
“Lalu anda berkata tentang fans. Apakah menurut anda jika sampai hal tersebut terjadi, fans bisa melindungi ? Apakah mereka bisa menerima fakta bahwa bahwa idola mereka di jual ? Aku rasa tidak. Jadi kumohon untuk tidak terlalu memaksaku untuk sesuatu yang tidak kuinginkan, karena aku sendiri harus menyelamatkan diriku dari masalah-masalah tersebut.” kata Ava dengan tenang lalu berbalik pergi dari hadapan Keegan.
Menurutnya yang sudah mengalami banyak hal, sungguh tidak masuk akal untuk masuk ke lubang yang jelas-jelas adalah lubang macan. Lebih baik untuk berdiri di pinggir lubang dan tidak masuk.
Jadi keputusannya untuk tidak terlalu terlibat jauh dalam industri hiburan sudah ditetapkan sejak dulu dan tidak akan berubah.
Sementara itu, Keegan sendiri yang mendengar Ava menguak apa yang ada di industri ini dan memintanya untuk tidak terlalu ikut campur hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa menolak fakta bahwa memang hal tersebut memang ada dan dia sendiri tidak bisa menghentikan hal tersebut terjadi.
Ava yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari Keegan kembali ke asrama dengan cepat. Teman sekamar Ava semuanya masih belum bersiap tidur dan masih terlihat membicarakan apa yang ingin mereka lakukan untuk besok. Ava tidak bergabung dalam pembicaraan ini dan malah pergi mandi.
Ketika dia kembali dari mandi, teman-teman sekamar Ava akhirnya bertanya.
“Apakah kamu sudah memikirkan apa yang ingin kamu lakukan untuk besok ?” tanya Clarence yang melihat Ava sudah selesai mandi dan berpakaian piyama.
Ava masih yang menggantung handuk diam beberapa saat sambil berfikir. “Entah, aku belum memikirkannya, mungkin aku akan merekam proses makan.”
“Kamu tidak ingin menunjukkan bakatmu ? Menari mungkin ?” tanya Clarence.
Ava yang sudah naik ke tempat tidur terdiam sebentar. “Terlalu melelahkan, makan juga adalah salah satu bakatku. Tidur juga salah satunya, jadi selamat malam.”
“Selamat malam.” balas teman-teman Ava yang lain.
Mereka saling menatap dan hanya bisa mengangkat bahu secara bersamaan. Mereka tidak bisa menebak rencana Ava sama sekali.
Pada akhirnya banyak trainee yang mengalami insomnia karena memikirkan apa yang harus mereka lakukan keesokan harinya. Waktu yang mereka punya hanya satu menit dan harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Ketika keesokan harinya, setelah menjalani rutinitas pagi, Ava kembali ke asrama dan mandi terlebih dulu. Kabarnya syuting akan dimulai setelah makan pagi, jadi masih ada waktu untuk merencanakan apa yang ingin dia lakukan nantinya.
Ava pergi ke staff yang sedang menyiapkan sarapan untuk bertanya mengenai rencana yang sudah dia pikirkan tadi malam. Bakat lain yang dia miliki adalah memasak. Tapi tidak mungkin untuk memasak dalam satu menit, jadi lebih baik berbicara tentang resep masakan sambil makan.
“Apakah aku bisa meminjam dapur dan meminta bahan masakan ?” tanya Ava kepada salah satu staf yang ada.
“Apa yang ingin kamu lakukan ?” tanya staff tersebut bingung mendengar ada trainee yang ingin meminjam dapur.
“Ini untuk siaran individual nanti. Aku ingin makan sesuatu dan perlu memasaknya secara pribadi.” jawab Ava.
Staff tersebut mengangguk, sebelumnya sutradara telah meminta semua staff untuk mengkoordinasi kebutuhan trainee selama bisa di sediakan. Sementara ini hanya masalah masakan jadi tidak ada masalah sama sekali.
Staff tersebut membawa Ava ke dapur dan memperkenalkannya kepada salah satu koki yang bertugas untuk memasak makanan untuk trainee.
