LuckyONe

LuckyONe
Chapter 15: Break Time


__ADS_3

Keesokan harinya, tubuh Ava masih terasa sakit karena penampilan kemarin. Tapi dia tetap bangun pagi dan mulai melakukan lari pagi dengan semangat. Udara pagi hari membuat Ava yang mengantuk mulai tersadar. Selain itu dia juga merenggangkan tubuhnya dengan stretching ringan yang membuat tubuhnya semakin menjadi lebih baik dan rasa pegal mulai menghilang.


Setelah selesai, Ava kembali ke kamar asrama dan mendapati teman sekamarnya masih tertidur, jadi dia pergi mandi terlebih dulu. Hari ini kebetulan tidak ada agenda lain dan para trainee bisa tidur hingga siang. Jadi Ava tidak membangunkan teman sekamarnya agar mereka bisa tidur lebih lama.


Ava naik kembali ke kasurnya dan mengeluarkan buku catatan pribadi. Lalu dia mulai menuliskan sesuatu sambil sesekali bersenandung kecil. Dia menuliskan lirik utnuk lagu baru yang kebetulan terlintasi di pikirannya. Karena di akan berada di tempat ini untuk sementara waktu jadi akan lebih baik jika dia melakukan persiapan jika ada banyak permintaan lagu nantinya.


Ketika Ava sedang sibuk menulis, dia mendengar adanya bergerakkan dari kasur di dekatnya. Clarence yang tidur di kasur di seberangnya menggeliat bangun dan melihat Ava sudah bangun.


“Jam berapa ini ?” tanya Clarence dengan suara pelan dan serak.


“Pukul delapan.” jawab Ava setelah mengecek jam di tangannya.


“Bukankan kita harus pergi sarapan ?” Clarence bangkit dan dududk di kasurnya berusaha mengumpulkan kesadarannya.


“Memang aku berniat pergi setelah ini.” kata Ava tapi melihat teman sekamarnya masih tidur. “Haruskan aku membangunkan mereka semua ?”


Clarence juga menatap teman sekamar yang masih tidur. “Sepertinya lebh baik membangunkan mereka, bagaimanapun mereka harus sarapan terlebih dulu.”


“Biar aku bangunkan mereka, kamu bisa pergi mencuci muka terlebih dulu.” kata Ava sambil menyimpan buku catatan miliknya.


Clarence turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi. Ava mulai membangunkan teman sekamarnya. “Kita harus pergi sarapan dulu.” kata Ava saat membangunkan mereka.


Ketika Clarence keluar dari kamar mandi, teman sekamarnya sudah duduk di kasur dengan tatapan kosong khas bangun tidur. Ava sendiri memilih menunggu di luar agar memberi cukup ruang bergerak di kamar.


Mungkin karena mereka tidak ada kegiatan ataupun latihan hari ini jadi banyak trainee yang tidak bangun. Ava yang membangunkan teman sekamarnya menjadi satu-satunya yang berdiri di lorong.


Tidak butuh waktu lama untuk Clarence bergabung dengannya menunggu di luar. Penampilan Clarence lebih segar setelah mencuci mukanya. Dia melihat ke kanan dan kekiri menemukan mereka satu-satunya yang bangun.


“Sepertinya yang lain tidak akan bangun.” kata Clarence.


“Tidak ada pemberitahuan lebih lanjut, seharusnya kita akan mendapatkan libur setelah ini kan ?” tanya Ava mengingat mereka baru saja menghabiskan waktu kurang dari sebulan di tempat ini.


“Aku dengar seharusnya ktia akan mendapatkan libur tiga hari. Tapi aku tidak tau kapan.” kata Clarence, dia sebelumnya sudah mendengar dari agensinya kalau mereka akan mendapatkan libur tapi tidak tau kapan tepatnya.


Ava hanya mengangguk, dia tidak tau seberapa detail mengenai acara ini. Selama ini dia hanya pengikuti pengaturan yang sudah ada.


Tepat mereka membicarakan hal tersebut, teman sekamarnya akhirnya keluar. Mereka akhrinya bisa pergi ke cafetaria untuk sarapan. Seperti kondisi di lorong, cafetaria sangat kosong meski begitu sudah ada makanan yang disiapkan.


Ava mengambil makanan dan pergi sarapan lebih dulu. Mereka duduk di meja yang sama dan makan sambil berbicara.


