
Hari dimana Ava perlu pergi ke program akhirnya tiba. Sehari sebelumnya, Ava mengemaskan barang-barangnya dan membawa koper yang tidak berukuran besar. Selain itu, Ava hanya membawa barang yang benar-benar dibutuhkan saja. Sehari sebelumnya, Ava begadang mengerjakan dan membereskan pekerjaannya, jadi sekarang dia agak lelah. Syuting acara dimulai di pagi hari membuatnya agak lemas hari ini dan terlihat sangat malas.
Ditambah lagi, ada kejadian agak tidak terduga kemarin. Dia terpeleset saat sedang membuat koreografi yang membuat kaki kirinya agak terkilir. Meski tidak parah dan Ava bisa berjalan dengan agak normal, tetapi tetap membutuhkan waktu untuk sembuh. Ava masih bisa menari dengan kaki seperti ini, tetapi dia tidak bisa melompat dan bergerak dengan ekstrim.
Oleh karena itu, lokasi syuting kali ini berada di kota yang sama dengannya tetapi agak jauh dari tempat tinggalnya, Ava memutuskan untuk menaiki taksi dari pada malah kesulitan di tengah jalan nantinya jika menaiki kereta bawah tanah. Menurut jadwal yang diberikan staff padanya kemarin, dia hanya perlu tiba sekitar pukul 7.30.
Dan saat itu, dia sudah bersiap dari pagi sehingga dia masih memiliki cukup banyak waktu untuk membeli sarapan terlebih dahulu yang mudah dimakan dan bisa menahan lapar cukup lama. Jadi dia memilih sesuatu seperti kentang rebus, telur rebus, dan greek yoghurt. Dia juga membawa beberapa coklat dan biskuit kecil yang bisa di simpan di kantongnya.
Di perjalanan menuju ke tempat syuting, Ava memakan sarapannya dan menyelesaikannya sebelum sampai di lokasi tujuannya. Perjalanan hampir satu jam, akhirnya berakhir. Taksi yang mengantarkan Ava menghentikan mobil di gerbang depan stasiun, lalu Ava yang menutupi separuh wajahnya dengan topi, menyeret kopernya menuju ke gedung masuk. Dia tidak tau dimana gedung dia harus tuju, jadi dia mampir untuk bertanya pada satpam yang menjaga di gerbang.
“Permisi, saya peserta trainee Unlimited Youth Girls.” kata Ava pada satpam yang menyambutnya.
Satpam yang menjaga adalah seorang pria tua yang sangat ramah. Tampaknya dia sudah tau soal ini, jadi dia segera menunjukkan arah kemana dia harus pergi. “Oh, peserta trainee! Silahkan masuk, gedung yang harus dituju ada di depan. Gedung B.”
Ava melihat kearah dimana satpam menunjuk. Ava mengangguk mengerti. “Terima kasih.”
Satpam tua itu mengangguk lalu Ava menyeret kopernya berjalan ke gedung yang ditunjuk oleh satpam tadi. Ava berjalan tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat, sangat mantap menuju gedung yang dimaksud. Dalam perjalanan, Ava agak merasa malas dan tidak ingin terlalu banyak bergerak.
Tapi karena hari adalah hari penting, tentu saja dia tidak akan meninggalkan acara terlebih dahulu. Sambil berjalan, Ava melakukan konstruksi mental yang dalam agar dia tidak tertidur di dalam nanti.
Begitu dia sampai di pintu masuk gedung, ada mobil yang juga parkir di depan gedung dan tampak beberapa perempuan turun menggunakan baju panggung yang lengkap. Mereka sangat heboh dan membuat suasana menjadi hidup. Ava menunggu terlebih dahulu dan ketika mereka semua masuk ke gedung, dia mengikuti dalam diam di belakang mereka.
Ada beberapa staff yang mengarahkan kemana mereka harus pergi dan mereka dibawa ke sebuah ruangan yang agak besar untuk meletakkan koper mereka.
