
"Ekh!! aku benar-benar tidak memiliki rencana sama sekali, poin terpenting yang harus kulakukan adalah merampas pistol yang sedang digenggam oleh orang itu dan melindungi Gio."Luhan menatap pistol yang berada di genggaman tangan si preman sambil memikirkan trik-trik yang harus ia lakukan untuk mendapatkannya, kini semua orang telah kembali pada kesadarannya kecuali Gio yang masih saja mematung tanpa melakukan apapun.
"B-bocah! sebenarnya darimana kau tahu-"
"Dari tato yang ada di tanganmu."Luhan menunjuk tangan kiri si preman yang bertato, ia lalu tiba-tiba tersenyum tipis ketika melihat kewaspadaan si preman itu menurun karena ikut melihat tato yang berada di tangannya. Tanpa pikir panjang Luhan kemudian menendang area pribadi si preman karena hanya itulah satu-satunya celah yang dapat ia lihat, mata para preman yang berada di belakangnya atau bisa juga disebut dengan anak-anak buahnya terbelalak karena menyaksikan kejadian yang tragis barusan.
"Aaaahhhhhhh!!!!"
Preman itu berteriak dan menjerit sambil memegangi bagian pribadinya, pistol kemudian terjatuh ketanah dan Luhan segera memungutnya lalu mengarahkannya pada para preman yang masih tersisa.
"Mendekatlah, maka aku akan menembak kalian."Ucap Luhan sinis, semua preman yang berada disana berkeringat dingin setelah mendengarkan ancaman Luhan. Dan pemimpin para preman itu yang buah zakarnya telah ditendang tadi telah pingsan ditempat beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
"Luhan."Gio memanggil Luhan dengan pelan, dan pria itu segera menoleh ke belakang untuk melihat Gio. Kesedihan, kekecewaan, dan ekspresi tak percaya masih saja melekat di wajahnya, membuat Luhan ikut merasa sedih juga.
"Baiklah, kita akan pergi sekarang."Luhan menghela nafas panjang dan mengeluarkan semua peluru yang berada di dalam pistol yang sedang ia genggam, setelah semua peluru telah berhasil dikeluarkan ia lalu membuangnya tepat ke arah kepala si pemimpin preman.
"Jangan macam-macam denganku jika tidak ingin aku membocorkan identitas kalian, percaya atau tidak kalian sudah pasti tidak akan bisa menang dariku."Luhan meninggalkan tempat itu bersama dengan Gio setelah memberikan sebuah tatapan dingin dan ancaman yang sulit untuk dilupakan, dengan kata lain Luhan menyatakan bahwa 'Lupakanlah masalah ini'.
Namun, benarkah masalah bisa benar-benar dilupakan begitu saja??
"Apakah benar kakak kedua?"Lanjut Gio, kini mereka berdua sedang berada di jembatan layang penghubung dari kota A dan kota B. Entah mengapa mereka berdua bisa tersesat sampai kesana, Luhan sebenarnya merasa agak ragu untuk memberitahu Gio faktanya karena ia tahu hubungan baik macam apa yang dimiliki oleh Gio dan Canon. Dulu sekali disaat Gio masih belum menginjak umur remaja ia selalu dibully dan diganggu oleh kakak pertama dan kakak ketiganya, hanya Canon saja yang tidak membully serta menyakiti Gio, ia bahkan selalu menemaninya bermain dan mengajarkannya mengenai beberapa hal.
"I-iya."
__ADS_1
"Hmm, dunia ini benar-benar bodoh ya?? topeng muka kakak Canon, benar-benar tebal sekali."Gio menghapus air matanya yang telah mengalir deras, Luhan mendekat ke arah Gio kemudian memeluknya dengan erat.
"Gio, maafkan ak-"
DORR!!
Mata Gio melebar ketika ia melihat seseorang yang berada di belakang Luhan ternyata membawa sebuah pistol dan sedang diarahkan kepadanya, ia hendak mendorong tubuh Luhan untuk menghindari kalau-kalau ada sebuah tembakan yang mengarah kepadanya. Gio tidak bisa mendorong Luhan lepas dari pelukannya karena tubuh Luhan terasa terlalu berat, lalu tak lama kemudian ia akhirnya menyadari sesuatu dan segera berteriak.
"Luhan!!!!"
–––––––––––––
__ADS_1
Next>>