
Setelah rekaman semua peserta trainee di rekam, sudah lebih dari tiga jam dari waktu awal. Rekaman dikirim ke sebuah ruangan dimana para pelatih serta Perwakilan Produser, Keegan Nielson berada.
“Apakah para trainee berlatih dengan baik ?” tanya Keegan pada pelatih lainnya.
“Aku merasa mereka banyak berlatih, Kelas F banyak sekali yang meningkat.” kata Orion melaporkan hasil sementara pelatihan.
“Aku setuju, kupikir kali ini aku menantikan kelas F. Mereka banyak berkembang” tambah Paris dengan senyum bersemangat.
“Aku merasa mungkin beberapa murid dari kelas atas mungkin akan turun.” kata Vincent. “Beberapa terakhir kali ada beberapa yang tidak benar-benar meningkat sama sekali.”
Keegan mengangguk mengerti lalu mulai melihat papan berisi formulir di hadapannya. “Lalu haruskan kita lihat, apakah mulai saja ? Apakah tebakkan para pelatih benar terjadi ?” kata Keegan sambil menyeringai.
Video mulai diputar mulai dari secara acak oleh para staff sehingga pelatih tidak ada yang benar-benar tau mengenai siapa yang akan maju berikutnya. Wajah para pelatih jelek beberapa kali karena karena melihat beberapa trainee yang seharusnya cukup bagus tetapi malah terlihat sangat mengecewakan.
“Aku sangat tidak menduga bahwa gadis ini tidak benar-benar melakukan dengan baik.” kata Paris sambil menghela nafas panjang.
“Aku tidak mengerti apa yang dilakukan gadis ini selama 3 hari.” kata Keegan dengan kecewa.
“Aku tidak mengerti kenapa dia tidak bergerak sama sekali dan hanya bergumam.” Zoo ikut berkomentar begitu melihat ada trainee yang tidak memuaskan.
“Mereka bahkan tidak ingat lirik sama sekali dan mereka berniat untuk tampil seperti ini, benar-benar lelucon.” Keegan banyak berkomentar mengenai kekecewaannya melihat trainee yang bahkan tidak bergerak dan hanya diam di tempat karena tidak ingat apapun.
Akhirnya sampai di penampilan Sophie, wajah manisnya langsung muncul di layar sebelum mundur dan memperkenalkan diri. “Halo, saya Sophie Berger!”
Para pelatih awalnya tidak benar-benar mengantisipasi, tapi begitu Sophie mengangkat kepalanya dan menunjukkan senyumnya, wajah para pelatih langsung berubah.
Sophie menari dengan sangat baik, rapi, dan bersih. Vokalnya juga sangat bagus yang membuat Paris terkejut dengan hal tersebut. Suaranya stabil dan tidak goyah selama dia menyanyikannya.
Yang membuat para pelatih terkejut adalah, Sophie menyesuaikan senyumannya dan memberikan rasa motivasi yang tinggi bagi para penontonnya. Tentu saja ini membuat para pelatih menjadi senang.
Begitu dia selesai, komentar para pelatih memujinya dengan pujian penuh.
“Sangat bagus, ini yang seharusnya disebut dengan penampilan yang cukup.” kata Orion bangga.
“Suaranya sebelumnya tidak begitu stabil, tapi yang mengejutkan adalah dia tampil dengan baik di lagu ini, nada tingginya sangat pas dan tidak retak sedikitpun.” Paris sangat senang dengan perkembangan Sophie yang sangat signifikan.
Para pelatih memutuskan peringkat untuknya dan segera berpindah ke peserta trainee lainnya. Beberapa kali para pelatih menemukan bahwa kelas F memiliki kemampuan menari yang lebih baik bahkan dari mereka yang berada di kelas D dan C, hal ini membuat mereka kaget dan bangga dengan perkembangan mereka.
“Sebenarnya aku dengar dari staff bahwa murid trainee dari kelas F melakukan latihan keras setiap harinya.” kata Orion. “Tapi memang hasil ini sangat cukup bagus bagi mereka.”
“Beberapa memang masih memiliki vokal yang tidak stabil, tapi sisanya cukup bagus, setidaknya mereka hafal lirik dan koreografinya.” kata Keegan mengapresiasi.