Ava sekali lagi menunggu dengan tenang di depan ruangan dan membiarkan rombongan tadi menyelesaikan urusan mereka terlebih dahulu. 5 menit kemudian mereka keluar dan langsung berbelok di arah yang berlawanan dari Ava berdiri saat itu. Melihat mereka pergi, Ava tentu saja langsung masuk ke dalam agar tidak terlambat.
“Permisi.” ucap Ava pelan kepada staf yang duduk dibalik meja menjaga barang-barang di ruangan tersebut.
“Oh, tolong sebutkan namamu, lalu letakkan barangmu yang tidak diperlukan selama syuting di sini.” kata Staff itu memberikan instruksi.
“Ava Luna.” Staff itu tampak mencari namanya di kertas lalu mengangguk menyuruhnya meletakkan barang. Ava memandang banyaknya koper di ruangan itu dan agak bingung untuk meletakkannya, jadi dia mendorongnya agak ke ujung lalu mengikatkan topinya di atas koper.
“Aku selesai.” kata Ava melaporkan.
“Silahkan ke kiri setelah keluar dari ruangan, nanti akan ada staf lain yang akan membantu menggunakan mic.” katanya memberi instruksi lanjutan.
Ava keluar dari ruangan dan berbelok ke kiri mengikuti instruksi staff sebelumnya, dan benar saja dia bertemu lagi dengan staff-staff lain yang membantu memasangkan mic.
Seorang staff datang membawakan peralatan dan menarik Ava agak jauh dari gadis-gadis di depannya lalu mamasangkan di badan Ava. Sambil memasang, Ava mendengar percakapan gadis-gadis di dekatnya.
“Aku rasa sudah banyak orang di dalam.” katanya sambil menunggu temannya.
“Benar, kita datang paling akhir.” balas gadis lainnya.
Ava mengangkat alisnya dan bertanya dengan heran pada staff perempuan yang memasangkan mic untuknya. “Apakah sudah banyak peserta lain di dalam ?”
Staff yang sibuk memasang mic untuknya mengangkat kepalanya dan menatap Ava dengan heran. “Memang, semua orang sudah dijadwalkan untuk datang, supaya tidak terjadi kerumunan.”
Ava mengangguk kecil dan dengan sabar menunggu. Ketika dia siap masuk, gerombolan gadis tadi sudah masuk terlebih dulu dan Ava dihentikan seorang staff yang bertugas mengatur trainee yang akan masuk. Dia awalnya diberikan sebuah kertas dengan namanya untuk di tempelkan di dalam.
Ava benar-benar sabar menunggu untuk waktu yang agak lama, lalu dia dipersilahkan masuk. Begitu kain hitam di depannya di sibak, dia sampai di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang indah dan dekorasi yang tampak seperti bintang-bintang di galaksi. Lalu ada sebuah papan putih yang penuh dengan tulisan di atasnya. Sambil membaca tulisan di sana, Ava memasang kertas namanya di perutnya.
Tulisan-tulisan ini agak menyentuh bagi Ava, banyak sekali anak muda yang ingin mewujudkan mimpinya, beberapa tampak sangat putus asa yang lain dampak sangat senang. Ava agak tersenyum melihat tulisan-tulisan di papan ini. Saat dia akan pergi, dia melihat sebuah spidol jadi dia mengambilnya dan menuliskan di papan.
‘Berharap semua yang ada di papan ini menjadi kenyataan.’ tulisnya dengan agak kecil dan di tempat yang tidak mencolok.
Setelah itu, Ava menerima instruksi lain untuk meninggalkan tempat tersebut dan menyusuri lorong lain yang tampak seperti berjalan di galaksi. Lorong agak panjang dan setelah tikungan, dia bisa melihat ujung lorong tersebut ternyata mengarah ke sebuah panggung besar yang megah dengan banyak orang yang sudah berada di sana.
Terdapat juga sebuah kursi besar di puncak yang sangat mencolok dengan 10 kursi lainnya di sekitarnya. Ava menduga pasti akan ada 11 orang yang debut kali ini.
Ava sibuk mencari tempat kosong dan tidak menyadari tatapan semua orang mengarah padanya dengan pandangan kagum.