“Ini chef Aruna yang bertugas memasak kamu bisa meminta bahan darinya.” kata staff tersebut pada Ava. “Maaf merepotkanmu, ini hanya trainee yang ingin menyediakan bahan untuk syuting nanti.”
“Tidak masalah.” kata chef Aruna dan dengan senang hati membiarkan Ava di dapur. “Apa yang kamu butuhkan ?”
Ava berpikir sebentar memikirkan apa yang dia butuhkan. “Apakah ada sayap ayam ?”
“Tentu saja ada. Apa kamu ingin membuat camilan ayam goreng ?” tanya chef Aruna sambil bergeser mengambil sayap ayam yang tidak terlalu beku seperti siap masak. “Ambil ini, apa lagi yang kamu butuhkan ?”
“Apakah ada tepung terigu, tepung beras, tepung tapioka, telur, bawang putih, dan bumbu-bumbu dasar.” kata Ava menjelaskan resepnya. Chef Aruna juga membantu Ava dalam mengatur setiap bahan sehingga tinggal di buat oleh Ava sesuai arahan.
Ava yang mendapatkan semua bahan mulai bekerja, dia mencuci ayam, meniriskannya dan membiarkannya sebentar sambil membuat adonan untuk ayam.
Membuat adonan dengan cepat dan mencampurkan ayam kedalamnya. Ava mendiamkannya sebentar sambil membuat saus untuk ayam. Tangan Ava sangat cepat dan tidak terasa kaku sama sekali dalam menggunakan pisau memotong bawang putih.
“Kamu cukup berbakat dalam memasak.” puji chef Aruna ketika melihat dari samping.
Ava tersenyum kecil sambil mencampurkan bahan untuk sausnya. “Aku senang memasak.”
“Itu bagus, seorang gadis setidaknya harus tau bagaimana memasak makanan sederhana.” Chef Aruna adalah koki paruh baya yang merasa setiap anak muda setidaknya harus bisa memasak.
Ava hanya tersenyum dan mulai menggoreng ayamnya dalam minyak panas. Ava yang memasukkan ayamnya menyiapkan piring untuk menyajikannya segera setelah meniriskannya.
Ayam yang digoreng perlahan berubah menjadi kecoklatan, pada saat ini Ava meniriskannya. Lalu memasukkan ayam lain hingga habis. Baru setelah selesai, Ava memindahkan saus ke mangkuk tersendiri dan menyajikan ayam ke piring yang berbeda. Hal ini dilakukan agar dia masih bisa mendapatkan tekstur dari kulit ayam.
“Biar aku bantu menyimpannya, saat kamu akan pergi syuting, kamu bisa mengambilnya.” Chef Aruna menahan diri untuk tidak mengambil sepotong dan menyimpannya di tempat makanan agar tetap hangat dan tidak hilang.
“Kalau begitu maafkan aku merepotkan.” kata Ava dengan berterima kasih sebelum meninggalkan dapur.
Ketika Ava kembali ke asrama, teman-teman sekamarnya tampak baru saja selesai mandi dan bersiap untuk pergi makan.
“Ava apakah kamu pergi keluar untuk lari pagi ?” tanya Hailey, dia adalah orang yang paling sering sadar Ava pergi lari pagi setiap hari.
Ava menggelengkan kepala. “Aku pergi menyiapkan bahan untuk syuting individu.”
“Oh! Kamu sudah menyiapkannya ?” tanya Ellie dengan terkejut. Dia baru saja bangun tidur dan terkejut mendengar Ava sudah menyiapkan bahan untuk syuting.
Ava mengangguk.
“Apa yang kamu siapkan ?” tanya Leah dari kasur di atas kasur Ellie. Keduanya baru saja bangun tidur dan bangun dan menjadi segar karena ucapan Ava.
“Makanan, aku memasaknya di dapur.” jawab Ava dengan santai dan bersiap mengambil handuk hendak mandi. “Aku pergi mandi dulu.”
Ava kemudian pergi mandi meninggalkan teman sekamarnya yang sedang mengalami kepanikan. Mereka segera bangun dan mulai mendiskusikan apa yang ingin mereka lakukan dalam syuting.
