LuckyONe

LuckyONe
Chapter 10 : Center


__ADS_3

 Enam jam kemudian, Ava sedang duduk di antara para trainee lain di kelas A yang tampak gugup dan menggerakkan tangan atau bernyanyi untuk mempersiapkan pertunjukkan 1 menit mereka.


Sophie yang duduk di sebelah Ava juga sangat gugup dan terus menerus menggumamkan apa yang telah dipersiapkan. Sophie sudah memikirkan apa yang dikatakan Ava sebelumnya tentang bersikap manis dan menunjukkan pesonanya sendiri. Sebelum tidur dia sudah memikirkannya, setelah merasa yakin dia akhirnya tidur dengan tenang.


Ava sendiri tidak melakukan apapun, dia hanya duduk dengan pandangan kosong karena masih merasa mengantuk. Dia tidak mempersiapkan apapun seperti trainee lain karena dia tidak berniat untuk menjadi center, semakin tidak terekspos akan semakin baik untuknya.


Tapi sepertinya para staff tidak berniat seperti itu, sejak para trainee berkumpul, para staff dan kameramen menggunakan kamera mereka untuk mencari bibit yang baik untuk dituju. Jadi Ava yang tenang-tenang saja di antara para trainee yang sibuk menjadikan dirinya menonjol. Apa lagi dengan penampilan Ava yang malas dan mengantuk, sungguh pemandangan yang berbeda.


Para trainee lainnya yang akan menjadi akan menjadi penentu saling berbincang tentang siapa yang kira-kira akan menjadi center kali ini. Karena dalam program survival seperti ini, menjadi center yang akan banyak disorot kamera adalah hal yang sangat penting bagi para peserta sehingga mereka sangat menantikannya.


Suasana yang awalnya ramai kini menjadi sepi ketika Keegan datang memasuki ruangan dengan wajah tampannya. Dia tampak serius tetapi tidak sedingin biasanya, mungkin karena sudah mulai merasa dekat dengan para peserta trainee jadi dia tidak akan sedingin biasanya.


“Halo!” sapa para trainee sambil berdiri dari tempat mereka masing-masing


“Halo semuanya, apakah kalian baik-baik saja ?” tanya Keegan


“ya!”


“Bagus kalau begitu, karena sebentar lagi kalian harus menampilkan lagu theme song. Dan yang terpenting dari penampilan kali ini, yaitu CENTER.”  Keegan berhenti sejenak dan membaca kartu di tangannya sebelum mulai berbicara lagi. “Sebelumnya, sudah diberitahu bahwa akan ada proses seleksi untuk penampilan lagu theme song.”


Ekspresi para trainee menjadi lebih tegang dari sebelumnya terutama mereka yang berada di kelas A. Mereka tampak lebih gugup.


“Peserta dari kelas A akan bergantian menampilkan penampilan satu menit yang sudah dipersiapkan oleh mereka. Sementara itu, kelas B,C,D, dan F akan mengiris formulir evaluasi untuk para peserta yang tampil.” Para trainee lain mengangguk dan berfikir diam-diam mengenai siapa yang akan dipilih mereka. “Sekarang, kita mulai proses seleksi posisi center. Peserta trainee Denise Field silahkan maju kedepan.”


Denise, yang satu agensi dengan Vivian, maju dengan percaya diri. Dia membawa mic dan naik ke atas panggung dengan senyum lebar. “Halo, semuanya. Perkenalkan aku Denise Field dari Big Galaxy Ent!”


Para trainee lain memberikan tepuk tangan meriah untuk menyemangati trainee yang akan maju pertama kali.


Denise mengambil posisi awal sebelumnya sambil menunggu musik dimainkan. Begitu musik di nyalakan, Denise langsung menarikan tarian koreografi dengan tenaga yang lebih dan menambahkan detail yang bergaya hip-hop yang kuat.


Para trainee lainnya terperanga melihat gerakkan koreografi dari Denise yang sangat kuat. Setiap gerakannya lebih detail dan lebih halus ketimbang trainee lainnya.


“Inilah level kelas A.”


“Dia membuat gerakkan koreografinya terlihat mudah kan ?”


Semua peserta trainee yang ada kecuali yang akan di seleksi semuanya fokus menatap dengan kagum dan menilai apakah Denise bisa menjadi center untuk theme song ini.


Ketika lagu berhenti, Denise memberikan kedipan mata dengan senyum menggodanya. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah diiringi Denise yang menunduk memberi terima kasih sebelum turun dari panggung.