“Astaga! Dia sangat cantik!” gumam seseorang di panggung.
“Apakah dia trainee individu ?”
“Apakah ada manusia secantik dia ?”
“Dia tampak tidak nyata.”
“Ini tidak adil, ada seorang secantik dia di acara ini, kita harus bekerja keras!”
Ketika diskusi itu masih berlanjut, Ava akhirnya menemukan kursi terakhir di area paling bawah dan paling ujung. Dia berjalan cepat kesana dan memberikan sapaan sopan pada pihak di sebelahnya sebelum duduk.
Ava duduk dengan tenang sambil memperhatikan panggung di depannya. Tampaknya pihak kru benar-benar sangat berusaha dalam acara ini. Tema besar dari acara ini adalah galaksi dengan banyak lampu yang menyerupai bintang-bintang di langit. Intinya semua di depannya tampak sangat mewah.
Saat sedang sibuk, tiba-tiba layar LCD di atas berubah dan terdapat tulisan Produser Nasional di atasnya. Ava yang sudah mendapatkan informasi lebih dulu tidak menjadi bertanya-tanya seperti gadis-gadis lain di sebelahnya.
Tidak lama sosok tinggi berjalan keluar dari lorong yang dilalui Ava sebelumnya. Pekikkan terdengar di sekitarnya dan semua gadis mulai berdiri sambil berteriak shock. Ava menatap sekelilingnya dan ikut berdiri sambil berakting terkejut melihat sosok pria tampan yang sekarang sudah di tengah panggung sambil tersenyum kecil.
“Halo semuanya, Aku Keegan, perwakilan produser Nasional untuk Unlimited Youth Girls. Senang bisa bertemu dengan kalian semua.” ucap Keegan dengan elegan.
__ADS_1
“Senang bisa bertemu juga!” teriak semua trainee sambil membungkukkan badan.
“Program Unlimited Youth Girls adalah program dimana publik bisa memberikan vote mereka secara 100% dalam pemilihan grup idol. Kedepannya, peserta akan melalui 5 kali evaluasi dimana rangking peserta adalah sepenuhnya dari vote pemirsa.” Keegan mengambil jeda dan menatap semua peserta kemudian melanjutkan. “Dimana jika peserta dengan rangking rendah akan di eliminasi.”
Suasana menjadi tegang begitu Keegan menjelaskan peraturan dasar dari program yang mereka ikuti. Memang kenyataan kejam selalu ada di setiap acara seperti ini. Eliminasi, perebutan posisi terbaik, hingga perebutan lagu yang akan dibawakan.
“11 peserta trainee yang bertahan akan debut sebagai satu group dengan satu trainee yang menjadi center setelah memenangkan tempat 1. Jadi saya sebagai perwakilan produser nasional mengharapkan semua trainee berusaha keras dan tidak bermalas-malas jika ingin mimpinya menjadi kenyataan.”
Keegan mengingatkan dengan jelas lalu tersenyum berusaha menenangkan peserta lainnya. Meski dia dikenal sebagai seseorang yang dingin, tapi karena harus tampil di tempat ini, dia harus mencoba lebih ceria untuk mendorong para peserta.
“Sekarang, mari kita sapa Produser Nasional bersama.” Keegan berbalik membelakangi para trainee. “Produser Nasional! Tolong perhatikan kami!”
Lalu secara bersamaan, semua trainee termasuk Keegan dan Ava membungkuk menunjukkan hormat pada kamera.
Setelah selesai, Keegan berbalik dan memulai acara. “Mari kita sambut para pelatih yang akan menolong kalian dalam proses menjadi girl group kedepannya.” Begitu selesai mengatakannya, suasana berubah menjadi ramai dan beberapa orang keluar dari lorong masuk disambut teriakan histeris banyak gadis peserta.
“Bukankah itu Paris ?!” teriak salah satu gadi kaget. “Penyanyi Ballad nomor satu!”
“Zoo Miller juga datang ?!”
“Wah! Pelatih yang diundang tidak main-main!”
