
Keesokan harinya mereka datang ke ruang latihan bersama dengan pelatih. Kali ini kelas yang mereka hadiri adalah kelas vokal dan rap. Di ruangan sudah ada Vincent dan Zoo yang menunggu mereka. Mereka menyapa dengan membungkuk lalu berbaris memanjang.
“Mari kita mulai saja latihannya. Tim pertama.” panggil Vincent sambil membolak-balik kertas di tangannya berusaha mencari siapa saja yang ada di tim pertama kali ini.
Pelatih Zoo yang melihat Ava berada di tim Pertama langsung tersenyum. “Apakah kamu berada di posisi rap ?” tanya pelatih Zoo pada Ava yang berdiri di paling pinggir.
Ava menggelengkan kepala. “Vocal.” jawab Ava singkat.
Pelatih Zoo langsung berdecak mendengarnya. “Bakat yang begitu bagus. Kenapa memilih vokal ?”
Pelatih Vincent di sebelahnya langsung menunjukkan wajah tidak setuju. “Dia juga bakat yang bagus di vokal.”
“Tapi tetap saja dia sebelumnya memilih rap dari pada vokal.” kata Pelatih Zoo memperdebatkan.
Pelatih Vincent berniat untuk mendebatnya lagi tetapi dia melirik trainee yang masih berdiri di hadapan mereka. Akhirnya dia menahan diri dan tersenyum mempersilahkan mereka untuk memulai.
Ava menatap Sydney yang menjadi lead vocal pertama. Sydney mengangguk tanda bahwa dia siap lalu Ava mulai bernyanyi dengan senandung yang penuh perasaan, hingga membuat yang mendengarnya merinding. Pelatih Vincent bahkan sampai mengerutkan kening karena merasakan bulu kuduknya berdiri.
Sydney menyambung nyanyian Ava dengan senandung lainnya dan diikuti trainee lainnya yang menyambut bagian mereka. Ava dan Sydney sudah membicarakan sebelumnya untuk pembagian add-lib yang bisa mereka tambahkan. Jadi ketika mereka menunjukkan kali ini Ava dan Sydney akan sesekali melakukan add-lib agar lagu tidak terdengar kosong dan membantu membangun momentum lagu.
Begitu mereka selesai menyanyikan lagu tersebut, pelatih Vincent dan Zoo tampak terdiam, memikirkan apa yang ingin mereka katakan. Pelatih Vincent mengangkat kepalanya lebih dulu.
“Sungguh luar biasa kalian bisa menyanyikannya sebaik ini hanya dalam waktu sehari latihan.” kata pelatih Vincent memuji. “Sudah kuduga lagu ini sangat cocok dengan suara kalian. Kerja sama kalian juga sangat enak di dengar.”
Pelatih Zoo menunjukkan wajah jelek. “Aku tidak ingin mengakuinya tapi memang Ava memiliki suara yang sangat cocok untuk lagu ini.”
“Akhirnya anda mengakuinya pelatih Zoo.” kata Pelatih Vincent dengan wajah bangga.
Pelatih Zoo hanya bisa berdecak kesal melihat wajah pelatih Vincent yang sangat bangga tersebut. “Tapi aku tidak bilang bahwa dia tidak cocok sebagai rapper.”
“Tapi tetap saja suaranya sangat bagus sebagai vokalis.”
“Sudahlah, kita bahas lagi ini nanti.” pelatih Zoo semakin kesal dengan partnernya ini yang semakin menjadi.
Pelatih Vincent tersenyum penuh kemenangan lalu menatap enam trainee di depannya. “Selain Ava, yang lain juga sangat bagus. Sydney kamu hanya perlu mempertahankan kemampuanmu itu, Yoal juga sudah meningkat banyak, Crystal, Iris dan Chandie, kalian sudah memiliki perasaan dalam bernyanyi hanya perlu lebih banyak latihan, suara kalian masih agak tidak stabil.”
“Terima kasih pelatih.” ucap mereka bersama-sama lalu kembali duduk di pinggir membiarkan tim kedua mencoba bernyanyi terlebih dulu.
Tim kedua juga terdengar cukup baik terlepas dari tidak stabilnya suara mereka. Karena memang adalah hal yang wajar untuk trainee yang tidak stabil saat baru saja membawakan lagu untuk pertama kalinya.
Mungkin di tim Ava hanya dirinya dan Sydney yang benar-benar stabil secara vokal dan tidak mengalami masalah sama sekali.
Setelah mengevaluasi kedua tim, kedua pelatih memulai melatih dan memberikan masukan kepada kedua tim tersebut.