Setelah itu, satu persatu peserta lainnya dipanggil dan menunjukkan penampilan satu menitnya dengan gaya yang berbeda dari Denise dan beberapa memiliki gaya yang mirip. Kemudian tinggal tiga orang di akhir dan Sophie di minta untuk maju lebih dulu.


Sophie berdiri dengan senyum menatap Ava sebentar lalu pergi ke atas panggung. Dia memasang senyum yang sangat lebar dan dengan riang menyapa semua orang, “Halo semuanya! Aku Sophie Berger dari MNO Ent. Mohon bantuannya!” Sophie membungkuk dalam sebelum dia mengambil pose pertama untuk theme song.


Ketika lagu diputar, Sophie mulai mengangkat kepalanya dan tersenyum ceria dan menggerakkan tubuhnya dengan semangat menarikan koreografi dengan tepat dan bersih. Sophie menyanyikan dengan suara cerah dan memberikan semangat berbeda dari para trainee lainnya. Terutama efeknya semangatnya, jauh melebihi trainee lainnya.


Para trainee lagi-lagi menjadi terpesona dengan Sophie yang terlihat sangat ringan dalam menari dan membuat orang yang melihatnya bersemangat. Para Trainee mau tidak mau ikut bersemangat dengan hal ini.


Ketika lagu berakhir, Sophie berhenti dan tersenyum puas dengan apa yang dia lakukan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi lebih selain memberikan semangat pada yang melihatnya.


Sophie kembali ke tempat duduknya diiringi para trainee lainnya bertepuk tangan sebelum Keegan mengumumkan nama trainee berikutnya untuk maju. “Selanjutnya, peserta trainee Vivian Evans, silahkan untuk maju kedepan.”


Vivian yang telah menunggu sejak tadi maju dengan penuh antisipasi. Dia tersenyum lebar sambil menyapa semua yang ada di tempat. “Perkenalkan namaku Vivian Evans dari Big Galaxy Ent.” Sama seperti Sophie dia segera mengambil posisi awal dalam koreografi.


Setelah itu, ketika musik diputar, Vivian menari dengan eskpresif, setiap gerakannya terlihat cocok dengan koreografinya. Tidak seperti di evaluasi sebelumnya, dia kini menari dengan image yang imut dan manis.


Efek penampilannya hampir mirip dengan Sophie, tetapi lebih terlihat imut dan membuat yang menontonnya ikut tersenyum. Auranya memang berbeda dari Sophie tetapi dia memang mempresentasikan lagu ini dengan gaya yang baik.


Ketika dia selesai, dia memberikan tatapan manis dan tanda hati dengan tangannya. Para penonton tentu saja juga bertepuk tangan melihat dia manis dan bersorak untuknya. Vivian segera turun dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah puas.


Orang terakhir yang tampil adalah Ava. Entah sepertinya para staff sengaja menempatkannya di akhir. Ava yang akan maju ke panggung kebetulan melewati Keegan yang duduk di sisi panggung.


“Lakukan dengan benar.” kata Keegan dengan suara yang tidak terlalu keras tetapi Ava bisa mendengarnya. Ava meliriknya kecil dan menemukan Keegan menatapnya dengan agak menyipit.


Ava yang awalnya tidak gugup tiba-tiba menjadi tidak nyaman melihat Keegan menatapnya seperti itu. Dia merasa agak ditegur olehnya, tapi Ava berusaha membiarkannya dan berdiri di panggung dengan mic di tangannya.


“Perkenalkan namaku, Ava Luna.” Ava tidak memiliki perusahaan, jadi perkenalannya sangat singkat. Selain itu, perkenalannya juga tidak memiliki banyak ekspresi seperti trainee lainnya.


Jadi hal ini meninggalkan banyak kesan pada trainee yang melihatnya. Beberapa trainee yang mengenalnya diam-diam merasa sangat bersemangat melihat Ava di atas panggung dan berdoa untuk kesuksesannya.


Ava mengambil posisi awal sambil berfikir, dia tidak berencana menjadi center, jadi mati kita kurangi sedikit kemampuannya dari video evaluasi.

__ADS_1


Ketika musik menyala, Ava mengangkat kepala dengan senyum kecil yang efeknya kurang dari sebelumnya. Dia menggerakkan tubuhnya dengan ringan dan tidak menggunakan banyak tenaga kecuali di bagian yang dibutuhkan seperti bagian dance break.