“Benar-benar kemauan yang keras.” kata Paris senang.
Proses penilaian berubah menjadi agak tidak pasti, tapi beberapa trainee mendapatkan pujian dan beberapa mengecewakan. Wajah pelatih Zoo agak jelek karena beberapa trainee menunjukkan performa yang tidak baik sama sekali.
“Aku sangat kecewa, para trainee ini sepertinya tidak benar-benar berlatih dengan sungguh-sungguh.” ucapnya sambil mendesah panjang.
Ketika suasana berubah menjadi agak suram, wajah cantik Ava muncul di layar dengan jarak dekat.
“Wah! Trainee yang cantik akhirnya disini.” kata Orion mengantisipasi. “Dia cukup bagus di kelas.”
“Aku juga mengantisipasinya, di kelas vokalnya sangat stabil.” kata Paris menambahkan.
Mereka yang mendengarkannya langsung mengantisipasi Ava. Di layar, Ava selesai memperkenalkan diri dan mulai berada di posisi yang awal koreografi. Begitu musik di nyalakan, Aya mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar. Meski para pelatih tau bahwa Ava cantik tetapi mereka tidak pernah menyangka untuk mendapatkan perasaan terpesona layaknya artis sungguhan.
Ava seperti menyebarkan aura yang menyenangkan dan menenangkan bagi semua orang yang menontonnya. Lagu juga sangat cocok untuk Ava dan menghibur semua orang yang menontonnya.
Gerakkan Ava jauh lebih mulus dan rapi dari gerakan peserta lainnya. Vokalnya juga stabil dan tanpa hambatan. Intinya, penampilan Ava sangat sempurna.
Kepercayaan diri Ava memberikan perasaan orang lain untuk terus melangkah dan menjadi percaya diri dihadapan orang lain.
Ketika musik selesai dan Ava memberikan pose terakhir, Para pelatih tidak bisa menahan diri untuk menghela nafas panjang dengan kagum.
“Sungguh mengejutkan” kata Paris tidak bisa berkata-kata lebih banyak.
“Gadis ini cukup mengejutkan.” kata Orion sambil mengangguk setuju.
“Menurutku, dia seharusnya yang membawakan lagu ini sebagai center.” kata Keegan menyatakan pendapatnya.
“Aura ini sangat mengejutkan untuk seorang gadis trainee kan.” kata Zoo memberikan kata-kata positif.
Para Pelatih mengangguk setuju dengan perkataan satu sama lain. Dengan suasana yang telah dibawakan oleh Ava, para pelatih melanjutkan evaluasi dan segera memberikan hasil penilaian mereka dengan cepat.
-
Di kelas B, suasana menjadi agak tegang karena semua orang menjadi sangat takut dengan hasilnya. Beberapa sangat murung karena merasa gagal melakukan yang terbaik di evaluasi. Beberapa lainnya sangat menantikannya dan gugup karena tidak sabar untuk mendapatkan hasilnya.
__ADS_1
Sementara itu, Ava di pojokkan duduk bersama Sophie, keduanya terlihat sangat mengantuk. Sophie sendiri sudah merebahkan kepalanya di bahu Ava tertidur nyenyak karena rasa lelah selama beberapa hari terakhir. Ava sendiri memejamkan matanya tetapi pikirannya tidak tidur karena merasa tidak ingin diajak berbicara dengan trainee lain tanpa ada Sophie yang bisa membantu pembicaraan mereka.
Para staff tampak sedang merencanakan sesuatu dengan berdiskusi di antara mereka. Lalu beberapa saat kemudian, mereka mulai memanggil satu persatu para trainee dan membawa mereka keluar dari ruangan. Entah apa yang dilakukan trainee yang keluar tetapi yang jelas kebanyakan mereka yang kembali datang dengan wajah sembab seperti habis menangis, tetapi kebanyakan memiliki ekspresi lebih tabah dari sebelumnya.
Para trainee yang belum mengalami menatap mereka dengan heran. “Apakah terjadi sesuatu ?” tanya salah seorang trainee pada trainee yang baru saja kembali dari panggilan.
Trainee gadis ini menggelengkan kepala dengan senyum dan wajah sebabnya. “Kamu akan tau sendiri nanti.” katanya dengan suara agak serak.
