
Drama ‘Stranger to Lover’ yang tayang di awal bulan Februari tiba-tiba menjadi hits terkenal setelah penayangannya pertama mereka. Alasan keterkenalan mereka adalah karena salah satu lagu pembuka dari drama ini merupakan hasil pekerjaan LuckyONe yang sangat jarang membuatkan lagu untuk drama romantis.
Banyak penggemar LuckyONe tau bahwa setiap kali komposer favorit mereka membuatkan lagu soundtrack untuk sebuah drama tidak pernah ada satupun drama yang bergenre Romantis. Banyak orang juga tau, bahwa jika sebuah drama berhasil membuat komposer terkenal itu membuatkan mereka sebuah soundtrack, itu pertanda bahwa drama itu sangat bagus dan layak untuk di tunggu.
Sehingga penonton dari drama ini meningkat lebih tinggi di setiap episodenya. Berkat hanya dari soundtrack, semua pihak yang terlibat di drama ini menjadi terkenal ke tingkatan yang lebih tinggi.
Sutradara yang berhasil menjadi terkenal menghubungi Mr. Wild dan mengucapkan rasa terima kasih yang sangat besar padanya dan LuckONe karena mau membuatkan soundtrack. Besarnya rasa antusias Sutradara tersebut membuat Mr. Wild bekerja lebih keras untuk menolak undangannya untuk mengajak komposer terkenal itu untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih.
Di sisi lain, Ava tidak tau tentang antusias dari sutradara karena membantunya secara tidak langsung. Dia tengah berpakaian rapi dan datang ke gedung penyiaran stasiun televisi Star Tv untuk menandatangani kontrak mengikuti program variety show survival Unlimited Youth Girls. Ketika dia sampai, keadaan masih agak sepi, jadi dia duduk menunggu sebentar. Staff yang lewat untuk menyiapkan wawancara sesekali melihat ke Ava yang mengunakan topi. Meski wajah Ava tertutup sedikit, tetapi rahang Ava tajam miliknya masih terlihat dan cukup untuk membuat orang terpesona.
Ava menunggu dengan sabar dan tidak mempedulikan tatapan semua orang. Dia menunduk memainkan game di handphone, beberapa hari terakhir ini dia memilih memainkan game yang mengurangi kebosanan di saat menunggu.
Ava bermain kurang lebih 15 menit sebelum seorang staff datang dan memintanya untuk masuk ke sebuah ruangan untuk wawancara. Ruangan dia berada tidak terlalu besar dan memiliki dua kamera untuk merekamnya. Satu terdapat di depannya dan yang lain menembak dari samping. Ava menyapa dua staff yang ada lalu duduk di kursi yang telah disediakan sebelumnya.
Salah satu staff tampak mengatur arah kamera sementara yang lain memberikannya sebuah form lain untuk diisi. Ava menerima form dan membacanya sekilas sebelum mengisinya. Formulir ini agak berbeda dari apa yang pernah dia isi sebelumnya saat mendaftar untuk audisi.
Formulir ini lebih banyak berisi mengenai informasi pribadi dan preferensinya tentang dunia musik dan dunia entertaimen. Ava pertama-tama menulis informasi dasar pribadinya, lalu dia berpindah ke pertanyaan berikutinya.
Ava tentu saja sudah berharap untuk lebih low profile sehingga dia menulis harapannya bisa sampai di peringkat 20. Sementara posisinya, dia menuliskan sebagai vokal. Dia tidak menuliskan sesuatu yang istimewa dan menulis dengan cepat.
Staff di hadapan Ava agak terkejut melihat gadis cantik seperti Ava menulis dengan sangat cepat. Mereka sebenarnya berharap Ava bisa menulis lebih banyak. Ketika Ava mengangkat kepalanya dan matanya bertabrakan dengan staff, merkea tidak bisa menahan nafas karena melihat kecantikan seperti Ava yang terbilang istimewa.
Tapi untuk profesionalitas, mereka kembali fokus dengan apa yang harus mereka kerjakan. Jadi begitu Ava selesai, mereka menyodorkan amplop coklat yang berisikan kontrak.
Ava sudah terbiasa berurusan dengan hal seperti kontrak ditangannya, jadi Ava membaca dengan cepat dan teliti agar di masa depan tidak menjadi masalah untuknya. Ava mengingat ingat apa saja yang perlu dia ingat. Setelah tidak ada masalah, Ava menandatangani kontrak tersebut dan mengembalikannya pada staff di hadapannya.
Staff yang menerimanya kembali memberikannya beberapa kertas lain berisi peraturan dan apa saja yang perlu serta tidak boleh di bawa selama berada di asrama. Peraturan seperti ini sangat mendasar seperti harus mengikuti pelatihan selama jam periode yang telah di tentukan, tidak boleh pergi keluar tanpa sepengetahuan staff hingga tidak memperbolehkan membawa camilan seperti kripik dan tidak diperbolehkan membawa handphone atau alat elektronik lainnya.