“Saat kamu bernyanyi gunakan suara perutmu,” kata Vincent pada Crystal yang masih bernyanyi dengan tidak stabil.
“kamu masih ada masalah dengan nada. Ulangi lagi.”
Ava dan Sydney tersingkir di bagian belakang menunggu Vincent dan Zoo memberikan arahan kepada teman satu tim mereka. Keduanya berdiskusi dan mulai mengkritik satu sama lain saat ada yang kurang dari bagian mereka.
“Aku baru tahu bahwa di ******* lagu bisa juga diberi seperti ini.” kata Sydney saat mendengarkan lagu tersebut lagi.
Bagian ******* dari lagu tersebut tidak hanya memiliki nada tinggi dari main vocal dan lead vocal 1 tapi juga add-lib dari beberapa trainee dalam satu tim. Jadi terdengar sangat ramai saat *******, tapi sayangnya mereka harus memiliki kerja sama yang baik agar ******* tersebut disampaikan dengan baik.
Ava memang sengaja memasukkan bagian tersebut agar tidak hanya satu trainee yang menonjol tetapi yang lainnya. Karena dia percaya setiap trainee punya gaya dan style masing-masing dalam bernyanyi.
Kelas selesai dalam satu setengah jam kemudian, mereka berkumpul untuk menunggu kata terakhir dari pelatih mereka sebelum keluar dari ruangan latihan.
“Jangan sia-siakan lagu sebagus ini, berlatihlah dengan giat. Kembangkan kerja sama dan pemahaman satu sama lain agar lagu ini bisa dibawakan dengan baik.” kata pelatih Vincent.
“Untuk para rapper, lagu ini mungkin membutuhkan rasa riang saat menyanyikannya jadi bangun emosi riang kalian mengerti ?” pelatih Zoo juga memberikan nasihat terakhir sebelum mengizinkan mereka keluar dari kelas.
“Baik, terima kasih pelatih!” mereka membungkuk dan dengan tertib keluar dari kelas latihan dan kembali ke ruangan latihan mereka sendiri.
Mereka sontak saja langsung bergelimpangan di lantai latihan dengan rasa lelah. Meski hanya menggunakan suara mereka untuk berlatih tetapi tetap saja terasa melelahkan. Jadi mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak, sebelum harus ke kelas berikutnya.
Ava keluar dari ruang latihan dan pergi ke ruang pantry yang memang disediakan di setiap lantai untuk para trainee. Dia mengambil beberapa termos dan mengisinya dengan air hangat lalu mengambil beberapa gelas sebelum kembali ke ruangan latihan.
Ava menyodorkan termos kepada salah seorang trainee dan memintanya membagikannya kepada teman satu timnya. Total ada empat termos di pelukannya yang dibagi untuk tiga orang.
Begitu melihat ada air panas untuk diminum, mereka sontak bangkit duduk dan menerimanya dengan senang hati.
“Siapa yang mengambil air panas ?” tanya seorang trainee sambil menyesap air panas di tangannya.
“Ava yang mengambil.” jawab seorang trainee lainnya.
“Dia tidak seperti yang dikatakan si di rumor.” bisik seorang trainee sambil melirik Ava yang duduk menyesap air panasnya.
__ADS_1
“Aku setuju, dia tidak terlihat sombong sama sekali. Bahkan mengajari kita menari dan menyanyi tanpa mengeluh.”
“Kurasa orang hanya salah paham dengannya, dia hanya orang yang pendiam menurutku. Mungkin orang mengiranya sombong.”
“Bisa jadi,”
Sejak itu, banyak trainee yang mengurangi sikap mereka dan menyapa Ava setiap kali lewat atau meminta Ava untuk mengajari mereka gerakkan koreografi tanpa malu-malu seperti sebelumnya.
Kelas menari akan berlangsung saat sore sehingga mereka harus berlatih di siang hari untuk mempersiapkannya. Ava seperti biasa memimpin timnya untuk berlatih dan membenarkan setiap trainee yang salah dalam bergerak.
“Rasanya seperti memiliki pelatih tari sendiri.” komentar Sydney saat Ava dalam mode melatih tarian.
“Aku setuju, tingkatan ini membuatku merasa kita sudah berada di kelas sekarang.”
Ava sangat serius dalam mengajar meski kemajuannya agak lambat tapi setidaknya untuk latihan satu hari setengah, ini sudah sangat bagus karena mereka bergerak dengan leluasa dan gerakkan mereka memiliki irama di dalamnya. Dan yang terpenting terlihat sangat indah saat dilihat.
