LuckyONe

LuckyONe
Chapter 13: Difference


__ADS_3

Pelatihan koreografi berlangsung lancar di bawah instruksi Ava, mereka bahkan bisa menyelesaikan latihan awal koreografi sebelum makan malam. Para anggota tim lainnya tidak menganggap Ava enteng setelah mereka menyadari cara mudah untuk menghafal dan membuat gerakkan yang terlihat tajam di saat bersamaan.


Sehingga ketika mereka pergi untuk makan malam, suasana hati mereka sangat baik dan masih terus mencoba berlatih sendiri bahkan saat makan malam. Anggota tim Ava kembali dengan cepat ke ruang latihan untuk terus mereview gerakkan mereka.


Ava mencoba melakukan gerakkan dengan lagu tetapi versi lambat untuk beberapa kali sebelum menaikkannya ke versi aslinya. Hal ini dilakukan Ava agar anggota timnya bisa menyesuaikan diri dan menghafal gerakkan berdasarkan memori otot.


Setelah dirasa cukup kompak, Ava akhirnya memberikan kesempatan mereka untuk berlatih secara individual terutama untuk menghafal lirik lagu.


“Kurasa kita harus menghafal seluruh lirik hari ini sehingga besok kita bisa berlatih secara penuh seharian.” kata Ava memberikan saran pada Clarence ketika mereka berkumpul.


Clarence dengan serius mengangguk setuju. “Ada evaluasi dalam waktu dua hari dengan para pelatih, jika kita ingin maksimal, kita memang harus menghafal semuanya hari ini.”


Setelah berada di bawah bimbingan Ava, Clarence merasa dia meningkatkan kemampuan menarinya secara signifikan. Dia juga merasa bahwa Ava adalah orang yang baik, terutama dia memang agak pendiam.


Jadi ketika waktu latihan individu, Ava membantu anggota tim yang masih memiliki kendala dalam tarian untuk di perbaiki postur dan gerakannya.


“Tidak jangan lakukan seperti itu, angkat kakimu terlebih dulu,” kata Ava dengan serius.


Sikap serius ini membuat teman satu timnya merasa bahwa mereka sedang diajar oleh guru tari dari pada sesama trainee. Tapi di sisi yang sama mereka dengan serius menyadari bahwa ini adalah kesempatan mereka untuk berkembang dan harus dimanfaatkan sebaik mungkin.


“Aku merasa lebih banyak berkembang saat diajar oleh Ava ketimbang saat aku sedang trainee dengan perusahaan.” kata Clarence sambil mendesah panjang.


“Efisiensi mengajar Ava sangat bagus, tipsnya untuk menghafal koreografi sangat manjur.” tambah Ellie setuju dengan perkataan Clarence. “Tapi aku masih mengalami kendala dengan vokal. Meski sudah mencobanya beberapa kali tapi aku merasa saat menyanyikannya bersamaan dengan tarian, suaraku selalu tidak stabil.”


“Coba saja lari sambil menyanyi, dengan begitu kamu akan menemukan cara yang tepat saat bernyanyi.” kata Ava memberikan saran sambil beristirahat.


“Begitukah ?” Ellie terkejut atas saran Ava, tetapi dia akan mencobanya nanti untuk berlatih.


Ava mengangguk pelan tanpa berkata lebih banyak lagi. Ellie dengan sisa tenaganya mulai berlari sambil bernyanyi. Di awal dia sangat kesulitan dan akhirnya tumbang setelah beberapa kali putaran. Tapi begitu dia bernyanyi, suaranya menjadi lebih stabil dari sebelumnya.


Para anggota lain yang sedang beristirahat mau tidak mau terkejut. Ellie sendiri juga menjadi kaget karena suaranya menjadi lebih stabil meski dia terengah-engah.


“Wuah!” Ellis yang tergeletak di lantai mau tidak mau bangkit berdiri dengan penuh perasaan bahagia. “Efeknya secepat itu ?”


Ava tersenyum kecil. “Sepertinya pernafasanmu cukup baik.”


