
Waktu berjalan sangat cepat saat berlatih, Tim Ava berlatih hingga subuh setiap harinya. Ini adalah inisiatif para anggota kelompok yang merasa tarian mereka kurang berkesan dan meminta Ava untuk terus mengawasi mereka saat berlatih.
Efeknya Ava merasa sangat lelah tetapi tidak menunjukkanya secara langsung. Tetapi meski begitu, Ava mengapresiasi teman sekelompoknya yang memang ingin berlatih dengan keras. Selama latiha, Ava bisa melihat mereka berkembang dengan sangat pesat dan cepat. Kemauan belajar seperti ini yang membuat rasa lelah Ava agak berkurang, meski dia masih sangat berkeinginan untuk merebahkan dirinya jika ada kesempatan.
Untungnya, akhirnya panggung resmi mereka akhirnya akan tiba, mereka berangkat ke gedung syuting dengan bus. Karena rasa gugup, kebanyakan peserta trainee memilih mengobrol untuk melampiaskan rasa gugup mereka yang berlebihan.
Sementara Ava yang merasakan rasa lelah berkepanjangan, memejamkan mata dan tertidur sambil bersedekap dada di kursinya. Teman setimnya tidak mengganggu Ava dan membuatkannnya tidur hingga tiba di lokasi syuting.
Banyak penggemar yang sudah membawa pamflet berdiri di dekat pintu masuk berteriak ketika melihat pada trainee yang mereka dukung. Suara teriakkan para penggemar membuat Ava yang tertidur terbangun dan melihat kearah jendela dengan bingung.
“Ava kamu sudah bangun, kita harus turun sekarang.” kata Clarence ketika akan membangun Ava.
“Ada banyak orang di luar,” kata Leah dengan kagum. “Aku merasa ini agak tidak nyata.”
“Apakah mereka penggemar kita ?” tanya Scarlet juga merasa tidak percaya melihat banyaknya orang yang berkumpul di depan gedung. Bahkan dia juga melihat namanya di salah satu pamflet yang dibawa oleh penggemar.
Ava melirik sebentar lalu menaikkan tudung hoodienya untuk menutupi wajahnya dan bergegas turun dari bus. Sorakkan yang dia dengar samar di dalam bus menjadi semakin kencang saat dia turun, Ava bahkan mendengar beberapa orang meneriakkan namanya.
Tapi Ava tidak mengangkat kepala dan segera masuk ke gedung dengan cepat. Begitu tidak sampai di ruang ganti, Ava akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia duduk di kursi melihat para staff sedang sibuk mengatur peralatan.
Ava tiba lebih dulu ketimbang teman-teman anggota setimnya yang masih melayani para penggemar di luar. Jadi dia segera di tarik oleh makeup artist yang sudah selesai menatap peralatan make-upnya. Makeup Arstist yang akan memberikan riasan melihat lingkaran hitam di bawah mata Ava hanya bisa menggelengkan kepala kecil dan mulai menerapkan make up.
Sementara kuas bergerak di wajahnya, Ava tidak bisa menahan diri untuk memejamkan mata dan tertidur untuk beberapa saat. Makeup artis yang sedang merias wajah Ava terlihat sudah biasa dengan orang yang tertidur saat sedang merias wajah. Ava terlihat tidak terganggu sama sekali, bahkan ketika teman setimnya datang ke ruangan ganti mereka.
Kali ini, ruang ganti di bagi berdasarkan tim lagu mereka, sehingga dia menjadi satu tim dengan tim lawannya.
Teman setim Ava melihatnya tidur tidak mengangu dan malah mengurangi suara mereka saat mengobrol. Semuanya memang lelah, jadi saat menganganti baju digunakan untuk istirahat. Proses merias wajah tidaklah lama, Ava cukup tertidur hingga rambutnya selesai di tata.
Rambut panjang hitam Ava di gerai dengan gelombang yang membuat Ava terlihat sangat dewasa. Riasan kali ini agak berbeda dari penampilan theme song yang membuatnya terlihat elegan dan muda, kali ini dia terlihat seperti wanita karir.
Suara kagum terdengar dari teman setimnya yang hanya bisa terkejut melihat Ava yang menawan.
“Kamu sangat cantik!” Ellie menatap kagum Ava yang baru selesai merias.