Ava menanyakan beberapa hal seperti apakah diperbolehkan membawa produk kesehatan, teh, kopi, atau membawa buah. Staff di hadapannya menanggapinya dan mengatakan bahwa minuman akan di sediakan, buah juga akan disediakan, sementara produk kesehatan bisa di bawa sendiri.
Ava mengangguk lalu menyimpan kertas tersebut sebelum lanjut pada proses wawancara.
“Jadi Ava Luna, saat memeriksa berkas anda, kami melihat anda sebenarnya adalah seorang yatim piatu.” kata staff di hadapannya sambil membaca lembar formulir Ava.
Ava terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawab dengan tenang. “Memang benar.”
Kedua staff yang duduk berhadapan dengannya agak terkejut mendengar Ava mengatakan hal tersebut dengan tenang seolah sudah terbiasa.
“Kalian tidak perlu merasa kasian, aku sudah terbiasa mendengar pertanyaan ini sejak kecil, jadi silahkan abaikan dan lanjut kepertanyaan berikutnya.” kata Ava dengan tenang hati.
Staff di hadapan Ava menganggguk pelan lalu menatap kembali formulir di tangannya dan menemukan pertanyaan lain. “Jadi anda adalah seorang trainee mandiri. Seharusnya dengan kondisimu saat ini, seharusnya akan lebih mudah untuk bisa bergabung dengan agensi kan, mengapa tidak bergabung ?” tanya staff padanya dengan rasa penasaran.
“Sebenarnya aku tidak berminat untuk menjadi artis pada awalnya, tapi temanku yang bergabung dengan agensi mengatakan bahwa ada acara seperti ini, dia mengajakku ikut serta untuk menambah pengalaman hidup dan mencoba keberuntungan.” jawab Ava dengan tenang.
“Lalu apakah kamu berharap bisa debut lewat program ini ?” tanya staff perempuan yang sedari tadi hanya diam.
Ava mengangguk.
“Tapi kenapa kamu hanya berharap bisa berada di peringkat 20 besar ?” tanya Staff perempuan itu lagi
__ADS_1
Ava menundukkan kepala sedikit terlihat agak malu. “Aku tidak begitu yakin dengan kemampuanku, jadi aku memperkirakan hanya bisa berada di peringkat 20.”
Staff perempuan tersenyum melihat reaksi Ava. Setelah itu, pertanyaan hanya menjadi pertanyaan yang biasa dan Ava menjawab dengan tenang tanpa adanya riak di wajahnya.
Wawancara berlangsung selama 20 menit, Ava yang telah selesai dan tengah berjalan keluar dari gebung menghela nafas panjang. Ava tiba-tiba menyadari alasan lain mengapa dia perlu memberi Mr. Wild gaji lebih besar, bersosialisasi sangatlah sulit dan menguras tenaga.
Dia yang telah lama tidak berinteraksi secara intens seperti sekarang agak merasa kewalahan. Ketika perjalanan keluar dari gedung, banyak orang menatapnya dan mencuri pandang yang membuat Ava agak merasa khawatir.
Ava menatap penampilannya yang sangat kasual dengan rasa tidak nyaman. Apakah terlalu berlebihan pikirnya, Dia hanya menggunakan jaket hitam dengan kaos putih, celana jeans, dan sepatu kets lengkap dengan topi. Kenapa masih menarik perhatian.
Ava menjadi bertekad untuk berpenampilan lebih biasa nanti saat berada di acara program. Jadi untuk memenuhi ambisinya ini, Ava memutuskan untuk meminta pendapat Mr. Wild.
Ava membuat janji dengan Mr. Wild untuk bertemu dengannya di kantornya dalam beberapa hari setelah menyiapkan baju apa saja yang ingin dia pakai nantinya.
Seminggu kemudian, Mr. Wild yang datang ke kantor Ava membawa beberapa barang bersamanya.Ketika dia masuk ke kantor Ava tampak beberapa gantungan baju yang sangat jarang dia lihat di kantor Ava.
Ava sendiri tengah duduk di kursi kerjanya sambil mengetik beberapa hal di keyboarnya. Dia mengangkat kepalanya melihat Mr. Wild datang.
“selamat datang” kata Ava menyapa Mr. Wild. yang masih memperhatikan pakaian di sisi lain kantor.
Sambil meletakkan barangnya di meja, tatapan Mr. Wild masih menatap Ava dengan penasaran. “Apakah ada orang yang datang sebelumnya ? Kenapa ada banyak pakaian disini ?”