Ava mengenali keenam pelatih yang datang kali ini. Diantaranya ada dua orang yang bukan artis tetapi telah melatih banyak sekali artis terkenal sebelumnya. Menurut data yang diberikan oleh Mr. Wild, beberapa dari pelatih kali ini sangat tegas. Terutama pelatih Rap dan Dance, mereka sangat ketat dengan penampilan yang sangat karismatik.
“Karena kalian sudah melihat para pelatih, mari kita mulai evaluasi dengan mengurutkan peserta trainee dari peringkat A hingga F. Sebelumnya perlu diketahui, alasan peringkat ini untuk bisa memberikan pelajaran sesuai tingkatan masing-masing peserta.” kata Keegan kembali menjelaskan. “Kalau begitu mari kita mulai evaluasinya.”
“Ya!” teriak semua peserta dengan bersemangat.
Lalu para staff sibuk menaikkan meja dan kursi untuk para pelatih, Staff juga mengumumkan urutan peserta trainee untuk maju tampil. “Urutan penampilan akan diatur oleh staff. Jadi peserta dari agensi yang dipanggil silahkan mempersiapkan diri di belakang panggung.”
Ava memperhatikan sekelilingnya dan menemukan Sophie duduk agak di atas dan tampak sedang berdiskusi dengan gadis di sebelahnya. Ava senang karena tampaknya Sophie cukup mudah berbaur dan akrab dengan gadis-gadis lainnya. Jadi Ava tidak berniat untuk mengganggunya dan menunggu proses penilaian di mulai.
Begitu meja dan kursi milik para juri siap, pertunjukan kembali dimulai. Ava sebenarnya cukup penasaran sejauh apa skill para gadis yang berkumpul di sini. Jadi dia mencari posisi yang duduk yang nyaman dan memperhatikan pertunjukan para gadis dari samping.
Kelompok peserta yang maju pertama kali berasal dari agensi Joylly yang cukup terkenal. Bahkan Ava ingat sempat membuatkan lagu untuk penyanyi solo di agensi tersebut. Tapi selain itu, Ava tidak mengerti lebih jauh tentang agensi ini.
Karena pertunjukan pertama, para juri mengantisipasinya dengan sungguh-sungguh. Ava memperhatikan dengan benar-benar ketika mereka mulai menunjukkan penampilan mereka.
Kelompok pertama yang tampil menunjukkan penampilan yang lumayan, tetapi Ava bisa merasakan bahwa adanya kurang dari mereka. Bukan karena mereka membawakan lagu milik orang lain tapi karena kemampuan dasar mereka masih agak kurang stabil.
Ketika mendengar para juri berkomentar, Ava bisa menebak dalam hati bahwa mereka seharusnya tidak akan mendapatkan nilai A atau B. Kemampuan mereka masih terlalu kurang.
“Penampilan yang bagus” puji Keegan dengan wajah datar. “Tapi tarian kalian masih sangat berantakan, suara juga sangat tidak stabil dan kami tidak benar-benar bisa mendengar rap kalian.”
Tapi wajah para juri agak tidak bagus sama sekali. Sesuai dengan tebakkan Ava, setelah para juri berdiskusi, hasilnya adalah 4 orang dari kelompok ini mendapatkan nilai D dan F. Ava mengangguk kecil sambil menganalisa bagaimana para juri memberikan nilai agar dia bisa menyamakan standar yang ada.
Ava yang berkonsentrasi mulai merasa bosan ketika penampilan para peserta mulai memburuk. Para juri selalu memberi komentar yang hampir sama.
“Nyanyian kalian masih sangat tidak stabil.”
“Tarian kalian sangat buruk.”
“Kami tidak bisa mendengar lirik yang kalian nyanyikan.”
“Jika di nilai, kalian bahkan tidak akan bisa masuk ke alphabet yang ada sekarang.”
“Dua tahun trainee dan ini hasil latihan kalian selama ini ? Sungguh mengecewakan.”
Komentar ini membuat para trainee yang masih menunggu menjadi semakin gugup, mereka tau bahwa para juri yang menilai mereka memang ahli di bidangnya masing-masing.