Banyak trainee yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi tetapi diam saja melihat staff yang berjaga di pintu agar tidak ada trainee yang keluar disaat-saat seperti sekarang.
Ava membuka matanya dan menatap sekeliling dimana trainee tampak lebih banyak berbicara satu sama lain untuk menghibur. Ava sendiri menepuk tumit Sophie dengan lembut untuk membangunkannya. Sophie bergumam pelan membalas Ava yang membangunkannya.
“Para staff memanggil beberapa peserta secara bergantian untuk sesuatu. Kurasa kamu perlu bangun sekarang.” kata Ava menjelaskan dengan suara kecil.
Sophie perlahan bangun sambil menggosok matanya lalu merenggangkan tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan wajah mengantuknya. “berapa lama aku tertidur ?”
“Beberapa menit, mungkin setengah jam.” jawab Ava sambil merapikan kuncir dan merenggangkan tubuh yang kaku.
“Rasanya menyegarkan setelah tidur meski tidak lama.” kata Sophie dengan senyum senang.
“Beristirahat setelah latihan intensitas tinggi adalah yang terbaik.” kata Ava pelan.
Sophie tersenyum setuju dan mengangguk. Keduanya terlihat sangat santai dan berbincang tanpa memikirkan evaluasi yang akan datang. Mereka berbicara sambil sesekali menatap ke arah pintu dimana para trainee keluar masuk ruangan.
“Menurutmu kenapa mereka kembali sambil menangis.” tanya Sophie dengan rasa penasaran.
“Entah, mungkin mereka ada wawancara yang agak sensitif.” jawab Ava cepat.
Sophie mengangguk kecil. “Benar juga, biasanya acara seperti ini tidak akan menarik tanpa ada unsur emosionalnya kan ?”
Tepat ketika Ava hendak membalas lagi, mereka dipanggil dan pergi bersama dengan dua trainee lainnya. Mereka dibawa ke ruang latihan vokal berbeda. Ava sendiri menunggu di ruangan dengan tenang hingga salah seorang staff datang di depan pintu memberitahukan.
“Kamu diberi waktu 10 menit untuk menelpon keluargamu. Silahkan.” kata staff tersebut kemudian memberikan handphone Ava.
Ava terdiam memegang handphonenya untuk beberapa saat. “apakah aku hanya boleh menelpon keluarga ?” tanya Ava sebelum staff tersebut keluar dari ruangan.
Staff tersebut mengangguk. “Hanya keluarga.”
Ava sontak memberikan handphonenya kembali ke pada staff sambil berkata dengan sangat tenang. “Kurasa aku tidak perlu melakukan panggilan apapun.”
Ava yang sudah di luar ruangan berbalik dan mengangguk lalu kembali ke ruang latihan dengan wajah tenang. Para trainee yang melihatnya kembali dengan sangat cepat terkejut tetapi mereka tidak berani untuk bertanya padanya. Ava duduk di ujung sendirian sambil memeluk lututnya dan memejamkan mata untuk beristirahat.
Sophie kembali tidak lama setelahnya, dia tampak agak khawatir dan langsung menghampiri Ava yang tertidur sambil memeluk lututnya. Sophie tidak mengganggunya, dan duduk di sebelahnya dengan pikiran yang agak penuh.
Sophie agak khawatir dengan Ava setelah mengetahui bahwa mereka bisa menelpon anggota keluarga mereka. Dia khawatir, Ava akan sedih karena tidak bisa nelpon siapapun, sebab dia tidak memiliki orang tua atau kerabat. Sophie menatap Ava yang tertidur dengan pandangan yang agak sedih.
Sejak dia mengenal Ava banyak orang yang mengejek Ava atau membullynya karena tidak memiliki keluarga. Tetapi menurutnya, bukanlah kesalahan Ava bahwa dia tidak memiliki kerabat atau orang tua, jadi orang lain tidak berhak untuk menyalahkannya atas hal tersebut. Terkadang, demi menghibur Ava, dia membawanya berkunjung ke rumahnya agar bisa berinteraksi dengan keluarganya dengan harapan dia bisa merasakan rasa kekeluargaan.