“Apakah ktia akan pergi liburan setelah ini ?” tanya Leah di sela makannya.


“Seharusnya kita begitu, mungkin kita haus menunggu hingga siang untuk pengumuman.” kata Scarlett. Melihat hanya mereka saja di sini dia merasa pengumuman seharusnya di buat nanti siang.


Ava tidak ikut berbicara dan fokus untuk makan sarapan. Kemudian pembicaraan mereka berputar di sekitar kegiatan mereka kemarin. Betapa menyenangkannya pertunjukkan kemarin meski mereka tidak menang. Selain itu juga mereka merasa latihan mereka seperti terbayarkan berkat pertunjukan yang sangat keren.


Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar mereka untuk kembali tidur. Ava tidak pergi tidur dan kembali menulis di buku catatannya. Ava berhasil menulis dua lagu yang bisa dia proses begitu kembali nantinya.


Begitu selesai, Ava akhirnya tidur siang yang sangat jarang dia dapatkan. Dia menutup buku catatannya dan langsung tidur begitu saja. Dia tidur dengan nyenyak tanpa beban apapun.


Seperti kata Scarlett memang ada pertemuan di siang hari setelah makan siang berlangsung. Ava di bangunkan dan ikut makan siang bersama teman sekamarnya. Staff yang bertugas membuat pengumuman tentang libur yang bisa mereka dapatkan.


“Kalian akan mendapatkan libur tiga hari, setelah itu kalian harus berkumpul lagi disini pukul delapan pagi. Tapi untuk liburan kali ini ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan. Pertama, kalian tidak boleh mempromosikan diri secara individual atau lewat agensi di sosial media. Lalu yang kedua adalah kalian tidak boleh memberikan spoiler apapun kepada orang di sekitar kalian. Bagi yang melanggar akan di kenai sanksi.” Staff yang mengumumkan terlihat sangat serius dan menekankan hal-hal tersebut. Selesai dari pengumuman, mereka di biarkan kembali berkemas, lalu mereka juga barang seperti handphone di kembalikan sebelum pergi setelah makan siang.


Ava berjalan keluar dengan sambil memeriksa handphonenya. Mr. Wild mengiriminya pesan sehingga ketika dia selesai dari latihan dia bisa mengeceknya. Dari pesan-pesan ini, dia melihat sepertinya ada tambahan pekerjaan musik yang harus dia garap kal ini. Dia memasukkannya ke dalam agenda memastikan bahwa pekerjaan itu akan di kerjakan setelah ini.


Selain pesan-pesan tersebut, Ava juga mendapatkan pesan dari temannya yang mengajaknya bertemu. Ava membalas pesan tersebut dan mengatakan bahwa dia bisa bertemu besok.


Sophie berlari mendekati Ava yang membawa sedikit barang. “Ava apakah kamu akan kembali pulang ? Sudah ada kendaraan yang menjemput ?”


“Aku akan memanggil taksi.” jawab Ava sambil menunjukkan dia akan memanggil taksi.


Sophie mengangguk hendak mengajaknya pergi bersama tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ava dan Sophie sama-sama berbalik dan menemukan teman satu agensi Sophie mengajaknya pergi.


“Pergilah, aku sudah memesan taksi sekarang, hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi.” Ava tentu saja tidak ingin bergabung dengan mobil agensi Sophie, karena jelas tujuan mereka berbeda.


Sophie menampilkan wajah bersalah tetapi akhirnya dengan desakkan Ava, dia akhirnya pergi bersama teman-temannya. Ava memastikan Sophie pergi sebelum berbalik menunggu taksi yang dia pesan.


Daerah lokasi syuting mereka agak jauh jadi Ava menikmati waktu di jalan sambil meliha agenda pekerjaan yang harus dia selesaikan setelah ini. Kali ini, Ava tidak pulang ke rumahnya, tetapi pergi ke studio untuk memproses lagu. Waktu yang dia punya sangat singkat, jadi lebih baik menyelesaikan pekerjaannya sebelum dia harus kembali syuting.


Ava mampir ke toko mie di dekat kantornya untuk membungkus makanan dan pergi ke studio musiknya. Karena sebelumnya sudah memiliki bahan dan dasar lagu, proses membuatan lagu jauh lebih mudah. Dia hanya perlu memainkan melodi awal dan menambahkannya dengan elemen-elemen lainnya.