Ellis tersenyum senang dan bertekad untuk terus berlatih lebih lanjut setelah melihat perkembangan menakjubkan. Teman setim lainnya tampak sangat senang dengan perkembangan pesat anggota setim mereka.


Meski sulit untuk mereka untuk menampilkan lagu hanya dalam beberapa hari, mereka tetapi berusaha dan mencoba yang terbaik. Mereka tidak memiliki banyak konflik apapun, dan bergaul dengan sangat damai satu sama lain.


Di malam hari, saat para peserta trainee sedang sibuk berlatih, akhirnya para staff menampilkan penampilan theme song para peserta trainee di TV. Bersamaan juga dengan website yang akhirnya mulai dibuka untuk memulai voting.


Banyak orang mulai tertarik setelah melihat theme song dan mulai membuka website untuk melihat para gadis yang ada di sana. Disaat yang bersamaan, banyak orang mulai menciptakan fandom untuk gadis pilihan mereka yang mulai menantikan pertunjukan berikutnya. Hingga saat itu, keadaan masih damai karena para penonton masih tidak mengetahui secara detail mengenai gadis yang mereka pilih.


Berikutnya, para staff mulai menyebarkan kabar untuk penjualan tiket untuk pertunjukan yang akan diadakan akhir minggu. Dengan begitu para penonton yang sudah melihatnya sudah theme song dan berkunjung ke website akhirnya mulai mencari cara untuk membeli tiket agar bisa menonton pertunjukan secara langsung dan melihat gadis yang mereka idolakan secara langsung.


*


Keesokan harinya, Ava melakukan rutinitas yang biasa dia lakukan yaitu melakukan lari pagi dan kemudian bersiap untuk latihan pagi itu. Karena adanya perubahan dalam kelompok, akhirnya kamar mereka pun diganti berdasarkan kelompok untuk misi berikutnya.


Jadi Ava membangunkan teman sekamarnya dan meminta mereka bersiap untuk berlatih lagi. Saat dia membangunkan teman sekamarnya, hampir sebagian besar kaget melihat Ava sudah siap dan terlihat sangat bugar.


“Kamu sudah bangun ?” tanya Ellis terkejut ketika melihat Ava membangunkannya.


Ava tidak menjawab dan pergi membangunkan yang lainnya.


“pukul berapa kamu bangun ?” tanya Ellis lagi sambil merenggangkan tubuhnya di kasur.


Yang lain, menatap Ava mendengar Ellis menanyakan pertanyaan tersebut, mereka terlihat juga penasaran karena sekarang sudah pukul setengah tujuh tetapi Ava terlihat sudah siap dengan pakaian seragam dan bahkan tampak seperti sudah bangun dari lama.


“pukul enam.” jawab Ava akhirnya sambil membereskan kamar yang agak terlihat berantakan.


Clarence yang berniat pergi mandi berhenti di tempat mendengar Ava sudah bangun dari pukul lima pagi. “Bukankah semalam kita baru saja tidur pukul tiga malam ?”


Ava mengangkat kepalanya dan menatap Clarence yang bertanya padanya. “Aku selalu bangun pukul enam. Cepatlah kita harus pergi sarapan setelah ini.”


Mendengar kata-kata Ava yang meminta mereka bergerak lebih cepat, membuat semua orang langsung sibuk seketika. Ava sendiri pergi keluar dari kamar agar tidak membuat sirkulasi di kamar semakin penuh.


Ava menunggu sambil meminum air di lobby asrama mereka. Dia terlihat menatap kosong ke arah tembok menunggu. Beberapa peserta trainee lainnya berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Ava tidak mengambil pusing karena dia juga sedang tidak ingin terlalu banyak berbicara karena merasa lelah juga.


Setelah menunggu setengah jam, akhirnya timnya turun dan mereka bersama pergi ke cafetaria untuk sarapan. Menu makanan di tempat ini tidak pernah buruk, setidaknya itu menurut Ava. Meski agak kurang rasa tetapi Ava tidak terlalu mempermasalahkannya asalkan makanan tersebut tidak basi.