Meski Ava tidak banyak bereaksi dan selalu memasang wajah poker face nya, dia tetapi tau bahwa Ava merasa terganggu. Jadi Sophie bertekad untuk membuatnya lebih bahagia dan berusaha membukakan jalan untuknya.
Sophie yang berpikir cukup banyak akhirnya juga tertidur dengan kepala menyandar pada Ava yang juga tertidur. Keduanya yang tertidur tentu saja menarik perhatian para trainee lain dan mereka berniat untuk tidur juga karenanya.
Tapi keinginan mereka tidak bisa terlaksana karena staff meminta mereka bersiap untuk pengumuman hasil evaluasi ulang. Ava langsung bangun begitu staff mengumumkan pengumumannya. Sophie secara otomatis juga ikut bangun karena Ava bergerak. Dia menatap sekelilingnya dengan bingung dan kaget.
“Ada apa ?” tanya Sophie.
“pengumuman hasil evaluasi ulang akan diumumkan setelah ini.” jawab Ava kemudian mengusap wajahnya mengantuknya.
Sophie mengangguk lalu mereka berdua berpindah duduk dalam barisan dan menunggu. Tidak lama seorang pelatih datang membawa beberapa tumpukkan kertas beserta dengan mapnya dengan wajah serius.
“Halo!” sapa semua trainee sambil membungkuk.
“Halo.” sapa Orion dengan tenang lalu duduk di kuris di hadapan semua trainee. “Aku dan para pelatih lainnya sudah menyaksikan video yang kalian serahkan. Dan juga, kami sudah memutuskan nilai akhir kalian, berdasarkan keterampilan yang kalian perlihatkan dalam evaluasi video. Jadi ketika nama kalian di panggil, silahkan maju dan menerima kartu evaluasi kalian.”
Suasana trainee menjadi sangat tegang sekarang, semua orang menahan nafas dengan erat ketika, pelatih Orion mulai memanggil satu persatu para trainee untuk maju dan menerima kartu penilaian.
“Ava Luna” panggil pelatih Orion menyebutkan nama Ava untuk maju.
Ava langsung berdiri dan menghampiri pelatih Orion untuk menerima kartu penilaian. Ava mendapatkan tanda untuk membukanya di tempat lalu berbalik setelah mengecek hasilnya. Ava membuka kartu penilaiannya dan melihat huruf A berwarna merah di dalamnya yang sangat mencolok.
Dia segera menutupnya setelah melihat hasilnya, “Terima kasih.” kata Ava sebelum berbalik kembali duduk dengan wajah datar.
Sophie bersemangat dan menatap Ava dengan tatapan penasaran. Seolah dia mengatakan dia ingin tau hasilnya. Tapi Ava hanya memberikan kedipan pelan matanya sambil mengangguk kecil tanpa memberikan jawaban.
Sophie menjadi tidak sabar tetapi dia terkejut ketika namanya dipanggil dan dia harus maju mengambil kartu penilaiannya. Sophie buru-buru berdiri dan mengambil kartu dengan tegang, tapi ekspresinya langsung berubah santai begitu melihat isi kartu. Dia menutupnya dan mengucapkan terima kasih sebelum berbalik ke tempat duduk.
Dengan kartu ditangannya, dia menatap Ava tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia ingin tersenyum tetapi dia menahannya karena menurut peraturan, dia tidak bisa mempublikasikan hasilnya sebelum waktunya tiba.
__ADS_1
Tapi Ava yang melihat wajah menahan senyumnya sudah jelas dia akan naik kelas dengannya ke kelas A.
Beruntung mereka duduk di paling belakang sehingga mereka tidak terlihat oleh trainee lainnya sehingga tidak ada yang bisa melihatnya. Ava memberikan tanda lewat mata untuk tetap tenang dan menunggu dengan patuh.
Para trainee lainnya lebih hebat dalam menyembunyikan hasilnya, mereka bersikap datar dan duduk kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Adapun bagaimana hasilnya hanya bisa diumumkan setelah semuanya selesai dan bersama-sama berpindah nantinya.
“Karena semuanya sudah menerima hasil evaluasi akhir mereka, aku akan pergi dulu.” pelatih Orion begitu selesai membagikan semua hasil evaluasi kepada trainee.