Ketika Ava keluar dari kamar mandi, dia melihat Sophie berada bersama teman sekamarnya dan suasana agak tegang. “Ada apa ?” tanya Ava ketika melihat mereka sangat tegang.
“Kami masih belum tau apa yang harus kami lakukan untuk syuting individu nanti.” kata Sophie dengan raut sedih.
“Kenapa kamu tidak mencoba menggambar ? Bukankah saat SMA kamu sangat senang menggambar kopik ?” tanya Ava pada Sophie.
Sophie seperti mendapatkan ilham begitu mendengar Ava. “Kenapa aku tidak mengingat hal tersebut! Terima kasih Ava!” Sophie langsung bergegas keluar dari kamar untuk menyiapkan barang-barangnya.
__ADS_1
Ellie ganti mengangkat tangan. “Ava menurutmu apa yang harus kulakukan ?”
Ava menatap Ellie sebentar sambil berfikir. Dia tidak mengenal Ellie terlalu banyak jadi tidak tahu banyak. “Apa yang kamu suka ?” tanya Ava kemudian.
Ellie mengingat-ingat apa yang dia suka dengan keras.
“Hobby kalau begitu ?” lanjut Ava begitu melihat Ellie terlihat kesulitan mengatakan kesukaannya.
“Aku… menyukai kucing.” kata Ellie dengan agak khawatir.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak mencoba berbicara tentang topik ini. Misal tentang memelihara kucing, makanan, cara mencukur, memenangkan hati kucing dan sebagainya.” kata Ava menyarankan.
Ellie seperti Sophie sebelumnya, merasa tercerahkan dan mengangguk penuh tekad pada Ava sebelum keluar dari kamar mencari staff.
Teman sekamar Ava yang lain langsung menunjukkan mata bersinar mereka dan tidak sabar meminta konsultasi dengan Ava. Jadi untuk sementara waktu, Ava membuka konsultasi dan memberikan pertanyaan kepada mereka secara general agar tidak membuatnya menanyakan hal sama pada orang berbeda.
Pada akhirnya mereka menemukan apa yang ingin mereka lakukan dan segera pergi ke staff untuk meminta menyiapkan barang dan hal lainnya.
Ava yang akhirnya bisa beristirahat sambil menunggu gilirannya. Di merenggangkan tubuhnya terlebih dulu dan membuka buku catatannya dan mulai menulis apa yang terjadi hari ini menjadi lirik lagu. Dia menulis sambil bergumam kecil dan menuliskan beberapa lambang yang hanya dia mengerti sendiri sehingga tidak banyak orang hanya tau ini sebagai diary atau kumpulan pikirannya. Ini untuk menjaga rahasia identitas dan rahasia dapurnya.
Ketika teman sekamarnya kembali baru mereka pergi sarapan bersama. Sarapan kali ini masih sama seperti kemarin, mereka yang perlu perlakuan khusus akan memakan salad yang sudah disediakan sementara yang lain lebih bebas.
Tidak seperti biasanya, kali ini para trainee seperti tidak nafsu makan dan makan yang tersisa cukup banyak. Semua orang sangat sibuk dan khawatir tentang syuting yang mereka ingin tampilkan.
Ava sendiri masih seperti biasa, kali ini staff memasang urutan mereka untuk syuting jadi mereka tau kapan harus mempersiapkan diri. Ava kebetulan dapat giliran di awal jadi dia pergi ke staff untuk mendapatkan make-up tipis dan pergi ke dapur mengambil ayam goreng beserta sausnya.
Ayam yang dia buta masih hangat karena chef Aruna sepertinya menggoreng lagi sebentar sebelum Ava mengambilnya. Efeknya membuat aroma ayam goreng menyebar dengan cepat di studio syuting tersebut.
“Aroma apa ini ?” tanya seorang kameramen yang sedang mensetting kamera. “Sepertinya ayam goreng.”
“Siapa yang membawa ayam goreng kesini ?” tanya staff yang sedang bertugas bersamaan.
Ketika itu, Ava lewat di depan mereka membawa ayam goreng dan satu mangkuk saus di tangan yang lain. Kebetulan ada meja dan kursi di area syuting, jadi Ava segera meletakkan ayam dan mangkuk sausnya di atas meja lalu duduk bersiap untuk syuting.