Alhasil, gerakkan Ava tidak se-berefek dan sebagus saat di video evaluasi, tetapi masih memiliki efek yang kurang lebih sama dengan Sophie dan Vivian. Tapi karena Ava mengurangi tenaganya, dia terlihat lebih ringan saat menari ketika dilihat orang.


Begitu selesai, dia berhenti untuk pose terakhir beberapa detik dengan senyum ringan dan kedipan mata yang lebih lambat. Baru kemudian dia membungkuk dan cepat-cepat turun dari panggung.


Saat kembali ke tempat duduknya, dia menghela nafas panjang, merasa lega karena sudah berakhir.


Keegan di sisi lain meliriknya kecil dan berbalik berbicara pada staff yang mulai mengumpulkan papan formulir evaluasi. Keegan berdiri untuk menunggu dengan staff yang bertugas untuk mempersempit kandidat center.


Kurang lebih 10 menit kemudian, Keegan menerima hasil dari para staff sambil mengerutkan alisnya dengan bingung. “Kamu yakin dengan hasil ini ?” tanya Keegan pada staff yang bertugas.


Staff tersebut mengangguk dengan keras dan menunjukkan hasil yang dicatat. Keegan menganggukkan kepala lalu kembali ke panggung.


Di sisi lain, di panggung yang ramai dengan para trainee yang menunggu sambil berbicara satu sama lain. Sophie juga berbicara dengan Ava tetapi dia lebih banyak berbicara ketimbang Ava sendiri.


Ketika Keegan masuk, mereka langsung diam. Keegan naik keatas panggung dengan tenang lalu menatap para trainee sebelum dia mulai berbicara. “Akhirnya proses evaluasi sampai di akhir, kita akan mengumumkan siapa center dari penampilan theme song kita. Dari total 9 peserta di kelas A, ada tiga orang yang memperebutkan suara pada akhirnya.” Keegan menatap kertas di tangannya dengan senyum kecil. “Silahkan maju, peserta trainee Sophia Berger, Vivian Evans, dan Ava Luna.”


Sophie terkejut dan senang mendengar dia berhasil terpilih sebagai yang bisa menjadi center, dia juga sangat senang, Ava juga terpilih. Jadi Sophie mengguncang tangan Sophie dan menariknya dengan sangat bersemangat naik ke atas panggung.


Ava membeku untuk beberapa saat, dia tidak menyangka dia masih akan terpilih untuk kandidat. Dia memasang wajah terkejut tetapi tidak ada wajah kegembiraan seolah dia benar-benar hanya terkejut.


Vivian disisi lain sangat senang, dia berbalik dan menatap temannya yang juga sama bersemangatnya dengan dia. Vivian menaiki panggung lebih dulu dengan semangat yang lebih dari sebelumnya. Dia terlihat sangat percaya diri untuk memenangi pemilihan ini. Dia berdiri dengan senyum lebar berbeda dari Ava yang agak terkejut dengan hasilnya.


Ketiganya berdiri di panggung dengan rasa antisipasi tinggi. Mungkin hanya keduanya, karena Ava hanya berharap dia tidak akan menjadi center.


Keegan melihat lagi daftarnya dan tersenyum dengan misterius. “Dari ketiga kandidat ini memiliki suara yang hanya berbeda sangat sedikit.” Keegan menatap ketiganya sebelum kembali berbicara. “Dari hasil pemilihan yang dilakukan oleh peserta trainee lainnya, yang menjadi center untuk lagu theme song adalah…….”


Semua orang menarik nafas, merasa gugup mendengarkan hasilnya. Mereka merasa bahwa mungkin dari lagu tersebut ketiga kandidat yang ada memang memiliki semua kriteria untuk lagu theme song. Jadi mereka tidak bisa menebak siapa yang akan terpilih.


Keegan melirik sambil menahan hasilnya di mulut untuk beberapa saat. “Selamat kepada…… Vivian Evans!”


Tatapan kaget semua orang jelas terlihat tampak kagum. Vivians jelas tampak sangat senang hingga menutup mulutnya tidak percaya. Sophie dan Ava sama-sama bertepuk tangan dan tersenyum senang, keduanya juga mengucapkan selamat pada Vivians.


Para trainee lainnya juga bertepuk tangan dan mengucapkan selamat dari jauh. Meski tidak bisa menjadi center sendiri, mereka cukup senang karena bisa mendukung orang yang mereka suka.