Selama dua belas jam, Ava berhasil menyelesaikan dua lagu sekaligus beserta dengan demo lagunya. Saat dia keluar dari studio, matahari sudah muncul dan beberapa orang sudah keluar dengan pakaian kerjanya.


Karena dia sudah berjanji untuk menemui temannya di sore hari, Ava memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk tidur dan mandi.


*

__ADS_1


Di sore hari, Ava yang sudah tidur merasa lebih baik, dia menggunakan pakaian santai dan pergi naik bis ke tempat yang sudah di janjikan. Kali ini Ava bertemu dengan temannya di sebuah cafe yang agak tersembunyi di gang tetapi memiliki kopi yang sangat enak.


Ava masuk ke cafe dan langsung datang ke konter untuk memesan kopi hitam lalu menuju ke lantai dua di mana area yang lebih private. Di sebuah ruangan ada seorang laki-laki yang menggunakan baju bergaya hip-hop yang sangat kuat duduk menunggunya.


Ketika dia masuk, laki-laki ini langsung bereaksi dan menyapanya, “Kamu benar-benar sulit di hubungi!” keluhnya.


Ava hanya bisa tertawa kecil. “Aku ada hal yang harus dilakukan.” Ava duduk di kursi seberang laki-laki tersebut.


Laki-laki itu mengerutkan kening, “Kegiatan apa yang membuatmu tidak bisa menjawab telfon sama sekali ?”


“Pokoknya ada satu dua hal.” Ava tidak ebrniat memberitahunya soal syutingnya kali ini. “Jadi ada apa ? Sangat jarang memanggilku dengan tergesah-gesah.”


Bukannya menjawab, laki-laki tersebut malah mendesah panjang seolah bingung bagaimana harus menjawab pertanyaannya. “Sebenarnya aku berniat untuk memitna bantuanmu.”


“Bantuan apa ?” Ava menjadi agak sensitif dengan kata-kata meminta bantuan, karena Sophie juga sebelumnya mengutarakan hal yang sama dan membuatnya kerepotan kegiatan syuting dan latihan setiap hari.


“Ada seorang temanku yang ingin meminta bantuanku untuk membuatkan sebuah koreografi untuk lagunya.”


Ava langsung mengerutkan kening tidak setuju, “Tidak, aku sibuk belakangan ini. Tidak ada waktu untuk membuat koreografi.”


Laki-laki di depannya seperti langsung bereaksi dan menahan Ava untuk menolak lebih lanjut. “Tunggu-tunggu, aku bukannya ingin memintamu untuk membuat lagu dari awal, hanya saja meminta bantuan untuk kolaborasi”


Ava menatap dengan curiga tetapi tidak langsung menolak menunggu untuk mendengarkan lebih lanjut.


“Kamu tau sendiri, aku berspesialis dalam tarian hip hop, tetapi aku lemah dalam membuat membuat koreografi sendiri. Hal ini agak membuatku sedikit ragu pada awalnya. Klien kali ini adalah seorang teman baikku, jadi aku tidak ingin mengecewakannya. Dia juga sangat mempercayaiku. Jadi… Kumohon Ava.” Laki-laki di depannya meminta bantuannya dengan wajah memelas.


Ava tentu saja tidak langsung mengiyakan, dia masih harus syuting selama beberapa saat. Jika tidak ada hambatan, seharusnya dia akan syuting hingga dua bulan kedepan. Tidak ada komunikasi dengan pihak luar. Jadi sulit untuknya mengiyakan hal tersebut.


“Jack, Aku ada pekerjaan yang harus kulakukan selama dua bulan belakangan kedepan, jadi aku tidak bisa menerima pekerjaan lain untuk sementara waktu.” kata Ava masih menolak.


Laki-laki di depannya bernama Jack Rimane. Seorang penari hip hop profesional yang dikenal Ava beberapa tahun lalu saat dia di ajak mengikuti perkumpulan tari. Sejak itu Ava yang seorang pemula menjadi dekat dengan banyak penari profesional di bidang masing-masing dan Jack adalah salah satunya.


“Sebenarnya pekerjaan apa yang sampai membuatmu tidak bisa meluangkan waktu ?” Jack agak kesal sekarang, dia merasa bahwa ada orang yang ingin mengeksploitasi Ava dengan pekerjaan.