“Make up memnag mengubah orang.” Desah Hailey melihat Ava semakin cantik. “Dia biasanya sangat cantik hanya dalam baju trainee, sekarang dia semakin cantik.”
“Berhenti memujiku dan cepat selesaikan riasan kalian.” kata Ava memotong semua orang yang hendak memujinya lagi. Dia pergi ke stylist untuk meminta baju yang akan dia gunakan.
Stylist yang bertugas di bagian baju, mencarikan nama Ava dan memberikan baju yang sudah di sediakan kepadanya. Ketika menerima baju tersebut, Ava mengecheknya sebentar dan melihat baju yang didapatnya kali ini seperti seraga militer berwarna hitam dengan rantai di bahunya.
Melihat baju yang sederhana, dia mengangguk lalu masuk ke bilik ganti.
Sementara Ava menganti baju, teman setim Ava sibuk berbincang tentang penggemar yang ada di depan gedung. “Kurasa akan banyak orang yang menonton kali ini.” kata Scarlett saat rambutnya sedang di tata. Karena dia adalah center kali ini, dia akan mendapatkan periasan yang agak lebih menonjol dan tataan rambut yang agak khusus.
“Sepertinya jumlahnya 500 orang.” Clarence mengira-ngira penonton yang akan menonton nanti.
“Kita harus tampil dengan baik.” kata Ellie dengan gugup.
“Mari kita berhenti membahas soal panggung, rasa gugupku bertambah sekarang.” kata Leah memprotes teman-temannya yang sedang membahas tentang penonton.
“Kita akan baik-baik saja. Firasatku baik entah mengapa.” Hailey merasa dia malah energik sekarang meski tadi malam dia bergadang menyempurnakan penampilan mereka. “Kita seharusnya bisa memenangkan pertandingan group kali ini.”
Yang lain saling menatap dan mereka otomatis saling tersenyum satu sama lain. Tepat ketika saat itu, Ava keluar dengan kostum panggung hitam yang agak ketat menonjolkan sosoknya yang langsing.
Ava merapikan sebentar sebelum berniat pergi meletakkan baju gantinya, tetapi ketika dia mengangkat kepalada, teman setimnya lagi-lagi menatap Ava dengan tatapan bodoh.
“Ava, aku merasa jantungku berdebar.” kata Leah sambil memegang dadanya.
Ava langsung berdecak kesal lalu pergi begitu saja menyimpan bajunya.
Meski Ava tidka merespon, teman setim Ava masih terus merasakan kagum dalam hati mereka. Setiap kali mereka ingin memuji Ava, dia selalu menampilkan wajah datar dan mengantuk sebelum berbalik pergi begitu saja. Alhasil, yang lainnnya akhirnya menyerah dan fokus pada persiapan mereka.
Ketika persiapan telah selesai, seorang staff meminta tim Ava untuk melakukan gladi bersih. Mereka memakai semacam penanda lalu naik ke panggung.
Clarence mengatakan beberapa kata sebelumnya kepada timnya untuk menyemangati. Tetapi tiba-tiba terdengar suara menyapa dari pengeras suara.
“Tim pertama dari lagu Boss.” sapa Paris dengan suara lembut. “Ayo semangat!”
Mereka mau tidak mau berbalik dan menatap para pelatih yang duduk di bawah panggung dalam kegelapan. Ava sendiri juga melihat Keegan duduk dengan kaki terlipat dan menatap ke panggung dengan serius.
Tentu saja mereka berteriak dengan penuh semangat sebelum mengambil posisi mereka masing-masing.
Ketika lagi intro terdengar, mereka mulai memasuki nuasa seperti yang sudah dilatih sebelumnya dan mulai bergerak secara kompak. Para rapper memulai lagu dengan dengan gaya yang keren mereka membuat yang menonton merasa sangat terkesan. Gaya keren para rapper membawakan lagu dengan pesona yang berbeda setiap orangnya.
Ketika bagian Ava yang harus bernyanyi di bagian pertama, dia keluar dari barisan dengan ekspresi menggoda siapapun yang bertatapan mata dengannya. Suaranya sangat stabil meski dia menyanyi sambil menari dan membuat mereka yang mendengarnya merinding. Di akhir bagiannya, Ava menaikkan alisnya kecil sebelum kembali ke formasi dan menari dengan yang lain.
Scarlett yang menjadi center melakukan tugasnya dengan sangat baik dan berhasil menarik perhatian dengan gerakkannya dan gayanya.