*
Setelah makan siang, mereka kembali ke ruang latihan, kali ini Ava membiarkan mereka untuk berlatih vokal sebelum berlatih koreografi lagi nanti. Ava mulai mengajari Crystal lagi mengenai vokalnya yang masih kurang stabil.
Setelah beberapa kali mencoba, Crystal tampaknya masih belum membaik, Jadi Ava berdiri dan mengajak Crystal untuk berjogging keliling ruangan sambil bernyanyi.
Awalnya Crystal sangat kelelahan dan kewalahan tidak bisa menyamakan tempo dengan Ava, tapi setelah menemukan momentumnya sendiri, dia menjadi lebih stabil dalam bernyanyi.
“Bagus.” kata Ava mengangguk pada Crystal yang sudah lebih baik. “Istirahat dulu 15 menit. Setelah ini kita latihan koreografi lagi.”
Crystal yang masih terengah akibat berlari hanya bisa mengangguk dan menjatuhkan dirinya di lantai karena lelah.
Ava duduk di sebelahnya sambil berusaha mengatur nafasnya. Tapi ketika dia ingin beristirahat ada trainee lain yang datang meminta saran darinya. Jadi Ava meladeninya terlebih dulu.
Semakin dia mendengar suara trainee satu ini dia tidak bisa menahan diri untuk berkomentar. “Suaramu sangat cocok untuk lagu ballad.” katanya
Trainee yang bernama Gema ini membeku ketika mendengar perkataan Ava. “Benarkah ?”
Ava mengangguk. “Seharusnya lagu soundtrack drama atau film juga sangat cocok. Sesuatu yang emosional.” kata Ava lagi tanpa berkedip.
Dia tidak terlihat bohong sama sekali dan hal ini membuat Gema tidak bisa menahan kebahagiaannya sendiri. “Aku kira selama ini orang hanya berusaha menyemangatiku, Tapi aku tidak menduga kamu juga akan berkata seperti itu.”
Ava menatap wajah Gema sebentar berusaha menilai dan mempertimbangkan. Akhirnya dia mengambil buku catatan Gema dan menuliskan sebuah nomor di atasnya. “Jika kamu sampai tereliminasi di babak berikutnya, hubungi nomor ini, jika ditanya katakan saja Ava yang memberikan nomornya. ”
Gema yang melihat nomor di bukunya menjadi heran. Tapi sebelum dia bisa berkata lebih banyak Ava menghentikannya. “Kamu akan tau nanti.”
“Jadi apakah kamu mengerti ?” tanya Ava sambil mengangkat kepalanya dan bertabrakan dengan Gema yang malah melamun. “Apakah kamu masih ingin bertanya ?”
Gema langsung tersadar, dia mengangguk keras. “Maafkan aku!”
Ava hanya bisa menghela nafas panjang dan mengulangi lagi apa yang dia katakan sebelumnya. Gema mendengarnya dengan sangat perhatian dan mengikuti arahan Ava untuk melatih suaranya.
Setelah selesai, Ava hanya meminum air dan bangkit berdiri. Sekarang adalah waktu yang disepakati untuk melanjutkan latihan koreografi. Ava tidak memaksakan menyelesaikan menghafal koreo, tetapi dia mengulang gerakan dari awal hingga Chorus terlebih dulu.
Semua orang mengambil posisi mereka dan mulai menari tanpa mengubah posisi terlebih dulu. Ini untuk mengecek ketepatan setiap orang. Ava menonton di depan dengan matanya yang tajam. Dia tidak langsung membenarkan tetapi menunggu hingga mereka selesai menari terlebih dulu.
“Bagus, tapi ingat tangan kalian, gunakan tenaga yang tepat. Perhatikan di kaca lalu cobalah membuat gerakkan itu menjadi indah dengan menyesuaikan tenaga yang kalian keluarkan.” Ava berbalik dan mencontohkannya pada teman-temannya. Gerakannya sempurna dan terlihat elegan, halus tapi tidak kekurangan kekuatan.
“Anggap saja kalian seperti seorang bangsawan, lembut, halus, tapi tidak lemah.” kata Ava berusaha menjelaskan maksudnya.
Yang lain mengangguk dan mulai mencoba bagian yang dikritik Ava sebelumnya, berusaha menemukan bagian yang pas untuk diri mereka sendiri.
Ava membiarkan mereka terus berlatih sementara dirinya juga berlatih sampai waktunya kelas tari. Mereka diundang masuk ke sebuah ruang latihan yang sudah ada pelatih Orion di dalamnya. Dia tampak menunggu mereka dan langsung mempersilahkan tim pertama untuk menunjukkan penampilan mereka.
