dia selesai, jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Ava mendesah lelah tapi kemudian dia menatap hasil lagu barunya dengan senyum. Hampir semua perasaannya berubah menjadi lagu. Entah perasaan senang, sedih, bosan, dan sekarang perasaan berdebar karena ditatap orang lain.


Karena sudah pukul tiga dia berniat menyelesaikan hingga lirik sehingga saat matahari bersinar lebih tinggi dia bisa pergi pulang untuk beristirahat. Ava sudah memiliki gambaran mengenai lirik yang akan ditulis sehingga mudah baginya.


Tangan Ava bergerak dengan cepat di keyboard sambil sesekali berhenti untuk menyamakan lirik dengan nada yang sebelumnya telah dibuat. Setelah selesai, Ava mulai merekam lirik tersebut dengan bernyanyi. Dia bernyanyi dengan menggunakan emosi yang dirasakan lalu setelah selesai, dia mengubah suaranya agak berbeda sehingga tidak bisa dikenali nantinya.


Proses penyelesaian lagu ini selesai pukul enam pagi. Ava mencubit pangkal hidungnya sambil memejamkan mata, mulai merasa kelelahan melanda kepalanya. Tentu saja Ava tidak ingin ini terus berlangsung sehingga, dia menyimpan filenya dan segera mematikan komputernya supaya bisa segera pulang.


Ava tidak lupa mengunci kantor dan berjalan pulang ke apartemennya yang tidak jauh dari kantornya. Di perjalanan, Ava membeli sandwich dan segelas teh hangat sebagai sarapan sebelum tidur.


-


Sore harinya, di kantor Ava, Mr. Wild duduk di kantor Ava sambil menatap Ava yang tampak di liputi aura mengantuk yang kuat. Mr. Wild telah mengenal Ava selama 5 tahun dan sangat puas dengan pekerjaannya sekarang. Bagi seorang manajer sepertinya, tugasnya untuk membantu Ava menghubungi pihak luar tidaklah sulit malah sangat membantu. Dengan gaji yang layak, dia hanya perlu bernegosiasi dengan pihak-pihak lain yang ingin membeli lagu ciptaan Ava. Syarat dan ketentuan dari Ava sangat jelas yaitu, dia hanya perlu membuat lagu dan tidak menerima adanya syuting atau pertemuan dalam bentuk fisik dengan pihak luar.


Sementara itu, Mr. Wild akan menangani masalah pertemuan,pembicaraan tentang pembelian lagu, penandatanganan kontrak hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum.


Tentu saja Mr. Wild tidak merasa kesulitan dan dia malah senang karena Ava adalah orang yang sopan dan mudah di ajak kerja sama. Ava juga tidak pernah meminta sesuatu yang menyulitkan dan selalu bersikap profesional.


Setelah berhubungan 5 tahun dengan Ava dia agak suka khawatir dengan Ava yang kadang suka lembur secara berlebihan dan terlihat sangat lelah setiap harinya. Sama seperti sekarang,


Ava terlihat yang terlihat mengantuk sedang mengoperasikan komputernya untuk menyalin file untuk bisa diberikan pada Mr. Wild.


“Apakah kamu lembur lagi semalam ?” tanya Mr. Wild dengan khawatir.


Ava berhenti sejenak lalu kepalanya bergerak menatap Mr. Wild dengan perlahan lalu mengangguk. Setelah itu, dia kembali menatap komputernya dan mengklik beberapa kali dan menunggu sejenak.


Mr. Wild hanya bisa menghela nafas panjang, melihat dari reaksi Ava sekarang, sepertinya memang dia begadang sehingga tidak berniat untuk banyak berbicara seperti sekarang. Ava yang seperti sekarang, lebih seperti mode otomatis. Begitu dia pergi, dia pasti akan segera kembali tidur.


“Kamu masih muda, jangan terlalu banyak lembur semalaman.” kata Mr. Wild menasehatinya.


Ava yang masih fokus ke komputernya hanya bisa mengangguk lagi tanpa berbalik menatap. Setelah proses penyalinan file mencapai 100%, Ava mencabut flashdisk dan memberikannya pada Mr. Wild.


Sebagai ganti Flashdisk, Mr. Wild memberikan sebuah amplop yang agak tebal dan memberikannya pada Ava. “Ada pekerjaan tambahan yang agak mendadak. Sebenarnya aku tidak berniat untuk menerima pekerjaan ini, tapi karena sutradara drama ini memohon selama beberapa hari, jadi aku terpaksa menerimanya untuk dilihat olehmu.”


Ava menarik amplop coklat di depannya dan membukanya. Tumpukkan kertas yang agak tebal dengan judul ‘Stranger to Love’.


“5 menit.” kata Ava pelan lalu mulai membaca alur cerita dari drama ini untuk lebih memahami.


Mr. Wild tidak banyak berkomentar dan diam menunggu Ava menyelesaikan bacaannya. Dia tau bahwa Ava biasanya jarang menerima lagu untuk soundtrack sebuah drama dan jika dia menerima pekerjaan soundtrack biasanya drama tersebut memang sangat bagus. Dengan dukungan soundtrack dari Ava, tentu saja popularitas sebuah drama akan langsung melonjak. Oleh karena itu, banyak sutradara yang berharap, Ava bisa menuliskan lagu untuk soundtrack drama mereka.


Ava membaca awal cerita dan langsung loncat ke akhir cerita, dengan cara ini, dia bisa menilai kualitas sebuah drama dengan lebih cepat. Di awal tahun karirnya, dia harus mulai dari membaca semua jalan cerita untuk bisa memutuskan tapi sekarang dengan semakin banyaknya drama, dia bisa langsung segera tau jalan cerita dengan membaca awal dan akhir cerita.


Begitu dia selesai membaca, Ava meletakkan naskah tersebut di meja dan tangannya langsung memegang mouse sambil mengklik beberapa kali.


“Aku punya lagu yang pas untuk drama ini.” kata Ava pelan memberitahu Mr. Wild.


Salah satu alis Mr. Wild terangkat lalu menyerahkan kembali flashdisk di tangannya sambil tersenyum kecil. Sungguh beruntung sutradara ini karena bisa mendapatkan lagu dari Ava kali ini.

__ADS_1


__ADS_2