Di akhir lagi, para pelatih bertepuk dengan hingga berdiri dengan wajah senang di wajah mereka.
“Inilah penampilan yang sempurna.” kata Keegan dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
“Benar sekali, center melakukan tugasnya dengan sangat baik, kamu menonjol dan membawa nuansa lagu dengan sangat baik.” puji Vincet dengan anggukan bangga.
“Kalian juga sangat kompak, jadi tarian kalian terlihat bersih. Pertahankan.” Orion juga senang melihat gerakkan mereka sangat bersih.
Tim Ava tersenyum dengan rasa senang dan berterima kasih dengan penuh semangat sebelum turun dari panggung dengan tawa bahagia. “Kita harus melihat tim kedua.” Clarence menghentikan timnya yang ingin terbang karena rasa bahagia setelah di puji oleh para pelatih sebelumnya.
Setelah diingatkan Clarence, mereka berdiri di pojokkan dan menatap tim kedua yang naik ke panggung dan mulai melakukan gladi bersih. Agak berbeda dari saat mereka melakukan review dengan para pelatih, kal ini mereka terlihat lebih siap dan rapi, tetapi sepertinya masih agak kurang.
Para pelatih senang karena tim kedua ada perkembangan dari sebelumnya. Tetapi efeknya berbeda setelah melihat tim pertama yang menampilkan penampilan yang memukau.
“Aku merasa mereka seperti ada yang kurang, tapi kenapa aku tidak bisa menemukannya.” Leah yang menonton penampilan tim kedua mau tidak mau berkata dengan heran.
“Kurasa mereka tidak benar-benar mempresentasikan lagu dengan benar.” Jawab Clarence setelah berfikir sebentar.
“memang terasa agak aneh, sepertinya mereka tidak benar-benar membawakan lagu dengan sempurna.” Hailey setuju dengan Clarence, perasaan yang sangat berbeda saat mereka menonton tim kedua. “Bagaimana menurutmu Ava ?”
Ava yang berjalan agak belakang langsung tersadar karena di ajak berbicara. “Ya ?”
Hailey berhenti sebentar menunggu Ava sebentar. “Penampilan tim kedua. Bagaimana menurutmu ?”
Ava mengingat-ingat penampilan tim kedua sebelumnya sebelum berkomentar, “Mereka sepertinya hanya menghafalkan lirik dan koreografi, tanpa meresapi lagunya.”
Leah yang mendengarnya langsung berbalik dan mengangguk setuju. “Benar! Itu dia maksudku, rasa yang aneh. Mereka seperti hanya menghafalkan saja, tidak ada perasaan.”
“Ternyata begitu yang terjadi jika kita menampilkan lagu hanya dengan sekedar menghafalkan.” Ellie mengangguk seolah mengerti.
“Mari istirahat sebelum pertunjukkan.” Clarence membawa teman-temannya kembali ke ruang ganti untuk menunggu di sana.
Begitu sampai di ruang ganti, Ava duduk dan bersandar malas di kursi. Matanya perlahan menyipit dan kemudian tidur dengan cepat. Teman-teman setim Ava menatapnya dengan kagum, bisa tidur disaat seperti ini.
“Aku masih tidak percaya Ava bisa tidur di saat seperti ini.” kata Ellie smabil melirik Ava yang tidur di ujung ruangan.
Clarence menatap Ava dan memikirkan saat-saat mereka latihan. “Dia banyak membimbing kita saat latihan, kurasa dia lelah.” kata Clarence.
“Aku dan Ava selesai latihan pukul dua kemarin.” kata Hailey memberitahu teman-temannya mengenai latihan larut malam mereka.
“Benarkah ?” Scarlett kaget. “Aku meminta saran Ava kemarin, kurasa kita baru tidur pukul tiga.”
Mereka terdiam mendengar hal tersebut, pantas saja sekarang Ava sangat mengantuk dan lelah. Ava ternyata membantu teman setimnya secara bergantian hingga tidur terlalu larut.
“Mari kita biarkan dia istirahat lebih lama.” Clarence memutuskan untuk membiarkan Ava tidur lebih lama.
Ava benar-benar tidur hingga sebelum waktu pertunjukkan dimulai. Clarence membangun Ava yang masih berkeinginan untuk tidur lebih lama.