Tetapi komentar mereka sangat jujur dan langsung memberitahu mereka kesalahan. Beberapa gadis yang lebih lemah hati akan mulai menangis dengan putus asa atas komentar jujur ini.
Ava tidak sama seperti para gadis ini karena dia sudah mendapatkan pengalaman putus asa yang sangat berkesan sehingga komentar seperti ini menjadi hal yang biasa.
Hampir 10 agensi yang maju dan hampir semuanya memiliki komentar yang sama. Ava bersandar di kursi dengan rasa lelah. Ketika dia menengokkan kepala, dia agak terkejut melihat kamera yang mengarah padanya. Ava tiba-tiba saja teringat bahwa dia sedang syuting dan semua pergerakannya akan dipantau kamera. Jadi dia menarik nafas lalu kembali menyaksikan pertunjukan dengan tenang sambil mengingat-ingat untuk tidak bersikap kasar.
Pertunjukan berlangsung agak lama karena banyaknya peserta kali ini mencapai 101 gadis dan butuh waktu untuk mengevaluasi semuanya. Ketika Ava mulai merasa lelah karena duduk terlalu lama, agensi Sophie berada akhirnya di maju. Sophie maju dengan pakaian yang bercitra cerah dengan kedua temannya. Agensi Sophie adalah agensi MNO Ent. yang Ava sarankan secara pribadi karena cukup bagus dan memiliki potensi untuk tumbuh.
Sophie dan kedua temannya membungkuk pada para juri dan mulai memperkenalkan diri.
“Mentor, hallo kami dari MNO Ent.!” teriak mereka bersama memperkenalkan diri.
“Aku Jennie Po, trainee dari MNO Ent dengan pengalaman 2 tahun!”
“Aku Pixy Rall, trainee dari MNO Ent dengan pengalaman 1 tahun 5 bulan!”
“Aku Sophie Berger, Trainee dari MNO Ent dengan pengalaman 6 bulan!”
Ketiga trainee dari MNO ini terlihat sangat ceria dan penuh semangat. Mereka menerima respon yang cukup baik dari para juri dan diminta untuk segera menunjukan penampilan mereka. Ava tentu saja menantikan penampilan Sophie kali ini. Dia tidak melihatnya lagi sejak terakhir kali dia memeriksa progressnya. Dia penasaran bagaimana perkembangannya sekarang.
Sophie dan teman-temannya membawakan lagu yang ceria sesuai dengan image baju mereka dan menampilkan gerakan serta vokal yang cukup. Satu menit membawakan lagu memang singkat, tetapi mereka berhasil membawakan dengan sangat baik.
__ADS_1
Ava mengangguk dan bertepuk tangan begitu mereka selesai menampilkan penampilan mereka. Kemampuan Sophie meningkat sejak terakhir kali dan seharusnya dengan kemampuannya sekarang kelas B seharusnya layak.
“Sungguh penampilan yang menyegarkan.” kata Lilith seorang pelatih vokal dengan penuh apresiasi. “Meski vokal kalian masih ada tidak stabil tapi masih lebih baik dari yang lain, terutama trainee Sophie Berger. Vokalmu sangat menyegarkan.”
Sophie menunduk. “Terima kasih guru.”
“Benar, tarian kalian lebih baik dari yang lain tapi masih kurang. Sepertinya kalian masih harus terus berlatih lebih banyak untuk mencapai gerakan yang cocok untuk kalian.” kata Keegan memberikan komentarnya, Setidaknya dari trainee yang lain, komentar ini paling lebih baik dari pada komentar sebelumnya.
Di akhir, Keegan membacakan bahwa ketiganya akan masuk ke kelas B. Tentu saja ketiganya sangat senang dan mengucapkan terima kasih sebelum turun dari panggung. Ava yang kebetulan duduk di ujung bertatapan dengan Sophie yang langsung bersemangat melihatnya dan memberikan tanda untuk berbicara nanti.
Ava hanya bisa mengangguk dengan senyum di wajahnya. Senyum ini sangat jarang diperlihatkan sejak tadi dan baru keluar sekarang. Interaksi kecilnya tentu saja ditangkap kamera dan membuat kameramen yang bertugas agak terpesona dengan senyum jarang Ava. Sutradara acara juga langsung mencatat bagian tersebut untuk dimasukkan ke proses editing.