Ava mengangguk pada teman satu timnya dan mulai menarik nafas bersiap untuk menari. Ketika lagu pertama di mulai, yang pertama bergerak adalah Ava dia menari dengan meresapi nuansa lagu yang memang sudah megah. Dia bergerak dengan sangat halus menghampiri Sydney dan mereka mulai bergerak bersama seperti balerina yang menari bersamaan.
Tapi ketika tempo berubah, gaya menari mereka juga berubah lebih banyak kekuatan tetapi tidak meninggalkan sikap elegan dan halus mereka. Ava akan mengurangi sedikit presensinya dalam menari sehingga dia tidak membuat Chandie sebagai center tersaingi. Dia menempatkan dirinya dengan tepat dan setiap gerakannya pas.
Mereka hanya menari hingga bagian Chorus sebelum berhenti. Orion langsung bertepuk tangan setelah mereka selesai. “Sepertinya kalian telah berlatih dengan keras. Sungguh sangat bagus untuk satu hari latihan. Detailnya tertangkap dengan baik terlebih lagi perasaan kalian menari sangat menyatu dengan musiknya. Tapi meski begitu, ekspresi kalian masih terlalu seperti orang yang berfokus pada koreo. Perbaiki itu.”
Mereka semua berterima kasih dan kembali duduk. Tim kedua juga diminta untuk maju dan menunjukkan penampilan mereka. Tidak ada masalah sama sekali hanya beberapa detail yang kurang. Tapi hal ini malah membuat Orion bingung.
“Kenapa kalian bisa sehebat ini ? Dalam satu hari sudah selancar ini.” Orion menjadi bingung. Tim sebelumnya masih punya banyak kesalahan sehingga perlu banyak perbaikan, tapi tim ini baru satu hari tapi sudah seperti ini.
Para trainee tanpa sadar melirik Ava yang sangat tenang dan tidak memiliki ekspresi lain di wajahnya. Orion tentu saja sadar mereka melirik kearah tim pertama, jadi dia ikut menatap ke tim pertama dan menemukan semuanya melihat kearah Ava.
“Apakah dia yang memimpin tim kalian berlatih koreo ?” tanya Orion bingung.
“Ya!” semuanya serentak menjawab bersamaan.
Orion hanya bisa mengangguk. “Pantas saja kalau begitu.” Orion tidak begitu kaget setelah tahu hal tersebut. Ava sudah sangat profesional dalam menari jadi tidak heran kalau dia yang memimpin tim berlatih tarian. “Bagus kalau begitu pertahankan. Tapi masih ada beberapa detail yang harus kalian perbaiki.”
__ADS_1
Orion kemudian mulai mengajarkan dengan cara yang sama dengan Ava, perlahan untuk memperdetail setiap trainee. Kali ini jauh para trainee menjadi jauh lebih baik dan mereka jadi sadar bahwa memang cara ini adalah cara yang sama yang mereka lakukan sebelumnya.
Tapi tentu saja perbedaan antara Orion dan Ava, Pelatih Orion jelas lebih detail dan banyak memberi saran untuk ekspresi wajah. Sementara Ava memang tidak begitu pintar dalam urusan ekspresi wajah. Jadi dia memperhatikan sekali saat Orion menjelaskan.
Kelas selama satu setengah jam terasa sangat singkat karena Orion sangat ramah dalam mengajari mereka. Selesai kelas mereka langsung meluncur ke kafetaria untuk makan malam terlebih dahulu. Ava berjalan paling belakang dan langsung di hampiri Sophie begitu dia masuk.
“Bagaimana rasanya menyanyikan lagu sendiri ?” bisik Sophie dengan senyum menggoda.
“Menyesali.” jawab Ava sambil memindahkan makanan ke piring nya sendiri.
“Bukankah ini malah keuntungan untukmu ?” tanya Sophie heran, kenapa Ava malah menyesali.
“Menyesali karena aku sudah membuat lagu sesulit ini.” kata Ava dengan wajah datar.
Sophie langsung mengerti dan tertawa tanpa suara. “Akhirnya kamu mengerti bagaimana perasaan mereka yang mendapatkan lagumu.”
Ava hanya bisa menghela nafas panjang. “Jika tidak begitu apakah menurutmu laguku akan menjadi berkualitas ?”
Sophie mengangguk. “masuk akal. Tapi setidaknya jangan terlalu sulit, kamu sendiri tahu bagaimana sekarang situasinya.”
“Iyah, lain kali akan ku buat tidak sesulit ini.” kata Ava sambil melangkah ke bangku yang kosong. “Bagaimana latihanmu ?”