“Kita harus pindah ke ruang tunggu sekarang.” kata Clarence sambil menunggu Ava sadar sepenuhnya.
Ava mengangguk diam-diam sambil bergumam kecil. “Aku harus tidur setelah ini.”
Clarence yang pertama kali melihat sisi ini dari Ava tertawa kecil. “Maaf karena kami sering meminta saranmu dan malah membuatmu menjadi kurang tidur.”
“inilah derita pelatihan.” kata Ava dengan nada sedih tapi juga lucu.
Clarence tidak bisa menahan tawanya melihat Ava menggerutu seperti itu. “Tidurlah sebanyak yang kamu mau setelah pertunjukan kita.”
Ava mengangguk lalu bangkit berdiri mencari air sebelum mengikuti Clarence ke ruang tunggu. Semua peserta trainee sudah berkostum lengkap dan menunggu dengan antusias di ruang tunggu.
Hailey yang melihat Ava datang menyambutnya dengan senyum. “Apakah tidurmu nyenyak ?”
“Dia ingin tidur lebih lama.” jawab Clarence dengan iringan tawa geli.
Ava masih menunjukkan wajah sedih karena di bangunkan tetapi dia harus bersikap profesional sehingga dia hanya bisa duduk dengan wajah kosong. “Urutan berapa kita akan tampil ?” tanya Ava tiba-tiba.
“Kita akan tampil di tengah.” jawab Leah
Ava mengangguk dan melipat tangan di depan dada dan duduk menonton Keegan membuka acara. Meski dia sedang mengantuk, tetapi dia tetap merespon apapun yang Keegan katakan seperti bertepuk tangan saat di perlukan, dan tersenyum saat ada penampilan yang bagus.
Tim lainnya cukup bagus, ada beberapa tim yang sepertinya agak tidak seimbang, tetapi mereka berhasil menampilkan penampilan yang bagus.
Bahkan sahabatnya, Sophie juga menampilkan penampilan yang memukau. Lagu yang dipilih kelompok Sophie sangat pas untuk Sophie yang ceria.
Ketika kembali ke ruang tunggu, Sophie menujukkan senyum senang, Ava menduga dia menang dalam pemilihan grup. Sophie sempat memberi isyarat pada Ava sebelum dia kembali duduk dengan timnya.
Ava yang mulai merasakan rasa kantuk lagi, akhirnya di panggil untuk bersiap di belakang panggung. Ava merenggangkan tubuhnya untuk menghindari tubuhnya yang bisa terkilir.
Tim Ava menunggu dengan tenang bersama dengan tim kedua, meski mereka adalah musuh, tetapi mereka juga menyemangati tim kedua agar tidak patah semangat.
“Mari kita sambut kedua tim dari lagu Boss.” Keegan mempersilahkan kedua tim untuk naik ke atas pangggung.
Ava berdiri paling pinggir dan menunggu Keegan memperkenalkan tim. Dia menatap kerumunan penonton dengan berani dan melihat beberapa orang mengangkat papan namanya. Ava menyipitkan matanya agar bisa mleihat dengan jelas dan menemukan seorang gadis memegang papan namanya.
Ava melakukan kontak mata dengan gadis tersebut dan membuat gadis yang dia ttap menjadi tersipu. Melihatnya mau, Ava tersenyum geli sambil menunduk kecil.
__ADS_1
“Kami dari Your Boss!” Tim Ava memperkenalkan diri dengan bersedekap dada seolah mereka adalah boss. Hal ini di sambut teriakkan para penggemar karena melihat wajah orang yang mereka dukung. Meski Ava agak kaku dalam hal seperti ini, tetapi dia melakukan yang terbaik dan tetap tersenyum.
Setelah tim kedua memperkenalkan diri, Keegan memberikan kesempatan untuk mereka mengatakan beberapa patah kata untuk dukungan.
“Your Boss ada disini, jadi dukung boss kalian.” kata Scarlett dengan agak angkuh yang menggoda para penggemar.
Tentu saja hal ini sangat di sukai oleh penggemar dan mereka langsung berteriak penuh semangat. Begitu juga saat tim kedua mulai mempromosikan tim mereka.
Keegan memberikan kesempatan untuk mengatakan kalimat dukungan sebelum mempersilahkan tim Ava untuk bersiap.