Di sisi lain, Keegan tersenyum dan ikut senang dengan hasilnya, tetapi di dalam hatinya dia merasa agak aneh. Meski begitu dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan yang ada sekarang. Jadi dia tetap diam.


Kebahagiaan terus berlangsung hingga makan malam, Keegan membelikan pizza untuk para gadis sebagai hadiah atas kerja keras mereka. Kantin dipenuhi para trainee yang menjadi menggila mencium bau pizza dari jarak jauh.


“Kalian telah bekerja keras selama tiga hari ini, jadi aku membelikan pizza ini untuk hadiah atas kerja keras kalian selama ini. Setelah ini mungkin masih ada yang harus di lakukan, tapi untuk malam ini, nikmati saja makan malam kalian dengan baik dan berlatih lebih banyak esok hari.” Keegan memberikan sedikit petuah dan menyarankan para trainee makan tanpa rasa khawatir hari ini.


“Terima kasih PD!” Teriak para peserta trainee bersamaan dengan rasa senang.


“Kalau begitu silahkan mulai makan.” kata Keegan.


Para trainee melirik satu sama lain dan malu-malu mengambil pizza di meja untuk mulai makan. Sophie di sisi lain tidak begitu malu, dia mengambil dan mulai menggigit dengan wajah bahagia. Ava di sebelahnya makan dengan tenang di sebelah nya dan makan perlahan-lahan.


Meja dimana Ava dan Sophie duduk terdapat juga Crystal, dan Melody. Mereka makan dengan perasaan yang sangat bahagia dan rasanya kelelahan mereka menghilang dengan makanan yang enak.


“Makanan lezat memang yang terbaik untuk mengakhiri rasa lelah.” kata Sophie sambil mengecap jari-jarinya yang terkena saus dari pizza.


“Aku setuju, pizza di akhir hari yang melelahkan adalah yang terbaik.” tambah Cyrstal yang mulai mengambil potongan pizza berikutnya.


“Sudah lama sekali aku tidak makan pizza!” Reaksi Melody juga sama puas dengan pizza yang ada. “Aku harus diet di hari biasa, tidak ada kesempatan untuk makan pizza.”


“PD Keegan benar-benar orang yang baik!” puji Sophie dengan sepenuh hati.


Ava memperhatikan teman-temannya yang mudah sekali bahagia dengan pizza. Dia melirik ke arah Keegan yang duduk di bangku terpisah dengan kaleng soda di tangannya. Tanpa diduga, Keegan juga sedang melirik ke tempatnya berada, jadi mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik sebelum Ava memalingkan tatapannya dan tidak berniat melihat Keegan lagi.


Ava merasa bahwa kemungkinan Keegan merasa ada yang janggal dengan. Tapi seharusnya dia tidak tau kemampuan asli Ava. Intinya, dia berniat untuk mengurangi rasa kebenarannya sehingga tidak terjadi masalah untuknya nanti.


Sambil makan, tiba-tiba seorang staff yang sering memberikan pengumuman datang dan memberikan kertas pengumuman pada Keegan untuk diumumkan kepada para trainee.


Keegan membaca isi pengumuman sebelum berdiri, “Silahkan perhatikan sedikit sambil kalian makan, besok akan diadakan fitting baju untuk penampilan theme song yang diadakan dalam 3 hari. Sisanya silahkan untuk terus berlatih koreografi. Gladi bersih untuk penampilan theme song akan diadakan sehari sebelum waktu syuting. Jadi itu jadwal kalian untuk sementara waktu.”


Sophie yang sedang makan tiba-tiba berhenti, dia menatap pizza di tangannya dengan rasa bersalah. “Seharusnya aku tidak makan.” bisik Sophie agak menyesal.


“Beberapa pizza tidak akan membuatmu bertambah berat.” kata Ava menghibur Sophie yang merasa menyesal.


“Begitukah ?” Mata Sophie yang redup kembali bersinar.

__ADS_1


“Makanlah dengan tenang, setelah ini lakukan beberapa jalan singkat, jangan langsung berbaring.” Ava memberitahunya untuk tidak langsung berbaring, karena biasanya Sophie akan langsung berbaring begitu sampai di asrama. “Mari kita ambil beberapa putaran singkat di taman depan.”


Sophie mengangguk sambil terus makan pizza di tangannya, Crystal dan Melody di hadapan mereka mau tidak mau mengikuti kedua orang yang sudah merencanakan jalan santai setelah makan kali ini.