Ava masih terlihat enggan untuk mengatakannya, hal ini membuat Jack memiliki wajah yang sangat jelek. “Jika kamu tidak mengatakannya, aku tidak berhenti menghubingimu sampai kamu memberitahuku.” Jack akhirnya mengancam dengan cara ini, dia tidak ingin Aca menyembunyikan masalah yang bisa saja berbahaya untuknya.


“Baiklah-baiklah, aku pergi syuting selama dua bulan kedepan. Dan aku tidak bisa menggunakan handphoneku dengan santai.” Akhirnya Ava mengatakkan apa yang sebenarnya terjadi.


Wajah Jack langsung berubah begitu dia mendengar Ava akan pergi syuting. “Apakah kamu sekarang ikut syuting ? Syuting apa ?” Jack menjadi bersemangat dan terlihat penasaran dengan syuting Ava.


“Aku tidak bisa memberikan tau detailnya. Tapi yang jelas aku sedang syuting sebuah program survival girl group. Tapi aku disana hanya untuk menemani temanku.” Ava menjelaskan secara garis besar dan tidak membiarkan detailnya keluar.


Ava menghela nafas. “Tapi kalau memang diperlukan aku bisa memberikan sedikit saran,”


Mata Jack terlihat berbinar mendengar Ava berniat memberikan saran. “Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke ruang latihan dan kita mulai.”


Ava hanya bisa menghela nafas panjang dan mengikuti Jack ke ruang latihan yang ada di ruang bawah tanah cafe tersebut. Kebetulan sekali, Ava menggunakan pakaian santai yang sangat cocok untuk berlatih tari.


Mereka duduk di lantai ruangan dan Jack mengeluarkan laptop untuk menunjukkan lagu yang harus di buatkan koreografi. Ava menunggu dengan sabar hingga Jack memutarkan lagu yang diminta oleh klien yang sekaligus temannya.


Ava mengerutkan kening begitu dia mendengar lagu tersebut. Lagu ini di nyanyikan oleh seorang laki-laki dan sepertinya adalah lagu ini adalah lagu demo. “Apakah ini lagu demo ?”


Jack mengangguk. “Dia masih belum melakukan perekaman lagu. Tapi memang lagu ini sudah di putuskan untuk dibawakan oleh temanku di sebuah program.”


“Hm…” Ava merenungkan sebentar sambil mendengarkan lagu tersebut. “Lagu ini sepertinya tidak cocok dengan gaya hip hop.”


“Memang, sebenarnya lagu ini kurang dengan gaya hip-hop yang terlalu kuat. Aku berusaha menghubungi beberapa penari lainnya, tetapi mereka agak sibuk juga. Makanya aku ingin mengajakmu untuk bergabung.” Jack agak tidak berdaya dengan permintaan temannya.


Ava menarik nafas dan mulai fokus dengan lagu di depannya dan memikirkan lirik dan jenis lagu tersebut. Berusaha mencocokkan mana gerakkan yang cocok untuk lagu ini.


“Lagu ini seperti menggoda orang.” komentar Jack ketika mendengar lagu ini.


Ava tiba-tiba seperti mendapatkan inspirasi. “Lalu buat gerakkan yang menggoda orang.” Ava langsung bangkit berdiri menatap ke kaca dan memberikan tanda pada Jack untuk memutarkan lagu tersebut dari awal.


Ava berusaha meresapi lagu awal dan mulai bergerak. Gerakkan awalnya sangat hip-hop tetapi dengan gerakkan patah yang mengikuti tempo lagu tersebut. Baru di bagian Chorus, Ava bergerak dengan sangat minimal tetapi memberikan kesan menggoda siapapun yang melihatnya. Gerakkan body roll yang tidak memiliki banyak gerakkan tetapi sangat berdampak.


Jack yang melihat dari samping dengan penuh semangat. Dia bertepuk tangan ketika Ava selesai di bagian chorusnya. “Sangat hebat, kamu benar-benar membuat koreografi hanya dalam beberapa menit!”


Ava menunjukkan wajah yang sangat tidak enak. “Ini bukan koreo, ini hanya ide dasar. Kamu harus melakukannya sendiri nanti.”


Jack menggelengkan kepala dengan keras, “Tidak-tidak aku sudah sangat suka dengan gerakkan chorusnya, hanya perlu menambahkan gerakkan lain sedikit.” Jack mengeluarkan handphonenya bersiap untuk merekam Ava. “Lakukan lagi, aku akan merekamnya.”


Ava masih tidak bergerak dan menunjukkan wajah tidak ingin pada Jack.