Setelah duduk lama, akhirnya staff memberikan waktu istirahat. Ava akhirnya bisa berdiri dan merentangkan tubuhnya dan pergi ke kamar mandi. Sophie yang melihatnya berdiri mengikutinya ke kamar mandi untuk berbicara.
Ava yang menyusuri lorong di susul oleh Sophie yang berlari dengan girang. “Ava!”
Tentu saja mendengar suara familiar, Ava berhenti dan berbalik dengan senyum.
“Apakah kamu melihat penampilanku tadi ?” tanya Sophie dengan nada riang dan penuh antisipasi.
Ava mengangguk dengan senyum. “Lumayan, kamu banyak berkembang akhir-akhir ini.”
Sophie terlihat sangat bangga dengan pujian Ava padanya. “Tentu saja, aku sudah berlatih selama beberapa minggu terakhir dengan sangat keras!” katanya dengan rasa penuh penekanan.
Ava tertawa kecil sambil memasuki kamar mandi. “Kamu masih harus terus bekerja keras setelah ini.” kata Ava.
Sophie mengangguk dengan semangat. “Tidak perlu khawatir, Denganmu disini, Apa yang tidak bisa kulakukan ?” katanya dengan percaya diri.
Ava berhenti sejenak lalu menatap Sophie dengan menggoda. “Lalu apa yang terjadi jika aku berbeda kelas denganmu ?” tanyanya dengan santai.
Tentu saja senyum Sophie langsung menghilang, dia tidak pernah memikirkan situasi seperti itu sebelumnya. Dia langsung memegang tangan Ava seperti memohon.”Aku sungguh berharap kamu bisa satu kelas denganku.”
“Akan kuusahakan. Tapi aku tidak janji.” kata Ava santai lalu masuk ke kabinet untuk menyelesaikan urusannya lalu keluar mencuci tangan. Sophie masih menunggu Ava di kamar mandi sambil mengelus perutnya dengan agak sedih. “Ada apa denganmu ?” tanya Ava begitu selesai mencuci tangan.
“Aku lapar.” katanya dengan sedih.
Ava merogoh biskuit coklat dari kantong bajunya dan memberikannya pada Sophie. “Aku hanya ada biskuit kecil,”
Sophie sekali lagi menatap Ava dengan penuh rasa syukur. “Kamu penyelamatku!” Dia segera mengambil biskuit tersebut dan memakannya dengan gembira.
Ava sendiri mengeluarkan permen coklat lain dan memasukkannya ke mulut. Kemudian dia memandang Sophie yang masih makan dengan bahagia. “Kita harus segera kembali, cepat habiskan dan bersihkan mulutmu dari sisa remah biskuit.”
Sophie mengangguk lalu masukkan biskuit ke mulutnya dan memastikan tidak ada remahan di mulutnya. Setelah itu dia mengikuti Ava keluar dari kamar mandi dan kembali ke panggung.
Tentu saja keduanya langsung berpisah dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Penilaian kembali berlanjut tidak lama setelah Ava kembali duduk.
Ava menonton sebentar sebelum diminta oleh staff untuk bersiap di belakang panggung. Ava berdiri lalu turun ke belakang panggung. Di belakang panggung ada empat gadis lain yang menunggu juga sambil berlatih kecil.
Sebuah area ini juga memiliki layar yang mengamati keadaan di panggung. Ava menunggu di samping dengan tenang saat keempat gadis yang berpenampilan chic ini berlatih dengan bersemangat, mereka juga saling menyemangati satu sama lain sebelum akhirnya naik ke atas panggung.
Ava tidak bergerak dari posisinya dan mengawasi layar dengan tenang dan datar. Sesekali dia menggerakkan kakinya mengecek kondisi cederanya sehingga bisa memperkirakan kondisi kakinya untuk menari nanti.