Saat akan mengambil posisi, Ava tanpa sadar berkontak mata dengan Keegan yang memberikannya anggukan semangat. Ava hanya bisa tersenyum tipis sambil merenggangkan lehernya sebelum diam di posisinya menunggu lagu di putar. Posisi awal Ava berada di belakang sehingga yang perlu memikat penonton di awal adalah tugas Scarlett.
Tentu saja Scarlett tidak mengecewakan, karena begitu intro di mainkan, dia mengangkat kepala dan menunjukkan senyum karismatiknya dan memberikan kode pada penonton untuk menonton dengan baik.
Rapper dalam tim mengguncang awal lagu dengan rap kuat mereka. Hailey terutama yang melakukan rap bersama dengan Scarlett di awal lagu. Dia menunjukkan pesona dan suara khas yang kuat sebagai rapper.
Setelah itensitas tinggi dari rapper, Ava keluar dari barisan dan menyanyikan bagiannya dengan senyum menyeringai ditambah gerakkan mata yang menggoda penonton. Suaranya yang halus dan stabil membuat yang mendengarnya merasa sangat jelas dan terhipnotis.
Begitu bagiannya selesai, Ava kembali menari dengan anggota timnya dan membiarkan lagu seperti mengalir di tubuhnya. Dengan begitu, tubuhnya akan bergerak dengan gerakkan yang pas untuk lagu tersebut.
Tidak lupa, Ava juga mensupport timnya dengan add-lib kecil untuk menghidupkan lagu. Anggota vokal lainnya juga melakukan support yang sama di bagian yang sudah di rencanakan sebelumnya.
Ketika di bagian nada tinggi, Ava menyanyikannya dengan sangat mulus tanpa ada kerutan di alisnya seolah nada tersebut tidak terlalu tinggi untuknya. Para pelatih yang melihat di belakang layar tidak bisa tidak berdecak kagum.
Tim Ava juga menari dengan sangat terkoordinasi dan sangat kompak, gerakkan mereka hampir sama. Pemandangan ini tentu saja nyaman untuk dilihat, penonton. Ekspresi, nyanyian, rap, hingga koreografi hampir tidak ada yang salah atau tidak enak dilihat.
Ketika mereka selesai dan melakukan pose akhir, para penonton bersorak untuk mereka. Penggemar yang menonton juga mulai meneriaki nama mereka dengan senang bahkan meminta encore.
Anggota tim, Ava tidak bisa menahan kegembiraan di tengah mengatur nafas mereka. Perjuangan dan latihan berat mereka akhirnya terbayar dengan sangat manis hari ini.
Sementara itu, para pelatih di belakang layar hanya bisa bertepuk tangan puas dengan senyum puas di wajah mereka.
“Ava sepertinya memiliki range vokal yang sangat tinggi.” kata Vincent dengan kagum. “Dia bisa menyanyikan nada tinggi tanpa bergeming.”
“Memang harus kuakui tim ini sangat kompak sejak awal.” kata Zoo memuji tim ini dengan senang.
“Tapi sepertinya tim ini adalah tim terakhir yang dibentuk kan ?” tanya Paris.
Keegan mengangguk. “Memang tim ini adalah tim terakhir yang terbentuk. Sebuah kejutan yang tidak terduga mereka tampil sangat memukau.”
Keegan menatap wajah Ava yang menunduk menghormati penonton sebelum turun dan panggung dengan senyum misterius. Baru setelahnya, sebagai MC dia mempersilahkan tim kedua untuk menaiki panggung.
Karena penampilan keren dan kompak dari tim pertama, membuat tim kedua terlihat menjadi kurang meski mereka tidak melakukan kesalahan sama sekali. Hanya saja dampak dari penampilan kedua sepertinya tidak terlalu sampak ke penonton. Tetapi meski begitu penonton tetap bersorak dan memberikan tepuk tangan meriah untuk mereka.
Di belakang panggung, kedua tim duduk terpisah menunggu skor penilaian untuk kedua kelompok. Tim Ava tidak terlihat gelisah sama sekali dan duduk dengan tenang karena mereka tidak begitu peduli dengan hasilnya. Mereka sudah menampilkan pertunjukkan yang sangat memuaskan.
Jadi ketika hitung mundur di mulai, tim kedua sudah terlihat sangat gugup. Mereka tau mereka sangat kurang dari tim lawan tetapi masih berharap bisa mendapatkan poin yang cukup.