“Ayolah, biar aku pikirkan gerakkan bagian verse 2 tapi bantu aku di bagian awal.” Jack berusaha membujuk Ava. Meski Ava lebih muda darinya, tapi bakatnya sangat memuaskan sehingga Jack sendiri sangat menghargainya.


Ava hanya bisa menghela nafas dan akhirnya terbujuk dengan mudah.Dia akhirnya mengulang gerakkan yang dia lakukan tadi tapi kali ini lebih lancar dan seolah dia hanya menunjukkan koreo yang sudah ada.

__ADS_1


Jadi satu menit awal, Ava membuatkan koreografi tanpa hambatan. Jack baru membiarkannya pulang begitu Ava membantunya mengolah konsep yang Jack sudah siapkan.


Begitu keluar dari studio tari tersebut sudah malah hari. Kebetulan Mr. Wild memberitahunya tentang pekerjaan yang sebelumnya sudah di atur. Jadi Ava tidak pergi ke rumah tetapi pergi ke studio rekamannya untuk mengatur pertemuan dengan manajernya.


Ava mampir ke toko makanan siap saji dan langsung pergi ke studio sambil membawa makanannya. Besok adalah hari terakhir dia bisa bebas, jadi lebih baik dia menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Ada beberapa lagu yang perlu di buatkan demo terlebih dulu jadi dia harus merekam dan mengubah sedikit suaranya nanti.


Ketika Mr. Wild datang dia melihat Ava sedang makan sambil bekerja di mejanya. Ava terlihat mengigit hamburger besar di tangannya dan menyapa dengan matanya.


“Apakah kamu tidak takut berat badanmu naik ?” tanya Mr. Wild lalu duduk di kursi di seberang Ava. “Bukankah kamu masih harus ikut program survival itu ?”


Ava mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Aku baru saja bertemu dengan Jack. Dia memintaku untuk membantunya membuat koreografi sepanjang sore.”


Mr. Wild tentu saja kenal dengan Jack yang dimaksud Ava. Setidaknya sebagai manager dia tau siapa saja teman di lingkaran Ava. “Apakah kamu tau, sekarang kamu cukup terkenal.”


Ava berhenti menguyah sebentar sambil berfikir. “Benarkah ?” tanyanya lalu melanjutkan menguyah.


Mr. Wild membuka handpone dan membacakan beberapa komentar dari penonton yang melihat di tempat kejadian. “‘Main vokalis yang membuatku merinding’, ‘Kecantikan yang sangat menakjubkan’, komentarmu berputar di sekitar itu.”


Ava tidak terkejut dan hanya mengangguk kecil mengetahui hal tersebut. “Sepertinya aku masih terlihat.” katanya dengan menyesal. Ava tidak ingin menonjol di acara ini, tetapi sepertinya dia masih tetap mencuri perhatian penonton.


Mr. Wild hanya bisa tertawa kecil. Karena dia tau niat asli Ava datang ke acara tersebut dan merasa bahwa Ava mungkin akan mengalami masalah. Tapi sebagai orang yang tau identitas lain dari Ava membuatnya agak merasa bakatnya menjadi sia-sia jika tidak di ekspos.


“Ada kemungkinan kamu tidak akan tereliminasi dalam eliminasi pertama.” kata Mr. Wild menebak. Karena kecantikan Ava dan bakatnya seharusnya Ava tidak akan tereliminasi dengan cepat.


“Eliminiasi apa ?” Ava tampak tidak mengerti.


Mr. Wild agak terkejut Ava tidak mengetahui proses survival tersebut. “Tentu saja eliminasi yang akan mengurangi peserta trainee paling tidak setengahnya.”


Ava mengingat-ingat lagi proses sepertinya dia memang pernah dengar tetang proses eliminasi dari trainee lain. “Sepertinya aku memang mendengar tentang masalah ini.”


“Jika begitu kamu pasti akan lebih menonjol. Kamu tau sendiri, jika semakin sedikit orang semakin mudah kamu di temukan oleh penonton.” kata Mr. Wild memberitahu Ava bahwa kemungkinan dia akan mendapatkan banyak sorotan setelah ini. Apa lagi dia cukup populer, sehingga banyak penonton masti akan meminta sorotannya.


Ava jatuh kedalam pemikirannya sendiri. Dia berfikir bagaimana dia bisa mengurangi sorotannya sendiri. “Kalau begitu aku harus melakukan sesuatu yang kurang menarik dan sebisa mungkin mengurangi sorotan.” kata Ava pada dirinya sendiri.