-


Keesokan paginya, semua peserta trainee akhirnya memiliki waktu tidur yang cukup bangun dengan senyum bahagia. Meski kemarin mereka mengalami masa-masa sulit, tapi ketika mendapatkan waktu istirahat yang cukup, mereka sangat senang dengan hal itu.


Rutinitas pagi masih berjalan seperti biasa, dan para peserta trainee masih harus pergi ke kelas masing-masing untuk terus melatih koreografi lagi. Tetapi di tengah-tengah latihan, peserta trainee di masing-masing kelas akan di undang untuk melakukan fitting baju terlebih dahulu untuk kostum pertunjukan dalam dua hari.


Kelas A menjadi yang pertama yang melakukan fitting pakaian. Karena jumlah orang, jadi staff menyediakan cukup banyak orang untuk melakukan fitting baju beserta dengan penata make up dan penata rambut.


Vivian sebagai center tentu saja lebih diperhatikan dari para siswa lainnya. Sementara para peserta trainee pergi mencoba baju yang diberikan oleh staff setelah melihat penampilan para trainee lebih dulu.


Ava dan Sophie berdiri agak belakang sehingga mereka berdua agak belakangan. Ketika mereka sampai di depan staff yang bertugas, mereka berdiri menunggu sementara staff melihat mereka dan mengira-ngira ukuran untuk keduanya.


Staff yang berdiri berbalik dan mengambil beberapa baju set sekolahan dan menyerahkannya pada Sophie lebih dulu. “Silahkan coba ini dulu, jika ada yang tidak cukup segera mengabari staff” Staff tersebut kembali menatap Ava dengan raut wajah berpikir keras.


“Haruskan aku mencoba gaya biasa atau gaya sporty ?” gumamnya dengan bingung. Staff tersebut berpikir dengan waktu yang cukup lama sebelum memanggil staff lain dan meminta pendapat. “Bagaimana menurutmu, haruskan kita memberikan gaya sporty atau bagaimana ?”


Staff wanita yang baru saja dipanggil juga tampak ikut berpikir keras. Dia menatap Ava dari atas ke bawah sambil beberapa kali menggelengkan kepala. “Sepertinya dia lebih baik dengan gaya elegan. Buat saja dengan set normal, tinggal meningkatkan dengan make up dan tatanan rambut.”


Staff yang pertama menatap Ava mengangguk setuju. “Benar sekali, sepertinya lebih baik seperti itu, kurasa itu lebih baik untuknya.” Kemudian dia menyiapkan baju yang dimaksud dari gantungan baju dan memberikannya pada Ava. “Kenakan saja seperti kamu menggunakan baju sekolah pada umumnya. Nanti aku akan membantumu untuk merapikannya.”


Ava menerima baju yang digantung dan pergi ke ruang ganti. Dia menggantungkan baju di gantungan begitu masuk dan menatap baju yang dia terima sebelum membongkar satu persatu item yang ada. Ava mulai mengganti bajunya dan mengenakan kemeja putih polos khas anak sekolah dan rok pendek yang mengembang berwarna abu-abu. Di luarnya terdapat vest ketat berwarna merah maroon dan dasi coklat dengan motif kotak-kotak. Lalu terakhir di tutupi dengan jas abu-abu yang menunjukkan vest merah dari luar, terdapat lambang Unlimited Youth Girls di jas kiri yang di bordir mencolok.


Ava merapikan baju agar lebih rapi sebelum keluar membawa baju trainingnya. Ketika dia keluar keadaan masih agak ramai dan tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Ava diam-diam berdiri di samping menunggu gilirannya.


Tapi tiba-tiba seorang staff wanita yang sedang mencatat untuk setiap peserta apa yang perlu dikenakan sebelumnya, tidak sengaja melihat Ava yang berdiri di samping dengan tenang. Mau tidak mau dia terperanga dan menepuk pundak teman di sebelahnya yang sedang mengatur baju seorang peserta.


Sophie yang juga sudah selesai dengan fittingnya baju dengan cepat menemukan Ava yang di samping. Dia tampak terperanga dan mendekati Ava dengan wajah terkejut.


“Ava! Astaga! Kamu terlihat sangat cantik dengan seragam sekolah ini!” Sophie berputar di sekitar Ava dan melihat dengan teliti. “Bahkan lebih cantik dari seragam sekolah kita sebelumnya.”


Ava melihat seragam yang dikenakan Sophie. “Bajumu membuatmu terlihat sangat manis.” Sophie menggunakan baju yang sama dengan Ava, tetapi suasananya membuat dia terlihat sangat imut.