Papan nama kedua tim di buka dan setiap nama individual dalam tim juga di buka. Satu persatu poin akhirnya keluar dan untuk sementara waktu, nama tim pertama selalu memiliki poin yang lebih tinggi. Nama Ava kebetulan paling akhir dan memilki poin tertinggi.
Sorakkan senang dari tim pertama karena mereka memenangkan babak battle group kali ini.
Sementara waktu suasana di tim kedua terlihat sangat suram, tetapi mereka juga saling menguatkan meski sedih karena kalah dalam battle group ini.
Begitu selesai, mereka kembali ke ruang tunggu dan menonton sisa pertunjukan dengan yang lainnya. Tetapi kali ini mereka tidak merasakan gugup lagi, tetapi malah merasa bersemangat karena sudah melakukan pertunjukkan dan menang.
Karena sudah tampil, Ava tidak duduk menunggu diruang tunggu, tetapi pergi ke ruang ganti. Ketika dia masuk ada beberapa staff stylist dan penata rias yang melihatnya datang. Ava mengangguk kecil seperti meminta izin, tetapi mereka hanya bisa mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk. Ava duduk di sofa yang ada di ruangan dengan postur malas dan lelah. Tidak lama dia memiringkan kepala dan tertidur dengan cepat.
Dia sengaja untu tidak duduk di ruangan tunggu dengan anggota lainnya karena ada kamera yang pasti akan menyorotnya, jadi dia melarikan diri dan tidur di ruangan ganti Sebelumnya dia tidak bisa tidur karena harus naik keatas panggung, tapi kali ini dia tidak akan menahan diri. Bergadang selama beberapa hari terakhir membuat dia sangat kelelahan begitu menyelesaikan penampilannya.
Sekarang dia hanya perlu menunggu waktu pengumuman terakhir sebelum dia kembali ke asrama mereka.
Ava tidak tau berapa lama dia tertidur di tempat, dia bahkan juga tidak sadar jika seseorang memfoto dirinya yang tertidur. Dia tertidur hingga salah satu anggota timnya datang dan membangunkannya.
“Ava bangun, kita harus berkumpul lagi.” kata Hailey yang bertugas membangunkannya.
Ava menarik nafas panjang dan merenggangkan ototnya sebelum pergi bersama Hailey kembali berkumpul. Untungnya dia tidak terlambat, meski sudah ramai ketika dia datang.
Keegan berdiri di atas panggung memegang mic dan juga kertas, bersiap untuk mengumumkan. Ketika semua peserta trainee sudah berbaris sesuai dengan timnya, Keegan akhirnya mengangkat micnya dan mulai berbicara.
“Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat pada kalian semua karena sudah menyelesaikan penampilan pertama kalian dengan sangat baik. Terlepas dari siapa yang menang ataupun kalah, kalian sudah melakukannya dengan sangat baik.” Keegan dengan tulus melihat semua para trainee yang tampil hari ini dan merasa mereka sudah melakukan yang terbaik. “Tapi karena ini adalah sebuah pertunjukkan jadi tentu saja jangan yang terbaik tetap yang akan menang. Jadi sekarang mari kita lihat hasil akhir pemenang dalam battle group kali ini.”
Pemenang dari setiap lagu akan kembali di adu dari banyaknya jumlah vote yang mereka dapat. Bagi group yang memiliki vote tertinggi akan mendapatkan tambahan vote lainnya.
Di layar besar, ada papan nomor sesuai jumlah lagi. Satu persatu lagu muncul mulai dari paling bawah hingga nomor satu. Vote kelompok Ava berada di nomor tiga yang tidak terlalu rendah ataupun terlalu tinggi.
Meski begitu mereka terlihat sangat senang dan saling menatap dengan anggukan bangga. Lagu yang menempati posisi pertama adalah lagu yang dibawakan oleh tim Sophie teman baik Ava sementara tim kedua adalah tim milik Vivian Evans. Hal ini agak mengejutkan karena tiim mereka memiliki anggota dengan kemampuan yang solid, tapi sepertinya kalah dari tim Sophie yang menampilkan lagu dengan lebih sepenuh hati.
Ava ikut senang dengan keberhasilan teman baiknya. Tapi dia tidak bisa bertemu dengan Sophie untuk sementara waktu karena begitu dia kembali ke asrama dia langsung mandi dan langsung tertidur karena rasa lelah.
-
__ADS_1