“Terima kasih pelatih!” ucap para trainee mengucapkan terima kasih bersama-sama untuk mengantarkannya keluar dari ruangan.
Setelah itu para staff mengumumkan kepada semua orang di masing-masing ruangan. “Bagi yang berpindah, silahkan pindah saat kelas yang kalian tuju disebutkan.” kata staff yang bertugas. “Sekarang, bagi yang mendapatkan hasil evaluasi kelas F silahkan berpindah.”
Semua trainee mengangkat kepala mereka dengan rasa penasaran ingin tau siapa yang akan pindah ke kelas F. Setelah beberapa detik, akhirnya ada seorang trainee berdiri yang cukup mengejutkan semua orang di tempat.
Ava tidak mengetahui siapa gadis ini sehingga dia tidak benar-benar bereaksi. Tapi Ava ingat sebelumnya bahwa gadis ini sepertinya sangat gugup hingga dia lupa semua koreografi dan liriknya. Hanya itu yang dia ingat.
Ketika dia melihat banyak orang terkejut melihatnya, dia hanya memasang wajah datar dan malah bingung kepada Sophie. Sophie tentu saja tau kebingungan Ava tetapi memberi tanda untuk menjelaskan nanti. Ava kembali memperhatikan kedepan dan menunggu dengan tenang.
Setelah seorang gadis lain yang keluar tidak ada lagi dari kelas B yang turun hingga kelas F. Para staff menunggu dan tampak berkomunikasi dengan para staff lainnya sebelum meminta trainee untuk berpindah lagi.
“Bagi mereka yang harus berpindah ke kelas D silahkan berpindah sekarang.” kata staff memecah keheningan.
Suasana kembali tegang karena pengumuman ini dan ada empat orang yang berpindah ke kelas D tanpa diduga.
Ava merasa sangat lelah menunggu dalam ketegangan seperti itu dan malah mulai merasa mengantuk. Kelas B yang berpindah ke kelas C jumlahnya juga tidak sedikit, setidaknya ada 5 orang yang berpindah kesana. Akhirnya bagi yang berpindah ke kelas B, cukup banyak trainee yang pindah ke kelas ini. Bahkan ada yang juga dari kelas F.
Semakin banyaknya yang berpindah, membuat peserta trainee B menjadi semakin gugup karenanya. Suasana di dalam ruangan berbanding terbalik, di sisi lain trainee kelas B menjadi gugup, sementara trainee yang baru saja datang sangat senang.
“Bagi yang harus pindah ke kelas A, silahkan berpindah sekarang.”
Sophie sontak menatap Ava dan memberi kode untuk bangkit berdiri dan pindah ke kelas A. Sophie berdiri lebih dulu diikuti Ava yang berdiri kemudian. Keduanya berjalan keluar dari kelas disertai tatapan iri para murid lainnya.
Sophie dan Ava menaiki tangga menuju kelas A dengan langkah ringan dan senyum Sophie yang sangat gembira. Keduanya dari jauh bisa melihat kelas A yang tampak suram dan sudah banyak orang menunggu disana.
Sophie masuk lebih dulu dengan memberi hormat lalu diikuti Ava yang juga mengikuti Sophie masuk. Para trainee kelas A tampak semakin gugup melihat keduanya masuk ke kelas A.
Jika dilihat hanya ada empat orang selain Ava dan Sophie yang bisa masuk ke kelas A dan mereka masih menunggu jika ada trainee lain yang akan datang. Bagi yang sudah jelas akan berada di kelas A mereka, lebih tenang daripada mereka yang berada di kelas A itu sendiri.
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, jika ada banyak peserta trainee lain yang datang ke kelas ini, itu artinya ada kemungkinan yang turun ke kelas lain akan lebih besar.” kata Pelatih Paris yang bertugas memberikan pengumuman di kelas A. “Karena semua peserta yang berhasil datang ke kelas A sudah disini. Kita mulai saja sekarang.”
Pelatih memanggil satu persatu trainee dan memberikan kartu hasil evaluasi penilaian ulang mereka dan meminta mereka untuk duduk terlebih dulu sebelumnya.