“Aku merasa akan kehilangan berat badan dengan hanya makan makanan di cafetaria setiap hari.” kata Leah sambil menatap makanan di cafetaria yang tidak enak.


“Memang makanan di cafetaria ini agak kurang rasa. Tapi setidaknya masih bisa dimakan.” Balas Scarlett dengan tenang.


“Benar, setidaknya makanan disini masih seimbang, tidak menyebabkan kita malah menjadi gemuk. Lebih baik daripada salad atau makanan diet yang biasanya harus dimakan peserta trainee lainnya.” kata Clarence.


Ava yang makan di ujung meja tidak berkata lebih banyak dan makan hingga 70% agar tidak menyulitkannya saat akan bergerak nanti karena kebanyakan makan.


Pembicaraan tentang makanan terus berlangsung hingga akhirnya mereka harus segera ke ruang latihan untuk berlatih lagi. Kali ini para staff memberikan ruangan latihan kepada seluruh tim secara lebih eksklusif agar mereka bisa berlatih dengan lebih serius.

__ADS_1


Dengan fasilitas seperti itu, sebenarnya tidak ada alasan untuk para peserta trainee untuk menjadi malas. Jadi melihat ruangan latihan kecil cukup untuk enam orang yang berlatih.


Ava merenggangkan tubuhnya melakukan pemanasan sebelum mulai berlatih, melihat Ava melakukannya, peserta trainee yang lain mengikuti Ava melakukan pemanasan.


Setelah pemanasan, Ava berbalik dan menatap Clarence menunggunya membuat keputusan tentang latihan hari ini.


Clarence menatap Ava yang menunggu instruksinya. “Kurasa latihan hari ini kita perlu berlatih secara penuh.” kata Clarence. “Jadi kita bisa tau apa yang perlu kita kembangkan lagi.”


Semua orang mengangguk setuju dan mereka mulai mengambil posisi masing-masing dalam posisi awal. Kemudian Clarence memasang lagu untuk mereka menari.


Begitu lagi intro dimulai, mereka mulai menarikan tarian awal dengan agak berantakan, tetapi meski begitu hampir kebanyak anggota tim menari dengan lancar. Hanya beberapa gerakkan sulit yang membuat mereka agak tersandung.


Ava meski menari, tetapi dia menatap cermin di hadapan mereka untuk melihat perkembangan anggota tim lainnya. Dia bisa melihat jelas mana anggota tim yang perlu melakukan beberapa latihan koreografi lagi.


Jadi begitu mereka selesai mencoba menari bersamaan, meski agak berantakan, tetapi mereka memiliki kerja sama yang bagus dan mereka agak puas untuk latihan pertama mereka.


“Kerja sama kita cukup bagus” Leah agak terkejut melihat mereka menari dengan lebih baik dari dugaan mereka selama ini.


“Meski agak berantakan tapi memang lumayan untuk pertama kali kita menari sebagai group.” kata Clarence dengan senang.


Ava tidak berkomentar dan hanya menonton dari samping ketika anggota kelompoknya tampak senang dengan penampilan mereka yang pertama.


Scarlett yang melihat Ava tidak bergeming mau tidak mau bertanya dengan heran. “Bagaimana menurutmu Ava ? Tidak buruk kan ?”


Yang lain menatap Ava menunggu reaksi guru tari mereka.


Ava mengangguk kecil sambil berfikir. “Tidak buruk, tapi masih ada ruang untuk perbaikan.”


“Berikan kami sedikit review Ava, kurasa kita membutuhkannya.” pinta Clarence tanpa sadar.


Ava menatap Clarence dan anggota timnya satu persatu yang menunggunya. Melihat mereka menantikannya, dia hanya bisa menghela nafas. “Pertama-tama, kita perlu mengulang sedikit bagian yang paling sulit bagi kita. Dengan begitu seharusnya kita jauh lebih rapi berikutnya. Kedua, beberapa dari kalian masih agak keluar dari ritme.” Ava berkata kepada para rapper yang mengambil kebetulan melakukan kesalahan. “Lalu ketiga, kurasa kita perlu memperbanyak latihan secara berkelompok kita.”