Mr. Wild hanya bisa merasa geli mendengar Ava berencana untuk mengurangi rasa keberadaannya dengan menjadi malas di acara. Tetapi dia tidak ingin mengomentari keputusan Ava, dia selalu merasa Ava punya alasan khusus bertindak seperti itu.


“Ngomong-ngomong,” Ava mengeluarkan sebuah flashdisk dan memberikannya kepada Mr. Wild. “Ini lagu untuk klien terakhir. Mungkin kamu bisa menolak beberapa permintaan lagu untuk sementara waktu, kurangi saja. Aku tidak yakin aku punya waktu yang cukup untuk membuatnya. Katakan saja LuckyONe sedang perjalanan bisnis.”


Mr. Wild hanya bisa mengangguk sambil menerima flasdisk tersebut.


“Anggap saja ini adalah libur yang kuberikan. Jadi anda bisa pergi berlibur, untuk beberapa saat, untuk waktunya bisa di atur sendiri. Dalam rentan waktu dua bulan, gaji akan tetap aku bayar..” kata Ava memberikan libur dengan sangat murah hati.


Mr. Wild tentu saja terkejut mendengar Ava memberikannya libur. Memang selama ini dia jarang berlibur kecuali hari libur besar, bahkan dia juga tetap bekerja di hari libur. “Apakah tidak papa ?”


Ava mengangguk. “Lagi punya aku juga sedang sibuk syuting, untuk sementara anggap saja LuckyONe berlibur.”


“Baiklah kalau begitu.” Mr. Wild tampak tidak keberatan, baginya yang jarang mendapatkan liburan sangat menyenangkan. “Lalu aku akan mendorong beberapa tawaran yang terlalu memiliki deadline terlalu dekat.”


Ava hanya bisa mengangguk dengan senang dan mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan saat kembali besok.


Mr. Wild yang pekerjaannya sudah selesai bersiap untuk pulang dan mulai merencanakan liburannya. “Kalau begitu aku akan pulang dahulu, dan memantau penampilanmu saat episodenya keluar.”


Ava hanya melambaikan tangan. “Jangan tonton, jangan pilih aku. Jangan khawatirkan aku.”


Mr. Wild tertawa sebelum keluar dari pergi meninggalkan Ava yang masih duduk di kursi kerjanya dengan senyum kecil. Tiba-tiba handphone yang terkeletak di meja menyala karena ada orang yang mengiriminya pesan.


Ava mengambil handphonenya dan menemukan Jack mengiriminya pesan. Isinya adalah video dia menari dan menampilkan koreografi yang baru tadi dia selesaikan. Dibawahnya ada pesan lain menanyakan tentang program yang dia ikuti.


‘Apakah program yang kamu ikuti adalah program Unlimited Youth Girls ?’


Ava mengetik dengan singkat dan menjawab ‘Ya’


Setelah itu Ava meletakkan handphonenya dan mulai menyusun lagu lainnya tanpa tau jenis masalah yang akan datang menghampirinya begitu dia kembali ke lokasi syuting.


Jack yang menerima jawab pesan dari Ava sedang makan malam dengan teman baiknya yang juga kliennya untuk koreografi yang baru saja Ava buat tadi sore.


“Temanku sudah menjawabnya. Dia menjawab iya.” kata Jack pada temannya.


Di seberangnya, teman Jack tampak tersenyum misterius dan merasa menemukan fakta baru. “Begitu rupanya. Sangat menarik.”


“Jangan meremehkannya, meski masih muda, dia sangat hebat dalam menari. Dia cukup baik dalam menari beberapa gaya. Teman-temanku yang lain sangat menghargai bakat muda sepertinya.” Jack berusaha menjelaskan tentang Ava yang membantunya membuat koreografi.


Temannya hanya mengangguk. “Aku tau, cuplikannya terlihat sangat bagus. Secara keseluruhan aku cukup senang dengan konsep dan gerakkannya.”


Jack menghela nafas lega. “Syukurlah jika kamu suka.”


Temannya hanya bisa tersenyum sambil memikirkan video yang dia lihat sebelumnya. Dia tidak bisa berhenti tersenyum senang dengan temuannya yang menarik hari ini. Entah kenapa dia menjadi tidak sabar dengan hari besok.

__ADS_1


\=


__ADS_2