Ava menatap pakaiannya yang tergantung rapi di rak di sisi lain kantor. “Oh, itu akan menjadi permintaan tolongku hari ini.”
Mr. Wild duduk sambil mengerutkan keningnya bingung. “Bukankah kamu meminta tolong mengenai program variety show ?”
Mr. Wild membongkar barangnya dan mengeluarkan tabnya lalu mulai mencari file. Setelah menemukannya, Mr. Wild memberikannya pada Ava untuk dilihat. “Ini bahan variety show yang kamu minta sebelumnya.”
Ava tentu saja menerima dengan wajah kebingungan. “Sepertinya kita memiliki sedikit kesalahan komunikasi disini.” kata Ava kemudian melihat isi file yang di berikan padanya. Isi file ini adalah segala sesuatu mengenai program yang perlu dia tau. Mulai dari profil juri hingga artis yang akan menjadi perwakilan penonton. “Sebenarnya aku ingin meminta pendapat mengenai pakaian yang akan ku gunakan nanti. Pakian yang tidak menonjol.”
Mr. Wild tersadar akhirnya maksud Ava meminta pertolongannya. Aura Ava dalam pakaian biasa sudah cukup membuat orang terpesona, jadi mungkin saat dia pergi ke stasiun tv kemarin untuk menandatangani kontrak dia menjadi pusat perhatian.
“Tapi meski begitu, kurasa kamu perlu tau juga mengenai informasi yang sudah ku buatkan untukmu. Hal ini sangat fundamental dan penting untuk di perhatikan selama kamu disana.” kata Mr. Wild menjelaskan niatnya.
Ava mengangguk kepala dan tertarik dengan sosok artis yang akan menjadi perwakilan penonton atau biasa di sebut Produser Nasional. Keegan Nielson. Artis multitalenta yang sangat berbakat. Disa bergerak di bidang musik, tarian, akting, satu-satunya yang dia tidak banyak dia lakukan adalah variety show.
Mr. Wild melihat Ava tertarik dengan Keegan dan memandang agak lama di profilnya seperti membaca dengan teliti. “Keega Nielson, dia sangat berbakat dan terkenal, bebas skandal sepanjang karirnya dan memiliki banyak sekali penggemar.”
Ava mengangguk lalu menggeser halaman dan menampilkan juri-juri lainnya. Ava melihat sekilas lalu menutup tab tersebut. “Aku akan melihatnya di waktu luangku. Sekarang aku akan meminta pendapat mengenai baju yang harus kugunakan.” Ava berdiri dan membawa baju-bajunya ke depan Mr. Wild untuk meminta pendapat. “Aku tidak ingin tampil mencolok di acara tersebut.”
Mr. Wild yang melihat baju yang di tunjukan Ava padanya tampak berfikir. “Jika kamu mengenakan pakaian seperti itu, malah membuatmu semakin mencolok.” kata Mr. Wild menatap pakaian kasual yang sangat-sangat polos.
Ava memandang pakaiannya dan Mr. Wild secara bergantian dengan bingung. “Kenapa begitu ? Bukankah ini hanya baju kasual ?”
Mr. Wild menggelengkan kepala. “Kamu akan datang ke acara survival girl group yang mana semua pesertanya akan berpakaian terbaik dan sangat mewah. Jika kamu datang dengan pakaian yang sangat polos, bukankan kamu menjadi sangat mencolok.”
Ava mengedipkan matanya dan berfikir. “Memang benar, lalu pakaian apa yang harus kugunakan ?”
Mr. Wild menatap Ava dengan lebih intens untuk melihat kira-kira pakaian apa yang cocok untuknya. “Kurasa kamu perlu pergi berbelanja, aku akan meminta asistenku untuk menemanimu berbelanja. Dia pernah bekerja sebagai stylist sebelumnya.”
__ADS_1
Ava mengangguk setuju dengan pengaturan Mr. Wild untuknya. Menerima persetujuan Ava, dia langsung mengeluarkan telponnya untuk mengubungi salah satu asisten perempuannya.
-
Keesokan harinya, Ava menunggu di mall di sebuah cafe dengan segelas teh susunya. Kemarin, Mr. Wild meminta salah satu asistennya untuk menemaninya berbelanja hari ini. Setelah membuat janji, mereka akhirnya memilih bertemu di cafe ini.
Ava datang lebih awal dan meminum segelas teh susu dingin. Saat teh susunya telah habis setengah, seorang gadis muda masuk ke cafe dan terlihat mencari seseorang. Ava mengangkat kepalanya dan tatapannya bertemu dengan asisten perempuan ini.
Sebelumnya, asisten perempuan ini telah melihat foto Ava yang di kirimkan oleh Mr. Wild agar tidak sampai salah orang. Jadi begitu tatapan mereka bertemu, asisten perempuan itu langsung menghampirinya.