Mereka yang rapper mengangguk setuju, mereka belum terbiasa dengan ritme dan mereka memang membutuhkan banyak latihan lagi. Agak sulit untuk melakukan rap sambil menari, jadi mereka tidak bisa menghindari kesalahan.


Setelah mendapatkan review dari Ava, mereka mulai berlatih lagi dengan lebih rapi, Ava membimbing mereka yang masih melakukan kesalahan saat koreografi serta memberikan sedikit tips untuk menambahkan pesona pribadi saat bagian mereka.


Setelah gerakkan koreografi mereka terlihat lebih rapi, Ava membiarkan yang lain berlatih secara individu. Clarence sebagai ketua juga menyetujui Ava yang mengutamakan kerja sama kelompok terlebih dulu. Karena baginya, masalah koreografi adalah yang paling sulit untuk dilatih dan memerlukan banyak perhatian.


Progress kelompok mereka sangatlah pesat dan banyak anggota kelompok mendapatkan peningkatan sehingga ketika keesokan harinya mereka harus menghadapi pelatih untuk di nilai sementara, mereka tidak terlihat takut tetapi agak bersemangat.


Pada siang hari, kelompok mereka dan kelompok lawan berkumpul di satu ruangan yang agak besar menunggu pelatih tari mereka, Orion dan Lilith.


Keduanya tampak bersemangat melihat kedua tim yang berada di satu ruangan. Masing-masing tim memberikan perkenalan sebelum, tim kedua di persilahkan duduk terlebih dulu dan menyuruh tim mereka melakukan tarian lebih dulu.


Begitu mereka selesai, Lilitht terutama terlihat sangat puas. “Tim kalian sepertinya banyak berlatih, benar-benar terlihat sangat solid dan rapi.”


Orion mengangguk setuju, dia menunjuk Scarlett yang menjadi center dengan acungan jempol. “Center sangat cocok, dia terlihat sangat menonjol dan membuat nuansa keseluruhan lagu menjadi sangat bagus.”


Clarence sebagai ketua tentu saja senang dengan pujian ini, mereka dipuji melakukan tarian dengan sangat baik. Mereka percaya bahwa mereka bisa menang dalam pertandingan battle yang berlangsung akhir minggu.


Setelah pujian beruntun, mereka di persilahkan duduk dan membiarkan tim kedua untuk menampilkan penampilan mereka. Karena sudah tampil, jadi Ava beserta tim menjadi lebih tenang dan menonton pertunjukan dengan tenang.


Ketika musik di nyalakan, tim kedua memulai tetapi penampilan mereka membuat kedua pelatih mengerutkan kening. Ava sendiri juga ikut mengerutkan kening, dia bisa melihat bahwa anggota tim ini agaknya tidak berlatih secara kelompok terlalu sering.


Karena ketika mereka membawakan lagu, terlihat jelas perbedaan antara angota tim. Ada seorang anggota yang terlihat sangat kaku dan bahkan terlihat tidak hafal dengan koreografinya.


Melihat kerja sama yang buruk membuat kedua pelatih menjadi terdiam begitu mereka selesai dengan penampilan mereka.


“Ketua tim, kenapa masih ada anggotamu yang terlihat tidak hafal dengan koreografi yang ada.” tanya Lilith dengan wajah kecewa.


Ketua tim kedua hanya bisa terdiam dan melirik anggota timnya dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku pelatih.”


“Kamu seharusnya tidak meminta maaf denganku, tapi pada anggota timmu. Karena jika kalian terus melakukan penampilan seperti ini, kurasa akan sulit untuk kalian untuk tampil dengan baik di pertunjukan.” kata Lilith lagi menegur anggota tim kedua.