Selain itu, tidak ada tanda-tanda kegugupan ataupun rasa khawatir yang sangat jarang di wajah gadis trainee sepertinya. Para staf yang duduk berjaga di dekatnya tidak bisa tidak menatap Ava yang sangat tenang dan seperti tidak terganggu oleh apapun di sekitarnya. Selain itu, para staff juga mengagumi kecantikan Ava yang sangat jarang dari dekat.
Keempat gadis yang baru saja naik adalah trainee dari agensi besar Big Galaxy Ent yang memiliki banyak artis hingga aktor berbakat. Salah satunya adalah boy group PACK5, yang sangat terkenal dengan jutaan penggemar di seluruh negeri. Ketenaran dari boy group ini cukup merata tetapi memang lebih banyak fans wanita yang lebih condong pada center mereka, Jacky.
Karena agensi besar tempat mereka bernaung, semua orang di tempat sangat mengantisipasi penampilan keempat gadis trainee ini. Meski semua para trainee perempuan ini terlihat sangat cantik tetapi ada satu orang yang sangat mencolok dengan wajah cantik yang terlihat sangat menawan dan agak berkesan girl crush. Jenis kecantikan yang agak berbeda dari Ava yang agak terlihat agak tidak realistis.
“Halo kami trainee Big Galaxy Ent.” ucap mereka memperkenalkan diri bersamaan.
“Aku Denise Field, trainee dengan pengalaman 3 tahun.”
“Aku Agatha Owens, trainee dengan pengalaman 1 tahun.”
“Aku Vivian Evans, trainee dengan pengalaman 2 tahun.”
“Aku Melisa Robert, trainee dengan pengalaman 2 tahun.”
Keempatnya memperkenalkan diri mereka dengan semangat tinggi dan disambut dengan antisipasi tinggi dari para penonton. Mereka langsung dipersilahkan untuk segera menampilkan penampilan mereka.
Mereka berempat menampilkan nyanyian dari sebuah lagu girl grup terkenal, ‘In Spring Time’ yang dimiliki perusahaan mereka yang kebetulan dibuat oleh LuckONe beberapa tahun lalu. Lagu ini sebenarnya adalah mengenai semangat muda dari para siswa yang Ava lihat saat pertama kali masuk ke SMA. Keakraban para murid dan rasa antisipasi para murid saat itu yang meninggalkan kesan pada Ava saat itu.
Tapi kini ketika dibawakan oleh keempat orang ini agak jadi berbeda, nuansa yang harusnya tercipta adalah rasa kepolosan dan semangat tetapi sekarang menjadi agak lebih seksi. Bahkan lirik dan lagu asli juga agak diaransemen ulang, tapi meski begitu esensi asli dari lagu ini berubah. Bahkan efeknya tidak menjadi sebagus lagu awal.
Meski performa dari para trainee cukup bagus, tapi lagu ini yang menjadi agak berubah menjadi masalah. Ketika satu menit pertunjukan selesai, wajah para juri agak berubah.
Meja juri menjadi hening saat itu, Paris sebagai penyanyi mengangkat micnya dan menatap sekelilingnya sebelum mulai berkomentar. “Sangat bagus, vokal kalian cukup stabil. Tapi masalahnya bukan berada di kemampuan kalian.” katanya dengan agak menyayangkan.
Keempat trainee di panggung agak bingung tapi mereka menunggu dengan sabar komentar dari juri. Paris agak sulit untuk melanjutkan apa yang ingin diucapkan, dia berulang kali menarik nafas sebelum menjelaskan apa maksudnya.
“Aku mengerti kalian pasti ingin menunjukkan kemampuan aransemen kalian dalam lagu ini, tapi kalian harus tau inti dari lagu ini sebelum mengubahnya.” kata Paris sambil menghela nafas.
__ADS_1
Keegan yang tidak berkomentar akhirnya mengangkat micnya dan berkata secara langsung. “Intinya adalah kalian menghancurkan lagu ini.” katanya dengan sangat jujur mengutarakan rasa frustasinya sejak tadi. “Rasa yang seharusnya ada di lagu ini hilang karena kalian mengubahnya, bahkan sangat tidak cocok dengan aransemen kalian.”