Sophie menggerakkan badannya dan memamerkan bajunya. “Aku juga setuju, baju ini sangat manis, aku merasa seperti sedang bersekolah di sekolah yang mahal.”


Ava tersenyum kecil dan melihat seragamnya sendiri, dia juga merasakan perasaan yang sama. “Memang terlihat sangat mewah.”


“Sepertinya kamu harus segera pergi ke salah satu staff, mereka perlu mencatat mengenai make up dan model rambutnya nanti.” Sophie melihat melihat sekitar dengan agak khawatir. Ava juga mau tidak mau ikut melihat dan mendatangi salah seorang staff yang sedang menulis di papan.


“Permisi, aku sudah selesai melakukan fitting.” Ava berkata dengan pelan pada staff perempuan yang tampak sibuk.


Staff perempuan yang sedang menulis mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mata Ava yang melihatnya. Dia tidak bisa berkata-kata dan menatap Ava dengan mulut terbuka dan wajah terpana.


“Kamu…” Staff perempuan terbata-bata melihat Ava yang terlihat seperti anak sekolah yang sangat cantik. “Kamu sangat cantik.”


Ava menjadi terdiam beberapa saat, “Terima kasih.” Ava tersenyum kaku, “Apakah aku harus melaporkan tentang fitting baju ?”


Staff perempuan itu mengangguk keras dan langsung tersadar dengan tugasnya. “Ah! Benar sekali, Ikut aku.” Staff perempuan membawa Ava ke staff lain yang berdiri di depan meja rias dan sedang mencatat hal-hal lain. “Permisi, ini peserta lain yang harus diperiksa.”


Kali ini staff yang bertugas adalah wanita yang lebih estetik, dia memiliki rambut yang berwarna terang. Staff ini berbalik dan melihat Ava yang dimaksud, dia segera mendekati Ava dan menyentuh wajah Ava dengan agak teliti.


“Gadis ini tidak perlu banyak make up, fitur wajahnya sudah cukup bagus, tinggal menonjolkan sedikit akan lebih baik.” Staff ini berbalik dan mengambil papan tulisnya. “Siapa namamu ?”


“Ava Luna.”


Staff tersebut mencari nama Ava dan mulai mencatat sesuatu di atasnya. “Ngomong-ngomong, kamu sangat cantik. Kurasa, rambutmu hanya perlu di gelombang sedikit, itu akan membuatmu tampak lebih elegan. Kamu tidak perlu mendatangi penata rambut, aku akan memberitahunya.”


Ava mengangguk kecil lalu melirik staff yang mengantarnya pertama kali. “Apakah aku harus berganti pakaian sekarang ?”


Staff perempuan yang berdiri di sebelahnya melirik Ava dengan agak ragu, dia meng scanning Ava lagi dan menemukan Ava belum menggunakan sepatu. “Kamu belum menggunakan sepatu, mari kita ambil sepatu untukmu dulu.”


Staff itu membawa Ava ke bagian yang memiliki sepatu dan kaos kaki. Ava mengatakan ukurannya dan segera diberikan sesuatu permintaannya. Begitu Ava menggunakan perlengkapan yang lebih lengkap, Ava menjadi pusat perhatian setiap orang di ruangan.


Ava tampak terlihat sangat menonjol, kesan elegan sangat keluar darinya. Dia terlihat seperti siswa sekolah yang sangat populer di sekolah, hingga banyak orang suka dengannya.


Tapi disisi lain, ada orang yang tidak begitu senang dengan menonjolnya Ava di ruangan. Vivian yang sedari tadi menerima perhatian semua orang karena dirinya akan menjadi center, dia sibuk menyesuaikan dan berkonsultasi pada para staff agar dia terlihat lebih baik di panggung.


Begitu Ava muncul, sepertinya perhatian mulai teralih darinya, Vivian mulai merasa jengkel dengan perasaan diabaikan dan perasaan orang lain lebih baik darinya. Ternyata tidak semudah itu benar-benar menjadi yang paling menonjol. Meski dia sudah mengukuhkan diri menjadi center tapi sepertinya ada kemungkinan perhatiannya yang lain akan dicuri.

__ADS_1


Entah kenapa Vivian merasa sangat jengkel dengan fakta ini. Sepertinya dia perlu melakukan sesuatu yang lain agar dia bisa lebih menonjol dan memastikan gadis bernama Ava itu tidak terlalu menjadi perhatian dan berpengaruh.


-


__ADS_2