Dia melihat ada total empat staff yang bertugas di hadapannya, dua kameramen, dan dua staf yang mendampingi.
“Apakah kita akan mulai syuting ?” tanya Ava pada staff tersebut.
Staff yang sejak tadi menatap ayam di hadapan Ava kembali tersadar. “Ah! Oke, jadi format apa yang ingin kamu lakukan ?”
“Acara makan, dan menjelaskan beberapa hal untuk membuat ayam goreng yang enak.” jawab Ava.
“Oke. Waktunya 1 menit, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.” kata staff tersebut lalu berdiri di belakang kamera dan siap menonton. “Mulai!”
Kamera mulai diarahkan pada Ava yang tersenyum menatap ke arah kamera. “Halo semuanya, namaku Ava Luna. Hari ini aku akan membagikan cara membuat sayap ayam goreng dengan bumbu yang mudah dibuat oleh pemula. Pertama karena ini hanya video singkat aku akan tunjukan pada kalian hasil yang sudah kubuat sebelumnya.” Ava kemudian mengangkat ayam di meja dan saus mengarahkannya ke kamera.
“Cara membuat ayam ini sangat mudah, kalian hanya perlu mencampurkan tepung terigu, tepung beras, dan tepung tapioka. Perbandingan 2:2:1. Campurkan dengan dua butir telur beserta garam dan lada. Sedikit saja sejumput. Lalu jika konsentrasinya terlalu kental tambahkan air sedikit, jika perlu air dingin agar lebih crispy saat di makan.” Ava kemudian mengambil salah satu ayam dan membelahnya dengan tangan dan menunjukkan daging ayam dan kulitnya yang masih mengepulkan asap.
“Lihat, ini harus kalian masak dengan banyak minyak, apinya jangan terlalu besar. Hati-hati gosong.” kata Ava lalu menggigit ayam di tangannya. “Jangan ditinggal tunggu dengan sabar. Lalu saat warnanya sudah secoklat ini angkat saja.”
“Tidak sulit, hanya tiga siung bawang putih, lalu saus sambal, kecap asin, saus tomat masing-masing satu sendok, oh untuk rasa manis, tambahkan sedikit madu atau gula pasir. Terakhir encerkan sedikit dengan air. Jangan lupa di cicipi agar kalian tau bagaimana rasanya.”
“Kalian bisa mencampurkannya secara langsung, atau juga bisa mencocolkannya,” Ava mencelupkan ayam ke dalam saus di mangkuk dan memakannya. “Sangat lezat. Selamat mencoba.” Kemudian Ava tersenyum sambil makan ayam di piringnya dengan tenang.
“Cut!” staff di samping kameramen menghentikan syuting dan tersenyum senang. “Ayam gorengmu terlihat sangat lezat.”
Ava menyodorkannya kepada staff. “Mari makan bersama.”
Tentu saja ajakan Ava langsung diterima oleh Staff yang ada. Keempat staff yang datang langsung menyerbu ayam goreng yang ada di meja dan kelimanya makan dengan senang hati.
“Um! Enak!” Kameramen yang sedari tadi melihat ayam di meja sangat senang dan langsung makan dengan lahap. Dia sudah membayangkan sedari tadi akhirnya bisa memakannya.
“Saus ini cukup enak. Aku sudah ngiler siap sejak anda menjelaskannya.” kata kameramen yang satu lagi.
“Makanlah lebih banyak.” kata Ava sambil ikut menggerogoti sayap ayam. Dia senang ketika orang lain menyukai masakannya.
“Aku harus mencobanya saat pulang nanti, ini sangat enak.” Staff yang mengarahkan Ava sangat senang ketika menemukan resep yang sudah terbukti lezat.
“Silahkan dicoba, ini sangat mudah di ikuti.” kata Ava
Dalam sekejap kelimanya menghabiskan ayam goreng di meja yang sangat lezat. Ketika Ava keluar, dia membawa piring dan mangkuk kosong untuk di kembalikan ke dapur. Karena Ava termasuk yang paling awal, dia langsung di cegat teman sekamarnya yang belum melakukan syuting.