“Sangat menyenangkan, lagu ini sangat cocok untukku, aku menjadi center sementara sekarang!”
“Bagus, lakukan dengan baik kalau begitu.” kata Ava sambil menyuap makanan ke mulutnya.
Sophie tidak mengganggu Ava lagi dan membiarkannya fokus makan terlebih dulu. Sophie sudah makan terlebih dulu dan tiba-tiba dipanggil teman sekelompoknya untuk kembali berlatih.
“Pergilah, berlatih dengan giat.” kata Ava saaat Sophie akan mengucapkan selamat tinggal.
Sophie mengangguk dengan senyum cerah dan pergi dengan cepat. Tidak ada yang mengganggunya makan, Ava bisa makan dengan tenang dan bisa kembali ke ruang latihan dengan cepat.
Saat semua orang kembali ke ruangan, staff mulai memanggil mereka satu persatu untuk wawancara. Ini adalah agenda biasa, mereka pasti akan mewawancarai mereka satu persatu terutama untuk menanyakan pendapat tentang latihan hari ini.
Ava dipanggil agak awal, dia datang ke ruangan wawancara yang sepi dan hanya ada seorang staff perempuan yang duduk memegang gelas dan ada kamera di dekatnya.
“Duduklah dulu, yang lain sedang mengambil barang.” kata staff tersebut.
Ava dengan patuh duduk di kursi yang disediakan. Staff ini bermain teleponnya sendiri lalu seperti terburu-buru berdiri dan tidak sengaja menumpahkan gelasnya. Air di dalamnya langsung mengenai kamera di sebelahnya.
Staff ini tampak panik dan berusaha mengeringkan air dengan panik. Menyadari apa yang dia lakukan, staff ini langsung menatap Ava dengan khawatir dan pucat.
Ava langsung bangkit berdiri dan menghampirinya dengan tenang. “Jangan khawatir. Biar aku periksa dulu kameranya.” kata Ava sambil menggunakan kaosnya untuk mengusap air di kamera dengan hati-hati.
“Aku sepertinya merusaknya.” kata staff tersebut dengan nada ketakutan.
Ava menatapnya dengan senyum menenangkan. “Biar aku coba dulu, aku mengerti sedikit tentang kamera.”
“Kamu… Bagaimana bisa ?” staff ini agak gemetar mendengarnya mengetahui sedikit tentang kamera.
“Part-time.” jawab Ava lalu mengelap dengan hati-hati kamera di tangannya dan mengecek apakan ada air yang masuk ke bagian lain. Lalu berusaha menyalakannya terlebih dulu. Layar kamera langsung hidup tetap mati lagi setelah beberapa saat.
“Aku merusaknya…” kata staff tersebut dengan sangat takut.
Ava mulai mengutak-atik kamera tersebut dengan sangat teliti untuk beberapa saat. Lalu kembali mencoba menghidupkannya lagi, Layarnya hidup kembali dan bisa berfungsi dengan baik lagi.
Ava menyingkirkan kamera tersebut dan mengamankannya tanpa tau ekspresi staff perempuan di sebelahnya yang sudah terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka Ava bisa memperbaikinya.
“Sepertinya kamera ini butuh perawatan berkala, lebih baik minta sutradara atau orang yang bertanggung jawab untuk membawanya ke konter dan meminta perawatan lebih lanjut.” kata Ava dengan tenang setelah menyelamatkan sebuah kamera.
Staff perempuan tersebut masih agak tercengang, dia tidak bisa berkata-kata dan diam di tempatnya dengan bingung. Disaat yang sama, pintu terbuka dan seorang kameramen masuk keruangan. Melihat wajah bingung temannya dia langsung bertanya bingung.
“Ada apa ?”
“Tidak ada, hanya saja, kamera di sana perlu dibawa ke konter untuk perawatan berkala. Sepertinya kamera ini sudah bekerja cukup lama, perlu dirawat dengan lebih hati-hati.” kata Ava lalu kembali duduk di kursi yang dia duduki sebelumnya.
Kameramen ini menatap staff di sebelahnya dengan senyum geli tetapi menahan diri dan langsung memulai wawancara Ava.
“Bagaimana pendapatmu tentang lagu Fly ?”
“Sulit.” jawab Ava singkat dan jujur.
“Lalu kenapa kamu yang memimpin semua orang dalam berlatih koreografi ?”
Ava menghela nafas panjang mendengarnya. “Mungkin karena mereka menganggapku mampu memimpin.”
“Begitukah ?”
__ADS_1
“Sepertinya, aku tidak bisa membaca pikiran mereka.” kata Ava lagi dengan tenang.
\=