LUHAN THE GREATER

LUHAN THE GREATER
Eps 15-Melarikan diri atau mati?


__ADS_3

Gio terkejut setengah mati setelah mendengar bentakan dari orang yang berada di depannya, Luhan mengambil sikap waspada dan menarik Gio kebelakang untuk melindunginya.


Pria yang baru saja berteriak itu berumur sekitar 40 tahunan, otot-ototnya sangatlah besar dan ia memiliki wajah yang kusam dan kulit yang hitam, bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang preman.


Gadis yang tadinya sedang terduduk di tanah itu segera berdiri dan melangkah menuju ke preman itu, ia menangis dan membuat tuduhan palsu kepada Gio dan juga Luhan.


"Hiks, hiks, kakak Bear. Dua pria itu baru saja mendorong dan melecehkanku, aku harus bagaimana sekarang?? huwaaaa......."


"Apa!! mereka melecehkanmu?! berani-beraninya."Preman berotot yang disebut-sebut sebagai Bear itu menggulung kedua lengan bajunya, ia telah bersiap-siap untuk memulai perkelahian.


Luhan dan Gio saling memandangi satu sama lain, ekspresi kebingungan terlihat sangat jelas di wajah mereka berdua. Gadis yang tadi hendak menampar Gio dan telah memukul Luhan sekarang malah membalikkan fakta dan mengatakan bahwa mereka berdualah yang bersalah, yang benar saja.


"Hei, tunggu dulu. Kurasa, ada sediki-"Gio tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena melongo saat melihat beberapa orang bertubuh kekar lainnya keluar dari restoran itu, mereka semua tampak sangat mengerikan dan berjumlah lebih dari 10 orang.


"Astaga, aku memiliki beberapa firasat buruk mengenai hal ini."Gio merasa bahwa akan ada sebuah masalah yang datang menimpa dirinya dan Luhan saat ini, setelah melihat orang-orang bertubuh kekar itu menyapa Bear dan gadis yang ada di sebelahnya itu dengan ramah.

__ADS_1


Mereka semua berbicara sebentar dan pada akhirnya sama-sama melotot juga mengeluarkan hawa pembunuh kearah Luhan dan Gio.


Saking gugupnya Gio karena merasakan hawa pembunuh dari sekumpulan preman itu, Gio mencubit Luhan dengan sangat kuat dari belakang dan mencoba berkomunikasi dengan mimik dan gestur wajah.


["Sekarang bagaimana coba!?"]


Luhan yang menyadari maksud dari cubitan dan mulut Gio yang berkomat-kamit sendiri segera membalasnya dengan berbisik pelan.


["Kurasa kita harus melarikan diri saja, walaupun kita berdua berkolaborasi juga tidak akan mampu untuk mengalahkan mereka semua."]


["Gio, pada hitungan ketiga nanti kita berdua harus melarikan diri ke arah yang berbeda mengerti?? cobalah untuk menghubungi Petra jika kau sudah lolos dari kejaran mereka."]


["Baik, kau berhati-hatilah Luhan."]


Para preman mulai melangkah mendekati Gio dan juga Luhan dengan hawa pembunuh yang masih saja terasa begitu pekat, setelah selesai berkomunikasi dengan Gio, Luhan mulai menghitung mundur.

__ADS_1


["1...2.....3..."]


Tepat pada hitungan ketiga Gio dan Luhan mulai berpencar ke dua arah yang berbeda, sebagian besar preman-preman yang berada di sana mengejar Gio karena ia berlari cukup lambat.


Setelah Luhan merasa bahwa jarak antara dirinya dengan restoran yang tadi sudah agak jauh, ia berhenti melangkah sebentar dan menoleh kebelakang untuk melihat preman-preman yang sedang mengejarnya.


"Apa!! hanya ada empat orang saja disini!? gawat, kalau begitu Gio pasti dikejar oleh enam orang lebih!!"Luhan memasang kuda-kudanya dan mulai berwaspada akan serangan yang bisa saja dilontarkan oleh siapapun yang ada disana, empat orang itu mengepung Luhan dari segala arah dan tak lama kemudian mereka semua tertawa licik.


"Gio!!"Batin Luhan sebelum melancarkan sebuah serangan terlebih dahulu.


Sementara disisi lain, Gio masih sedang sibuk bersembunyi dibalik tembok disebuah gang kecil. Tidak mudah untuk bersembunyi ditempat-tempat yang seperti itu karena tidak ada objek apapun yang bisa digunakan untuk menutupi tubuhnya, untuk saja matahari sudah hampir terbenam. Gio memanfaatkan kegelapan yang hampir menelan gang itu dengan baik, dan pada akhirnya berhasil mengecoh beberapa preman yang tadi mengejar-ngejarnya.


––––––––––––––––


Next>>

__ADS_1


__ADS_2