“Bagaimana syutingnya ?” tanya Ellie yang sudah menggunakan pakaian bertema kucing.
Ava mengangguk. “Cukup bagus, aku hanya membagikan resep sederhana. Tidak sulit.”
“Lalu apakah kamu mengambil lebih dari satu gambar ?” tanya Leah, dia paling khawatir jika dia tiba-tiba lupa perkataan dan malah menghancurkan videonya.
Ava menggelengkan kepala.” Aku hanya mengambil satu video.”
“Lalu kenapa kamu lama sekali ?” tanya Clarence.
Ava menunjukkan piring dan mangkuk di tangannya. “Staff membutuhkan waktu untuk memakan ayam goreng.”
Mereka akhirnya hanya bisa mengangguk seolah mengerti dan membiarkan Ava pergi ke dapur mengembalikan piring dan mangkuk. Ava sendiri pergi dan mengucapkan terima kasih pada Chef Aruna karena boleh meminjam dapurnya.
“Tidak-tidak aku juga senang bisa melihat gadis muda bisa memasak. Datanglah jika kamu ingin makan sesuatu, aku akan memasakkannya.” kata Chef Aruna dengan senyum lebar.
Ava hanya bisa mengangguk. “Terima kasih.”
Semenjak itu, jika Ava ingin menggunakan dapur atau membutuhkan sesuatu, Chef Aruna akan membantunya dengan senang hati. Bahkan Chef Aruna sudah menganggap Ava sebagai putrinya sendiri.
__ADS_1
Lalu Ava menunggu proses syuting di aula dengan teman-tema Ava yang juga sedang menunggu giliran mereka. Sophie bergabung dengan mereka sambil membawa satu teman baiknya di kelompoknya.
“Perkenalkan, ini teman baikku sejak lama, Ava dan ini Haru Deluca.” Sophie memperkenalkan teman barunya pada Ava. Haru yang dikenalkan pada Ava tersenyum dengan senang dan bersikap sangat sopan.
“Hallo,” Haru sangat antusias tetapi juga sangat sopan pada Ava.
Ava tersenyum tipis pada Haru dan hanya mengangguk kecil.
“Aku sangat mengagumimu sejak pertandingan tari.” kata Haru dengan mata berbinar. “Entah bagaimana kamu bisa menari seperti itu. Sungguh luar biasa!”
Ava hanya menunduk mendengar secara langsung merasa tidak nyaman karena mendengar secara langsung ada orang yang memujinya tepat di depannya.
Sophie yang berdiri di sebelah Haru hanya bisa tertawa pelan dan melirik Ava dengan geli. Dia tau sendiri Ava adalah orang yang pemalu terutama jika di puji di depannya langsung.
“Sudah, jangan terlalu jujur seperti itu pada Ava,” kata Sophie pada Haru, “Dia agak pemalu.” bisiknya pada Haru.
Haru yang mendengar hal tersebut terkejut tapi juga terpesona mengetahui hal tersebut. Setaunya, Ava terlihat sangat percaya diri, terutama saat berada di atas panggung. Tanpa disangka Ava adalah orang yang pemalu.
Setelah itu Haru tidak mengatakan lebih banyak tetapi mata berbinarnya masih menatap Ava dengan penuh semangat. Seperti seorang anak yang menemukan hal yang sangat mengagumkan. Jadi untuk sementara waktu Ava harus menghindari tatapan Haru yang sangat panas rasanya ketika jatuh ke tubuhnya.
Waktu syuting individu memakan cukup banyak waktu sehingga akhirnya staff membiarkan para trainee untuk kembali ke asrama atau mengijinkan trainee untuk menggunakan ruang latihan untuk berlatih sendiri.
Ava awalnya yang ingin kembali ke asrama malah di tarik soleh Sophie untuk pergi ke ruang latihan. Tujuannya untuk melihat dan mengawasinya berlatih. Tidak hanya Sophie, Haru dan teman sekamar Ava yang sudah melakukan syuting ikut pergi ke ruang latihan.
Mereka memilih sebuah lagu dan mencoba melatih koreografi dari lagu tersebut. Memang agak sulit tapi mereka sepertinya bertekad untuk mencobanya. Hingga Clarence yang tidak begitu begitu pandai menari juga ikut mencoba. Ava sendiri menonton dua kali dan hanya duduk menonton mereka melakukan latihan.