“Center kalian bahkan tidak terlihat menonjol sama sekali.” tambah Orion. “Bahkan anggota tim yang lain terlihat lebih cocok sebagai center ketimbang center yang sekarang.”


Tim kedua terlihat memiliki suasana yang muram dan membuat ruangan memiliki atmosfir yang tidak nyaman sama sekali.


Tim Ava juga terlihat tidak nyaman mendengar anggota tim lawan dimarahi karena tidak menampilkan yang terbaik. Mereka mau tidak mau merasa bahwa mereka akan mendapatkan amarah yang sama jika tidak melakukan yang terbaik dalam pertandingan mereka.


Setelah banyak nasihat dan masukan dari para pelatih, mereka dipersilahkan untuk kembali berlatih lagi. Mereka kembali ke ruang latihan mereka dengan suram tetapi kemudian mereka merasa senang karena pujian dari para pelatih.


“Aku merasa latihan kita terbayarkan setelah mendapatkan pujian tadi.” kata Leah dengan senang.


“Tapi melihat tim kedua di marahi seperti itu membuatku agak tidak enak.” Hailey masih merasa tidak nyaman terlepas dari keberhasilan mereka.


“Tampaknya tim kedua tidak berlatih dengan baik. Kita sangat beruntung punya Ava yang bisa mengajari kita dengan baik.” kata Scarlett merasa lega bisa satu tim dengan Ava.


Anggota tim yang lain terlihat lega juga dan diam-diam menatap Ava yang duduk beristirahat di dinding. Meski mereka tim terakhir, tetapi mendapatkan Ava sebagai anggota tim sangatlah membantu mereka. Terlepas dari segala jenis rumor yang ada di peserta trainee tapi tampaknya, Ava adalah orang baik dan disalah pahami.


Setelah penilaian tari, pada sore hari mereka giliran bertemu dengan pelatih rap dan vokal. Pada sesi ini anggota menjadi lebih gugup, karena Zoo Miller yangs seorang rapper terkenal akan mengevaluasi mereka. Dengan penampilan garangnya yang mencolok, dia duduk di sebelah kedua pelatih vokal Paris dan Vincent.

__ADS_1


Para anggota yang menyanyikan rap mau tidak mau menjadi gugup karena kehadiran yang mengintimidasi. Ava hanya berdiri dengan tenang di ujung dengan anggota yang lainnya.


“Apakah kalian banyak berlatih ?” tanya Paris dengan lembut berusaha mencairkan suasana yang tegang karena kehadiran Zoo di ruangan.


Kedua tim mau tidak mau mengangguk dan berteriak dengan semangat. “Ya!”


“Bagus, kalau begitu, tim pertama mari kita dengarkan dulu. Tim kedua bisa duduk.” Paris menjadi orang yang membantu mengarahkan jalannya penilaian kali ini.


Tim kedua duduk lebih dulu dan membiarkan tim pertama menunjukan penampilan mereka lebih dulu.


Tanpa adanya iringan lagu, tim pertama melakukan nyanyian mereka lebih dulu. Tentu tanpa iringan semuanya terdengar dengan sangat jelas. Jadi tim vokal memberikan sedikit add-lib pada bagian bagian tertentu agar lagu terdengar lebih bervariasi dan enak di dengat.


Karena sebelumnya Ava sudah memberikan masukannya, jadi para rapper di tim menjadi lebih berhati-hati dengan ritme dan tempo mereka. Jadi mereka lebih berhati-hati dalam melakukan bagian mereka.


Jadi dengan tempo yang lebih tepat dan ritme yang pas, mereka melakukan bagian mereka dengan sangat baik. Penampilan mereka sangat bagus dan memuaskan para pelatih, bahkan Zoo yang ikut menganggukkan kepala saat mereka bernyanyi.


Setelah penampilan mereka selesai, para pelatih terdiam sebentar untuk melakukan penilaian dengan apa yang mereka telah dengar sebelumnya.