Ava melihat sosok yang dia kenal sebelumnya, dia adalah gadis yang mengajak bicara dirinya. Seingatnya, gadis ini bernama Vivian Evans. Ava bisa melihat wajahnya yang khawatir dan penuh kegugupan.
Ava tidak terlalu peduli karena dia merasa agak tidak senang dengan wanita ini entah kenapa. Dia merasa tidak nyaman di dekat perempuan ini sebelumnya. Jadi kalau bisa, dia tidak ingin untuk berhubungan dengannya lebih banyak.
Kelas A tidak memiliki banyak peserta sehingga proses pembagian cepat selesai. “Karena semua sudah menerima hasil mereka, silahkan bagi yang harus pindah ke kelas F untuk berpindah.” kata Paris menggantikan peran staff memberikan pengumuman.
Suasana menjadi tegang karena hal ini, semua orang diam-diam gugup dan mengantisipasi apakah ada trainee yang turun ke kelas F. Tanpa diduga ada salah satu trainee yang berdiri dan keluar dari ruangan dengan menundukkan kepala.
Tentu saja wajah mereka yang berada di kelas A menjadi sangat buruk melihat salah satu dari mereka bahkan harus terjun bebas ke kelas F.
Proses ini terus berlanjut hingga hanya menyisakan 5 orang asli dari kelas A. Wajah semua trainee yang tersisa menjadi lega setelah harus melewati penilaian yang sulit.
Pelatih Paris mengangguk kecil sambil menghela nafas panjang. “Sekarang, karena penilaian ulang sudah selesai, Aku akan memberitahu kalian sedikit pengumuman.” kata Paris mengeluarkan kertas dan mulai mengumumkan. “Setelah ini akan ada pemilihan Center untuk theme song. Jadi silahkan untuk mempersiapkan 1 menit untuk rekaman theme song kita dalam waktu 6 jam.”
Semua trainee di ruangan terkejut mendengar bahwa mereka harus menyiapkan pertunjukan 1 menit dalam 6 jam. Bagi mereka tentu saja ini terlalu mendadak dan terburu-buru.
Sophie juga tercengang kaget mendengar mereka harus berlatih untuk 1 menit pertunjukan seleksi. Dia diam-diam menelan air liurnya sendiri dan merasa gugup karena hal ini. Dia melirik Ava yang duduk di sebelahnya dengan khawatir. Tapi Ava tidak melihatnya dan fokus pada pengumuman yang diberikan kepada mereka.
Setelah semua proses yang melelahkan, akhirnya para trainee memiliki waktu untuk makan siang yang tenang. Ava yang memang lelah, makan dengan cara otomatis dan terus menyuap tanpa merespon keramaian di sekitarnya. Bahkan sesekali, Ava makan dengan mata terpejam.
Sophie yang duduk di sebelah Ava menatap dengan tatapan heran. “Apakah kamu baik-baik saja ?”
“Aku mengantuk.” jawab Ava singkat lalu melanjutkan makannya dengan cepat.
Sophie makan dengan khawatir karena masih harus menampilkan acara lain setelah ini. “Lalu apakah kamu sudah memiliki rencana untuk pertunjukkan 1 menit kita setelah ini ?”
Ava mengangkat kepala dan menggelengkan kepala pelan. “Aku akan pergi tidur.”
Sophie sangat terkejut mendengar perkataan Ava yang sangat santai. Dia terdiam untuk beberapa saat dan tidak bisa berkata-kata. Dia merasa bahwa mereka harus mempersiapkan pertunjukan 1 menit dengan baik untuk bisa mendapatkan keuntungan nantinya.
Ava tau kekhawatiran Sophie mengenai apa yang harus dilakukan nanti. “Lakukan saja seperti saat sedang rekaman evaluasi. Tambahkan sedikit pesona manismu. Seperti senyum dan beberapa gerakkan tangan yang manis. Seharusnya itu akan berhasil.” kata Ava memberikan sedikit masukkan. “Sebaiknya kamu beristirahat dulu, akan sangat melelahkan dan pasti akan sangat sulit untuk berpikir jernih.”
Sophie mengangguk dan menganggap hal ini masuk akal. Karenanya, dia menjadi lebih rileks, tapi malah membuatnya mengantuk.
-
__ADS_1