Meski Ava tidak ikut berlatih, dia tetapi menunjukkan beberapa dan membenarkan postur teman-temannya yang mencoba meningkatkan skill tari mereka.
“Cara terbaik untuk melatih sebuah koreografi adalah belajar dengan lagu yang berkecepatan rendah untuk menyesuaikan tubuh karena dengan gerakkan yang kalian lakukan.” kata Ava menjelaskan beberapa trik cara mudah mempelajari lebih cepat sebuah koreografi.
Pada akhirnya, Ava memimpin latihan mereka dan efisiensi mereka menjadi meningkat, hanya butuh beberapa jam untuk mereka melakukan koreografi awal hingga lancar.
Ketika waktu istirahat, Ellie mendekati Ava sambil membawa sebuah rekaman koreografi milik boyband yang terkenal. “Ava coba lihat koreografi ini.” kata Ellie menunjukkan pada Ava. “Bagaimana menurutmu tentang koreografi ini ?”
Ava menonton sebentar lalu alisnya terangkat secara otomatis, setelah video tersebut selesai, dia melirik Ellie sambil mengangguk. “Sangat bagus.”
Ellie sepertinya tidak mengharapkan jawaban tersebut dan menepuk punggung Ava pelan dengan gemas. “Bukan itu maksudku, Lebih spesifik.”
“Sangat membutuhkan energi, kontrol, dan banyak sekali gerakkan langkah kaki. Juga penuh vibes yang menyenangkan.” komentar Ava sambil mengingat koreografi yang dia lihat tadi.
Ellie terlihat agak berhati-hati tapi juga terlihat penasaran. “Apakah menurutmu aku bisa membawakan tarian ini ?”
Ava melihat Ellie dan terdiam, memikirkan kemungkinan Ellie untuk menarikannya. “Tidak dengan levelmu yang sekarang.”
Ellie langsung layu mendengarnya, “Koreografi ini terlihat sangat menyenangkan. Kupikir aku bisa mencobanya.”
“Kalau begitu coba saja.” kata Ava akhirnya.
Ellie menatap mata Ava dengan binar. “Benarkah ? Apakah kamu akan mengajariku ?”
“Tapi aku perlu mengingatkan, hampir tidak ada istirahat dalam koreo ini.” kata Ava sambil bangkit berdiri, dia mengingatkan Ellie agar tidak menyesal karena memintanya mencoba koreo ini.
Ellie mengangguk penuh semangat masih tidak tahu apa yang dia minta.
Sophie yang mengetahui Ava ingin mengajari Ellie sebuah koreografi ikut tertarik dan berdiri bersebelahan dengan Ellie bersiap mencobanya bersama. Sementara yang lain hanya menonton dari samping.
Ava mememulai gerakkan sambil memberikan ketukan dalam mulutnya tanpa lagu pengantar. Gerakkan ini sangat lambat sehingga Ellie dan Sophie bisa mengikutinya. Dengan gerakkan lambat, Ellie dan Sophie bisa mengikuti dengan mudah. Tapi begitu lagu dinyalakan, keduanya hanya bisa membeku di tempat ketika melihat gerakkan yang Ava ajarkan menjadi sangat cepat di dalam lagu. Ava melakukan gerakkan dengan beat yang sesuai dengan lagu sementara Ellie dan Sophie masih berusaha mencoba mengikutinya tetapi terengah begitu selesai.
“Ini terlalu cepat.” kata Ellie di sela-sela mengatur nafasnya yang terengah. “Kenapa rasanya sudah banyak gerakkan yang kita lakukan.”
“Semua gerakkan tadi hanya dua puluh detik di awal.” kata Ava dengan santai.
Sophie dan Ellie sontak saling memandang dan tampak terkejut. Keduanya langsung menyerah mencoba melakukan koreografi tersebut.
Kali ini Scarlett yang menunjukkan sebuah video koreografi lainnya. “Aku sangat menyukai lagu ini akhir-akhir ini.” kata Scarlett sambil menggumamkan lagu tersebut.