“Main vokalis.” Vincent memanggil Ava yang merupakan main vokalis. “Sangat bagus, sangat stabil dan tidak ada masalah sama sekali, bahkan vokalis yang lain juga sangat bagus. Menggunakan add-lib untuk menambahkan suasana.”


Paris juga setuju dengan apa yang dikatakan Vincent. “Kerjasama kalian sangat baik, bisa dibilang penampilan kalian sangat lengkap dan cukup baik. Terus berlatih dan itu akan menjadi penampilan yang sempurna. Jadi lanjutkan.”


Para vokalis membungkuk berterima kasih. “Terima kasih pelatih.”


Kemudian giliran Zoo untuk mengomentari para rapper di tim. Zoo bergumam kecil lebih dulu sebelum dia berkomentar. “Kemampuan rap kalian cukup bagus, tidak ada masalah tetapi hati-hati dengan ritme kalian.” kata Zoo memuji para rapper di grup.


Tentu saja pujian ini membuat Hailey, Clarence, dan Leah tersenyum senang mendengarnya. Mereka merasa sangat terhormat karena bisa memiliki kesempatan bisa di puji oleh sosok besar seperti Zoo. Meski sosok seprofesional Zoo agak terlihat menyeramkan dihadapan mereka, tetapi dia juga mengapresiasi bakat muda yang tidak mau menyerah dan banyak berlatih.


Tapi suasana bahagia itu tidak berlangsung lama karena ketika tim kedua maju, mereka mendapatkan banyak sekali kritik bahkan Zoo hanya memasang wajah datar. Dia bahkan tidak berkomentar sama sekali, Zoo hanya bisa memberikan peringatan keras untuk terus berlatih.


Kedua tim yang selesai di nilai melakukan beberapa konsultasi dengan para pelatih sebelum kembali ke ruang latihan mereka sendiri.


Rasa senang para anggota karena di puji tentu saja meledak begitu mereka berada di ruang latihan mereka, Leah dan Scarlett melompat kesenangan karena hasil latihan mereka berbuah hasil dan mereka tampaknya hanya perlu berlatih sedikit lagi.


Ava tidak ikut teman setimnya untuk bersorak dan diam-diam duduk bersandar di dinding karena rasa lelah. Clarence yang melihat Ava mau tidak mau juga ikut merasa lelah.


“Kita berlatih hingga larut kemarin, bagaimana jika kita beristirahat dulu sebelum kita kermbali berlatih ?” tanya Clarence pada Ava dan teman setim lainnya.


“Sebenarnya itu ide yang bagus, tapi aku merasa selalu berdosa jika kita tidak berlatih dan malah menggunakan waktu untuk istirahat.” Hailey agak tidak rela untuk beristirahat, dia merasa kemampuannya masih kurang dan membutuhkan latihan lebih lanjut.


Clarence yang mendengarnya tiba-tiba juga merasa agak tidak enak hati. “Lalu kita melakukan individu terlebih dulu, bagi yang ingin beristirahat, pergilah, waktu istirahat ktia hanya satu jam.”


Karena sudah mendapatkan izin dari ketua, mereka mulai melakukan individu, tetapi Hailey yang merasa kurang dalam tariannya mendekati Ava yang duduk tidak bergerak di lantai.


“Bisakah kita latihan lagi, aku masih merasa gerakku kaku agak tidak benar.” kata Hailey ingin meminta bimbingan Ava.


Karena sudah menjadi tugasnya untuk berurusan dengan koreografi, Ava mengangguk kecil dan mengangkat tubuhnya yang berat dan mulai menari dengan Hailey. Kelompok mereka memang sudah mengingat koreografi, tetapi mereka sepertinya masih kurang dalam detail.


“Sebenarnya kamu tidak perlu terlalu banyak menggunakan ekspresi, fitur wajahmu sudah terlihat sangat cocok untuk lagu ini.” kata Ava memberikan saran setelah melihat Hailey berusaha untuk menutupi gerakkan kaku dengan eskpresi. “Cobalah mengantinya dengan gesture tubuh.”