Mr. Wild berpesan untuk menemani keponakannya berbelanja tentu saja sebagai asisten perempuan ia menjadi heran awalnya, tetapi setelah Mr. Wild menjelaskan bahawa keponakannya ini akan mengikuti Program variety show survival girlgroup dia menjadi mengerti.
“Nona, halo, perkenalkan saya Isabel. Saya asisten Mr. Wild yang ditugaskan untuk membantu anda memilih baju.” kata Isabel memperkenalkan dirinya pada Ava. Diwajahnya dia tersenyum ramah tetapi di pikirannya dia diam-diam agak terpana melihat kecantikan Ava. ‘Keponakan Mr. Wild sangatlah cantik’ batinnya dalam hati.
Ava tersenyum dan menyuruhnya untuk memesan sesuatu untuk diminum terlebih dahulu. Tentu saja Ava mentraktirnya, dia sudah merepotkan orang lain jadi tentu saja dia tidak akan menyusahkannya.
“Maaf merepotkanmu.” kata Ava merasa tidak enak.
Isabel yang sudah menerima teh susunya menggelengkan kepala dengan kuat, “Tidak-tidak merepotkan sama sekali, ini hanya pekerjaan kecil. Aku juga bisa sekaligus beristirahat sejenak dari pekerjaan.” katanya dengan tenang.
Ava mengangguk kecil, lalu mengajaknya segera pergi setelah teh susu mereka habis. Ava sebenarnya jarang berbelanja pakaian, jadi dia menyerahkan pilihan pada Isabel untuk membantunya.
“Aku hanya butuh pakaian untuk tampil di sana tidak terlalu menonjol dan tidak terlalu polos. Bagaimana dengan itu.” kata Ava menjelaskan kriterianya.
Isabel yang menerima kriterianya mengangguk lalu mulai memilih. Tidak seperti Ava yang agak kesulitan memilih, Isabel seperti ikan dalam air yang bisa memilih dan mencocokkan dengan sangat mudah dan cepat.
Ava membawa tiga hingga empat pasang pakaian untuk sekali coba di kamar pas. Isabel sangat senang karena bisa membantu, dia merasa seperti sedang mendandani bonek hidup. Setiap baju yang Ava coba seperti sangat cocok untuknya. Meski begitu, Ava selalu meminta untuk baju yang tidak terlalu mencolok. Jadi proses ini agak lama.
Setelah dua jam berpindah dari satu toko ke toko lain, akhirnya, Ava mendapatkan baju yang cocok untuknya. Sebuah celana pendek hitam ketat yang nyaman untuk bergerak dengan sebuah tank top putih ketat yang dipadukan dengan jaket denim.
Isabel yang melihatnya Ava keluar dari ruang ganti dengan penampilan ini membuatnya terperanga. Ava berbalik dan bergerak naik turun untuk memastikan ketahanan dari pakaian yang dia pakai sekarang.
“Ini sangat nyaman untuk bergerak.” komentar Ava dengan senang menggenakan pakaian tersebut.
Isabel yang menatap kagum merespon dengan sangat heboh. “Astaga! Kamu benar-benar terlihat sangat keren!!” Isabel langsung bangkit berdiri dan memutari Ava dengan rasa kagum.
Ava menatap pakaiannya dengan tenang lalu mengangguk kecil. “Pakaian ini memang yang paling nyaman untuk ku sekarang. Mari kita beli saja yang ini.” kata Ava dengan cepat.
Isabel tercengang mendengar Ava langsung ingin membayar tanpa melihat yang lainnya. “Tunggu-tunggu! Apakah kamu akan menyudahinya begitu sekarang ? Bagaimana dengan baju yang baru saja kamu coba tadi ?” tanya Isabel dengan buru-buru.
Ava berhenti dan melihat baju yang sebelumnya dia coba. “Sepertinya aku tidak membutuhkan baju lainnya selain baju yang ku pakai sekarang.” kata Ava menjelaskan. “Setauku akan ada baju yang di sediakan disana.”
“Tapi tetap saja kamu harus memilih baju lagi untuk berjaga-jaga, jangan hanya membeli satu pasang!” kata Isabel dengan panik. Baginya, seorang wanita tidak boleh hanya punya satu pasang pakaian, karena hal ini akan membuat panik jika adanya hal tidak berjalan sesuai rencana.
Ava berhenti untuk beberapa saat memikirkan perkataan Isabel. Tapi memang benar, jika nanti dia perlu pakaian lain untuk pertunjukan akan sulit untuknya.”Baiklah, mari kita pergi mencari baju nyaman lainnya yang layak untuk pertunjukan.”
Isabel yang menerima persetujuan Ava merasa bahagia, dia menemani Ava untuk berbelanja lagi mencari pakaian lainnya.
-
__ADS_1