Ava dengan patuh menonton koreografi tersebut. Tapi bukannya senang, dia malah mengerutkan kening, merasa ada yang salah. “Kenapa banyak sekali gerakkan yang berlebihan ?” gumam Ava.
“Benarkah ?” Scarlett tidak begitu menyadarinya waktu menonton, dia merasa bahwa keseluruhan sangat bagus.
Ava mengangguk. “Dengan lagu ini juga akan bagus menggunakan gerakkan yang sederhana. Tapi ini hanya pendapatku.” kata Ava sambil menghendikkan bahunya. Bukan salah koreografer yang membuatnya, tapi ini hanya pendapat pribadinya.
“Kalau begitu coba saja.” kata Scarlett dia percaya Ava yang sangat jago menari, seharusnya bisa membuat koreografi dengan mudah.
Ava melirik Scarlett tetapi tidak bergerak, dia terlalu malas dan ingin istirahat. Tapi Scarlett langsung menunjukkan wajah menyedihkannya dan memohon pada Ava hanya dengan matanya. Ava mengalihkan pandangannya dari Scarlett tetapi sepertinya dia tidak mudah menyerah.
Selama beberapa detik, Scarlett memutari Ava berusaha membuat Ava setuju. Karena akhirnya tidak tahan lagi, Ava akhirnya hanya bisa berdiri dan menyetujuinya. Ava mendengarkan lagi lagu tersebut dan memikirkan gerakkan apa yang cocok. Setelah berpikir sejenak, Ava akhirnya mulai bergerak.
Ava memulai gerakan tangan yang sangat sederhana dan menyesuaikan ketika lagu, lalu melanjutkannya dengan gerakkan tangan yang mengikuti beat lagu tanpa banyak gerakkan tambahan lainnya. Terkadang gerakannya akan lambat tetapi juga terkadang juga cepat tetapi semuanya sangat sederhana yang mudah diikuti oleh orang.
Ava hanya membuat gerakkan berdasarkan nalurinya hingga bagian chorus. Tubuhnya melekuk dengan indah memberikan kesan indah saat dilihat orang. Gerakannya terkontrol dengan baik ada saatnya dia melambat ada saatnya dia menjadi penuh kekuatan. Koreografi ini lebih rapi dan bersih tanpa banyak gerakkan yang sulit, meski beberapa agak cepat, tetapi masih bisa diterima untuk diikuti.
Ini pertama kalinya, teman-teman Ava melihatnya membuat koreografi, jadi mereka terpana. Ketika Ava berhenti di bagian Chorus pertama, mereka langsung bertepuk tangan dan menghampiri. Scarlett terutama sangat bersemangat, seperti kata Ava sebelumnya, gerakkan yang sederhana juga bisa mengangkat lagu ini dan terlihat lebih ringan.
“Kamu benar-benar berbakat dalam menari!” puji Scarlett.
“Bagaimana bisa lagu ini jadi terasa berbeda dengan koreografi yang berbeda!” kata Hailey dengan kagum. Kekuatan koreografi memang sangat kuat dan berdampak.
“Kurasa kamu akan terkenal jika koreografi ini sampai di lihat publik. Sangat cocok dengan lagunya!” Clarence bisa melihat potensi dari koreografi ini, jelas sangat cocok lebih dari koreografi asli.
Ava mengibaskan tangannya tanda tidak setuju. “Tidak! Terlalu merepotkan.” katanya dengan lelah. Dia langsung bersandar pada dinding ruangan dengan lelah.
__ADS_1
Ava memang sangat pandai menari, tapi dia tidak terlalu senang karena mengeluarkan terlalu banyak tenaga dan membuatnya sangat cepat lelah dari sebelumnya. Oleh karena itu, Ava tidak ingin sampai koreografi ini sampai muncul di publik.
Tapi Ava tidak tau, bahwa kamera di ruangan menyala dan merekam semua kegiatan mereka di ruangan tersebut. Ketika staf melihat hasil rekaman tersebut dan menunjukkannya pada sutradara. Mereka sepakat untuk mempublikasikannya sebagai bagian dari teaser untuk membuat publik semakin tertarik menonton program mereka.