Hailey mengangguk dan mencoba memikirkan gesture apa yang bisa dia coba. Selama dua hari terakhir, dia selalu merasa bahwa Ava tau banyak hal dan bisa membantunya berkembang. Jadi ketika ada kesempatan sekarang, dia akan mencoba yang terbaik untuk berkembang lebih banyak.


Berlatih bersama dengan Ava membuat Hailey menjadi lebih mengerti Ava yang kadang hanya sekedar diam menatapnya, tetapi Ava bahkan dengan mudahnya menemukan apa yang salah dari gerakkannya atau dia akan segera menemukan sesuatu untuk di komentari.


Setelah satu jam, Hailey akhirnya mau tidak mau berbaring di lantai karena lelah. Selama dia menjadi peserta trainee di perusahannya dia sering kali tidak berkonsentrasi, tetapi kali ini dia berlatih dengan sangat berbeda dan dia mau tidak mau berkonsentrasi saat Ava menatapnya.


Jadi setelah berlatih dalam intensitas tinggi, dia akhirnya merasa lelah. Ruang latihan mereka masih sepi jadi hanya ada Hailey dan Ava yang beristirahat di lantai dengan keringat menetes.


Hailey melirik Ava yang menatap kosong seperti melamun. Sebelumnya karena ada banyak rumor dia juga berfikir mengenai Ava yang sepertinya tidak menyenangkan.


“Apakah kamu tau ?” tanya Hailey memecahkan suasana sunyi di antara mereka. Ava mau tidak mau mengangkat kepalanya dan menatap Hailey. “Ada rumor buruk tentangmu sebelumnya.”


Ava awalnya mengira dia akan mengatakan sesuatu yang penting, tetapi ternyata hanya mengenai hal tersebut, jadi dia membuang wajah dan mengambil posisi yang paling santai tanpa sadar.


Hailey melihat Ava yang mulai merenggangkan tubuhnya dengan santai dengan bingung. “Apakah kamu tidak marah dengan rumor buruk tentangmu ?” Hailey tidak habis pikir dengan Ava yang terlihat sangat santai.


Ava melirik Hailey yang terlihat tidak percaya dengan sikapnya. Tetapi dia tetapi diam dan tidak berkomentar.


“Ava, taukah kamu kenapa tidak ada yang memilihmu meski kamu sangat berbakat di pemilihan group ?” tanya Hailey berusaha menjelaskan. “Karena ada rumor buruk yang membuat semua orang berfikir bahwa kamu adalah orang yang tidak menyenangkan.”


Ava yang mengangguk kecil ketika medengarnya tetapi dia terlihat sangat tidak peduli.


“Tidakkah kamu marah ? Rumor buruk telah membuatmu di jauhi orang. Ini sebuah kerugian! Bagaimana kamu tidak marah dengan fakta ini ?” tanya Hailey dengan emosional.


Ava mau tidak melirik Hailey melihatnya sangat marah dengan hal tersebut melebihi dirinya. “Bukan sebuah masalah besar untukku.” kata Ava dengan sangat santai.


“Ava! Tentu saja ini hal yang sangat penting! Ini membuat reputasimu jadi jelek!”


Mendengar Hailey yang semakin peduli dengan apa yang terjadi, membuat Ava menghela nafas dan menatap Hailey dengan serius. “Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan ? Berkata pada semua orang jika aku bukan orang yang jahat ?”


Hailey tidak bisa menjawab dan hanya terdiam mendengar Ava bertanya balik padanya. “Aku… Tapi ini tidak adil untukmu Ava.”

__ADS_1


Ava tentu saja tau bahwa memang ini agak tidak adil, tapi tidak ada yang bisa berubah. “Ini bukan sesuatu masalah untukku. Lagipula itu hanya rumor.”


Melihat ketenangan Ava, membuat Hailey merasa agak sedih tetapi juga merasa cara Ava ada benarnya. Rumor akan selalu menjadi rumor jika tidak ada bukti nyata.


__ADS_2